
Di awal semester genap di tahun 2012 di salah satu SMA swasta di Bandung. Tepatnya di ruang BK seorang siswi di temani orangtuanya sedang berbincang serius dengan Guru BK sekolah itu. Tidak hanya guru BK wali kelas nya juga hadir di ruangan itu.
“ Jadi begini Bu Minami. Kami sudah tidak bisa mentolerir kesalahan anak ibu di sekolah ini. Kesalahannya kali ini sudah tidak bisa kami atasi," ujar Bu Diah Guru BK sambil
menatap Ibu orangtua siswi itu dengan tatapan sedih.
“ Maafkan kami Bu, tapi apakah ada cara lain selain harus memindahkan anak saya Azmya ke sekolah lain. Apalagi kan Azmya pernah membawa harum nama sekolah ini, apakah tidak ada kebijakan dari sekolah, karena ini kan sudah kelas XII?"Bu Minami memohon. Sementara itu wajah Azmya hanya menampilkan wajah yang tak peduli dengan perbincangan itu.
“ Mohon maaf bu. Kami tidak bisa membimbing Azmya lagi di sekolah ini. Karena banyak permintaan dari wali murid dan banyak murid yang ingin Azmya dapat pindah dari sekolah ini. Karena mereka takut terpengaruhi oleh sikap Azmya,” tambah Bu Adel wali kelas Azmya.
Bu Minami hanya menarik napas panjang mendengar jawaban itu. Lantas dia menoleh ke arah putrinya Azmya. Tidak tampak wajah penyesalan di wajah Azmya atas semua kesalahan yang dia perbuat.
“ Andai saja Putri tidak mencoba melukai dirinya sendiri. Mungkin masalah ini akan bisa diselesaikan dengan baik. Tapi karena Azmya sudah membuat Putri mencoba bunuh diri karena Azmya sudah membuat seluruh isi sekolah gempar karena menyebarkan video yang membuat Putri menyakiti dirinya sendiri," jelas Bu Adel.
“Karena masalah ini, pihak sekolah harus berurusan dengan polisi belum lagi media massa yang mencoba meliput atas kasus ini," ucap Bu Diah.
“Bapak Kepala Sekolah pun sampai kena panggilan oleh Kantor Dinas Pendidikan. Maka dari itu untuk bisa memperbaiki dan memulihkan ini semua, kami pihak sekolah harus mengeluarkan Azmya dari sekolah ini."
“Ya sudahlah. Walau berat sanksi yang harus diterima Azmya, apa boleh buat, kami harus menanggungnya."
“Ya, untuk surat pindah sudah disiapkan oleh bagian kesiswaan, dan Azmya ibu mohon nanti kamu tidak lagi mengulangi kesalahan dan kenakalan yang sama di sekolah kamu nanti yang baru!”pesan Bu Adel.
“Baik bu, tapi bu, kalau saya boleh bicara jujur, saya tidak merasa kalau saya sudah melakukan kesalahan itu, saya cuma mengakui kalo kenakalan saya cuma sering bolos, ngantuk di kelas, berantem di kelas tapi ga pernah ikut tawuran, paling sering emang suka gangguin adik kelas di kantin, tapi untuk kasus penyebaran video Putri dan memeras Putri. Itu tidak benar, meskipun ada bukti kalau akun medsos saya yang nyebarin, tapi Demi Tuhan saya tidak melakukan itu,” ucap Azmya sambil beranjak dari tempat duduknya dan bersiap meninggalkan ruangan yang membuatnya sering merasa pengap dan tidak betah berlama lama disitu meskipun dia sering berada di ruangan itu. Tetap saja dia merasa sesak.
“Azmya, tunggu dulu, Kamu harus meminta maaf dulu dan pamitan dengan Bu Guru!," pinta Bu Minami. Tapi Azmya tidak mengindahkan ucapan mamihnya. Dia sudah cukup kesal dan muak. Dia hanya ingin segera pergi dari tempat itu.
Azmya pun pergi tanpa menunggu ibunya. Dia berjalan dengan tatapan marah dan tidak puas atas segala apa yang dia terima hari ini di ruangan BK. Dia menuju kelasnya untuk
mengambil tas sekolahnya. Sepanjang menuju kelas dia diiringi tatapan penuh kebencian teman-teman sekolahnya. Azmya sudah tidak memedulikan tatapan semuanya. Toh dia tau semua dan seisi sekolah ini sudah benci dirinya dan memusuhi dirinya. Ada yang bahkan mengumpat dengan sumpah serapah kepadanya. Azmya mencoba tegar dan tidak terlihat lemah di depan semuanya. Sampai di kelasnya,
seluruh isi kelas menatapnya diam. Azmya sadar kalau semua teman sekelas tahu
dirinya dikeluarkan dari sekolah. Tapi semua tidak akan merasa keberatan. Karena memang mereka lah yang membuat petisi ke pihak sekolah supaya dia dikeluarkan.
Azmya hanya memandangi wajah teman-temannya satu persatu dengan raut yang sedih. Sedih karena tak ada satu pun yang percaya dengannya.
“Take care guys, moga kalian happy dan puas kalau gue sudah gak di sekolah ini!,”ucap Azmya sambil mencoba tersenyum pahit. Ucapannya itu hanya disambut dengan tatapan dingin.
“Ayo Azmy,loe bisa lewatin ini semuaaa!” teriak Azmya menyemangati dirinya sendiri. Dengan langkah yang pasti Azmya mencoba meninggalkan kelas dengan kepala tidak tertunduk. Dia tidak mau semua siswa sekolah ini menganggapnya kalah. Dia harus menjaga gengsinya sebagai anak yang jago berantem.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Belum cukup Azmya diceramahi di sekolah.Kali ini dia harus kembali menelan kemarahan kedua orangtuanya di rumah. Azmya hanya berharap semua ini cepat berakhir. Dia sudah lelah harus menjadi kambing hitam atas kejadian yang dia tidak sama sekali dia lakukan.
“Mau ditaruh dimana muka papih. Kalau semua kerabat teman teman papih tahu, kalau anak papih jadi pelaku
penyebaran video asusila di sekolah." Papih marah sambil menunjuk nunjuk muka Azmya.
“Sudah Mya bilang kan pih. Mya gak pernah nyebarin video Putri, Mya dijebak pih,”bela Azmya mencoba meyakinkan.
“Kalau kamu memang benar dijebak. Apa ada bukti kamu dijebak?” tanya mamih.
“Mya gak punya buktinya mih. Tapi masa papih sama mamih ga percaya sama anaknya sih," sewot Azmya sedikit kesal.
“Mamih sama papih mungkin bisa percaya. Tapi kan selama ini kelakuan kamu di sekolah yang sering buat onar dan kasus di sekolah buat semua orang pasti yakin kamu pelakunya!”ujar papih.
“Azmya tidak butuh pengakuan percaya dari orang lain. Yang penting buat Mya mamih dan papih percaya. Itu sudah cukup buat Mya jadi kuat buat lewatin ini semua,”ungkap Azmya dengan nada sedih. Dia tidak berani mengatakan apa yang telah dia alami dan kejadian itu.
“Anggap saja kami percaya kamu bukan pelakunya. Terus rencana kamu sekarang bagaimana. Kamu udah mau kelas XII, sebentar lagi Ujian Nasional,”tanya mamih.
" Begini saja, kita pindahin ke Tangerang.Di sana papih punya teman punya yayasan dan SMA swasta, papih sering ngasih donasi buat sekolahnya.Gimana kalau kamu pindah kesana?”tanya Papih.
Azmya menarik napas panjang. Itu berarti dia harus jauh tinggal dengan keduaorangtuanya.
“Terus Mya harus ngekos gitu disana?”tanya dia melas.
“Papih kan punya rumah singgah disana, kalau papih ada urusan kerjaan papih di sana, nanti kamu tinggal disana ajak aja Bi Limah sama Mang Parmin kesana!”tegas papih.
“Pih, apa kita ga bisa cari sekolah di Bandung aja, mamih agak keberatan kalo Azmya pindah ke Tangerang!”pinta mamihnya yang mungkin tidak mau berjauhan dengan anaknya.
“Sekalian jadi pelajaran buat Mya, kamu harus bisa mandiri tanpa papih dan mamih disana. Sikap kamu yang tidak bertanggung jawab akan hal apapun yang kamu perbuat. Disana kamu harus bisa belajar memecahkan permasalahan kamu sendiri disana. Papih pingin tahu apa kamu bisa bertahan tidak berbuat kesalahan dan kenakalan lagi. Kalau tidak kamu sama papih kirim ke Kakek kamu di Jepang!"ancam papih.
“Pih, mamih tidak setuju kalau Azmya ke Tangerang, bagaimana bisa dia hidupterpisah jauh,"ungkap mamih khawatir.
“Mih, ada benernya juga kata papih, Mya siap aja toh nanti Bi Limah sama Mang Parmin ikut, jadi nggak apa-apa kok mih, mungkin dengan cara ini semuanya akan terlewati."Azmya penuh keyakinan.
“ Kalau begitu, papih akan coba menghubungi Pak Arya temen papih itu”kata papih mengambil handphonenya mencoba menghubungi Pak Arya yang katanya pemilik yayasan sekolah itu.
Mamih terlihat raut kesedihan bercampur kekhawatiran. Mungkin dia tidak tega melepas anaknya pergi jauh. Andai saja Bu Minami tidak punya pekerjaan, mungkin dia ingin menemaninya pindah.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Seragam kemeja putih dan rok kotak kotak berwarna abu-abu kali ini seragam yang Azmya pakai. Rambutnya yang panjang dia kuncir kuda dia tambah dengan topi sport yang menghalangi wajahnya. Dengan menyandang tas ransel warna hitam Azmya menyusuri sekolah barunya.
Hari ini dia resmi menyandang status murid baru di SMA Cendikia di Tangerang. Sebenarnya papih mamih nya mau mengantarnya hari pertama sekolah. Tapi Azmya menolak, karena dia tidak ingin terlalu mencolok dan menonjol di hari pertamanya sekolah. Bahkan hari ini, Azmya naik angkutan umum setelah sebelumnya bertanya. Dia hanya ingin menjadi siswa biasa, meskipun papihnya menyediakan mobil dan supir, dia tidak mau kalau sampe di sekolahnya yang baru, dirinya bakal dipandang berlebihan dan takut dirinya akan dianggap anak kaya super manja. Dia hanya ingin jadi murid biasa tanpa harus menonjol
karena kekayaan orangtuanya.
Azmya tiba di sekolah 30 menit lebih awal dari jam masuk sekolah itu. Sebelum dia pergi ke ruang Kepala Sekolah. Azmya berjalan menyusuri tiap sudut sekolah itu sekalian mengenal lingkungan sekolah yang akan dia tempati. Sekolah itu cukup besar dan
luas sama seperti sekolahnya yang dulu. Ada 3 gedung utama yang masing masing
berlantai 2 dengan satu lapangan upacara, lapangan basket, lapangan futsal, ada
juga lapangan tenis. Lingkungannya cukup asri karena banyak pohon rindangnya.
Selain gedung utama, Azmya melihat bangunan panjang sebelah timur gedung utama. Sepertinya itu kantin sekolah,karena terlihat banyak siswa yang sedang hilir
mudik yang mencari sarapan sepertinya. Beberapa siswa melirik Azmya yang
penasaran karena memang tingkah Azmya terlihat seperti seorang murid baru
pindahan. Beberapa murid laki-laki bahkan ada yang bersiul saat Azmya lewat.
Tak luput juga tatapan para siswa perempuan yang saling berbisik. Azmya mencoba
tak menghiraukannya. Dari awal Azmya memang berniat dia tidak mau mencari teman di sini. Biar dia hanya melewatkan setahun lebih disini tanpa harus berurusan dengan murid yang lain. Dia tidak mau
berteman dan tidak mau mengalami kejadian tak mengenakkan dulu di sekolah ini.
Kalaupun ada murid yang mendekatinya dan mengajak berteman, dia tidak ingin
terlalu akrab cukup formalitas saja. Dia hanya ingin melewatkan masa SMA nya
disini tanpa masalah.
Tanpa terasa Azmya sudah berada di bagian paling belakang di sekolah. Tampak ada tembok pagar tinggi yang menjadi batas sekolah itu. Tingginya sekitar 2 meteran dan
tidak ada kawat berduri sebagaimana biasanya sekolah untuk mengantisipasi
murid-muridnya untuk meloncat ke luar untuk membolos. Tapi Azmya melihat tembok
itu ada pijakan yang bisa jadi tumpuan untuk bisa meloncat. Tanpa pikir panjang Azmya pun memanjat dan menaiki pijakan itu dia ingin melihat keadaan di luar.
Setelah memanjat dia melihat ke luar, ternyata itu lahan kavling kosong yang luas. Azmya mengarahkan pandangannya ke segala arah lahan kosong itu. Tak jauh dari situ ada jalan setapak yang menuju jalan raya sepertinya. Dia merasa kalau area ini sering dijadikan tempat untuk membolos. Belum sempat dia turun, dia mendengar ada suara ribut beberapa orang di belakangnya tak jauh dari dia.
“Jangan sok belaga jadi anak genius ya loe, loe cuma anak miskin yang gak tau terima kasih!”teriak salah satu dari mereka.
Azmya menoleh dan melihat ada seorang murid laki-laki sedang duduk bersimpuh di depan tiga murid laki-laki yang lainnya yang sepertinya sedang melakukan pengeroyokan.
Azmya sudah tahu kalo yang sedang terjadi adalah tindakan bullying. Hal yang mungkin semua tempat di sekolah sering terjadi. Dia juga salah satu nya pernah melakukan itu. Azmya hendak pura-pura tidak melihat dan hendak pergi meninggalkan tempat itu. Dia tidak mau menjadi saksi aksi itu dan tidak mau ikut campur.
“Maafin gue Yan, gue janji gue gak bakalan gitu lagi, tolong maafin gue?”terdengar suara melas dari murid laki-laki yang duduk bersimpuh itu.
“Alaah udah Yan, jangan dengerin, hajaar aja biar kapok, lama-lama dia ngelunjak!”ungkap yang lain yang berperawakan bongsor, suaranya terdengar paling garang.
“Loe tahu kan, selama loe sekolah disini, loe jangan macam-macam dan banyak tingkah disini, dan jangan banyak bikin kita kesel, kalau nggak nyokap loe ga bakal bisa dagang lagi di kantin ini!”ancam laki-laki yang dipanggil Yan itu.
adalah anak Pak Arya yang bernama Yan Wijaya, dia sempat mendengar dari papihnya.
“Yan, udah jangan banyak ngomong, kita suruh dia beli rokok lagi aja seperti biasa, mulut gue udah asem nih, “saran yang satunya lagi yang badannya lebih tinggi dibanding dua temannya yang lain.
“Gue belum puas kalo belum hukum anak ini, lagian kan masih ada rokok di tasnya si Fadil tuh”jawab cowo yang bernama Yan itu.
Azmya melihat wajah murid laki-laki yang duduk itu tertunduk tanpa melawan saat murid laki-laki yang bernama Yan itu menarik kerah seragam laki-laki korban itu dan mengangkatnya untuk berdiri sambil menoyor kepalanya. Azmya melihatnya tidak tahan. Tak sadar dia kehilangan keseimbangan pijakan dan..
Brrrruuuuk. Azmya jatuh dari pagar dan suaranya menarik perhatian mereka. Secepat kilat Azmya bangun dan melihat mereka sudah memergokinya.
“Haiii, sorry ngagetin kalian. Gue anak baru-, mmm baru pindah ke sini sih!”ucap Azmya mencoba santai.
Wajah mereka tampak sedikit terkejut. Tapi ketika mereka melihat Azmya dari
ujung kaki sampai ujung kepala. Azmya bisa dikatakan punya tinggi badan yang
lumayan 175, punya bentuk badan bagus karena dia ikut kelas karate dan basket,
belum lagi wajah sunda campur orientalnya yang manis membuat mereka sedikit
terpana khususnya mereka bertiga.
“Kalian sedang apa. Oh ya, betewe gue lihat tempat ini biasa dijadiin buat bisa bolos ya?”tanya Azmya sambil menunjuk ke arah tembok pagar yang sempat dia panjat tadi tanpa menghiraukan mereka yang bengong. Dan Cuma bisa menggangguk kompak.
“Asyik dong. Nanti kalo gue mau bolos,gue taau tempatnya…hahaa!” ujar Azmya santai tertawa tanpa melihat ekspresi heran mereka. Siswa baru pindah sekolah tapi sudah punya niat untuk bolos. Berani sekali pikir mereka.
“Oh ya,kenalin gue Azmya. Gue dari Bandung!” sambung Azmya sambil menyodorkan tangannya. Kemudian mereka
pun berebutan menyalaminya.
“Gue Yan.” Murid laki-laki yang tadi sudah menoyor kepala orang. Azmya menatap dengan senyum merekah. Dugaan awal dia ternyata benar. Dia anak Pak Arya.
“Gue Fadil”sambut murid laki-laki yang berperawakan paling bongsor.
“Gue Opick,”sambung satu murid laki-laki satunya lagi yang paling tinggi dan atletis yang hampir sama tingginya dengan dia.
‘Salam kenal. Oh iya kalian kelas berapa?"tanya Azmya tapi dia sekilas melihat wajah korban bullying mereka menatap dirinya dan nampak terkejut sebentar kemudian menundukkan kepalanya.
“Kelas XII C, kamu sendiri pindahan kelas berapa?"tanya Yan.
“Sama kalau begitu, gue juga kelas XII tapi belum tahu sih kelas apanya, oh iya tadi gue sempet denger ada yang punya rokok?”tanya Azmya membuat semua gelagapan.
“Ah salah denger kali. Mana mungkin kami punya roko. Kan kalau ketahuan sama guru, bisa dihukum,”ungkap Opick.
“Kamu Fadil, kaan?”tanya Azmya. Yang ditanya mengangguk kesenangan. Azmya meminta tas Fadil. Seperti tersihir oleh pesona Azmya Fadil menurut dan menyerahkan tasnya. Azmya memeriksa tasnya dan menemukan bungkus rokok.
“Ini ada!”teriak Azmya kesenangan. Semua panik melihat aksi Azmya membuka bungkus rokok itu. Di dalamnya ada sebatang rokok tersisa. Tanpa pikir panjang Azmya mengambilnya dan menyelipkannnya di bibirnya.
“Koreknya mana?”tanya Azmya
santai. Seolah-olah dia terbiasa merokok.
Mereka ribut melihat kelakuan Azmya yang berani seperti itu. Mereka rasa mereka sudah
bertemu dengan murid cewek yang bisa dijadikan partner bolos dan partner
ngerokok.
“Mulut gue asem banget nih, gimana kalo roko ini buat gue aja, nanti gue gantiin dengan sebungkus rokok, setujuuu!”ucap Azmya tanpa beban sekali.
“Boleh..boleh..boleh kok. Apa sih yang nggak buat kamu!”jawab Yan.
“Tapi sorry, koreknya ketinggalan, lagian biasanya kita ga pernah disini ngerokoknya, bisa-bisa alarm kebakaran bunyi karena ada asap rokok,"jawab Fadil.
“Oh gitu, yahh sayang bangett, padahal gue pengen banget ngerokok!”ucap Azmya pura-pura sedih.
“Ya sudah, nanti lain waktu kita ajak loe ke tempat biasa kita ngerokok, ada juga ko temen kita cewek yang suka ngeroko, namanya Iren, nanti gue kenalin!”sambung Opick.
Azmya buang napas dengan kasar.
“Gimana yaaa, gue itu orangnya gak mau punya banyak temen, gimana kalo kalian bertiga aja yang jadi temen gue di sekolah ini,”tawar Azmya sambil menepuk bahu Yan dengan perlahan.
“Dan..oh ya, gue punya satu permintaan kecil buat kalian!”sambung Azmya mencoba mengakrabkan diri.
“Apa ituu, moga aja kita bisa. Kalo jadi pacar loe juga gue maau!”goda Yan.
Azmya hanya tersenyum kecut.
“Iren mau kemanain broo. Yang jelas kesempatan jadi pacar Azmya Cuma gue,"jawab Opick.
“Enak aja loe,gue juga mau kali,”sambung Fadil.
“Sebutin permintaan loe?”tanya Yan gak sabar.
“Karena gue gak mau punya banyak temen disini, tapi gue butuh seseorang yang bisa gue kuasai sendirian”jawab Azmya sambil memandang wajah murid laki-laki yang belum dia tahu namanya. Tapi sorot matanya membuat Azmya tak kuasa menahan diri untuk terus memandanginya. Wajah itu dengan sorot mata tajam tapi kenapa dia tidak bisa melawan dari tiga berandalan ini. Tinggi badannya mungkin sekitar 180 cm
tapi kenapa di depan tiga berandalan ini dia justru seperti tikus tanah tak berdaya.
“Maksud loe apa, kita nggak ngerti?”tanya Yan.
“Gue butuh orang yang bisa bantuin gue ngerjain PR, ngerjain tugas dari guru, gue butuh orang buat bikin catatan pelajaran, yah orang yang bisa gue suruh-suruh gitu, sebagai gantinya gue mau jadi teman kalian, loe tenang aja berteman sama gue, gue bisa kasih apapun. Fasilitas yang gak mungkin kalian punya, gue kasih,”jelas Azmya.
“Apaa, gue baru denger yang kayak gini. Loe anak orang kaya?”tanya Fadil.
“Nggak juga sih, tapi loe bisa ga ngabulin permintaan gue ini, sebagai imbalannya gue nggak bakal laporin ini ke Pak Arya,”ancam Azmya menatap tajam ke arah Yan.
“Apa, jangan becanda loe, loe nggak tau siapa gue?”serang balik Yan.
“Gue tahu, loe Yan anak bungsu Pak Arya, kan!” sambung Azmya. Tentu saja membuat Yan terkejut kalo Azmya bisa tahu jati dirinya meskipun dia anak pindahan.
“Bokap loe kenal banget sama papih gue, tanya aja!”kata Azmya memastikan Yan.
Lama juga Yan berpikir.
“Oke oke. Cuma itu aja?”tanya Yan angkuh. “Loe nggak bisa pake alasan itu buat kami nurutin kemauan loe itu”
“Kalo loe bisa ngabulin. Gue tambah loe bisa beli barang yang loe suka, gimana simple dan menarik kan tawaran gue?”tanya Azmya meyakinkan.
“Loe mau kita jadi kacung loe gitu. Yang bisa loe suruh-suruh?”tanya Opick ragu.
“Gak mungkin lah, gue lihat kalian punya seseorang yang bisa dijadiin tumbal kalian”pilihan kata “tumbal” yang dipakai Azmya menambah seram dan menambah ngeri pemikiran mereka sebagaimana dia kejamnya dia di otak mereka. Azmya mengalihkan pandangannya dan mengisyaratkan ke arah murid laki-laki itu. Tentu saja itu disambut dengan gelak tawa mereka.
“Loe mau diaa- jadi kacung loe gitu?”tanya Yan tak bisa menahan ketawanya. Sementara yang dimaksud orangnya dia menatap lebih tajam ke arah Azmya tanpa bisa berkata apa-apa.
“Kasih aja Yan, toh kita nggak rugi, kita dapat imbalan dan kita juga ngga usah cape-cape berurusan dengan anak cupu ini lagi!”sambung Opick.
Yan hanya memandang heran dan penuh selidik ke arah Azmya. Dia penuh keraguan dan sedikit berhati-hati dengan apa yang dia bicarakan.
“Loe mau bayar mahal. Cuma mau diaa jadi kacung. Gue curiga, jangan-jangan loe bandar narkoba yang lagi butuh agenpengirim?” tanya Yan yang langsung membuat Azmya ketawa. Tapi anak laki laki yang terduduk seperti tertimpa bola panas saat mendengarnya.
“Loe pengen tauu kenapa?”tanya balik Azmya. Kemudian Azmya mendekatkan wajahnya ke Yan yang membuat Yan jadi kikuk. Azmya menyunggingkan senyuman menggodanya lantas dia membisikkan sesuatu di telinga Yan.
Tak lama setelah itu Yan pun mengangguk membuat dua rekan lainnya penasaran dan bertanya.
“Oke deal!”jawab Yan dan menyodorkan tanganya sebagai tanda persetujuan.
“Jun. Mulai sekarang tolong layani nona Azmya ini dengan baik. Kalo nggak, taruhannya adalah loe tahu sendiri kan?”ucap Yan. Azmya baru tahu kalo murid laki-laki itu bernama Jun.
Sementara Jun tidak menjawab, dia hanya menghela napas panjang sebagai tanda
dia keberatan. Azmya tersenyum puas dengan penuh kemenangan.
Please dukung karya ini dengan Like Komentar Vote dan jadikan fav.
Author ucapkan Terimakasih banyak.