100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)

100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)
Ch 7 : The Plan



20 menit sebelumnya.


Ketika Dokyeom membersihkan meja, sementara Y/n mengepel lantai, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke Cafe Pirates. Seorang lelaki jangkung dengan jaket kulit yang mahal dan juga topi berwarna hitam yang terlihat mencurigakan sekali.


"Selamat datang!" dan seperti customer-nya yang lain, Dokyeom beserta Y/n, menyambut lelaki yang aneh itu dengan ramah. Tapi begitu lelaki itu membuka topinya, senyum Dokyeom seketika mengembang.


"WAH, SEUNGCHEOL!" ia membuka kedua lengannya hendak memeluk teman SMA-nya itu, tapi Seungcheol buru-buru menghindar karena merasa jijik. Dan entah apa yang terjadi setelah itu, keduanya pun sama-sama tertawa.


"Apa yang membawamu ke cafe kecilku ini?" Dokyeom menepuk punggung Seungcheol setelah mereka saling berpelukan dengan paksaan Dokyeom. Dia kemudian menarik kursi menyuruh Seungcheol duduk, tapi lelaki itu malah menolaknya.


"Cafe kecil apanya—ini cafe dengan konsep unik yang pernah kutemui di Seoul," lelaki dengan alis yang tebal itu memuji—membuat Dokyeom sedikit tersipu malu, "ah anyways, ada yang ingin kubicarakan Kyeom. Mau ikut aku sebentar?" Seungcheol memperlihatkan kunci mobil Audi A6 berwana hitam yang baru saja dia beli sebulan yang lalu.


Dokyeom memiringkan kepalanya sebelum menjawab, "Maaf tapi, aku tidak mungkin meninggalkan pegawai baruku untuk closing-an sendiri. Dia udah opening tadi pagi—" dia melirik ke arah Y/n yang sedang mengepel lantai diseberang ruangan.


"Oh ayolah. Dia pasti bisa melakukannya. Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu, Kyeom." pintanya sedikit memaksa.


"Memangnya apa sih? Tidak bisa ya kita bicara disini? Aku bisa menyuruh Y/n ke—" belum selesai dia bicara, Seungcheol buru-buru memotong.


"—Tidak. Ini penting." raut wajahnya seketika berubah menjadi sangat serius.


Dokyeom menghela napas panjang sebelum akhirnya dia menyetujuinya, "Baiklah. Tapi aku mau ngomong sama pegawaiku 5 menit sebelum kita pergi." katanya sembari buru-buru meletakkan kain lap yang dia bawa ke belakang konter. Kemudian dia berbicara kepada Y/n dan menjelaskan dengan singkat apa yang harus dia lakukan saat closing-an cafe.


Jujur saja, dia sebenarnya tidak mau meninggalkan Y/n sendirian, tapi rasanya dia tau apa yang Seungcheol akan bicarakan dengannya setelah ini.


It's about time, anyway.


"Y/n, aku mengandalkanmu." itulah kata-kata terakhir dari Dokyeom sebelum Seungcheol menculiknya.


...*****...


Masa sekarang.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Cheol? Kenapa tiba-tiba suasananya menjadi sangat tegang begini?" Dokyeom bertanya begitu mobil Seungcheol berjalan.


Seungcheol awalnya hanya diam tanpa mengatakan apapun, tapi setelah dia menemukan belokan pertama, mulutnya akhirnya berucap.


"Ini tentang Wonwoo." begitu mendengarnya, Dokyeom langsung menyunggingkan senyum yang masam. Dia tahu ini akan terjadi.


"Kurasa aku tau pembicaraan ini mengarah kemana," gumam Dokyeom sedikit getir. "...dia ingin bunuh diri kan?" Seungcheol tanpa sadar menginjak rem secara tiba-tiba hingga membuat mobil dibelakang mereka menyalakan klakson yang panjang.


"Tunggu, jadi kau tahu?" Seungcheol sedikit terkejut.


"Aku tahu dari awal," gumam Dokyeom, masih dengan nada yang sama. "...Wonwoo selalu datang ke cafeku kalau dia ingin minum. Dia bilang, minum sendirian itu tidak enak." ia menjelaskan.


"Kenapa kau tidak mengatakan apapun kepada kita?" tanya Seungcheol sembari meremas steering wheel mobilnya karena kesal. "kau harusnya cerita ke kita!" tanpa sadar dia sedikit membentak.


"Kau tidak tahu apa saja yang sudah kulakukan untuk Wonwoo, Cheol." Dokyeom menundukkan kepalanya sembari mengepalkan kedua tangan, berusaha untuk menstabilkan emosinya.


Seungcheol tertarik mendengarnya, "Memang apa saja yang sudah kau lakukan untuknya?"


"Mendengarkan semua amarahnya, kesedihannya, dan penyesalannya. Membawanya kembali ke rumah kalau dia pingsan. Menemaninya sampai dia sedikit baikan. Meskipun aku yakin dia tidak ingat itu semua."


Seungcheol menghentikan mobilnya ke tepi jalan agar dia bisa menjernihkan pikirannya. "Jadi kau melakukan itu semua?"


"Iya. Bukan ranahku untuk menceritakan masalah yang dia punya, jadi aku mengirim Mingyu ke apartemennya hari itu." Dokyeom menghela napas rendah.


"Jadi itu alasannya kenapa kau tahu unit apartemen Wonwoo. Mingyu mengira kau itu seorang stalker," dia menjelaskan sembari menyisipkan tawa yang garing.


"Aku tidak perduli kalian mau menyebutku stalker. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan untuknya."


"Maaf masalah stalker itu ya, aku akan menjelaskan semuanya ke Mingyu." ucap Seungcheol dengan lidah yang sedikit tercekat.


Air mata Dokyeom yang selama ini dia tahan-tahan akhirnya tumpah juga, "Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, Cheol.... Aku menyayangi Wonwoo seperti saudaraku sendiri."


Saat mereka hendak bertukar pikiran, ponsel pintar Dokyeom tiba-tiba berbunyi. "Halo? Iya kenapa Y/n?"


...*****...


Disaat yang bersamaan, Wonwoo meneguk sebotol soju dalam sekali teguk. Dia menundukkan kepala karena kepalanya terasa begitu berat.


"I-itu uh, tuan—maksudku Wonwoo. Apa kau baik-baik saja?" tanya Y/n sedikit khawatir, tapi Wonwoo tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepala sambil mengerang rendah seolah dia sedang menertawakan dirinya sendiri.


"Haruskah aku menghubungi captain Dokyeom?" dia mengeluarkan ponsel dari celemek kerjanya, hendak menghubungi ponsel Dokyeom. "ahh, apa yang harus kulakukan?" dia menjadi panik sendiri, tapi akhirnya dia berhasil mengumpulkan keberaniannya itu untuk menghubungi boss-nya.


"Ha-halo? Captain apa yang harus kulakukan...?" dia menggigit bibir bawahnya sendiri, sementara Dokyeom terdengar ikutan bingung diseberang sana.


"Jadi Dokter Jeon datang kesini untuk mengajakku minum, dan sepertinya dia... sudah mabuk berat," Y/n mondar-mandir dibelakang tubuh Wonwoo yang mulai terhuyung-huyung hampir jatuh. "AAAAHH JANGAN TIDUR DISINI TUAAAAAN!" ponsel Y/n jatuh ke lantai saat dia menahan tubuh Wonwoo yang hampir jatuh.


Dokyeom langsung memutus sambungan teleponnya begitu dia mendengar teriakan Y/n dari dalam ponsel. Dia kemudian menyuruh Seungcheol untuk berbalik ke cafenya.


Begitu tiba di Cafe Pirates, Seungcheol melihat sendiri keadaan Wonwoo yang sudah tidak sadarkan diri, dia kemudian ikut membantu Y/n untuk menahan tubuh Wonwoo yang hampir terjatuh, "Sekarang kau paham kan maksudku? Ini yang selalu kulakukan."


"Wonwoo sebenarnya tidak kuat alkohol, tapi dia selalu minum untuk menghilangkan depresinya." Dokyeom berucap begitu dia selesai membereskan botol-botol soju kosong yang dibawa Wonwoo.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Seungcheol.


"Membawanya pulang, tentu saja. Setelah saat lelaki itu terbangun keesokan harinya, dia akan melupakan semua yang terjadi seolah tidak ada apa-apa."


...*****...


"Kau sudah pulang, Won?" sapa Mingyu yang saat itu keluar dari kamar mandi. Tapi begitu dia melihat ada wajah lain disebelah Wonwoo, Mingyu sedikit terkejut, "Dokyeom, Seungcheol? Bagaimana kali—oh astaga! Apa yang terjadi dengan Wonwoo?!"


"Bisa kau simpan pertanyaanmu itu untuk nanti? Kami butuh bantuan, sialan." gerutu Seungcheol kesal. "sial, kenapa liftnya ada perbaikan disaat-saat seperti ini." ia tidak berhenti mengomel karena mereka menggotong Wonwoo menaiki tangga ke lantai 5 dengan susah payah.


Setelah meletakkan Wonwoo ke sofa, mereka bertiga akhirnya duduk di meja makan tanpa ada dari mereka yang memulai percakapan. Mingyu melirik Dokyeom dengan takut-takut, menyadari lirikan dari Mingyu, Kim Dokyeom menghela napas panjang.


Dokyeom balik melirik Mingyu, "For the starter, aku bukan stalker. Ini adalah rutinitas ku kalau Wonwoo sedang depresi." dia mengangkat kedua tangannya sedikit, menunjukkan kalau dia tidak bersalah.


"Maaf." gumam Mingyu merasa bersalah karena sudah menyebut bahwa Dokyeom sebagai stalker.


"Ya, Dokyeom sudah mengatakan semua padaku. Dia selalu mengantar Wonwoo pulang ke apartemennya setiap Wonwoo mengajaknya minum." Mingyu tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Seungcheol.


Dokyeom menghela napas panjang, "Karena Wonwoo akan melupakan segalanya setelah dia bangun." ucap lelaki itu sembari meneguk segelas air dari kulkas.


"Maaf Kyeom, aku asal bicara. Kau pasti punya alasan sendiri kenapa membawaku ke unit Wonwoo waktu itu kan?" Mingyu menundukkan kepalanya, merasa tidak enak.


"Bukan ranahku untuk menceritakan masalah Wonwoo pada kalian, karena itulah aku membawamu kesini," ia menjelaskan sembari menepuk kepala Mingyu dengan lembut. "karena masalah denganku sudah beres, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya? Wonwoo tidak pernah meminum obat dari psikiater-nya lagi sejak dia menulis buku sialan itu."


Dokyeom sepertinya tahu banyak, pikir Seungcheol.


"Jangan mencoba untuk membukanya, kalau kau tidak ingin menangis." Dokyeom memperingatkan.


"Terlambat Kyeom, Mingyu sudah membacanya. Dan dia tidak berhenti nagging kepada kami setelahnya." lelaki yang duduk disamping kiri Mingyu memamerkan seringai diwajahnya yang tampan.


"Diam kau, Seungcheol." gerutu Mingyu malu.


Dokyeom menyandarkan punggungnya ke kursi. "Jadi apa yang akan kalian lakukan untuk Wonwoo hm? Aku ingin melihat usaha kalian untuk mencegah si sialan itu bunuh diri." dia melipat kedua tangannya dibawah dada.


Mingyu memiringkan kepalanya untuk berpikir, "Karena depresinya itu berasal dari wanita, jadi yah, bagaimana kalau kita jodohkan saja dengan wanita yang lain?"


"Kau mau menjodohkan orang yang sedang kehilangan semangat hidup—? Jangan membuatku tertawa disini Kim Mingyu." serobot Seungcheol, tidak menyukai ide Mingyu yang menurutnya absurd.


Dokyeom mengernyitkan dahinya. "Ya sebenernya itu ide memang sedikit aneh, tapi itu tidak ada salahnya dicoba. Masalahnya, siapa yang mau kau kenalkan dengan Wonwoo? Dia kan selalu picky kalau sedang membicarakan tentang wanita. Kita bahkan tidak tau type bocah sialan itu bagaimana."


"Adiknya.... Vernon?" balas Mingyu ragu-ragu.


"Kau gila. Vernon sangat overprotektif dengan siapa Adiknya akan berkencan, jadi jawabannya pasti tidak." potong Seungcheol.


"Bagaimana dengan Kakak perempuan Hoshi? Dulu Wonwoo pernah berkencan dengan nuna nuna kan?" lagi-lagi jawaban dari Mingyu membuat Seungcheol sedikit kesal.


"Kenapa kau selalu menjodohkan Wonwoo dengan keluarga temanmu sendiri sih?" Seungcheol tanpa sadar sudah meninggikan suaranya.


"Ya memangnya kenapa? Mereka sangat cantik!" balas Mingyu dengan nada yang sama.


Dokyeom tiba-tiba teringat kepada Y/n, pegawainya di Cafe Pirates. "Hehehe, guys...." Dokyeom tidak berhenti menyunggingkan senyum di wajahnya yang tampan.


"KENAPA TIDAK ADIKMU SAJA YANG KAU KENALKAN DENGAN WONWOO?!" bentak Seungcheol.


"Guys...."


"ADIKKU OFF LIMIT, ASAL KAU TAHU SAJA." Mingyu tidak berhenti mengomel.


"HEY GUYS!!!" bentak Dokyeom sambil memukul meja, membuat keduanya tersentak karena kaget. "kau tahu dengan pegawai cafeku kan, si Choi Y/n? Bagaimana kalau dia saja? Lagi pula, Wonwoo juga sudah pernah minum bareng dia kan?"


"Choi Y/n? Namanya terasa tidak asing, apakah kita mengenal seseorang dengan suku kata yang sama dengan Choi Y/n?" gumam Mingyu sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Choi Yeji?—oh bukan ya." ucap Dokyeom mengarang.


"Choi.... Choi Yuju, bukan sih?—si gadis gorilla?" sergah Mingyu mengingat-ingat.


"Ah iya Yuju! Bagaimana kabarnya dia ya? Katanya dia kuliah di Amerika setelah lulus dari SMA." Seungcheol bercerita.


"Mungkin badannya semakin besar?" ejek Mingyu dan Seungcheol sembari tertawa bersama.


"Intinya, bagaimana dengan Choi Y/n tadi guys? Kalian setuju tidak?" desak Dokyeom dengan nada serius.


"Memangnya Y/n mau dengan Wonwoo?" kata Mingyu sedikit back and forth.


"Siapa yang tidak mau dengan Wonwoo emang? Dia lebih tampan dari kalian semua disini." Dokyeom mulai membanggakan temannya, yang dia tidak tahu adalah sebuah fakta bahwa Y/n telah menaruh hati padanya.


...*****...