
Seperti yang sudah diprediksikan Dokyeom, keesokan paginya Wonwoo tidak mengingat apapun. Dia sendiri bingung kenapa bisa tidur di sofa, tapi Wonwoo tidak mau mengambil pusing. Mingyu yang saat itu keluar dari kamar mandi, mengamati tingkah Wonwoo yang menurutnya terlalu normal itu dengan teliti.
"Kenapa Won? Kau mencari sesuatu?" lelaki dengan tinggi badan 187cm itu mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Bagaimana aku bisa tidur disini?" ia bertanya dengan sedikit ling-lung.
"Kemarin kau pulang dalam keadaan mabuk," balas Mingyu seadanya. "....kau tidak ingat apapun?"
Wonwoo menggelengkan kepalanya, "...Memangnya kapan aku minum?" pada titik ini, Mingyu mulai sadar defense mechanism tubuh Wonwoo bagaimana. Dan semuanya sesuai dengan kata-kata Dokyeom.
"Apa ingatan terakhirmu sebelum kau tidak sadarkan diri?" Mingyu mulai menginterogasi Wonwoo.
Wonwoo melirik ke arah langit-langit apartemennya, lalu kembali menatap Mingyu, "Yang kuingat hanya saat pulang dari vet. Setelah itu semuanya kabur."
"Kau tidak ingat pergi ke tempat lain selain itu?!" dia tidak menyangka kalau ingatan Wonwoo terputus di bagian yang penting.
Wonwoo menggelengkan kepalanya, "Memangnya aku kemana lagi?" ia malah berbalik nanya.
"Bagaimana aku tahu astaga, yang minum-minum kan kamu??" sergah Mingyu dengan kesal. Dia kemudian mengambil ponselnya yang ada diatas meja itu, untuk memberitahu managernya bahwa dia sudah bangun.
"...Anyways Won, aku ada pemotretan di Shanghai hari ini, jadi kemungkinan besar aku tidak pulang sampai hari lusa. Kau tidak apa-apa ditinggal sendirian?" tanya Mingyu sedikit khawatir.
"Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu." Wonwoo sedikit menyunggingkan senyum, merasa sedikit bernostalgia karena tidak pernah ada orang yang mengkhawatirkan dia lagi seperti dulu.
"Jangan minum Won, berjanjilah padaku." ucap Mingyu bersungguh-sungguh karena dia yakin tidak akan ada yang menjaga Wonwoo disaat dia ke Shanghai nanti.
"Ya mungkin satu atau dua kaleng beer cukup bagiku," Wonwoo menepuk bahu Mingyu. "sudah ah, aku mau mandi." Wonwoo beranjak dari sofa, kemudian lelaki kurus itu langsung masuk ke kamar mandi.
Mingyu cepat-cepat menghubungi Dokyeom sesaat setelah Wonwoo masuk ke kamar mandi. "Kyeom, ini aku. Karena hari ini aku ada pemotretan di Shanghai, jadi aku—oh, sampai besok lusa. Kabari Seungcheol ya? Oke, thanks!"
Disaat yang bersamaan, Wonwoo melupakan handuk barunya karena yang kotor sudah masuk ke mesin cuci, jadi dia membuka pintu kamar mandinya untuk mengambil handuk yang baru di tempat penyimpanan, tapi tanpa sengaja dia sedikit mendengar pembicaraan Mingyu dengan seseorang. "—jadi aku—oh, sampai besok lusa. Kabari Seungcheol ya? Oke, thanks!"
Setelah dia mendengarnya, Wonwoo membuka pintu kamar mandinya hingga membuat sang empu sedikit terkejut. "Oh astaga, ada yang kau butuhkan?" tanya Mingyu dengan gugup.
"Handukku ketinggalan."
...*****...
Dokyeom yang saat itu hendak opening cafenya, agak terkejut saat Mingyu tiba-tiba menghubunginya di pagi buta. Dia mengangkat telepon itu, siapa tahu ada hal penting yang ingin Mingyu sampaikan.
"Halo? Oh, begitu kah?—ah, jadi kau ingin aku menjaga Wonwoo? Sampai kapan emang? Oh, oke baiklah. Oke, oke. Hati-hati Gyu." setelah sambungan terputus, lelaki itu mulai bersih-bersih cafenya, seperti menyapu dan juga membersihkan meja.
Karena Y/n sudah membantunya lebih dari 8 jam dia kerja, Dokyeom menyuruh gadis itu untuk datang pada shift siang. Dia tidak mau membebani Y/n untuk selalu datang pagi.
"Nae tteutdaero an doeneun haruharuga
Angaecheoreom heurithajiman
Sumaneun giri nae ape isseo
Sesangi bandaero doragadeorado
Urin jeoldae gireul ilchi anko
Ttokbaro georeogal geoyeyo
Gachi gayo."
Ketika Dokyeom sedang menyanyi dengan suaranya yang merdu sembari mengelap kaca etalase kue, ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke cafe yang belum dibuka itu.
"Oh maaf kami belum buka, tuan." dia membalikkan badannya dan mendapati Y/n yang ngos-ngosan. "Y/n? Bukannya aku menyuruhmu untuk datang siangan?" tanya Dokyeom yang sama bingungnya dengan Y/n.
"Eh? Bu-bukannya captain menyuruhku untuk jangan datang siang?" gadis yang memakai dress putih bunga itu memberikan ponselnya untuk menunjukkan pesan yang Dokyeom tulis, dan memang benar kata Y/n, dia menulis "jangan datang siang", mungkin fokusnya itu terpecah saat sedang berbicara dengan Mingyu dan Seungcheol kemarin malam.
"Astaga maafkan aku Y/n, aku salah tulis. Seharusnya datang agak siangan. Apa yang harus kulakukan, kau sudah terlanjur sampai ke sini."
"Aku pastikan akan memberimu bonus untuk gajimu minggu depan." ucap Dokyeom merasa tidak enak. Dia sebenarnya ingin menjadi boss yang baik, bukannya menyiksa pegawai seperti ini. Terlebih kemarin Y/n sudah kerja lebih dari 8 jam.
"Terima kasih banyak captain!" Y/n membungkukkan badannya dengan semangat setelah dia mendengar masalah gajinya yang akan diberikan bonus.
"Sekarang cepat ganti pakaianmu, Y/n. Ada yang ingin kutanyakan denganmu."
...*****...
"Maaf untuk masalah Wonwoo kemarin ya, rasanya dia sudah membuatmu penasaran kan sejak kemarin?" dia membuka obrolan saat Y/n sedang menata tumpukan gelas kertas dalam berbagai ukuran.
Y/n sebenarnya sedikit ragu-ragu, tapi dia kemudian menjawab, "Aku kasihan melihat Wonwoo-ssi." kata gadis itu dengan suara yang sedikit gemetaran.
"Aku tahu maksudmu, karena itu aku meminta maaf." potong Dokyeom ketika dia memotong plastik berisi tumpukan gelas plastik untuk diberikan kepada Y/n.
"Captain tau?"
"Tentu saja, dia itu sahabatku sejak SMA." Dokyeom menyandarkan pinggangnya pada meja konter sambil melihat Y/n yang menata tumpukan gelas plastik.
"Setelah mendengar ceritanya kemarin, jujur saja aku ingin melihat Wonwoo-ssi bahagia. Tapi apa yang bisa kulakukan, aku bukan siapa-siapanya."
"Kau menyukainya?" goda Dokyeom.
"BAGAIMANA MUNGKIN! A-AKU SUDAH MENYUKAI ORANG LAIN!" jawab Y/n dengan wajah yang merona.
Dokyeom nampak sedikit kecewa, "Eh benarkan? Aku kira kau menyukai Wonwoo," ujarnya. "padahal kalau kau menyukainya, aku akan merestuimu."
"Itu tidak mungkin, captain! Aku sudah memiliki orang yang kusukai sejak lama." Y/n melirik pada Dokyeom yang tengah mengernyitkan dahinya.
"Begitu ya, kalau begitu aku harus mencoret namamu dari daftar." ucap Dokyeom nampak sedikit sedih.
"Daftar... apa itu?" tanya Y/n sedikit takut-takut.
Dokyeom menoleh, "Daftar nama orang-orang yang akan dijodohkan dengan Wonwoo."
"Apa kalian sedang melakukan matchmaking untuk Wonwoo-ssi?" tanya Y/n disela-sela tawanya yang ringan.
Dokyeom menepuk kepala Y/n, "Begitulah. Tapi kami sedang kekurangan kandidat." ucapnya sebelum dia membalikkan badan untuk menghitung stock barang di gudang.
Sepeninggalan Dokyeom, Y/n merasakan bahwa kedua pipinya memanas karena sebelumnya Dokyeom tidak pernah menepuk kepalanya. Dia menutup wajahnya yang memerah itu dengan kedua tangan sambil melompat-lompat dengan riang.
...*****...
Dan seperti biasanya, Wonwoo mampir ke Cafe Pirates sebelum dia berangkat ke veterinary. "Hot americano satu, dan Japanese Cheesecake-nya satu." ucapnya sambil melihat wajah Y/n yang berdiri dibelakang meja kasir.
"Hot americano satu, Japanese Cheesecake satu. Kau pasti menyukai Japanese Cheesecake yang kemarin ya, sampai-sampai kau memesannya kembali?" goda Y/n sambil menggesek kartu kredit Wonwoo.
Wonwoo yang sedikit kebingungan karena Y/n tiba-tiba berbicara dengan nada yang tidak terlalu baku, hanya bisa memiringkan kepalanya, "Kau?—ah yeah, kuenya enak." balasnya seadanya.
"Ini kartu dan ringnya, Wonwoo-ssi." kata Y/n dengan menyunggingkan senyumnya yang lebar.
Wonwoo terdiam sebentar dengan badan yang kaku saat melihat senyum Y/n yang secerah mentari. "Ah, te-terima kasih." dia menundukkan kepalanya sedikit.
"Berikutnya! Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Y/n kepada orang yang antri dibelakang badan Wonwoo.
Wonwoo menatap wajah Y/n dari kejauhan sembari memegangi dada kirinya. Entah perasaan apa yang baru saja dia rasakan, tapi perasaan yang aneh dan unik itu berhasil membuat jantung Wonwoo sedikit berdebar.
Apa aku sedang sakit? Pikirnya, sambil memiringkan kepalanya sedikit.
Dokyeom yang baru saja keluar dari gudang untuk menghitung stock, tidak sengaja melihat tingkah laku Wonwoo yang tidak biasa. Senyumnya mengembang begitu dia menyadari kalau Y/n lah type wanita yang disukai Wonwoo.
"Ternyata jodoh tidak kemana." gumamnya jahil.
...*****...