A.I: Adventures on Earth

A.I: Adventures on Earth
Eps.1 Kematian Ayah



"Hiikss Ayah kumohon jangan tinggalkan aku sendiri ayah" Seorang pemuda meratapi ayahnya yang tengah sakit.


Tit,, Tit


Sementara alat pendeteksi denyut dan irama jantung semakin lama semakin melemah.


Pada kondisi ini merupakan kondisi kritis dimana pasien telah mengalami kematian yang tidak terhindarkan.


Dengan keajaiban sebuah tangan menempel di atas kepala pemuda yang menangis tersedu-sedu.


Suara serak nan lembut terdengar di telinga pemuda tersebut.


"Rey" Pemuda yang menangis langsung menoleh melihat wajah pucat ayahnya dengan senyum lembut.


Pemuda yang di panggil Rey itu menatap wajah ayahnya tanpa kedip karena seakan sedetikpun dia tidak ingin berpaling dari wajah lembut ayahnya yang tumpang tindih dengan ingatannya.


"Rey, Maafkan ayah karena tidak bisa memberimu yang terbaik" Ucap Ayah Rey yang irama jantungnya semakin melemah.


"Tidak tidak ayah kumohon jangan tinggalkan Rey!" Rey ingin memeluk Ayahnya namun dia menahannya dia hanya memegang tangan ayahn dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan ayah Rey tidak bisa memberimu hadiah di hari ulang tahunmu besok" Dengan senyum hangat ayahnya berusaha melihat wajah Rey.


Menggerakkan tangannya ke pipi Rey, Ayahnya berkata "Rey, Pergilah ke Gudang Rumah Lama, Disana ada sesuatu yang engkau butuhkan dan" semakin akhir suaranya semakin pelan dan tenaganya tidak banyak tersisa.


Rey terdiam dia tidak lagi merengek karena melihat ayahnya sepertinya tidak akan bisa lolos dari kematian juga dia tidak ingin menginterupsi kata kata ayahnya. Rey hanya memandang ayahnya dengan tidak rela dan kesedihan.


Ayah Rey berkata dengan terbata-bata.


"Jika kau bertemu dengan ibumu, kirimkan pesanku anakku tersayang Reynold"


"Meskipun engkau jauh"


"Aku tetap mencintaimu selamanya"


"×××××"


Namun kata-kata terakhirnya tidak bisa tersampaikan dengan jelas kata yang menyangkut nama ibunya..


Meskipun begitu fokus Rey sekarang tidak dengan ibunya melainkan kondisi ayahnya. Setelah kematian ayahnya, Isak tangis Rey pecah dibarengi dia memeluk tubuh ayahnya dengan penuh rasa penyesalan dan kesedihan.


Keesokan harinya..


Di tempat pemakaman, Hujan deras jatuh rintik demi rintik di iringi suara guntur yang menggelegar.


Di depan batu nisan, berdiri seorang pria tampan dengan jas hitam, dia berdiri di depan batu nisan tanpa memperdulikan hujan yang menapak ditubuhnya.


Cahaya di matanya yang dulu telah redup, api yang selama ini telah menyala telah padam, dan kehangatan yang dirasakannya telah menghilang.


Kini Reynold hanya berdiri diam mengingat semua kenangannya bersama ayahnya, kenangan akan kesedihan, kebahagiaan dan suka duka yang mereka alami.


Tanpa sadar tubuhnya bergerak sendiri dan berlutut di tanah, dengan wajah yang menghadap ke langit.


"Ibu aku merindukanmu!" Ucapnya dengan lemah selayaknya anak kecil yang tidak berdaya karena tidak memiliki cahaya, api dan kehangatan orang tuanya.


Waktu berlalu bagaikan sungai yang mengalir..


Di sebuah gang kecil..


Reynold terhuyung-huyung berjalan kembali ke rumahnya di daerah yang kumuh di kota.


Namun beberapa preman menghalanginya.


"Hei adik Rey! Dilihat dari bajumu sepertinya kau menghasilkan banyak uang akhir-akhir ini!" Preman dengan tato di tangan kirinya dan berperawakan kurus mendatangi Rey.


"Hei Jarred jangan mengambil ikan sendiri! Bagaimana Rey dengan aku? Apakah kau tidak ingin memberikannya?" Seorang pria berotot yang menggunakan singlet saja berkata dengan senyum jahat.


"Kau benar Jorden! Kita preman J tidak bisa membiarkan Siapapun mengambil sendirian! Benarkan Jarred?" Dan yang terakhir berbicara adalah pria yang memegang parang dan pistol di sakunya. Pria tersebut sepertinya pemimpin dari preman ini.


"Hahaha benar yang di katakan Kak Jerry." Jarred hanya bisa tertawa dan menjilat Jerry pemimpin preman J.


Sementara Reynold mengabaikan mereka dan terus berjalan ke rumahnya, saat ini suasana hatinya sedang tidak baik baik saja maka dari itu Reynold sangat tidak peduli dengan mereka.


"Heh? Beraninya dia mengabaikan ku! Matilah bocah" Jarred berteriak marah dan bergegas menyerang Reynold.


Adegan pemukulan pun terjadi di gang kecil namun tidak ada yang berani ikut dalam urusan mereka.


Sedangkan Reynold di pukuli babak belur karena dikeroyok 3 orang.


Kembali ke rumahnya dengan pakaian yang sobek dan dompetnya yang diambil.


Dia membersihkan tubuhnya dan memandang kaca wastafel di kamar mandi.


Reynold melihat dirinya yang sudah bonyok di pukuli para preman tadi, mengambil obat P3K dan ia mengobati dirinya sendiri, pada hari ini Reynold sangat patah hati dan bahkan dia tidak memikirkan kesehatan fisiknya.


Setelah memakai pakaian dan berbaring di kasurnya, Reynold memandang langit-langit kamar dengan mulut sedikit terbuka.


Air mata titik demi titik jatuh, Reynold menatap langit dan berkata "Kenapa" Terus menerus hingga dia kelelahan dan tertidur.


Keesokan harinya...


Reynold bangun di pagi hari dan menjalankan rutinitas pagi yang membosankan. Dimulai dari mandi, bikin kopi dan nonton TV. Reynold tidak pernah menunjukkan wajah ceria ataupun bahagia.


Setelah menonton berita sebentar..


Reynold membuka hpnya dan mencari nomor kontak yang telah lama tidak dia hubungi. Di nomor ini Reynold mengirimkan pesan.


[Hei ******]


[Ayah telah tiada, jika kau ingin menemui kuburannya ada di *** **** Nomor Kuburannya 363]


Setelah mengirimkan pesan itu, Reynold mematikan HP-nya dan berencana pergi ke rumah lamanya yang jauh dari kota menaiki bus antarkota.


Di dalam bus banyak gadis yang melihat Reynold dengan tatapan yang berbintang-bintang berkat ketampanannya. Tentu saja kemanapun Reynold pergi banyak gadis yang akan tertarik kepadanya dan juga membawa beberapa masalah yang membebaninya.


Di dalam bus sekitar 4 jam perjalanan.


Reynold berhenti di perhentian yang dekat dengan rumah lamanya. Pada kali ini hari tengah siang jadi untuk berjalan di sekitar sini yang dipenuhi sawah tetaplah tidak bermasalah.


Reynold berjalan di tengah panas terik kerumah lamanya sekitar setengah jam-an. melihat rumah di tengah-tengah dataran sawah, Reynold berjalan dengan perlahan menikmati pohon-pohon rindang di tepi tepi jalan.


Sambil bernostalgia saat dulunya mereka di tempat ini bermain-main bersama adiknya namun mengingat wajah adiknya, Reynold yang dari tadi acuh tak acuh tiba tiba menjadi marah.


Setelah mengambil nafas dalam-dalam Reynold menghilangkan amarahnya dan berjalan perlahan ke rumah lamanya.


Tiba di depan rumahnya Reynold mengeluarkan kunci rumah dan membukanya, rumah lamanya yang penuh dengan kenangan dan kehangatan tiba tiba muncul sekilas dalam ingatannya yang tumpang tindih dengan kehidupan nyatanya.


Seperti melihat ilusi,Reynold memandang Tv jadul dan sofa jadul tempat ayahnya sering menonton sehabis meladang, melihat dinding kusam dan penuh coretan tidak jelas yang dulunya dia bermain dengan adiknya mencoret-coret dinding.


Reynold memegang kepalanya dan tanpa sadar ingin mengeluarkan air mata namun dia menahannya.


Rumah ini penuh dengan kenangan mereka maka dari itu Reynold tidak rela menjualnya begitu saja.


Setelah melihat-lihat sebentar, Reynold pergi ke gudang belakang.


‘Eh terkunci?’ Batin Reynold sedikit terkejut memandang pintu yang digembok dibarengi rantai.


Reynold memegang kunci gembok itu untuk melihat merek dan modelnya agar disesuaikan dengan kunci yang dia bawa, namun tiba tiba.


Gembok terlepas sendiri membuat Reynold sedikit heran.


“Apakah karena sudah usang?” Ungkapnya dengan bingung namun Reynold tidak memperdalam hal aneh ini dan menganggapnya sebagai gembok yang rusak.


Membuka rantai yang mengikat, Reynold perlahan memasuki gudangnya, untungnya lampu gudang tetap bisa dinyalakan jadi pencarian Reynold dapat lebih di permudah.


Meskipun Reynold merasa aneh dengan wasiat terakhir ayahnya yang menyuruhnya datang ke gudang rumah lama namun Reynold tetap menjalankannya karena dia tidak ingin mengecewakan ayahnya.


Berjalan-jalan di gudang yang sempit ini, Reynold tidak melihat banyak barang berguna dia hanya melihat rongsokan besi bekas mobil dan lainnya.


Setelah menoleh ke sekelilingnya, Reynold melihat sebuah cincin besi hitam tanpa pola ada disebuah rak kayu, karena penasaran Reynold memakai cincin tersebut.


Selesai menggunakannya, Reynold tidak melihat hal lainnya yang berguna jadi dia berencana pergi dan mematikan lampu gudang.


Saat lampu gudang di matikan, gudang yang tadinya terang menjadi gelap, Reynold hanya mengabaikan dan ingin menutup pintu gudang namun.


Sebuah cahaya di kejauhan membuatnya penasaran.


“Apa itu?”


Reynold perlahan mendekat dengan pelan pelan ke cahaya itu, karena cahayanya terlalu menarik perhatian, Reynold memegang cahaya yang menghangatkan itu tanpa ragu.


Saat Cahaya itu menyentuh tangan Reynold, tiba tiba cahaya itu menghilang dan Reynold terkejut lalu sebuah rasa sakit di kepalanya muncul.


Dia menggertakkan giginya dan memegang kepalanya sembari berlutut di tanah, Reynold di tengah rasa sakit berusaha menahan rasa sakit aneh di kepalanya.


Perjuangannya dia lakukan hingga dia pingsan tak sadarkan diri di lantai.