
Sena dan Azmya segera membawa Rafael ke ruang gawat darurat. Satu orang dokter dan beberapa perawat langsung cepat tanggap menangani Rafael. Sementara Azmya dan Sena pun berdiri dari kejauhan dengan perasaan cemas.
" Minggir pasien Red Zone, Red Zone!" teriak beberapa orang yang berteriak mendorong sebuah brankar membuat Azmya dan Sena buru-buru menepi dari lorong UGD membiarkan beberapa orang perawat dan dokter yang sedang berada di atas perut pasien yang baru datang sedang melakukan CPR.
Azmya sempat sekilas melihat pasien itu. Pasien korban kecelakaan, karena terlihat badannya yang penuh darah. Azmya sedikit melihat dada pasien itu yang bertato dengan wajah yang berlumuran darah. Sena dengan sigap menarik tubuh Azmya agar terhindar melihat pemandangan mengerikan itu.
"Dia adalah salah satu korban kecelakaan dua mobil di jalan KM 76 !" penjelasan seorang petugas emergency yang tadi membawa orang itu pada dokter yang sedang berjibaku dengan waktu untuk menyelamatkan pasien itu.
"Pasien mengalami benturan dan diperkirakan ada pendarahan di dalam dada dan perut!" sambung petugas itu terdengar oleh Azmya dan Sena.
Belum lama datang pasien yang tadi, kembali datang 3 pasien yang sama merupakan korban kecelakaan. Azmya terlihat ngeri melihat kondisi mereka yang parah. Ajeng terkejut ketika salah satu tangan pasien yang datang itu menyentuh tangannya yang berdiri di lorong. Ajeng melihat tangannya sedikit ternoda oleh darah dari tangan pasien korban kecelakaan itu.
Sena pun segera mengajak Azmya untuk mencuci tangan. Namun dokter yang menangani Rafael memanggilnya.
"Iya bagsanim (dokter)." Sena pun segera menghampiri sekat tempat Rafael ditangani bersama Azmya.
"Dia hanya demam tinggi biasa, dia sudah diberikan obat penurun demam, kalau sudah turun panasnya, dia boleh dibawa pulang."
"Syukurlah."
"Sun Jae Bagsanim kami membutuhkanmu disini, ada pasien darurat!" sebuah teriakan memanggil nama dokter yang menangani Rafael tadi.
Dokter tadi buru-buru berlari ke sebelah sekat di samping Rafael. Azmya kemudian mendekati Rafael yang tertidur kemudian membelai rambutnya dengan sayang.
"Daddy ... " Terdengar suara Rafael lemah memanggil.
"Daddy di sini sayang." Jawab Sena memegang tangan Rafael.
"Daddy ...Daddy..."
Sena pun memeluk Rafael untuk menenangkannya. Azmya pun sedih melihat pemandangan itu.
Sementara itu, Dokter Sun Jae berusaha menangani pasien yang di sebelah Rafael yang tak lain adalah Jun. Berusaha melakukan pertolongan agar Jun tidak banyak kehilangan darah. Lukanya cukup parah di bagian kepalanya.
~ ~ ~ ~ ~
Rafael berangsur-angsur turun demamnya membuat Azmya dan Sena dapat bernapas lega. Baru saja Azmya dan Sena hendak membawa Rafael pulang. Terdengar keributan di lorong UGD. Beberapa orang berpakain hitam hitam dengan wajah sangar berteriak memanggil-manggil nama.
"Han Seo Joon, di mana?"
Terdengar seorang dokter dan perawat mencoba menenangkan orang itu karena membuat keributan di ruang UGD. Lalu entah bagaimana orang-orang itu menuju sekat di sebelah ruang Rafael. Yang Azmya tahu kalau di sebelahnya adalah korban kecelakaan.
"Shit, kenapa kalian bisa mengalami kecelakaan, sekarang di mana tas itu?" teriak satu orang. Namun tak ada jawaban. Karena memang yang di tanya belum sadarkan diri. Beberapa menit masih terdengar suara-suara ribut dan suara orang yang bertelepon. Beruntung beberapa security cepat tanggap mengusir mereka. Azmya sempat mengintip orang-orang yang diusir itu. Dari cara penampilan mereka Azmya yakin kalau mereka adalah kelompok gangster.
"Sayang, aku pergi ke bagian administrasi dulu untuk urusin kepulangan Rafael," pamit Sena pada Azmya. Kemudian Azmya mengangguk. Setelah itu Sena pun bergegas menuju ruang bagian admnistrasi.
"Mommy!" panggil Rafael.
"I wanna see My daddy." Kata Rafael dengan suara yang lirih.
"Daddy mu sedang pergi sebentar."
Rafael menggelengkan kepalanya. Kemudian berkata, " My really Dad, Where is he?" tanya Rafael membuat Azmya terkejut kenapa tiba-tiba Rafael mengungkit masalah itu lagi.
"Rafael, Sudah berapa kali Mommy katakan kalau Daddy Rafael itu sudah pergi jauh." Azmya mencoba menahan rasa sesaknya. Entah kenapa Rafael menanyakan hal itu.
"Aku lihat Daddyku di mimpi. Itu kayak beneran." Rafael pun menangis kembali.
"Tenang sayang, Daddy Sena adalah Daddy Rafael ?" ucap Azmya sambil memeluk. Entah kenapa Rafael bicara tentang ayahnya. Padahal Azmya belum pernah memperlihatkan foto Jun. Kenapa dia bisa bicara kalau dia bertemu di mimpi. Apakah benar Jun sudah mati dan arwahnya berkunjung ke mimpi Rafael. Dan kenapa Rafael tiba tiba teringat dengan ayah kandungnya.
Ketika Azmya memeluk Rafael, tiba-tiba tirai sekat dibuka. Azmya kaget karena tiba-tiba seorang laki-laki tinggi memakai masker datang. Namun sepertinya laki-laki itu kaget dan segera melepas maskernya.Lee Do Hwa berdiri di sana. Dia pun sama terkejutnya.
"Azmya-ssi, kenapa kamu bisa di sini?" tanya Do Hwa heran.
"Anakku sakit, kamu kenapa bisa ke sini?" tanya Azmya heran melihat Do Hwa yang celingukan seperti mengawasi keadaan. Lalu kemudian mendekat.
"Ceritanya panjang, rasanya ini sebuah kebetulan, aku minta bantuanmu!" ucap Do Hwa penuh rasa waswas. Dia tidak menyangka kalau Azmya malah bisa berada di rumah sakit yang sama dengan Jun. Apakah ini sebuah kebetulan yang diatur Tuhan.
"A-ada apa, su-suamiku sedang ke ...."
"Jun masih hidup." Bisik Lee Do Hwa ke telinga Azmya. Tentu saja itu membuat Azmya shock sampai dia kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"A-apa?"Azmya memegangi kepalanya yang seperti kena hantaman benda berat.
"Nanti aku ceritakan semuanya. Yang jelas bantu aku bawa Jun dari sini!" kata Lee Do Hwa semakin membuat Azmya lebih terkejut.
"Dd- dia ada di sini?" pekik Azmya membuat Rafael menatap Azmya dan Lee Do Hwa dengan tatapan yang bertanya-tanya.
Lee Do Hwa kemudian mengintip di balik tirai melihat keadaan di luar. Wajahnya terlihat tegang ketika kembali berbalik.
Azmya masih limbung dan berusaha mencerna dan memahami apa yang sedang dia hadapi sekarang.
"Jun ada disini. Kok bisa?"
Lee Do Hwa kemudian keluar memeriksa sekat demi sekat mencari Jun. Saat kembali lagi ke sekat Rafael dia menyibakkan tirai pembatas ruangan Rafael. Azmya melihat pasien yang tadi ditangani Dokter Sun Jae.
"Itu Jun!" Lee Do Hwa memberi informasi seperti sebuah granat yang meledak karena itu cukup membuat Azmya menjerit namun dia segera menutup mulutnya. Air matanya mengalir deras melihat kondisi Jun yang kritis itu.
Azmya kemudian menghampiri dengan langkah yang bergetaran tak kuat melihat keadaan Jun seperti itu. Dengan tangan yang gemetaran Azmya mencoba memegang tubuh Jun yang terluka. Menangislah Azmya melihat kondisi Jun yang hampir dia tak kenali.
"Maksudmu, aku nggak paham, kenapa Jun bisa mengalami kecelakaan!"
"Mana suamimu?" tanya Do Hwa tidak menggubris pertanyaan Azmya.
"Dia sedang ke bagian administrasi, ada apa sebenarnya?" teriak Azmya makin tak sabar mendengar apa yang sedang dia hadapi sekarang.
"Minta suami mu membawa Jun dari sini, setelah Jun pergi dari tempat ini, dia akan aman!"
Azmya merasa dia seperti dalam mimpi buruk yang tidak bisa terbangun. Apa maksud dari perkataan Do Hwa barusan.
"Cepat, kalau kita tidak gerak cepat, entah apa yang akan terjadi pada Jun!" teriak Lee Do Hwa membuat Azmya segera berlari keluar mencari Sena.
Dengan langkah terburu-buru Azmya berusaha menyusul Sena. Dia mencoba memahami situasi apa yang sedang dihadapi Jun. Kenapa dia bisa berada di Korea. Dan kenapa dia bisa mendapat kecelakaan. Dan kenapa tiba-tiba Lee Do Hwa muncul di hadapannya dan mendapatkan Jun dalam keadaan terluka parah. Banyak pertanyan yang muncul dalam kepala Azmya sekarang. Sungguh tak habis pikir kenapa Jun bisa menghilang dan muncul di sini dengan keadaan seperti itu.
Sena yang baru selesai berurusan dengan adminitrasi rumah sakit terlihat heran melihat Azmya yang sepertinya sedang tegang datang menghampirinya. Tentu saja membuat Sena panik takut terjadi sesuatu pada Rafael.
"Ada apa sayang?" tanya Sena.
"Oppa, bisakah sekarang Oppa membantu seseorang?" tanya Azmya dengan perasaa gugup. Tangannya gemetaran hebat.
Sena langsung meraih dan menggenggam tangan Azmya yang gemetaran.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Sena.
Kemudian Azmya menjelaskan singkat pada Sena. Mendengar itu Sena sangat terkejut tak percaya dan berniat untuk melihatnya dulu.
"Tidak ada waktu Oppa, sepertinya Do Hwa juga terlihat kuatir dan tegang, lebih baik Oppa segera meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan Jun ke tempat lain. Apakah Oppa tahu tempat yang aman untuk memindahkannya. Aku pikir nyawa Jun dalam bahaya?" kata Azmya.
Sena terlihat berpikir sejenak. Kemudian menganggukkan kepalanya meskipun sebenarnya dia juga bingung dengan kondisi yang sedang dihadapi mereka.
Sena POV
Sena teringat dengan percakapannnya dulu dengan Jun di pantai tentang orang jahat yang dibicarakannya. Apakah ini ada kaitannya dengan keadaan Jun sekarang. Kalau itu benar. Jun benar-benar dalam keadaan terancam bahaya.
Sena segera menghubungi seseorang yang dikenalnya sambil berjalan menuju ruang administasi lagi.
🚑 🚑 🚑 🚑 🚑
Azmya menatap wajah Jun yang hampir dia tak kenali dengan penuh iba. Berulang kali dia menghapus air matanya yang jatuh. Beribu pertanyaan menumpuk di kepalanya. Mengapa Jun bisa berakhir seperti ini. Apa yang telah terjadi padanya.
Dengan bantuan Sena dan salah satu sepupunya di sana, mereka berhasil membawa Jun dengan sebuah ambulance. Azmya, Rafael dan Lee Do Hwa ikut di dalamnya. Sementara Sena mengendarai mobilnya sendiri di depan ambulance sebagai penujuk jalan.
"Mommy, siapa dia, kenapa dia terluka parah?" tanya Rafael sambil menggenggam tangan Jun dengan kedua jarinya. Azmya melihatnya dengan mata berkaca-kaca. Azmya pun memeluk Rafael dan menangis tak tertahan membuat Do Hwa pun tak kuasa menahan air matanya.
"Di-dia itu Daddy mu." isak Azmya membuat Rafael terkejut dengan jawaban Azmya.
"Daddy."
Sementara Do Hwa mendengarnya begitu terkejut.
"Dia Daddy Rafael, its your real dad." Azmya mengatakannya dengan penuh duka yang tertahan selama ini.
"Azmya-ssi, apa dia anak Hyung?" tanya Do Hwa tak percaya.
Azmya mengangguk. Dia pun bercerita kalau sebelum Jun menghilang dia sempat berhubungan dengan Jun. Namun Jun tidak tahu kalau dirinya akan mengandung anaknya. Azmya pun menceritakan betapa beratnya dia menjalani hidup mengandung tanpa Jun. Membesarkan Rafael seorang diri dan berakhir menikahi Sena seminggu yang lalu.
Lee Do Hwa pun hanya merespon dengan diam terpaku. Menyayangkan itu semua. Kenapa hubungan percintaan mereka begitu berat. Dan apa yang terjadi pada Jun sungguh sangat tragis. Sementara Rafael menggenggam tangan Jun dan menangis memanggilnya Daddy. Ajaibnya tangan Rafael digenggam Jun. Meski Jun masih belum membuka matanya.
Azmya melihat itu menjadi lebih sedih. Tenyata insting ayah dan anak cukup kuat di antara mereka. Pantas saja Rafael tiba-tiba demam dan harus dibawa ke rumah sakit. Ternyata Tuhan ingin mempertemukan mereka berdua. Dan bukan tak mungkin Rafael tiba-tiba menanyakan perihal ayah kandungnya. Ternyata itu adalah firasat anaknya. Bukankah mereka berdua memang terikat takdir sebagai ayah dan anak.
"Pantas saja saat aku pertama kali melihatnya, dia seperti Hyung, dia mirip sekali dengannya, tampan," ucap Lee Do Hwa sedikit tersenyum.
"Hyung, sadarlah, kamu ternyata mempunyai putra yang tampan, seharusnya kamu jangan bertindak bodoh seperti itu lagi, kalau saja aku tahu kalau Hyung bertindak bodoh, tak mungkin aku biarkan Hyung pergi," ucap Do Hwa menatap wajah Jun dengan sedih.
"Do Hwa, sekarang ceritakan! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Azmya menagih penjelasan pada Do Hwa.
Lee Do Hwa pun menceritakan bagaimana Jun diculik di Jakarta sampai ke Korea. Dan menceritakan kalau Jun sengaja tidak memberi kabar pada Azmya demi melindungi Azmya dari Kwan Seok. Tentu saja mendengar itu Azmya merasa bersalah dan menyesali itu semua.Seharusnya Jun memberi tahu dan lapor polisi.
"Saat itu Jun tidak punya kekuatan selain mengikuti keinginan Kwan Seok, dua tahun dia di sekap tanpa bisa kemana-mana."
"Kau tahu siapa yang menculik Jun di Jakarta, kata Jun dia adalah orang yang kebetulan kenal denganmu, makanya Jun tidak mau ambil resiko."
"Apa, siapa?" tanya Azmya.
"Jefri."
Azmya semakin shock mendengar nama itu. Lalu dia pun teringat dengan ucapan Sena yang pernah mengatakan kalau Putri bertemu lagi dengan Jefri. Hanya saja Azmya ketika itu tidak tahu kalau pertemuan Putri dengan Jefri membawa pesan penting.
Lalu kemudian apakah Sena sudah mengetahui ini semua saat dia pernah menyinggung masalah Jefri. Azmya hanya mampu memegangi kepalanya yang terasa berat. Itu juga salahnya dia, dia tidak mau mendengarkan cerita dari Sena. Dia pikir Sena hanya akan menceritakan hal lain selain Jun.
Azmya kemudian memandang wajah Jun yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri itu. Betapa berat perjalanan Jun. Dan itu dia pikul sendiri.Sama seperti SMA, Jun hanya bisa mengikuti permainan dan keinginan orang yang jahat pada nya tanpa bisa melawan. Kenapa dia selalu saja tak bisa melawan orang-orang yang jahat padanya. Harusnya Jun mempunyai keberanian melawan meskipun itu membahayakan orang lain. Setidaknya dia mencoba, bukan menyerah seperti yang dia lakukan selama ini.
***Bersambung...
Readers setia jangan lupa like, komen dan vote untuk Missing Guy. Nantikan kelanjutan nya ⛄⛄***