100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)

100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)
Prolog : The Day She Left



Wonwoo menghela napas panjang begitu dia melihat pantulan wajahnya dari jendela mobil. Lelaki jangkung dengan perawakan tegas itu memakai setelan hitam dengan poni rambut yang di tata rapih—ia ingin terlihat tampan di pemakaman mendiang Adik perempuannya, karena dia lah yang selama ini memberikan support agar Wonwoo dapat meraih impiannya sebagai Dokter Hewan.


"Oppa berangkat ya." ujarnya saat dia keluar dari mobil sambil membawa sebuah bingkai foto berwarna hitam dengan wajah Adiknya yang terlihat sangat cantik dan mempesona.


Meskipun saat itu Wonwoo mencoba menyimpan rasa sakit itu sendirian, tangisnya pecah begitu telinganya menangkap teriakan keponakannya yang berumur 12 tahun bernama Jeon Nari—mengingat adiknya, Jeon Wonyoung, sangat dekat dengan keponakannya itu.


"Samcheon, apa samcheon baik-baik saja?" suara Nari membuat air mata Wonwoo menggenang. "samcheon tidak boleh nangis, karena Nari ada disini." gadis kecil itu memeluk Wonwoo dari belakang seolah ia sedang menyemangati Wonwoo yang saat itu sedang terluka.


Wonwoo berbalik untuk menatap Nari, lelaki yang lebih tua itu menepuk kepala gadis itu sembari tersenyum, seolah mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja, tapi siapa yang dia bohongi?


Sejak meninggalnya kedua orangtua Wonwoo karena kecelakaan tragis, hanya Wonyoung-lah satu-satunya keluarga Wonwoo yang tersisa. Tapi kini Wonyoung turut ikut pergi meninggalkan Wonwoo seorang diri, bagaimana Wonwoo merasa baik-baik saja pada titik ini? Itu mustahil.


Setelah upacara pemakaman selesai, hanya Wonwoo satu-satunya yang masih berada disana. Dia menatap bingkai foto itu dengan air mata yang menetes ke pipi wajahnya. Hatinya terasa sangat sakit, seolah dia ingin kembali ke masa lalu—sebelum seluruh keluarganya meninggalkannya sendirian seperti sekarang.


"Ini semua salah oppa... oppa tidak cukup kuat untuk membiayai pengobatanmu ke Amerika. Oppa sangat menyesal." ucap Wonwoo disela-sela isak tangisannya. Wonwoo lalu menundukkan kepalanya, menyalahkan dirinya sendiri. Ia mengepalkan tangan kanannya, lalu meninju lantai kayu itu sampai tangannya berdarah.


"Wonyoung, maafkan oppa."


...*****...


Beberapa bulan setelah kepergian Wonyoung, Wonwoo berhasil membuka lembaran baru bersama orang yang selalu mendukungnya, Han Jia—sahabat baiknya yang kini menjadi kekasihnya. Karena usahanya, senyuman Wonwoo kembali cerah seperti dulu.


Wonwoo sampai rela mengambil cuti 3 hari sebelum Christmas Eve karena kedua orangtua Jia yang tinggal di Busan, ingin bertemu dengan calon suami dari putri semata wayangnya—meskipun Wonwoo dan Jia belum sempat berpikir ke jenjang yang lebih serius.


"Wonwoo! Coba lihat kerang yang kutemukan!" wanita dengan rambut cokelat tua itu mengangkat tangannya yang kurus ke atas udara.


Sebelum mereka ke rumah orangtua Jia, Jeon Wonwoo sengaja mampir ke pesisir pantai Haeundae karena Jia pernah bilang padanya bahwa dia ingin melihat pantai.


"Wah, bagian dalamnya cantik sekali sayang. Seperti pearl, kan?" Wonwoo mengintip dari belakang bahu Jia dengan kacamata yang berembun.


"Bukannya kamu yang seharusnya tau ini jenis kerang apa? Yang Dokter Hewan kan kamu ih." lengan kanan Wonwoo melingkar ke pinggang ramping Jia.


Wonwoo hanya nyengir mendengar ocehan kekasihnya itu, kemudian ia mengeluarkan ponsel pintarnya untuk mengambil foto mereka berdua, meskipun awalnya Jia menolak mati-matian karena dia tidak menggunakan make up sama sekali.


"Ayolah sayang, cahayanya mumpung lagi bagus," dia sudah berpose dengan gaya andalannya memamerkan giginya yang rapih didepan kamera. "tuh, kamu terlihat sangat cantik kalau memakai baju itu."


Jia mengerang kesal, tapi tidak lama berselang dia menyerah dan akhirnya mengikuti kemauan Wonwoo. Jia menutup matanya dengan satu tangan sementara dia membuka lebar-lebar mulutnya untuk berpose. "Fyi mr. Jeon, aku terlihat cantik dengan baju apapun."


Disaat mereka sedang bercanda di tepi pantai, ponsel pintar Jia tiba-tiba berdering. Rupanya ibunya khawatir karena mereka tidak kunjung tiba. Melihat Jia yang tengah berbincang kepada Ibunya membuat Wonwoo sedikit merindukan keluarganya yang telah tiada.


".....iya bu, iya, kami akan pulang sekarang," ucap Jia sembari menarik lengan kekasihnya yang menenteng sandalnya sambil mengais pasir pantai yang kering dengan ibu jari kakinya. "sayang, ayo. Kata Ibuku, kita tidak perlu makan diluar, mereka sudah menyiapkan semuanya."


Wonwoo mengangguk seperti anak kecil yang mudah untuk dihibur. Lelaki dengan tinggi 182cm itu berjalan mengikuti pujaan hatinya sambil bersenandung.


"Ayo sayang, kamu jalannya lama sekali! "Jia menarik tangan Wonwoo yang menenteng sandal miliknya agar ia berjalan lebih cepat. Wonwoo tersenyum jahil begitu melihat tingkah laku kekasihnya yang menggemaskan.


...*****...


Rasanya semuanya terjadi begitu cepat. Kedua mata Wonwoo melesat untuk melihat kursi penumpang yang ada disebelah kanannya. Kekasihnya sudah terbaring tak berdaya dengan darah yang mengalir dari hidung dan telinganya.


"Jia.. Jia..." ia memanggil-manggil, tapi gadis cantik itu tak bergeming. Kerongkongan Wonwoo terasa tercekat setiap ia mengatakan sepatah atau dua patah kata.


Wonwoo berusaha menarik seatbelt-nya agar terlepas dari tubuhnya, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melakukannya. "Jia... bangun," pintanya dengan suara yang serak.


Darah Wonwoo seolah mengalir ke ubun-ubun karena mobilnya yang terbalik, tapi dia tidak perduli. Yang dia khawatirkan sekarang adalah keadaan Jia yang tidak sadar sama sekali. Kejadian ini membuatnya teringat pada kecelakaan mobil orangtuanya dua puluh tahun yang lalu.


"A-anu, permisi saya mau melaporkan kecelakaan—" samar-samar Wonwoo dapat mendengar ada seorang wanita berteriak dari luar mobilnya.


"Jia..." tangan lelaki itu mengusap darah dari pipi Jia, seolah berharap pujaan hatinya itu sadar dari tidurnya.


"Jia......" karena luka yang parah di kepalanya, Wonwoo akhirnya kehilangan kesadarannya sendiri.


...*****...


SLAP!


Wonwoo menutup kedua matanya saat tamparan yang keras dan menyakitkan itu mendarat disalah satu pipi lelaki itu. Ini adalah respon yang umum, Wonwoo. Dia menarik napas panjang untuk menstabilkan emosinya yang tidak karuan.


Dia tidak pernah berpikir kalau akan mendapatkan tamparan itu disaat dia terbaring tidak berdaya diatas ranjang pasien.


"Kau.... jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi ke hadapan putriku. Hubungan kalian berhenti sampai disini." Ayah dari Jia menunjuk-nunjuk bahu Wonwoo yang tengah menundukkan kepala.


"Sayang, sudah. Sudah. Nak Wonwoo juga mengalami luka yang serius," cegah sang Ibu sambil melingkarkan lengannya ke tangan suaminya.


"Bagaimana kau bisa memaafkan berandalan ini, hah? Anak kita sampai koma begitu karena ulah dia!"


"Tapi ini bukan sepenuhnya salah Nak Wonwoo—"


"Tidak, eomoni. Saya akan bertanggung jawab penuh atas pengobatan Jia. Ini semua salah saya." Wonwoo membungkukkan badannya dihadapan kedua orangtua Jia meskipun seluruh tubuhnya sedang menahan nyeri yang tidak terhingga—bahkan kepalanya saja masih diperban dengan tangan kiri yang memakai arm sling.


"Istirahatlah, Nak Wonwoo. Kamu juga belum sembuh, kan?" Ibu Jia tersenyum pahit saat melihat pandangan Wonwoo yang kosong.


Sebenarnya mereka tahu kalau itu bukan sepenuhnya kesalahan Wonwoo, tapi saat melihat putrinya sampai tidak bisa sadar dari masa kritisnya, membuat lelaki itu paham bagaimana rasanya kehilangan.


Dalam moment itu, Wonwoo semakin jatuh kedalam depresi. Dia sering melampiaskan semua rasa kecewa dan sakit hatinya dengan meminum alkohol. Entah sudah ada berapa puluh botol yang dia habiskan pada titik ini.


"Jadi sejak kapan kau meminum alkohol sampai pada tahap kecanduan seperti sekarang?" suara dari wanita paruh baya itu membuat Wonwoo teringat akan Jia.


"Tiga bulan mungkin?—aku tidak tahu." jawab Wonwoo asal-asalan.


Wanita paruh baya itu memiringkan kepalanya sedikit. Beliau adalah seorang psikiater ternama yang tempat praktiknya tidak begitu jauh dari apartemen Wonwoo.


"Coba untuk maafkan dirimu sendiri, Wonwoo. Kunci untuk hidup yang damai adalah untuk memaafkan diri sendiri. Ikuti kata-kata saya, saya memaafkan diri saya atas semua hal yang pernah terjadi kepada saya."


Dengan berat hati Wonwoo mengikuti kata-kata dari psikiater itu, "Saya memaafkan diri saya atas semua hal yang pernah terjadi kepada saya."


"Bagus. Saya bangga dengan usahamu untuk berubah. Oh iya, sebelum saya memberikan obat untukmu. Apa kau tidak pernah berpikir untuk menulis sebuah Diary? Atau 100 harapan yang selama ini ingin kau lakukan sebelum kau mati?"


"100 harapan sebelum mati?"


"Iya," wanita itu sengaja menjeda perkataannya. "—tapi maksud saya bukan benar-benar mati ya, melainkan semua harapan yang ingin kau capai sebelum kau beranjak tua."


Wonwoo memalingkan pandangannya ke lantai. Meski psikiater itu telah menjelaskan maksud perkataannya, tapi Wonwoo mengambil makna yang lain.


Hingga suatu hari dia mulai menulis sebuah buku yang berjudul 100 wish before I die—seperti judulnya, buku itu adalah seluruh harapannya sebelum ia bunuh diri.


...*****...