
Di sebuah bar malam khusus untuk orang orang kelas atas. Jun berada di sebuah ruang privat bersama satu orang yang terlihat sedang mabuk. Jun hanya melihatnya dengan tatapan penuh dendam.
Orang yang sedang mabuk itu adalah Park Kwan Seok. Dia sedang mengangkat gelasnya yang sudah berisi dengan alkohol dan menyodorkannya pada Jun. Namun Jun menolak.
"Kamu tahu Seo Joon, sejak Hyo Jin meninggal dan Seven-F bubar. Berapa kerugian HV Entertainment yang aku bangun dengan susah payah?" Ceracau Kwan Seok yang mabuk.
"Hentikan Hoejang-nim!" seru Jun menatap Kwan Seok dengan tatapan dingin menusuk.
"Untungnya aku masih punya bisnis ini, dan aku juga punya anak buah hebat sekarang, yaitu kau Han-Seo-Joon alias Jun." Kwan Seok pun tertawa terbahak-bahak tak jelas karena pengaruh alkohol yang diminumnya.
Jun pun berulang kali menahan dirinya untuk tidak berbuat sesuatu di saat tak ada anak buahnya yang lain. Sebenernya ini kesempatannya untuk menghabisi Kwan Seok. Dengan begitu dia akan terbebas dari segala bisnis kotor ini dan segera pulang ke Indonesia.
Namun Jun berulang kali memikirkannya. Kalau dia membunuh sama saja dia akan masuk penjara dalam waktu yang lama. Cara satu-satunya agar dia bisa terlepas dari geng Bandar Narkoba ini tentunya dengan mengungkapkan bisnis ini pada pihak polisi. Namun selama dia berada di lingkaran setan ini dia sama saja akan membusuk bersama Kwan Seok di penjara.
Jun mengeluh harus menemani Kwan Seok di tempat yang tidak dia sukai. Mr Han dan Jung Woo yang harus nya ikut menemani acara rutin mingguan Kwan Seok malah pergi karena urusan yang lain.
Jun kemudian meraih ponselnya yang dia simpan rapi di dalam jaketnya ketika dia melihat Kwan Seok mulai terantuk-antuk pertanda dia akan kehilangan kesadarannya. Dan dalam hitungan detik kepala Kwan Seok pun terantuk meja yang penuh dengan botol minuman beralkohol. Lalu tertidur.
Setelah dia tak sadar. Jun pun mengambil ponselnya setelah dirasa aman. Dia tidak ingin kalau Kwan Seok mengetahui mempunyai ponsel rahasia.
Sebuah pesan dari Lee Do Hwa.
***Hyung, aku sudah sampai di Jakarta
Tapi aku bertemu dengannya di bandara
Dia menuju ke Seoul sekarang***
Deg. Jantung Jun berdetak cepat saat membaca pesan itu. Azmya sekarang menuju Seoul.
Hyung dia sudah menikah
Punya satu anak
Jun merasa dunia yang dipijaknya runtuh seketika membaca pesan itu. Jun menggigit bibir nya. Merasa kesal, marah dan kecewa.
***Sepertinya mereka akan liburan di Seoul
Aku pulang lagi ke Seoul. Mari bertemu di rumah itu besok malam***
Jun lemas tak mampu bereaksi. Haruskah dia senang mendengar itu. Jun cemas kalau sampai Kwan Seok tahu keselamatan Azmya bisa terancam. Karena perasaan yang bercampur aduk Jun mengambil satu buah botol minuman dan menegaknya langsung dari mulut botol nya. Kemudian menghabiskannya dalam satu tegukan.
Selama ini dia bertahan tidak menghubungi siapa pun karena dia tidak ingin Azmya terjadi sesuatu padanya. Yang Jun lihat dan saksikan kalau Kwan Seok mempunyai basis jaringan yang kuat di beberapa negara termasuk Indonesia. Dia tidak ingin gegabah dalam bertindak. Bahkan Kwan Seok berhasil menculiknya karena mempunyai anak buah jaringan bisnis kotornya di sana.
Dua tahun dia disekap oleh Kwan Seok tanpa memberinya kesempatan untuk tahu apa yang terjadi di luar. Jun hanya bisa berharap kalau Azmya akan baik-baik saja tanpa kehadirannya.
Setelah melalui pertimbangan dan proses pemikiran yang panjang akhirnya Jun pun menawarkan diri sebagai anak buah jaringan bisnis Narkoba Kwan Seok sampai dia mempunyai cara untuk menjebak Kwan Seok dan membuatnya dipenjara atas semua tindak kejahatannya itu.
Jun pun sembunyi-sembunyi mengatur segala rencananya agar dia bisa membalas semua perbuatan Kwan Seok padanya.
Bukan Jun namanya kalau dia tidak menggunakan kecerdasannya dalam membuat Kwan Seok sekarang menjadikannya sebagai orang kepercayaannya. Butuh waktu yang lama untuknya bisa terbebas dari intaian anak buahnya yang selama 24 jam mengawasinya.
Sekarang, karena Jun sudah menunjukkan kesetiaannya pada Kwan Seok. Sekarang Jun lebih leluasa untuk pergi dan bertemu siapa pun tanpa diawasi.
Dari hasil nya membantu bisnis Kwan Seok. Jun membeli sebuah rumah kecil tersembunyi di daerah Cheomdang. Tempat dia bersembunyi dari Kwan Seok jika dia merasa lelah dan ingin sendiri.
Jun berjalan menuju apartemennya dulu diam diam tanpa sepengatahuan anak buah Kwan Seok. Dia menutup wajahnya dengan kaca mata dan masker agar tidak seorang pun kenal dengan wajahnya. Rambutnya dia biarkan gondrong dan tak pernah mencukur kumis dan jenggotnya. Meskipun tidak memakai masker wajah dia sudah tidak seperti Rjun dulu. Sengaja dia lakukan agar identitas nya tidak diketahui.
Jun sudah sampai di lantai apartemen dia dulu bersama Lee Do Hwa. Menurut kabar Lee Do Gwa masih tinggal di sana. Jun hendak bertemu dan meminta bantuan padanya. Karena dia tahu kalau dia tidak bisa melawan Kwan Seok sendirian. Setidaknya ada orang yang bisa dijadikan dia sebagai pengantar pesan untuk Azmya yang dia rindukan. Dia ingin Azmya tahu kalau dia masih hidup.
Jun menunduk dan menyembunyikan wajahnya saat beberapa orang lewat. Dia tidak ingin ketahuan. Setelah sepi. Jun pun menekan bel pintu apartemen Lee Do Gwa kemudian memasukkan sebuah surat ke lubang pintu bawah dan berlari ke balik dinding untuk bersembunyi.
Dari jauh Jun melihat pintu itu terbuka dan melihat Do Hwa yang celingukan mencari orang yang sudah membunyikan bel rumahnya.
Jun pun lega saat Do Hwa menyadari ada sepucuk surat yang dia simpan di bawah pintu rumah nya.
Lalu Jun pun buru-buru meninggalkan apartemen sebelum dia diciduk security karena terlihat gerak geriknya yang mencurigakan.
Dia memberi pesan anonim pada Do Hwa agar datang diam diam ke rumah nya tanpa membuat curiga anak buah Kwan Seok yang mempunyai banyak mata-mata di sekitaran.
"Hyung, apa sebenarnya yang terjadi padamu? Kenapa Dapyeo-nim tega melakukan ini semua padamu?" tanya Do Hwa setelah mendengar kisah Jun dari awal sampai dia terjebak di sini.
"Aku rasa dia sudah gila, kematian Hyo Jin itu semua salahku. Aku yang tidak bisa baca situasi hingga akhirnya seperti ini."
"Tapi kenapa juga dia harus membuat Hyung menjadi seperti ini, kenapa dia membuat Jun menghilang dan menjadikan kau seperti ini?" Do Hwa merasa sedih melihat perubahan Jun yang sekarang. Dia sudah seperti mafia sungguhan.
"Aku butuh bantuanmu?" Jun langsung menyatakan alasan dia memanggil Do Hwa ke tempatnya.
"Aku ingin kau menemui Azmya, tapi jangan sampai kamu bertemu di tempat umum. Karena itu sangat berbahaya. Aku tak mau Azmya dalam bahaya!"
"Beritahu dia kalau aku masih hidup, dan katakan padanya untuk bersabar dan menunggu aku muncul sampai aku benar -benar bisa lepas dari Kwan Seok!"
"Apa kah Kwan Seok benar-benar berbahaya, aku tidak mengira kalau Park Dapyeo-nim kita seorang kriminal.
"Ini bukti kalau dia berbahaya." Jun pun membuka baju nya dan memperlihatkan tato naganya pada Do Hwa.
Do Hwa pun kaget melihat tubuh mulus Jun kini ada gambar tato naga dari dadanya sampai lehernya.
"Ini simbol Black Dragon, ini sebuah organisasi Mafia yang paling kejam dam terburuk di Korea," kata Jun.
"Ini tidak main-main, aku tak mau rencana ku gagal. Maka dari itu aku hanya butuh bantuan mu agar menyampaikan ini langsung padanya. Katakan aku mencintai nya."
"Hanya itu yang aku minta dari mu Do Hwa, hanya kau yang aku percayai saat ini."
Lee Do HWa pun menatap sedih wajah Jun yang tengah diliputi kerinduan dan keputusasaan.
Do Hwa pun menyanggupi. Dia akan mencari tahu keberadaan Azmya. Dan Do Hwa pun akan menghubungi seseorang yang bisa menjawab Azmya berada di mana.
Akira.
>>>> Flash Back Off...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sudah lama Do Hwa menyimpan kontak Akira. Dia pun berpura-pura menanyakan kabarnya.
"Daebak. Sudah lama aku tidak bersapa ria denganmu. Apa Kabar Do Hwa-Ya?"
"Aku baik, aku baru saja menyelesaikan titel sarjanaku, sekarang aku hendak memulai bisnis, kira kira kamu bisa bantu aku?"
"Tentu saja. Apa pun itu demi my bias."
"Hehe, Terimakasih Akira. Kamu penggemar nomor satu."
"Pasti. Tapi bisakah kita menikah?" tanya Akira tanpa tahu malu.
"Ne ( apa)?" tanya Do Gwa kaget.
"Nggak becanda kok, hihihi." Tawa Akira nampak nyaring di telepon.
"Ngomong-ngomong kamu tadi mau minta bantuan apa?" tanya Akira.
"Begini, aku itu sedang butuh referensi dan masukan tentang promosi sebuah platform paket wisata. Sepertinya aku boleh nanya dong ke yang lebih berpengalaman kamu atau Azmya?" Do Hwa mulai memancing Akira agar dengan natural menceritakan keberadaan Azmya. Dia tidak mau Akira yang punya tingkat keingintahuan yang tinggi bisa curiga padanya. Dan pada akhirnya rencananya akan gagal sebelum misinya berjalan.
"Hmmm aku sih bisa bantu kamu, cuma aku tak bisa menjanjikan hasil yang bagus karena yang lebih jenius dan pakar Azmya."
Kena. Do Hwa pun tersenyum.
"Sekarang dimana dia, apa kabarnya?" tanya Do Hwa memancing info.
"Dia di Jakarta, sebenarnya dia bekerja di Tokyo, cuman dia sedang ada urusan ke sana."
Bla bla bla...
πππππ
Bersambung...