100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)

100 WISH BEFORE I DIE (Wonwoo X Y/N)
Ch 4 : Chicken Wings (part 1)



Saat waktu senggang, Wonwoo membuka buku 100 wish before I die yang ia buat beberapa hari yang lalu. Dia mencentang pada kolom hari pertama, lalu kedua, hingga yang ketiga. Pada kolom keempat, dia berpikir, kira-kira makanan apa yang paling di sukai Wonyoung dan juga Jia.


Namun sekeras apapun dia mencoba mengingatnya, kepalanya terasa sakit—mungkin saat kecelakaan itu dia mengalami gegar otak ringan yang membuatnya melupakan beberapa ingatan bersama Wonyoung dan Jia. Tapi entahlah, itu hanya asumsi asal-asalan nya.


Setelah beberapa saat berdebat dengan dirinya sendiri, Wonwoo akhirnya memutuskan untuk memakan honey butter chicken wings yang saat itu sedang nge-trend.


"Perawat Kang, restoran ayam mana yang paling enak menurutmu?" Wonwoo memutar bolpoin ditangannya sembari memperhatikan tulisannya sendiri didalam buku 100 wish before i die.


Perawat Kang yang saat itu sedang memberi makan kucing yang sedang opname, menoleh ke arah sumber suara. "Chicken Kwang-Kwang kayaknya enak—oh oh! Chicken Hendery ukurannya lebih besar!"


"Chicken Hendery? Kalau dari dua restoran tadi, yang paling ramai dibicarakan yang mana?"


"Chicken Kwang-Kwang sih—soalnya ada beberapa idol yang pernah shooting di sana," dia menjawab sembari mengusap kepala seekor Doberman. "kalau personal opinion, menurutku Chicken Hendery lebih enak."


Wonwoo menganggukkan kepalanya sambil bermain dengan bolpoin ditangannya.


"Memangnya kenapa Dok? Dokter mau mentraktir-ku Chicken Wings?!" Perawat Kang nampak bahagia saat ia menanyakannya.


"Tentu saja—" Wonwoo sengaja menjeda kata-katanya, "—tidak. Aku ingin mencobanya sendiri."


"Geez, Dokter suka sekali mengangkatku ke udara, lalu membuangku begitu saja." jawab Perawat Kang sedikit merajuk.


Wonwoo menyunggingkan senyum kecil di wajahnya, "Kapan-kapan kita minum bersama." ia berjanji.


"CALL!"


...*****...


"Selamat datang!" sapa beberapa pegawai Chicken Kwang-Kwang yang sedang mengelap meja.


"Tolong honey butter chicken wings-nya satu porsi." ia berucap ketika berada didepan kasir restoran Chicken Kwang-Kwang sesuai dengan rekomendasi Perawat Kang tadi.


"AHH!" Wonwoo sedikit tersentak dengan teriakan dari seorang perempuan dari belakang tubuhnya. "anda kan Dokter Hewan yang waktu itu?!" gadis dengan rambut ekor kuda itu berjalan ke meja kasir dengan raut wajah yang sama terkejutnya dengan Wonwoo.


"Oh, kucing? Halo, apa kabar." sapa Wonwoo singkat.


"Iya, itu saya," jawab Y/n sambil cengengesan. "h-halo juga. Bagaimana anda bisa kesini?"


"Seseorang merekomendasikan chicken kwang-kwang saat saya bertanya restoran ayam mana yang enak." ia menjawab dengan sedikit canggung.


"Ah begitu... oh ya ampun saya sampai lupa menerima pesanan anda! Tadi mau pesan apa?" Y/n bersiap-siap untuk menerima pesanan Wonwoo.


"Tolong honey butter chicken wings-nya satu porsi."


"Honey butter chicken wings ya. Mau dimakan sini, atau dibawa pulang?"


"Dibawa pulang."


"Honey butter chicken wings satu porsi!!" Y/n tiba-tiba berteriak kembali sampai ada dua orang yang berbalik menjawab dari arah kitchen.


Wonwoo menatap Y/n dengan aneh, "Apa kau sering berteriak seperti ini?" ia bertanya dengan canggung.


"Ah tidak, pendengaran Ayahku sedikit terganggu. Jadi kami harus berteriak kalau ada pesanan. Restoran ini milik keluarga saya," balas Y/n ramah. "...saya bekerja paruh waktu di Cafe Pirates untuk membayar kuliah saya."


"Begitu, mohon maaf kalau kata-kata saya ada yang menyinggung anda." Wonwoo sedikit membungkukkan badannya dengan sopan.


"Tidak-tidak, aku—eh maksudku saya—sudah biasa di tanyai seperti itu oleh pelanggan haha."


...*****...


"Ini pesanannya, maaf karena sudah menunggu lama." Y/n memberikan satu bungkus sayap ayam goreng ke Wonwoo.


Wonwoo melihat sekaleng coca-cola didalam kantung kresek itu dengan terheran-heran karena merasa tidak memesannya. "Saya tidak memesan ini—"


Y/n buru-buru memotong Wonwoo, "Itu hadiah! Karena sudah mau menolong kucing itu kemarin. Terima kasih banyak atas bantuannya!" sudut bibir Y/n bengkok lalu mengembang lebar hingga gigi kelincinya mengintip dari balik bibir mungilnya yang kemerahan.


Wonwoo mematung sebentar begitu melihat senyum Y/n yang secerah itu. Saat itu pikirannya hanya tertuju pada Wonyoung yang memiliki personality seperti Y/n.


"Ehem," Wonwoo memecah lamunannya sendiri. "kalau begitu saya permisi dulu." lelaki jangkung itu kemudian masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan aneh.


Entah sudah berapa lama dia tidak merasakan hidup yang sesungguhnya sejak Wonyoung tiada. Tapi lelaki itu kemudian menyingkirkan perasaan itu. Mungkin ia hanya terlalu merindukan Wonyoung hingga berpikir yang tidak-tidak.


Wonwoo kemudian menyalakan mesin mobilnya dan beranjak pergi dari restoran ayam itu untuk pulang ke rumah.


Di saat yang bersamaan, Ibu dari Y/n yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku Y/n dan pemuda tampan dengan t-shirt hitam yang pas dengan tubuhnya yang tinggi semampai, buru-buru menghampiri putrinya itu.


"Hei, Y/n. Siapa dia? Dia tampan sekali, apa dia yang sering kamu bilang pangeran tampan itu?"


"Lalu siapa yang kamu maksud pangeran tampan itu hah!? Ada berapa banyak laki-laki yang kau dekati!?" sang Ibu memukul kain lap ditangannya ke arah Y/n beberapa kali.


"A-aku tidak dekat dengan siapa-siapa!" Y/n mencoba menghindar dari pukulan kain lap Ibunya.


"Terus pangeran tampanmu itu siapa hah?!"


"KENAPA IBU PENGEN TAHU TENTANG HUBUNGAN PERCINTAANKU!? AGHH BERHENTI MEMUKULKU, BU!" Y/n meremas kain lap itu dengan sekuat tenaga.


"Karena kamu selalu salah dalam memilih laki-laki, dasar anak berandal!" karena kain lapnya sudah tidak bisa dipakai untuk memukul lagi, jadi sang Ibu pindah haluan menggunakan tangannya untuk memukul putri keduanya itu.


"AAGHH! AGHHH!" Y/n merengut karena pukulan dari Ibunya yang bertubi-tubi. "kali ini aku yakin kalau dia baik kok bu, dia pemilik dari Cafe tempat aku kerja!"


Sesaat setelah Y/n mengatakan rasa sukanya kepada pemilik Cafe tempat dia bekerja, Kakak perempuannya Choi Yuju, ternyata turut ikut menguping pembicaraan mereka. Dia keluar dari kitchen lalu berkata, "Jadi itu alasan kau kerja di Cafe Pirates? Kukira karena tema Cafenya tentang Pirates dari One Piece, gak taunya..."


"Eonni dari tadi menguping ya?!" serobot Y/n malu.


"Mana ada. Suaramu tuh yang kedengeran sampai ke kitchen, tau. Tapi astaga ternyata kamu suka toh sama Dokyeom. Menurut eonni, dia orang aneh." kata Yuju menjelaskan.


"Ah—jadi namanya Dokyeom... tapi bagaimana eonni bisa tau namanya?"


Yuju menaikkan sebelah alisnya, kebingungan. "Kamu ini aneh sekali, masa nge-crush in orang tapi gak tau namanya sih?! Yah, kami pernah satu kelas di SMA. Like I said, he's pretty weird."


"Tolong jangan menggunakan istilah inggris disini. Kau sudah bukan di Amerika lagi, eonni." protes Y/n.


...*****...


Saat Wonwoo masuk ke dalam rumahnya, dia tiba-tiba mendengar sebuah suara yang memanggil, "Kau sudah pulang ya?" suara yang asing itu berasal dari dapur.


Wonwoo mengernyitkan dahi, "Hey, kenapa kau masih disini? Bukannya kau seharusnya pulang tadi pagi?" ia bisa melihat kepala Mingyu muncul dari dapur dengan senyum khasnya yang manis.


"Itu karena aku bosan dirumah, lebih enak disini." kata Mingyu sambil bersenandung. "ngomong-ngomong itu apa yang kau bawa? Aku mencium aroma yang enak."


"Apa-apaan alasanmu itu—oh ini? Chicken wings. Kau mau?" Wonwoo mengangkat kresek yang dia bawa ke udara.


"Aku hampir aja membuat ramyeom untuk kita berdua. Tapi chicken wings boleh juga. Chimek, call?"


"Call."


Wonwoo menaruh kresek berisi chicken wingsnya ke atas meja makan, kemudian melepas bajunya untuk mandi sebentar. "Aku mau mandi sebentar, badanku gerah rasanya."


"Okay. Tapi cepat mandinya, kau tidak ingin kehabisan chimek-nya kan?" goda Mingyu.


...*****...


12 jam yang lalu.


"Good morning, babe,"


Seusai mandi pagi, Mingyu menghubungi kekasihnya yang saat itu berada di kota Bangkok, Thailand.


"Apa yang sedang kau lakukan sekarang hm?" pria itu bergerak menuju sofa di apartemen Wonwoo sembari telanjang dada dan mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk.


"Breakfast? Ada menu apa saja disana?" lelaki dengan kulit tan itu mendengarkan suara kekasihnya sambil tersenyum gemas. "—pad thai? Sepertinya aku belom pernah mencobanya. Apa rasanya enak?"


Tangan Mingyu menggapai remote tv yang berada di sisi sofa lainnya dengan malas, "Aku belum sarapan, cintaku—mungkin nanti kalau aku sudah pulang. Ya, aku masih dirumah teman baikku."


Begitu ia mendapatkan remote tv itu, Mingyu buru-buru menyalakan netflix. Ia bersyukur karena Wonwoo tidak pernah memberikan password yang sulit ditebak. Dari dulu dia memang tidak pernah berubah, pikir Mingyu.


Saat Mingyu melihat continue watching milik Wonwoo, tangan Mingyu yang memegang ponsel ke telinganya langsung lemas. Seluruh film dari yang Wonwoo lihat adalah tentang depresi dan menyalahkan diri sendiri.


"Ma-maaf sayang, aku mematikan telpon dulu ya. Aku akan menghubungimu nanti. Love you." dengan itu, dia langsung mematikan sambungan telponnya dengan Ayana.


"Apa-apaan ini Won, kenapa kau tidak menghubungi kita—" saat dia mengatakan ini, tenggorakan Mingyu terasa seperti ditikam oleh belati yang panas.


Dan entah bagaimana, dia langsung teringat dengan ucapan Wonwoo kemarin malam.


"Aku mengalami kecelakaan setengah tahun yang lalu. Calonku, mengalami koma sampai sekarang."


Jemarinya yang panjang buru-buru mengetuk tombol di ponsel pintarnya untuk menghubungi Woozi melalui Kakaotalk.


Beberapa detik dia menunggu, Woozi pun mengangkat telponnya. "Zi, aku ada kabar buruk."


...*****...