100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)

100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)
Ch 1 : Hot Americano



Wonwoo memakai mantel tebal sebelum ia keluar dari unit apartemennya. Meskipun Wonwoo adalah seorang Dokter Hewan, tapi gaji bulanannya tidak se-fantastis Dokter dengan spesialis lainnya. Jadi dia hanya bisa mengandalkan apartemen one room yang dia sewa dengan harga murah.


Cuaca di Seoul saat itu hampir mencapai 15° celsius, kau bahkan bisa melihat nafasmu sendiri sangking dinginnya. Tapi orang-orang terlihat bersemangat pagi ini, apa mungkin karena besok adalah hari minggu?


"Tolong hot americano-nya satu." ucap lelaki itu begitu gilirannya tiba, sementara tangannya merogoh dompet kartu yang ada disaku belakang celananya.


Cafe Pirates adalah tempat favorit Wonwoo untuk minum americano—bukan karena Cafe itu yang paling dekat dengan tempat prakteknya, melainkan karena rasa dan suasananya yang membuat kalian betah berlama-lama disana. Serasa berada di dalam kapal yang tengah berlayar di tengah samudera.


"Atas nama Jeon Wonwoo, benar?" lelaki itu menoleh kearah sumber suara begitu dia mendengar namanya dipanggil.


Wonwoo bahkan belum sempat menyebutkan namanya, bagaimana bisa—


"Oh ternyata itu kau, Dokyeom." dia memberikan kartu kreditnya untuk digesek.


Lelaki dengan hidung runcing itu memamerkan giginya yang rapih setelah puas membuat teman semasa SMA nya itu terkejut. "Kemana saja kau, anak-anak yang lain mencari keberadaan mu tau," sapanya ramah.


Terkadang Wonwoo lupa kalau cafe ini milik teman semasa sekolahnya dulu, Lee Dokyeom.


"Depresi membuatku tertutup dari dunia luar," balas lelaki berkacamata itu dengan seadanya. "—ini ring punyaku kan?" Dokyeom menjawab dengan anggukan yang singkat. Setelah dia menerima kartunya kembali, Wonwoo berbalik untuk mencari kursi kosong sembari menunggu pesanannya tiba.


"Selamat pagi, captain Dokyeom!" suara teriakan dari seorang gadis menarik perhatian Wonwoo.


Gadis berwajah oriental yang sepertinya masih kuliah itu menghampiri Dokyeom yang sedang memasukkan ice ke dalam gelas plastik. Rambut ekor kudanya itu bergoyang ke kanan dan kiri setiap ia melangkahkan kakinya.


"Oh, Y/n! Kau sudah datang rupanya! Tolong kau check stock dibelakang ya." Dokyeom menunjuk kearah pintu dengan tulisan "STAFF ONLY".


"Ay ay captain!" dengan sigap gadis yang penuh energi itu memakai celemek cokelat dan topi hitam seperti yang dipakai oleh Dokyeom.


Wonwoo tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya, mungkin Dokyeom baru saja merekrut gadis itu.


Mesin kecil yang dibawa Wonwoo tiba-tiba bergetar dengan lampu merah yang berkelip-kelip beberapa kali, pertanda bahwa pesanannya sudah siap.


"Aku tidak pernah melihatnya, anak baru ya?" Wonwoo tidak menunjukkan minat saat bertanya, tapi Dokyeom tahu persis siapa yang sedang Wonwoo bicarakan.


"Kemarin aku mengangkatnya. Anak yang rajin, jadwal kerjanya nanti siang, tapi dia malah datang lebih awal." jelasnya sambil memberikan americano pesanan Wonwoo.


"Y/n, ya?"


"Iya. Choi Y/n. Cantik ya dia? Aku akan merekrut gadis dengan wajah yang cantik untuk menarik pelanggan." matanya terlihat seperti sedang berapi-api saat lelaki itu mengatakannya.


Wonwoo memutar bola matanya, "Senyummu terlihat seperti stalker, Kyeom. Anyways, terima kasih untuk americano-nya. Enak sekali."


"Sama-sama—oh hey! Besok ada pesta reuni. Kau ikut? Banyak yang datang lho! Kau masih ingat Joshua kan? Istrinya hamil anak kedua sekarang! Terus Jeonghan sama Hoshi juga akan datang ke reuni besok!"


Wonwoo membuka pintu kaca cafe sedikit sebelum ia berbalik untuk menjawab, "Hm, entahlah Kyeom. Aku mungkin sibuk. Kita lihat saja nanti."


"Hei, ayolah! Kau sudah tidak pernah datang ke reuni lagi, banyak yang merindukanmu!" Dokyeom melihat punggung Wonwoo semakin menjauh. "sialan, anak itu keras kepala sekali." Dokyeom menggelengkan kepala sambil membersihkan etalase kue dengan kain hitam.


"Captain, mau lapor." suara itu mengejutkan Dokyeom hingga badannya terperanjat karena kaget.


"Astaga, Y/n! Jangan muncul tiba-tiba di belakangku. Kau bukan latihan menjadi ninja."


...*****...


"...tolong pastikan Ddori untuk meminum antibiotiknya sampai habis ya. Untuk sementara, beri dia makanan basah saja supaya perutnya enakan." ucap Wonwoo sambil mengusap bulu anjing shih tzu yang meringkuk ketakutan diatas timbangan bayi.


"Ddori anak yang baik. Nurut sama eomma-nya ya?" senyum lelaki itu mengembang begitu Ddori menjilat ujung jarinya yang memakai sarung tangan latex berwarna biru muda.


"Apa Ddori akan baik-baik saja, Dok?"


"Dia baik-baik saja kok. Dia cuma suka kebanyakan makan sampai perutnya sakit. Lebih bagus lagi waktu makannya diberikan beberapa jam sekali. Misal jam 8 pagi, jam 12 siang, jam 4 sore, dan jam 7 malam. Porsi makannya juga harus diatur, usahakan untuk tidak terlalu banyak."


"Terima kasih banyak, Dok, atas bantuannya!"


"Dengan senang hati," begitu semua orang keluar dari ruangan praktiknya, Wonwoo akhirnya dapat menarik napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "perawat Kang, apa itu pasien terakhir kita?


"Iya Dok, itu pasien terakhir kita untuk hari ini."


Hari yang melelahkan, tapi cukup menyenangkan bisa bertemu dengan berbagai hewan peliharaan beraneka macam. siapa yang menyangka kalau akhir-akhir ini ada trend memelihara reptil di kalangan murid SMA.


Ketika Wonwoo sedang membersihkan mejanya untuk bersiap pulang, Perawat Kang tiba-tiba berteriak dari luar ruangannya untuk menarik perhatian Wonwoo.


"Ada apa?"


"Letakkan dia di meja ini," Wonwoo mengambil dua sarung tangan latex sebelum mulai memeriksa detak jantung kucing yang sekarat itu. "jadi apa yang terjadi dengannya?" dengan sigap Wonwoo memeriksa detak jantung kucing itu menggunakan stetoskop. Wonwoo dapat bernafas lega karena kucing itu ternyata masih bernafas meskipun sangat lemah. Kucing memiliki 9 nyawa memang nyata.


"Aku—aku tidak tahu pastinya, tiba-tiba ada mobil yang menabraknya lalu supirnya kabur begitu saja." jelasnya disela-sela isak tangisnya.


"Baiklah, silahkan anda menunggu diluar. Saya akan memeriksanya lebih rinci. Perawat Kang bisa tolong siapkan tabung oksigen?"


...*****...


Sudah hampir 2 jam lebih Choi Y/n menunggu diruang tunggu, sementara Dokter itu melakukan segala yang beliau bisa untuk menolong kucing itu. Namun karena dia adalah anak yang mudah khawatir, Y/n hanya bisa mondar-mandir sambil menggigiti ibu jarinya yang kini berdarah. Ini adalah kebiasaan buruknya sejak masih duduk di sekolah dasar.


Saat ia sedang mondar mandir di ruang tunggu, ponsel pintarnya tiba-tiba bergetar—ternyata itu panggilan dari Dokyeom, bos barunya di Cafe Pirates.


"I-iya, Captain?" tanya Y/n dengan suara yang sedikit bergetar. Dia takut kalau bos barunya itu memecatnya di hari pertama dia bekerja.


"Kemana kau? Aku mencarimu dimana-mana tidak ketemu, tapi barang-barangmu masih disini." tanyanya dengan nada sedikit khawatir.


"Maaf, Captain. Saat sedang membuang sampah tadi ada kucing di tabrak mobil. Jadi aku langsung pergi ke vet terdekat. Sampai sekarang mereka menangani kucing itu..."


Dokyeom terdengar mulai khawatir, "Tapi kamu tidak apa-apa kan?" Y/n hanya menjawab dengan erangan karena ia sudah tidak bertenaga lagi. "oke, tunggu saja disana, aku akan menyusul setelah closing-an cafe."


"Ba-baiklah, terima kasih Captain."


...*****...


"Jadi bagaimana keadaan kucingnya, Dok?" tanya Y/n begitu Wonwoo keluar dari ruangan praktiknya.


"Dia baik-baik saja, meskipun napasnya masih lemah. Terus saya mencoba rontgen karena saya merasa ada yang tidak beres dengannya. Dan ternyata memang benar ada beberapa tulangnya yang patah." Wonwoo memberikan foto rontgen itu pada Y/n, kemudian dia melepas kedua sarung latex yang ia kenakan.


Y/n akhirnya dapat bernapas lega setelah mendengar penjelasan dari sang Dokter, "Oh, terima kasih banyak atas bantuannya, Dokter... Jeon." ucap Y/n setelah dia melihat plat nama yang ada di dada kiri Wonwoo.


Wonwoo mengangguk sembari membuang sarung tangan latex-nya yang penuh darah ke tong sampah di dekat meja resepsionis.


Sementara diwaktu yang sama, Dokyeom muncul dari balik pintu kaca dengan wajah polosnya. "Permisi—oh, Wonwoo?"


"Captain?" suara Y/n membuat Wonwoo memalingkan wajahnya pada sesosok jangkung yang memamerkan senyum khasnya dari balik pintu.


"Dokyeom?" Wonwoo mengernyitkan dahinya, sama bingungnya dengan Dokyeom.


"Kalian saling kenal?" pandangan Y/n berpaling dari Dokyeom kemudian berpindah pada Wonwoo.


Wonwoo menarik napas panjang, "Kami berteman."


"Sorry mengganggu, aku hanya ingin menjemput Y/n," ujarnya sambil cengengesan. "ngomong-ngomong, jadi bagaimana keadaan kucingnya tadi?"


"Nafasnya masih tersengal-sengal karena sepertinya ada darah yang masuk ke kerongkongannya," Wonwoo menjelaskan keadaan kucing tadi dengan profesional. "ini hasil rontgen, ada beberapa tulangnya yang patah."


"Aku tidak paham dengan bahasamu yang rumit itu, Wonwoo. Apakah dia akan baik-baik saja?" Dokyeom mengusap dadanya dengan lega.


Wonwoo menggelengkan kepala, seolah kejadian ini sering terjadi pada mereka, "Seperti biasa—dan ya, dia akan baik-baik saja jika dirawat dengan baik."


...*****...


"Hei, Jeon Wonwoo," suara panggilan dari Dokyeom membuat Wonwoo menghentikan langkahnya. "jangan lupa ikut reuni besok di Restoran Ppongie ditengah kota. Ayolah, sekali-kali."


Wonwoo memiringkan kepalanya sedikit, "Kau ini, aku harus ngomong berapa kali kalau aku sibuk?"


"Hari minggu sibuk apa sih??"


"Sibuk membersihkan apartemenku, belanja mingguan, lalu nonton netflix—"


"Aku yang akan menjemputmu." Dokyeom buru-buru memotong perkataan Wonwoo sebelum sang empu menyelesaikan kata-katanya.


Wonwoo mengerang sebelum dia akhirnya mengalah, "Tanpa dijemput aku bisa berangkat sendiri." gerutunya dengan lemah. Tidak ada habisnya kalau aku berdebat dengan Dokyeom, pikirnya. Gaya nagging-nya hampir mirip dengan seseorang yang dulu pernah dia kenal.


"BAGUS! Aku akan menunggumu, ayo kita berangkat bersama," Dokyeom berlari kecil, kemudian masuk ke dalam mobilnya sembari melambaikan tangan. "aku akan menunggumu di Cafe-ku jam 7 malam. Ingat ya, jam 7 malam!"


Wonwoo menggelengkan kepalanya dengan pasrah begitu mobil yang dikendarai Dokyeom bersama Y/n semakin menjauh.


...*****...