100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)

100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)
Ch 6 : Cheesecake



Wonwoo sengaja berangkat lebih pagi kali ini karena dia tidak ingin melihat wajah Mingyu untuk sementara waktu. Wonwoo tidak ingin menunjukkan sisinya yang lemah kepada teman dekatnya.


Seperti biasa, Wonwoo mampir ke Cafe Pirates milik Dokyeom untuk memesan Hot Americano. Tapi saat dia melihat etalase kue disamping kanan meja kasir, rasanya dia ingin mencoba Japanese Cheesecake.


Selama ini dia tidak pernah mencobanya jadi menurut lelaki itu, mencobanya sekali-kali tidak masalah.


"—sama satu slice Japanese Cheesecake-nya." Y/n tersenyum begitu Wonwoo menambah pesanannya. Sepertinya Y/n mengingat wajahnya.


"Pilihan yang bagus, customer-san!" Y/n memasukkan pesanan Wonwoo ke mesin kasir. "Hot americano-nya satu, Japanese Cheesecake-nya satu. Total semuanya jadi 6,500 won. Mau pembayaran menggunakan kartu atau cash?"


Wonwoo memberikan kartu kreditnya untuk digesek. "Tolong dengan kartu saja."


"Baiklah, saya terima kartunya." setelah ia menggesek kartu kredit itu, Y/n mengembalikan kartunya itu pada Wonwoo.


"Kau sendirian disini? Mana Dokyeom?"


"Ah anu, captain Dokyeom hari ini piket sore. Jadi saya yang opening sekarang," Y/n menjelaskan. "...ini kartu dan ring anda, tuan."


Wonwoo menundukkan kepalanya, kemudian mencari kursi untuk duduk. Lelaki itu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya begitu dia merasa ponsel pintarnya itu bergetar.


"Halo, Wonwoo disini." ucapnya saat ia melihat nomor asing yang muncul di layar ponselnya.


"Ini Jeon Wonwoo dari apartemen X unit 59, benar?"


"Iya, benar. Dengan siapa saya bicara?"


"Saya dari N Express, mau mengirim paket, tuan. Jam berapa anda ada dirumah?"


"Saya hari ini berada di tempat praktek sampai malam. Apa bisa paketnya dikirim ke kantor saja? Alamat vet saya ada di 365 xxxxx, Gangnam. Nama vet-nya Nabiru Veterinary Clinic."


Kurir dari N Express itu menjawab, "Baiklah, tapi akan ada tambahan biaya untuk pengiriman ulang, apakah anda tidak keberatan?"


"Tentu saja, saya akan membayarnya dengan kartu."


Sesaat setelah dia menutup sambungan telepon itu, ring milik Wonwoo bergetar dengan lampu merah yang berkelap-kelip—pertanda jika pesanannya telah selesai dibuat.


"Terima kasih banyak," ucap Wonwoo kepada Y/n. Dia kemudian memberikan ring miliknya untuk ditukarkan dengan dua pesanannya.


"Semoga harimu indah, Dokter Jeon!" saat Wonwoo mendengarnya, dia tidak bisa menahan senyumnya.


...*****...


"Perawat Kang, bagaimana keadaan kucing yang itu?" tanya Wonwoo begitu dia masuk ke ruang praktiknya dan melihat Perawat Kang yang sedang memberikan makanan kepada seekor anjing Pitbull yang sedang di infus.


"Tidak ada banyak perubahan, saya sudah mencoba untuk menyuapinya dengan pipet tapi tidak lama dia muntah."


"Benarkah? Kalau muntah berarti ada sesuatu yang tidak beres dengan ususnya." ujar Wonwoo sembari meletakkan tasnya keatas meja kerjanya.


"Saya curiganya juga karena itu, Dok." Perawat Kang mengusap kepala Pitbull itu dengan lembut.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa dekat-dekat dengan Pitbull itu? Dia sangat agresif saat pertama kali datang kesini kan?" Wonwoo menaikkan sebelah alisnya, sedikit heran.


Perawat Kang menutup kandang Pitbull itu, "Ah yeah, kurasa dia paham kalau kita tidak menyakitinya. Aku kasihan melihatnya, anak-anak berandal itu kejam sekali dengan hewan."


Wonwoo menghampiri Perawat Kang yang sedang melipat tangannya didekat kandang Pitbull cokelat yang bagian perutnya dililit oleh perban. "Ya, stigma Pitbull dan Rottweiler memang buruk dimata orang," jawab Wonwoo sambil berjongkok didepan kandang Pitbull itu.


"Padahal yang sebenarnya terjadi, mereka ketakutan dan bisa merasakan trauma." ia menambahkan.


"Uh, mereka merasakan perasaan yang sama seperti manusia," Perawat Kang membuka kandang kucing korban tabrak lari yang ditemukan oleh Y/n waktu itu. "jadi, apa kita akan memeriksanya kembali, Dok?


Wonwoo bangkit, kemudian menengok sedikit keadaan kucing yang malang itu, "Ya, bawa dia ke meja periksa, Perawat Kang."


...*****...


"Atas nama Jeon Wonwoo, benar?" tanya seorang kurir dari N Express yang saat itu sedang mengirim paket untuk Wonwoo di tempat mereka praktek.


"Benar," ucap Perawat Kang sambil menandatangani kertas yang diberikan oleh kurir itu. Kemudian Perawat Kang memberikan kartu kredit Wonwoo kepada kurir itu untuk membayar sisa ongkos kirimnya.


"Baik, terima kasih banyak!" ia memberikan kartu itu kembali pada Perawat Kang setelah menggeseknya satu kali.


"Terima kasih banyak bantuannya." Perawat Kang membungkukkan badannya sedikit dengan susah payah karena paket yang ia terima cukup besar.


Wonwoo yang keluar dari toilet, buru-buru mengambil paket itu dari tangan Perawat Kang. "Ah, terima kasih banyak Perawat Kang. Saya saja yang membawanya."


"Ba-baiklah. Ngomong-ngomong, apa isinya Dok?" dia ikut penasaran dengan isi dari paket misterius itu.


Saat dibuka, awalnya hanyalah sebuah kain berwarna kuning. Tapi Wonwoo tau kalau itu bukanlah sebuah kain biasa.


"...Baju terakhir Jia saat kecelakaan?" tangan Wonwoo seketika gemetaran hebat, dan Perawat Kang langsung menyadarinya.


"Jangan dibuka lagi!" dia langsung menutup kardus itu agar Wonwoo tidak melihat barang lainnya. "...kenapa mereka sengaja melakukannya!? Kecelakaan itu bukan salah siapa-siapa, bahkan Dokter Jeon!" serunya tidak terima. Perawat Kang tahu persis tentang kecelakaan itu, karena Wonwoo sampai menutup vet selama satu bulan lebih.


"Tidak apa-apa, Kang Seulgi-ssi. Saya baik-baik saja." Wonwoo mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kacau.


"Tapi, Dok?" Perawat Kang menghela napas panjang sebelum dia membuka kembali kardus itu. "baiklah."


Wonwoo menyingkirkan baju yang penuh bercak darah itu ke samping. "Ternyata semua isinya adalah barang pemberianku pada Jia." ia menutup kembali kardus itu.


"Apa yang harus kita lakukan dengan semua ini Dok?"


"Saya akan menyimpannya disini, daripada membawa kembali ke unit apartemen saya."


...*****...


Wonwoo berdiri didepan Cafe Pirates dengan wajah yang muram. Sejak kejadian paket itu, moodnya naik turun. Dia ingin menghilangkan perasaan sedihnya itu dengan alkohol, tapi entah mengapa kali ini Wonwoo tidak ingin minum sendiri. Dia membutuhkan teman.


Jadi dia membeli beberapa botol soju saat ia melewati supermarket selama perjalanan ke cafenya Dokyeom. Disaat jam-jam segini, cafe Dokyeom biasanya sepi, pikirnya. Tapi dia tidak menyangka kalau lagi-lagi dia tidak menemukan Dokyeom disana.


"Hei Y/n, kau masih disini," ucapnya saat dia melihat gadis dengan rambut ekor kuda itu mengepel lantai saat cafe sedang sepi.


"Captain sedang tidak ada disini, kalau itu yang anda cari, Dokter Jeon. Seseorang menjemputnya—" belum selesai Y/n bicara, Wonwoo buru-buru memotong.


"Mau temani saya sebentar? Itu kalau umur anda legal, Y/n-ssi."


"Ah, umur saya memang legal sih, tapi cafe kan belum tutup—" karena merasa sedikit tidak enak, akhirnya Y/n menutup cafe lebih cepat supaya dia bisa menemani Wonwoo minum.


Y/n duduk dihadapan Wonwoo saat lelaki itu mulai membuka sebotol soju. "Apakah saya boleh berbicara dengan bahasa yang tidak terlalu baku? Saya lelah."


"Ah ya! Tentu saja. Tuan."


"Wonwoo. Panggil aku Wonwoo."


"Baiklah, Tu—maksudku, Wonwoo." jawab Y/n sedikit gugup. Dia tidak pernah berpikir akan mengetahui nama pertama dari Dokter Jeon.


"Kau pasti sangat menyukai kerja disini, bahkan kau sampai melakukan opening dan closing hari ini." kata Wonwoo sedikit menggoda Y/n.


Wajah Y/n terlihat sedikit bersemu merah, "A-ah! I-iya, begitulah." tentu saja dia tidak ingin Wonwoo tahu kalau Y/n sebenarnya sedang mencoba untuk menarik perhatian Dokyeom hari ini.


"Apa kau memiliki orang yang kau suka?" mendengar pertanyaan itu, Y/n langsung terbatuk-batuk saat dia hendak meneguk se-sloki soju. "kau baik-baik saja?" ia menepuk punggung Y/n dengan lembut.


"A-ah iya! Aku baik-baik saja! Aku terkenal yang paling kuat diantara saudariku" jawabnya dengan panik.


Wonwoo tersenyum sebentar sebelum mulai bercerita.


"Aku iri dengan kisah percintaan orang lain. Kenapa rasanya hanya aku yang selalu mendapat kesialan?" Wonwoo kemudian meneguk se-sloki soju.


"A-apa yang terjadi?" tanya Y/n sedikit khawatir.


Wonwoo menundukkan kepalanya sebelum dia mulai bercerita. "Calon istriku sampai sekarang mengalami koma karena kesalahanku."


Punggung Y/n rasanya seperti disuntik oleh air dingin begitu dia mendengarnya. "....Bagaimana bisa—?" Y/n tidak kuasa untuk menanyakan hal yang se-sensitif itu pada Wonwoo, tapi Wonwoo tetap menjawabnya.


"22 Desember tahun lalu, kami pergi ke kota Busan untuk mengunjungi orangtua Jia. Saat kami berada di tikungan, jalanannya sangat licin. Aku sudah berusaha untuk menghentikannya, tapi mobilku tidak berhenti. Lalu semuanya terasa begitu cepat," dia menghentikan ceritanya untuk meminum se-sloki soju. Sementara Y/n memperhatikan Wonwoo lekat-lekat.


"Saat aku sadar, mobilku sudah terbalik, dan Jia tidak pernah membuka matanya." lanjutnya dengan lidah yang tercekat.


Y/n mengernyitkan dahinya, "....Tapi itu semua bukan kesalahanmu, kan?"


Wonwoo menggelengkan kepalanya, "Itu salahku, Y/n. Semuanya salahku."


"Bagaimana itu semua salahmu? Kau tidak sengaja melakukannya kan? Seperti yang kau bilang, jalanan waktu itu sedang licin, jadi itu bukan kesalahanmu," sahut Y/n mengomel sembari menggenggam erat tangan Wonwoo. "oh! Maafkan aku."


"Tapi semua orang menyalahkanku karena kejadian itu. Jadi itu semua salahku."


"Kenapa kau terlalu perduli dengan ucapan orang sih? Mereka tidak tau apa-apa. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mencari seseorang untuk disalahkan," Y/n kembali mengomel. "kau mungkin akan menganggap kata-kataku seperti orang bodoh, tapi aku percaya kau tidak bermaksud melakukannya."


...*****...