100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)

100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)
Ch 3 : Movie Night



Sepulangnya dari reuni yang menguras tenaganya itu, Wonwoo yang masih menggunakan bathrobe—duduk diatas sofa untuk menonton film apapun yang saat itu di rekomendasikan oleh netflix.


Tapi pilihannya itu jatuh kepada satu film thriller yang tadi dibicarakan oleh Jeonghan dan Joshua. Wonwoo sebenarnya orang yang realistis, menurutnya, kdrama atau film dengan berlabel berdasarkan kejadian nyata hanyalah akal-akalan dunia perfilman agar film mereka terkenal.


"Thousand Side of Him, huh? Memang sebagus apa sih sampai mereka membicarakannya di reuni?" lelaki itu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan santai.


Wonwoo melirik jam dinding di apartemennya yang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, biasanya orang lain sudah berada didalam dunia mimpi. Tapi disini Wonwoo malah menonton film thriller seorang diri.


"Film macam apa ini, kenapa aku malah mengantuk." Wonwoo memutuskan untuk merebahkan badannya ke atas sofa empuknya yang berwana putih tulang. Tidak selang beberapa saat kemudian, disaat main character dalam film itu hendak membuka pintu, sesuatu yang kurus—mirip tangan manusia yang sudah membusuk— menutup mulut si main character lalu membawanya masuk ke ruangan bawah tanah.


Disaat yang sama, seseorang tiba-tiba membunyikan bel rumahnya seperti lolongan serigala yang tidak kunjung berhenti.


"Siapa pula bertamu jam 1 pagi," Wonwoo menggerutu. "siapa ya?" dia mencari keberadaan tamu itu dari video intercom rumahnya, tapi tidak ada siapapun di layar.


Dia merasa bimbang, haruskah dia membuka pintu itu, atau menghiraukannya.


Tapi untungnya Wonwoo tidak mengambil pusing. Dia kembali duduk ke sofa rumahnya yang empuk tanpa mau memeriksa lebih lanjut.


Siapa yang mengira kalau orang yang membunyikan belnya sedang bersembunyi dan ingin membunuhnya? Sial, sepertinya Wonwoo terbawa oleh imajinasi kotor dari film yang dia tonton.


"Hah, aku pasti sudah gila," gerutunya kesal. "semua ini karena Yoon Jeonghan dan Joshua Hong."


Disaat Wonwoo kembali menikmati film thriller itu lagi, seseorang kembali membunyikan bel rumahnya. Dan kali ini suaranya sangat intense hingga membuat Jeon Wonwoo—orang yang realistis—merasa sedikit takut.


Sialan, film itu lagi-lagi merusak mental Wonwoo.


"Siapa sih? Kalau kau menginginkan sesuatu, kau bisa minta ke security didepan." balasnya gusar. Hingga dia tiba-tiba melihat sebuah tangan yang menggapai pada video intercom dirumah Wonwoo.


"To-long aku, Wonwoo. Kepalaku ingin pecah..." suara itu—terasa tidak asing di telinganya. Tapi siapa-?


Tunggu dulu, jangan-jangan...


Kim Mingyu?


Wonwoo membuka pintu rumahnya dan benar seperti yang ia pikirkan, Mingyu menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menundukkan kepalanya. Badannya terlihat lemas, seperti dia tidak ingat dimana dia harus pulang—atau seseorang yanh sengaja membuangnya ke sini.


" ...Siapa yang menyuruhmu kesini?" Wonwoo melipat kedua tangannya dibawah dada, menunggu penjelasan dari Mingyu yang setengah sadar dan tidak sadar.


"Do—ugh." dia menutup mulutnya, seperti hendak mau memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Sial sial, jangan muntah kesini!!"


...*****...


Wonwoo memijit bagian tengkuk Mingyu begitu lelaki itu memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam kloset. Wonwoo merasa lega karena pulang di tengah-tengah acara, kalau tidak mungkin dia akan berakhir sama seperti Mingyu. Seungcheol orang yang sinting kalau dia mabuk.


"Sudah merasa baikan?" tanyanya, memastikan kalau Mingyu sudah baik-baik saja sebelum menyuruh lelaki dengan tubuh yang atletis itu untuk mengganti bajunya dengan piyama agar pakaiannya yang penuh dengan bekas muntahan itu bisa di cuci.


"Ugh... makasih Won. Seungcheol sialan, dia bertaruh bersama Joshua kalau aku tidak bisa meminum tujuh botol soju." dia tidak berhenti mengomel.


"Tuntaskan dulu muntahan mu, Gyu. Setelah itu ganti bajumu dengan yang ini. Aku tidak suka bau muntahan dirumahku," ucapnya sambil meletakkan piyama corak hitam putih ke lantai disebelah kiri Mingyu. "sialan, aku sampai lupa mau bilang ke security kalau ada bekas muntah di depan unit-ku, thanks to certain someone."


"Uh-huh, makas—hueeeekk!!"


Wonwoo mempertegas rahangnya, "setelah mandi dan ganti baju, kau boleh tidur di sofa."


Lelaki dengan rambut yang agak keriting itu membuka isi kulkasnya, mencari minuman untuk menghilangkan hangover—tapi sepertinya botol terakhir yang miliknya sudah ia gunakan kemarin malam.


"Kenapa disaat-saat seperti ini," pandangan lelaki itu melesat kearah kamar mandi sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke supermarket.


...*****...


"Mingyu, aku ke supermarket dulu. Jangan keluar dari toilet kalau kau masih mual—atau aku akan mengusir mu sekarang juga." pinta Wonwoo sebelum ia pergi. Ia menggunakan jaket hoodie hitam dengan celana jeans pendek diatas lutut.


"Uh-huh..." balasan dari Mingyu membuat Wonwoo sedikit jengkel.


"Jawab yang benar."


"Iya iya, kau tidak lihat kalau aku sedang menderita?!" gerutu Mingyu yang memberikan tatapan maut seolah ingin memukul wajah Wonwoo dengan baju ganti yang berada disebelahnya.


Wonwoo menghela napas panjang sebelum akhirnya benar-benar keluar dari apartemennya. Ini adalah kali pertama Wonwoo memiliki tamu—atau mungkin juga roommate. Sejak Wonyoung tiada, Wonwoo tinggal seorang diri di apartemen-nya. Dia sedikit kesepian memang, tapi Wonwoo tidak mengeluh.


Meskipun dia tidak mau mengakuinya, tapi dia senang dengan kehadiran Mingyu. Seolah-olah hidupnya yang black and white tiba-tiba kembali berwarna.


"Haruskah aku membeli kimbab instant? Nasi instant boleh juga. Persediaan kimchi-ku masih ada tidak ya..." ia berkeliling dengan teliti di supermarket self-service yang tidak jauh dari apartemennya.


"Woops, sepertinya aku sudah beli terlalu banyak," dia kemudian berjalan ke arah kasir untuk membayar dan membungkus barang belanjaannya sendiri.


...*****...


Setibanya di pintu apartemennya, Wonwoo memencet passcode dengan ibu jarinya yang kurus dan panjang, selang beberapa saat kemudian pintu pun terbuka.


"Oh, kau sudah pulang ya?" langkah Wonwoo terhenti. Kapan terakhir kalinya Wonwoo pulang ke rumahnya lalu kedatangannya disambut seperti ini? Pikir lelaki berambut comma itu, sedikit bernostalgia.


"Mau kimbab?" tanyanya sambil mengangkat kedua kantung plastik besar di kedua tangannya.


"CALL!"


Wonwoo meletakkan kimbab ke dalam microwave selama beberapa menit sambil melontarkan beberapa pertanyaan—atau lebih tepatnya interogasi—kepada Mingyu.


"Ngomong-ngomong, siapa yang mengantarmu ke sini? Lalu bagaimana kau bisa tahu persis unit-ku?" dia melontarkan pertanyaan yang mengganggunya sambil menyandarkan bahunya kepada kulkas.


"Dokyeom, si sialan itu. Padahal aku sudah menyebut alamat rumahku." gumam Mingyu kesal, dia seperti hendak mengutuk Dokyeom dan juga keluarganya.


Wonwoo mengernyitkan dahinya, "Bagaimana bisa si Dokyeom tau persis alamat dan unit-ku coba? Seingat ku, aku tidak pernah memberikan informasi apapun pada kalian."


"Di kartu namamu mungkin? Kau berbagi kartu nama kan? Apa kau mencantumkan alamatmu disana?"


Wonwoo menggeleng tidak menyetujui, "Itu mustahil, Gyu. Kartu nama itu tempat praktik ku. Jadi aku hanya menggunakan alamat vet."


Mingyu mengambil bantal di sofa Wonwoo, kemudian memeluk bantal itu, "Mungkin, dia pernah melihatmu pulang?" tanya Mingyu asal-asalan.


Wonwoo lagi-lagi menggeleng, "Sialan, dia membuatku takut kadang-kadang. Tingkahnya seperti stalker." dia mengeluarkan kimbab dari microwave.


"Bukannya dia juga yang membawa obrolan tentang cewekku? Dia tau dari mana coba kalau Ayana orang Jepang?" kedua bola mata Mingyu mengikuti Wonwoo yang berjalan menghampirinya. "tidak ada yang lebih baik dari pada minum alkohol dan makan kimbab."


Wonwoo buru-buru mengambil sekaleng alkohol dari tangan Mingyu sebelum ia berhasil membukanya. "Ah, ini bukan untukmu. Tidak ingat 30 menit yang lalu kau muntah-muntah sampai kelelahan? Not today, sir."


"Oh ayolah, kau tidak ingin terlihat seperti Ibuku kan?" ucap Mingyu sedikit merajuk.


"Aku tidak mau kau merusak karpet buluku ini dengan muntahan mu, Gyu."


Mingyu memanyunkan bibirnya, "Sial. Aku sudah tidak muntah lagi, kau tahu?! Perutku sudah kosong."


"Bisakah kau berhenti mengomel? Aku mau melihat film menyedihkan ini!" Wonwoo berbalik berteriak.


"Kenapa kita harus saling berteriak!? Lagi pula genre film ini adalah thriller, bukan angst!"


...*****...


Setelah film berakhir, Mingyu yang selama ini tidur di sofa dilantai bawah, iseng bertanya kepada Wonwoo. "Won, kau sudah tidur?"


"Memangnya kenapa?" balas Wonwoo sedikit gusar.


"Setahuku, kau memiliki Adik perempuan, kan? Jeon Wonyoung dari kelas 1-5 kalau tidak salah," Mingyu mengingat-ingat jaman semasa dia masih sekolah. "bagaimana kabar dia?" lanjutnya.


"Wonyoung ada ditempat yang indah sekarang."


"Dia ke Amerika kah?"


Ada jeda sedikit sebelum Wonwoo kembali menjawab, "Leukemia got her. So she's in a better place now." dia sengaja menjawab menggunakan bahasa Inggris agar dia tidak kembali menangis


Mingyu terdiam, bukan karena dia tidak mengerti arti kata-kata Wonwoo, melainkan ia baru saja mengetahui fakta kedua kenapa Wonwoo menjadi anti sosial.


"I'm sorry." gumam Mingyu, merasa tidak enak.


"It's fine. It's been years already."


Mingyu merasa semakin tidak enak, jadi dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah enak menjadi Dokter Hewan?"


"Yeah, so-so. Aku lebih senang bertemu dengan hewan daripada bertemu dengan manusia." balas Wonwoo sambil menguap.


"Kau sudah mengantuk ya? Ayo tidur."


...*****...