
Wonwoo menunggu Dokyeom closing-an cafe-nya sambil menyandarkan punggung ke jendela mobilnya.
Setelah lulusan, Wonwoo sibuk kuliah untuk mengejar impiannya sebagai Dokter Hewan, jadi ia tidak pernah bertemu dengan teman-temannya. Dia bahkan sampai berpikir, apakah mereka masih mengingat kenangan bersamanya atau tidak.
"Hehe maaf membuatmu menunggu," begitu Dokyeom keluar dari cafe, Wonwoo membuang puntung rokok dibawah sepatunya, lalu menginjak puntung rokok itu. "HEY, KAU MEROKOK?" Dokyeom memberikan tatapan yang aneh, seolah merokok adalah hal yang tabu.
"Aku berhenti merokok sejak bersama Jia, tapi karena aku sudah tidak bersamanya lagi, kebiasaan buruk itu terulang kembali."
"Jia?—Siapa Jia? Mantan pacarmu?" Dokyeom mulai mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi pada teman SMA nya itu. Dia jadi mirip seperti seorang reporter.
"Berhenti bertanya, Kyeom. Cepat masuk." tanpa mau berbasa-basi lagi, Wonwoo langsung membuka pintu ke bagian pengemudi.
"Tapi aku kan bisa membawa mobil sendir—BAIKLAH IYA IYA AKU MASUK INI!" Dokyeom langsung meralat perkataannya sendiri. Satu hal yang dia tahu, Wonwoo paling tidak suka kalau disuruh menunggu.
...*****...
"Selamat datang!"
Wonwoo membungkuk sedikit saat ia menginjakkan kakinya ke dalam Restoran Ppongie bersama dengan Dokyeom. Restoran bergaya popstar itu selalu ramai diminati oleh banyak anak muda karena ada banyak idol ternama yang pernah makan disana.
Kau bahkan bisa melihat dinding restoran itu penuh dengan pigora foto-foto idol berserta tanda tangan mereka disepanjang lorong.
"Kalau boleh tahu, untuk berapa orang ya?" seorang pramusaji bertanya dengan tangan yang bersiap untuk menulis nama Wonwoo dan Dokyeom ke dalam buku tamu.
"Ah, sebenarnya kami sudah pesan kursi... atas nama Choi Seungcheol." ujar Dokyeom sementara Wonwoo melihat suasana di Restoran yang pada saat itu ramai seperti biasanya.
"Ah! Silahkan ikuti saya, saya akan mengantar ke meja kalian." sapanya dengan ramah.
"Wah, apakah kita akan ke ruangan VIP?" disepanjang jalan, tangan nakal Dokyeom tidak berhenti menyentuh pigora siapapun yang dia lihat.
"—lebih tepatnya VVIP, tuan. Mr. Choi adalah pemilik Restoran ini." seketika tenggorokan Dokyeom terasa kering begitu ia mendengar sebuah fakta bahwa Choi Seungcheol—yang dulunya terkenal sebagai playboy—bisa memiliki Restoran sebagus dan sekeren ini.
"Cih, privilage sialan." gerutu Dokyeom begitu mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu berwarna merah dengan ukiran kayu yang menyerupai burung merak.
"Kita sudah sampai, tuan-tuan. Kalau butuh sesuatu, anda bisa memencet tombol didekat rak sumpit dan sendok. Saya permisi dulu."
"Terima kasih banyak," Wonwoo menundukkan kepala saat pramusaji itu pamit. Kemudian tatapannya beralih pada Dokyeom yang sedang mengutuk dirinya karena tidak bisa memiliki Cafe sebesar ini.
"Hey, haruskah kita mengetuk?" ucap Wonwoo sedikit ragu-ragu.
"Terobos aja lah sialan," Dokyeom langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk atau apapun itu. "HEY CHOI SEUNGCHEOL SIALAN!"
Kelima orang yang sedari tadi sudah menunggu, turut ikut berteriak karena kedatangan Dokyeom. "KYEOM!! WAH, APA KABAR?" sapa Seungcheol dengan tangan terbuka, hendak memeluk Dokyeom.
"Kau sudah mabuk ya, sialan?" Dokyeom mendorong dada Seungcheol yang hendak memeluknya.
"Eh itu yang dibelakang Dokyeom siapa..." Jeonghan menelaah dalam ingatannya, kira-kira siapa ya lelaki berkacamata yang terlihat kikuk seperti tidak punya harapan hidup itu, pikirnya.
"ITU JEON WONWOO?" serobot Mingyu yang duduk di kursi paling pojok. "Kyeom, kau berhasil membujuknya untuk datang?!" Mingyu menambahkan.
Wonwoo tersenyum canggung, "Ya, ini Jeon Wonwoo," ia kemudian menarik kursi disamping Yoon Jeonghan. "lama tidak bertemu kalian."
"Oh astaga jadi itu kau, Wonwoo?!" Jeonghan menepuk bahu Wonwoo beberapa kali agar suasana canggung itu hilang, tapi Wonwoo malah nampak sedikit menciut karena dia tidak pernah berada ditempat yang ramai sebelumnya.
"Maaf baru sempat datang, aku sedikit sibuk." lelaki dengan blazer hitam yang rapih itu membungkukkan kepalanya sedikit.
Jeonghan menyodorkan sloki berisi soju ke Wonwoo, "Nih minum," ucapnya. "lama tidak bertemu, kau jadi semakin tampan, Wonwoo!"
"Ah maaf, aku menyetir." Wonwoo menolak sloki berisi Soju dari Jeonghan.
Mingyu berpindah dari kursi yang paling dekat dengan dinding, menjadi ke hadapan Wonwoo, "Wah, Dokyeom, aku tidak menyangka kau bisa membawanya ke mari."
Dokyeom yang beberapa kali dipuji, akhirnya menjadi besar kepala. "Kau tidak tau bagaimana sulitnya untuk mengajak Wonwoo datang." ia bahkan melipat kedua tangannya dibawah dada sambil menutup mata.
"Kapan ya terakhir kita ketemu?—Tahun lalu bukan?" tanya Mingyu.
"Iya, tahun kemarin kita bertemu di cafe-nya Dokyeom." balas Hoshi sambil kembali duduk ke kursinya.
Joshua yang tadinya sibuk menghubungi seseorang, akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Wonwoo, "Selamat datang Won! Lama tidak bertemu."
"Siapa yang kau hubungi, Joshi?" Hoshi menyerobot.
"Eunchae, anakku yang satu itu manja sekali," Joshua menghela napas rendah. "dia ingin oleh-oleh katanya." ia menambahkan.
"Aku akan menyuruh pegawaiku untuk membungkus makan malam untuk anakmu," Seungcheol berjanji. "dia baru berumur 2 tahun kan?"
"Dia 3 tahun sekarang, Cheol. Dia sudah paham cara menghubungi appa dan eomma-nya."
"Lucu sekali, ada fotonya tidak?" tanya Jeonghan.
...*****...
"Jadi yang sudah punya anak selain Joshua adalah Seungcheol, Hoshi, dan Jeonghan ya?" tanya Wonwoo untuk memecah keheningan. "umur berapa saja?"
"Eunchae-nya Joshua umur 3 tahun, Jungwon-nya Jeonghan 5 tahun, Sunoo-nya Hoshi 5 tahun, terus ada anakku Soobin yang baru saja berumur 7 tahun." kata Seungcheol menjelaskan.
"Selain kalian berempat, ada yang punya anak lagi tidak?" Wonwoo memasukkan satu batang kentang goreng kedalam mulutnya.
"Ada lagi Wen Junhui, dia menikah sama orang Korea. Nama anak mereka kalau tidak salah Jo Hyewon, aku sedikit lupa." gantian Hoshi yang menjawab.
Jeonghan menambahi, "Iya benar Jo Hyewon kok. Dia memakai marga Ibunya disini. Umurnya baru 2 tahun."
"Kenapa kalian sudah memiliki anak sementara aku masih perjaka, sialan kalian ini." Dokyeom meneguk se-sloki soju dalam sekali minum.
"Kenapa kalian membawa-bawa namaku..."
"Dia sudah punya calon!! Aku tidak—"
"Mau ku kenalkan dengan seseorang? Dia owner dari toko bunga favoritku." sergah Seungcheol sebelum Dokyeom semakin merajuk.
"Apa dia cantik?"
"Dia cantik kok, tenang saja." Seungcheol memberikan dua jempol kepada Dokyeom.
"Kalau begitu, mohon bantuannya Seungcheol."
Joshua meneguk sloki soju sebelum berbicara, "Lalu bagaimana denganmu, Wonwoo? Sudah menikah atau belum?" pertanyaan itu menarik perhatian Hoshi dan Jeonghan yang duduk disebelah Wonwoo.
"Tidak, aku masih lajang." dia memberikan senyuman pahit.
"Kenapa kau masih lajang? Padahal kau tampan, dulu banyak yang mengirim surat cinta kepadamu, kan?" Joshua menerka-nerka ingatannya semasa sekolah.
Hoshi menambahkan, "Ah! Iya juga, dari kita semua yang paling sering mendapat surat cinta kan Wonwoo. Mustahil kamu masih lajang sampai sekarang."
"Nah, ya kan?" Joshua mengangkat segelas slokinya ke udara karena ia menyetujui ucapan Hoshi. "Wonwoo sering menjadi pusat perhatian cewek cewek padahal. Apa yang terjadi denganmu, Won?"
Raut wajah Wonwoo berubah menjadi muram. Dia tau cepat atau lambat mereka akan membahas masalah ini. Apa yang kau harapkan dari reuni jika tidak adanya interogasi seputar kehidupan pribadimu?—pikirnya.
"Aku mengalami kecelakaan setengah tahun yang lalu. Calonku, mengalami koma sampai sekarang." Wonwoo bercerita dengan lidah yang tercekat. Ia tidak berharap reaksi apapun dari teman-temannya, karena itu adalah murni kesalahannya.
"Bro—" Mingyu menatap Wonwoo lekat-lekat.
Joshua meletakkan slokinya ke meja, berharap jika dia bisa memutar waktu supaya dia tidak menanyakan hal yang se-sensitif itu pada Wonwoo.
"Aku baik-baik saja guys, jangan memandangku seperti itu lah," Wonwoo memaksa lekukan di bibirnya untuk tersenyum.
Jeonghan bangkit dari kursinya, kemudian ia memeluk tubuh Wonwoo dari belakang tanpa mau mengatakan sepatah katapun. Dari dulu Jeonghan memang tidak pandai mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata.
"...haha, thanks Jeonghan." pada moment ini, Wonwoo sebenarnya ingin menitikkan air mata. Tapi sumber air matanya sudah mengering, jadi tidak ada apapun yang keluar dari matanya. Mungkin dia kebal—atau mungkin karena dia terlalu lelah menyalahkan dirinya sendiri.
...*****...
"Aku tak pernah berpikir kalau reuni kali ini kita semua bisa hadir kemari. Terima kasih banyak karena sudah meluangkan waktu berharga kalian guys!" Seungcheol mengangkat sloki miliknya ke udara. "tos kali ini untuk persahabatan kita yang awet, dan untuk Wonwoo yang akhirnya mau hadir ke reuni kecil kita. CHEERS!"
"CHEERS!!!"
"CHEERS!!"
"Oh Wonwoo, berikan nomor ponselmu." ucap Minghao sambil menyodorkan ponsel pintarnya pada Wonwoo, tapi Wonwoo justru memberikan kartu namanya pada Minghao.
"Oh, kau bisa menghubungiku disini, Hao..."
Minghao menerima kartu nama itu dan sedikit terkejut karena profesi Wonwoo, "Kau berhasil menjadi Dokter Hewan? Ah, kebetulan sekali. Anabul Mingyu ada tiga biji tuh."
"Apa? Kenapa sama anabulku?" Mingyu yang sempat mendengar sepotong-sepotong pembicaraan Minghao dan Wonwoo, jadi ikut tertarik dengan topik bahasan mereka.
"Pekerjaan Wonwoo adalah Dokter Hewan." Minghao menjelaskan pada Mingyu yang duduk bersebelahan dengannya.
"Wonwoo, bagi kartu namamu dong," serobot Woozi yang duduk disebelah kiri Mingyu. "sebagai gantinya, aku akan memberimu kartuku."
"Tentu saja."
"Hey guys, sudah lama sekali kita tidak bertemu kan? Apa kalian ingat dengan permainan Mafia? Bagaimana kalau kita main Mafia sekarang?" ajak Hoshi dengan penuh semangat.
Seungkwan melirik Hoshi dari ekor matanya sambil mencibir, "Memangnya kau ini umur berapa, Hoshi?"
"—ide bagus! Ayo kita main Mafia!" serobot Dokyeom menyetujui. Mereka berdua memang selalu menjadi badut dalam kelompok mereka.
"Aahh kalian ini seperti anak-anak saja." Seungkwan menggerutu sembari meneguk se-sloki soju.
Dino mengangkat tangannya, "Yang kalah diberikan hukuman, bagaimana?"
"Ngapain sih kamu ikut-ikut?" Seungkwan memutar bola matanya. "kalian bukan remaja lagi, sialan. Kalian sudah bapak-bapak." lanjutnya, masih protes.
"Ayolah, it's been a long time alright." Hoshi membuka kedua tangannya. "Vernon, kamu ikut kan?"
Vernon yang duduk di kursi paling pojok dekat tembok, menggantikan Mingyu tadi, mengangguk setuju. "Sure why not."
"Ngomong-ngomong Mingyu, gimana bisa kamu punya pacar orang Jepang coba? Aku jadi iri nih." Dokyeom menggebrak meja untuk mencuri perhatian yang lain.
Mingyu tersenyum jahil, "Memang kenapa? Aku hanya beruntung saat pulang dari Jepang, itu saja."
"Pramugari?!" potong Hoshi, membuat Mingyu sedikit tersipu malu.
"Cewekmu pramugari? Sial, kenapa aku masih lajang!" Dokyeom meneguk sebotol soju dihadapannya dengan rakus.
"Spill namanya disini, Ming!" teriak Seungcheol.
"Iya, dia pramugari." Mingyu mengkonfirmasi.
"Ada fotonya tidak? Tidak ada foto artinya hoax." ujar Junhui yang duduk berhadapan dengan Seungkwan.
"Ada lah! Nih," lelaki yang paling tinggi dari tiga belas orang lainnya itu menyodorkan ponsel pintarnya ke atas meja. "namanya Sato Ayana."
...*****...