
12 jam yang lalu.
"Apa maksudmu depresi?" Woozi yang saat itu baru saja tiba di tempat praktiknya, bertanya dengan nada sedikit meninggi.
"Continue watching-nya Wonwoo di netflix semuanya tentang film depresi. Apa itu normal bagimu?" tanya Mingyu dari seberang sana.
Woozi menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti, "Aku rasa itu normal-normal saja kalau Wonwoo memang suka dengan genre angst." balasnya.
"Kau masih tidak paham juga?—oh astaga. Apa hanya aku yang menganggap ini sebuah pertanda?" Mingyu terdengar sedikit frustrasi, tapi Woozi mencoba untuk mulai memahami maksud dari perkataannya.
"Jelaskan lebih rinci dan tenangkan dirimu, sialan. Aku tidak paham apa maksudmu." bentak Woozi kesal.
Mingyu menghela napas panjang. "Oh benar juga, aku lupa. Wonwoo cerita sebelum kau dan anak yang lain datang ya..." ucapnya pada akhirnya.
"Jadi apa maksudmu, anak berandal? Kenapa dengan Wonwoo?"
Sebelum dia bercerita, Mingyu membenturkan kepala ke remote tv. "Jadi... Wonwoo mengalami kecelakaan 6 bulan yang lalu—sekitar bulan Desember. Dia bilang kalau calon istrinya mengalami koma sampai saat ini."
"Lalu?"
"Apa maksudmu dengan lalu?! Kau kenal bagaimana Wonwoo kan? Dia suka menyalahkan dirinya sendiri. Ingat saat kita masih sekolah—Hoshi jatuh dari pohon karena Wonwoo menyuruhnya mengambil KOK saat mereka bermain bulutangkis? Wonwoo menyalahkan dirinya sendiri kan?"
Woozi perlahan mulai paham maksud dari Mingyu. "Kau berpikir, Wonwoo menyalahkan dirinya sendiri karena calon istrinya koma?"
Mingyu menghela napas rendah, "Akhirnya kau paham juga maksudku."
"Tapi bagaimana kalau dia memang hanya menyukai genre angst? Apa yang akan kau lakukan?"
"Entahlah, mungkin aku akan bertanya langsung pada Wonwoo," gumamnya. "mumpung aku masih disini."
"Disini? Memangnya kau dimana?" tanya Woozi.
"Dokyeom, si sialan itu menurunkan aku di depan unit apartemen Wonwoo dengan sengaja."
"Jadi kau dirumah Wonwoo?"
"Yeah."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?—kalau tidak salah, kau model kan?"
"Ya, aku hanya menyuruh managerku untuk membawa baju ganti kalau aku mendapatkan job nantinya."
"Si sialan ini. Baiklah kalau begitu. Kalau dia memang mengalami depresi, jangan biarkan dia sendirian. Lalu, hubungi aku kalau ada apa-apa. Biasanya orang yang depresi cenderung menulis sebuah diary atau apalah itu namanya."
Mingyu mengerang rendah, "Ya, aku tahu." setelah itu sambungan telepon mereka terputus.
...*****...
Masa sekarang.
"Woah, chimek chimek chimek!" Mingyu memukul dua batang sumpit hingga berbunyi tring selama beberapa kali saat Wonwoo membuka aluminium foil cup berisi chicken wings yang ia beli.
Tanpa menunggu, Mingyu langsung mencomot satu chicken wings dari aluminum foil itu.
"Kenapa kau tidak pulang ke rumahmu sendiri, Gyu?" Wonwoo membuka obrolan saat Mingyu menyantap chicken wings-nya.
"Dirumahku sepi, aku bosan." kadang-kadang Mingyu beruntung karena ia pandai berbohong.
Wonwoo menaikkan sebelah alisnya, "Kau model kan, bagaimana kalau tahu-tahu kau ada job mendadak?" ia sepertinya tidak termakan oleh tipu daya Mingyu.
"Aku akan menyuruh managerku untuk mengaturnya. Anyways, ini dimana alkoholnya, Won? Chicken kalau tanpa alkohol namanya bukan chimek!" dia berusaha untuk mengalihkan perhatian Wonwoo.
Wonwoo membuka sekaleng beer untuk Mingyu, tapi ia tiba-tiba berubah pikiran. "Mari dengarkan apa yang sedang kau sembunyikan, Gyu. Apa maumu?"
Mingyu yang mulai panik tanpa sengaja menyenggol remote tv hingga terjatuh ke lantai. "Hey, tidak ada ya! Aku tidak menyembunyikan apapun!" dia mengambil remote tv sambil bernapas lega.
"Begitukah? Baiklah. Jadi sampai kapan kau tinggal disini?" Wonwoo memberikan sekaleng beer itu pada Mingyu.
"Mungkin seminggu? Tidakkah ini mengingatkanmu pada masa kita sekolah? Kita sering tidur bersama." mendengar pernyataan Mingyu, Wonwoo sedikit ngeri.
"Itu kan saat kita masih remaja, sekarang kita sudah dewasa, Gyu."
"Anggap saja kau baru menemukan roommate yang luar biasa tampan." Mingyu membanggakan wajahnya.
...*****...
Ketika Mingyu merasa Wonwoo telah tertidur pulas, ia mengendap-endap untuk mencari buku diary Wonwoo didalam tas kantor lelaki itu. Mingyu sengaja mencari apapun yang dia rasa mencurigakan—hingga akhirnya lelaki dengan rahang yang tegas itu menemukan buku catatan aneh dengan karet gelang di bagian depannya.
Dia menemukannya.
"100 wish before I die...?" Mingyu mengangkat buku itu kemudian mengambil ponsel pintarnya dan memotret bagian depan buku itu. "semoga ini bukan buku yang aku pikirkan." ia membuka buku itu, lalu menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"Ini daftar dari sebagian keinginannya yang sudah dia centang. Hot americano, reunion, movie night, chicken wings?" kedua tangan Mingyu seketika lemas, tapi dia memiliki misi yang lain sebelum mengembalikan buku itu ke tempatnya semula.
Dia tidak memiliki banyak waktu, Wonwoo bisa kapan saja terbangun. Jadi yang Mingyu lakukan selanjutnya memotret setiap halaman yang ada, lalu melaporkan temuannya pada Woozi.
"Sialan kau Wonwoo, kenapa kau tidak menghubungi kami..." Mingyu menempelkan buku itu ke dahinya, ia sedikit menyesal karena mengetahui kondisi Wonwoo ketika dia sudah hampir menyerah dengan hidupnya.
Kalau saja waktu bisa diputar kembali—tunggu, yang aku rasakan ini seperti cerminan apa yang Wonwoo rasakan setelah tragedi itu, penyesalan. Pikirnya.
Mingyu memasukkan semua barang yang ia keluarkan dari tas kerja Wonwoo kembali ke tempat aslinya. Tak lupa ia juga mengembalikan tas itu seperti sedia kala, dia tidak mau membuat Wonwoo curiga padanya.
...*****...
"Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin tinggal di apartemen Wonwoo lebih lama. Dia akan menaruh curiga padaku." gerutu Mingyu ketika mereka berlima melakukan video call.
Woozi menghela napas tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia kemudian memijit jembatan hidungnya yang bangir sembari menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Gyu, dimana alamat apartemen-mu? Apakah jauh dari apartemen Wonwoo?" tanya Jeonghan.
"40 menit kalau naik mobil, kenapa?"
"Bagaimana kalau kau pindah ke unit disebelahnya Wonwoo?" ide unik dari Jeonghan membuat yang lain mengernyitkan dahi mereka.
Mingyu memutar bola matanya, "Tidak segampang itu, Jeonghan. Kalau aku pindah kesini, bukannya Wonwoo akan semakin curiga? Lagi pula aku belum satu tahun di apartemenku, bagaimana dengan uang deposit-ku?"
"Ah benar juga." Jeonghan mengutuk dirinya sendiri.
"Guys, bagaimana dengan Dokyeom? Cafenya dekat dengan vet-nya Wonwoo kan?" Joshua memotong.
Mingyu menjauhkan wajahnya dari layar ponselnya, "Ngomong-ngomong tentang Dokyeom, dia tau persis alamat dan unit tempat Wonwoo tinggal, bukankah dia terlihat aneh?"
"Ah, yang kau ceritakan kemarin?" Woozi mendengus.
"Apa maksudmu, Gyu?" Seungcheol sedikit penasaran.
"Ingat waktu kemaren aku mabuk parah sampai tidak bisa jalan sendiri? Dokyeom mengantarku ke unit-nya Wonwoo. Padahal Wonwoo tidak memberitahu alamat tempat dia tinggal sama sekali ke siapapun."
"Kau serius? Man, he's creepy." Joshua memberikan tatapan jijik yang kentara.
"Mangkannya aku jadi sedikit curiga dengan Dokyeom, tapi dia teman kita—bagaimana ya?" kata Mingyu.
Seungcheol memutuskan, "Masalah Dokyeom aku saja yang handle. Bagaimana dengan Wonwoo? Haruskah kita mengadakan giliran siapa yang akan mengawasi Wonwoo setiap harinya?"
Woozi mendekatkan wajahnya ke layar laptop, "Hey, pekerjaanku psikiater, aku tidak bisa meninggalkan mejaku sewaktu-waktu. Pasienku ada banyak."
"Selain Woozi, siapa lagi yang pekerjaannya tidak bisa ditinggal?" tanya Seungcheol.
Jeonghan mengangkat tangannya, "Hey, jam kerjaku fleksibel. Aku bekerja sebagai HRD di HYBE Labels."
"Bagaimana denganmu Shua?"
"Profesiku Guru Bahasa Inggris di Tartera Internasional School. Jam kerjaku tidak terlalu fleksibel, maaf."
"Oke, kalau gitu diantara kita berlima hanya ada aku, Mingyu, dan Jeonghan yang jam kerjanya fleksibel."
"Aku akan menanyai anak yang lain. Siapa tau mereka bisa membantu kita." kata Mingyu berinisiatif.
...*****...
Siang itu Wonwoo mendapatkan pasien yang lumayan banyak, salah satunya adalah 6 Rottweiler puppies yang hendak diberikan tattoo di telinga kanan mereka.
"Maaf kalau boleh tau, itu Ayahnya ya?" tanya Wonwoo saat dia melihat seekor Rottweiler dewasa yang duduk dengan gagah di sebelah ownernya.
"Ah iya, dia ingin ikut saat kami menyebut vet." jawab seorang pria sambil menggaruk kepala anjing tersebut dengan bangga.
"Temperamen yang bagus, anda pasti telah melatihnya dengan sangat baik." puji Wonwoo sambil memberikan tattoo di telinga puppy terakhir dengan nomor 68.
"Terima kasih banyak atas pujiannya, Dokter Jeon. Ya, kami berusaha keras supaya Dexter tidak melukai bayi kami," jelasnya. "...Istri saya hamil 8 bulan, tidak lama lagi bayi kami lahir." pria dengan tinggi badan kira-kira 180cm itu menambahkan dengan malu-malu.
"Wah, benarkah? Selamat atas kehamilan Istrinya ya. Saya berharap kelahiran bayi anda sukses di masa depan."
"Terima kasih banyak, haha. Maaf saya jadi sedikit curhat." dia menggaruk belakang telinganya dengan canggung.
Wonwoo tersenyum dari balik maskernya. "Tidak sama sekali. Saya justru turut ikut senang mendengarnya." ia melepas kedua sarung tangan latex yang dia gunakan, lalu membuangnya ke tong sampah.
"Sekali lagi, terima kasih banyak Dok!" Wonwoo tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya sedikit untuk memberikan gesture selamat tinggal.
Setelah beliau pergi, Wonwoo kedatangan pasien yang baru. Dia membawa 3 ekor anjingnya yang berwarna seputih salju sambil membungkuk beberapa kali.
"Halo, permisi." sapa lelaki jangkung itu.
"Halo—Mingyu?" lelaki itu melepas masker wajahnya, kemudian memamerkan deretan giginya yang rapih pada Wonwoo.
"Aku sudah berjanji untuk datang, kan? Tenang saja, ini hanya pemeriksaan bulanan anabul-ku." setelah itu dia mengangkat ketiga anjingnya ke atas meja periksa.
"Tolong letakkan satu ekor ke atas timbangan bayi ini." Wonwoo memerintahkan, sementara Mingyu menuruti perintah Wonwoo dengan patuh. Ia mengangkat satu anabul-nya ke atas timbangan bayi.
"...Jadi kau memutuskan keluar dari apartemenku ya?" tanya Wonwoo out of the blue—membuat Mingyu yang tadinya berpikir bagaimana cara dia kembali masuk ke apartemen Wonwoo—menjadi sedikit terkejut.
Pandangan Mingyu melesat pada wajah Wonwoo yang mengenakan masker muka. "Se-sebenarnya aku ingin kembali setelah membuang sampah. Tapi... aku tidak tahu passcode apartemen-mu." jawab Mingyu malu.
"Kau terkunci dari luar?" Wonwoo memasang sarung tangan latex yang baru di kedua tangannya.
"Ya, begitulah..." sangking malunya, Mingyu sampai berpura-pura untuk mengusap kedua anjingnya yang nampak meringkuk ketakutan.
"3108," Wonwoo mulai memeriksa plak gigi dan ekor dari anjing yang berada di atas timbangan bayi. "4,5kg ya. Dia lumayan besar juga."
".....Kau memberiku passcode apartemen-mu?" Mingyu memiringkan kepalanya, sedikit bingung.
"Haruskah aku menggantinya?" tanya Wonwoo.
"J-jangan! Aku akan menggunakannya dengan baik. Terima kasih, Won." dia tanpa sadar senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.
...*****...