100 Day Wedding

100 Day Wedding
Duel



Sena dan Jun masih berdiam diri. Kedua nya masih saling menunggu siapa yang mulai. Jun merasa kalau lebih Sena lah yang memulai bicara. Toh Sena lebih tua darinya jadi Jun menunggunya.


"Kau tahu di mana aku bertemu pertama kali nya dengan Azmya?" tanya Sena membuat Jun menggelengkan kepalanya.


"Pertama kali aku bertemu dengannya. Dia sedang menangis di danau itu. Entahlah pertama kali aku melihatnya, aku merasa kasihan. Dan pertama kalinya juga aku peduli dengan seseorang," kenang Sena.


"Meskipun Azmya tidak pernah cerita tentang laki-laki yang sudah membuatnya sedih dan terluka. Aku tahu dia masih mencintainya dan rasa cintanya itu tidak dapat dengan dengan mudah digoyahkan," sambung Sena.


Jun mendengarnya merasa tidak enak. Wajahnya menunduk mencoba meresapi setiap perkataan Sena.


"Aku memang mengenalnya tidak terlalu lama. Namun aku sangat mencintainya lebih dari apa pun." Sena berbalik dan melihat wajah Jun yang sepertinya tidak tahu harus bicara apa.


"Apa kau mencintainya?" tanya Sena dengan tatapan menyelidiki.


"Melebihi nyawaku sendiri, aku sangat mencintainya," jawab Jun menatap Sena dengan tatapan meyakinkan.


Sena pun menarik sudut bibirnya ke samping dan tersenyum mengejek.


Mata Jun mendelik dan dia merasa terpancing melihatnya.


"Apa kau yakin kau tidak akan melukainya lagi?" tanya Sena dengan tatapan menindas.


"Tak kan lagi, aku tak kan membuatnya menangis dan terluka lagi." Jun menjawabnya sambil menahan kesal karena tatapan menindas Sena.


"Baiklah, aku akan merelakannya. Tapi andai saja kau meninggalkannya lagi dan melukai hatinya lagi, aku tak akan melepaskan Azmya lagi untukmu. Ingat itu!" ancam Sena.


Jun mencoba meresapi perkataan Sena. Apakah itu artinya kalau Sena masih mengharapkan Azmya.


"Kau bisa saja mendapatkan wanita sepuluh kali lipat dari Azmya, aku harap kau jangan mengharapkan Azmya lagi. Dan jangan pernah muncul lagi di depannya!" ucap Jun dengan tegas.


Sena cukup tersulut emosinya saat mendengar itu ditambah perasaan cemburu yang sudah membakar dirinya. Dengan kekuatan penuh Sena pun melayangkan tinju ke arah wajah Jun.


Buuuuuukkk.


Jun memegang wajahnya sementara tubuh tingginya terhuyung-huyung menahan berat badannya. Dia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Dia melihat wajah Sena yang sudah terlihat emosi. Tampang kalem nya yang beberapa saat lalu sekarang berubah menjadi garang.


"Kau tak pantas bersanding dengan Azmya, kalau kau sebut dirimu laki-laki harusnya kau perjuangkan Azmya sampai mati. Bukan meninggalkannya." Sena masih mengepalkan tangannya berniat untuk memukul Jun lagi.


Jun pun mencoba berdiri tegak dan siap untuk menerima pukulan Sena.


"Aku, meninggalkannya bukan tanpa alasan. Aku hanya menunggu waktu yang tepat." Jun ingin menceritakan alasan itu tapi keburu Sena melayangkan tinjunya lagi ke wajah Jun tanpa sempat dia menghindar.


Kali ini Jun benar benar terjatuh dan terlentang di tanah. Pukulan Sena sungguh membuatnya terkapar. Jun masih sadar namun air mata nya jatuh. Dia menangisi dirinya yang lemah. Dia tidak bisa menahan satu pukulan pun.


Belum puas Sena memukul Jun. Sena mencengkram kerah baju Jun dan membangunkan Jun supaya berdiri. Sena hendak memukul Jun lagi namun dia melihat mata Jun yang berair. Dia pun mengurungkan pukulannya dan melepas cengkramannya.


"Bagaimana bisa kau selemah itu, aku lihat kau berotot dan cukup kuat, kenapa kau tak melawan dan membalas pukulanku, hah?" teriak Sena kesal karena lawannya begitu lemah.


"A-aku... ," Jun tidak meneruskan perkatannnya.


Jun POV


"***Dasar cowok lemah, pukulin dia!" Yan memberi pukulan ke tubuh Jun.


"Kasih dia pelajaran!"


"Habisin dia***!"


Yan, Opick, Fadil adalah orang yang terus memukul nya kalau dia membuat kesalahan pada mereka.


Kejadian kemarin saat dia dihadang preman. Dia juga tidak bisa membalas pukulan mereka. Dia hanya sekuat tenaga untuk bertahan.


Kenapa ?


Karena dia punya kelemahan dan sebuah trauma. Jadi dia tidak bisa melawan bukan karena dia tidak mampu melawan. Dia trauma.


Waktu dia kelas delapan SMP Jun pernah punya adik perempuan. Namanya Jelita. Usianya delapan tahun, dia duduk di kelas dua SD.


Saat pulang sekolah di pinggir jalan Jun mendapatkan adiknya Jelita sedang diganggu oleh beberapa anak laki-laki seusianya masih satu kampung dan masih terbilang tetangga dekat.


"Bapaknya masuk penjara gara-gara pengedar Narkoba, periksa tasnya, jangan-jangan dia bawa narkoba," suruh salah satu anak penganggu.


Mereka pun beramai-ramai merundung Jelita. Baju seragam dan tas nya di obrak abrik sambil tertawa-tawa. Melihat itu Jun pun langsung naik pitam.


Dia kemudian memberi pelajaran orang orang yang sudah mengisengi adiknya. Jun pun terlibat perkelahian. Dia memukul anak anak itu yang jumlahnya sekitar enam orang. Tapi Jun sebenarnya sudah pernah ikut ekskul silat di sekolahnya jadi dengan mudah dia melawan anak-anak itu.


Namun sebuah kesalahan terjadi. Saat dia hendak menangkis tendangan salah satu anak. Badannya tak sengaja menubruk badan Jelita yang ketakutan kakaknya berantem dan membuat Jelita terjatuh ke jalan. Dan terjadilah peristiwa naas itu. Jelita tertabrak kendaraan yang lewat yang kebetulan sedang mengebut. Jelita pun meninggal di tempat.


Peristiwa itu sangat berbekas di benak Jun. Dia menyesalinya seumur hidup. Seharusnya dia tidak membuat kebrutalan itu. Mungkin adiknya masih hidup. Sejak itu lah Jun tak pernah bisa melawan orang-orang yang memukulnya. Tangannya selalu bergetar. Bayangan wajah adiknya selalu hadir setiap dia akan membalas perlakuan kekerasan padanya.


Bahkan waktu SMA pun dia bertemu Azmya. Dia tidak mau Azmya mengalami hal yang serupa dengan Jelita akibat dia egois dan mementingkan otot daripada otak.


>>>>>Flash back off...


Sena pun dibuat kesal dengan sikap lemah Jun seperti itu.


"Bagaimana cara mu melindungi dia, jika kau selemah ini?" tanya Sena yang kesal dengan sikap lemah dan pengecut Jun.


"Aku tidak lemah, sampai mati pun aku akan melindungi Azmya, maka dari itu sebabnya aku meninggalkan Azmya untuk melindunginya dari orang jahat, agar orang itu tidak mencelakai Azmya," jawab Jun.


Sena hanya tertawa mendengar cerita kamuflase Jun.


"Aku tidak paham karangan cerita mu itu, kenapa pula ada orang yang mau berbuat jahat padanya," kata Sena tidak mengerti maksud dari Jun.


"Hyo Jin, apa kamu tahu dia?" tanya Jun sambil mengusap darah yang keluar dari bibirnya yang sedikit robek akibat pukulan Sena.


"Siapa dia?" tanya Sena.


Namun Jun tidak segera menjawabnya. Dia pun terlihat berpikir. Mungkin dia sedang mencari cara untuk menjawab nya.


"Siapa dia?" tanya Sena sekali lagi.


Jun tidak mampu menjawab. Dia hanya seperti orang yang tegang.


Sena pun terlihat kesal dan lebih memilih pergi meninggalkan Jun. Sebelum dia pergi Sena sempat berkata. " Aku tidak akan diam kalau kau coba lagi melukai dan meninggalkanmu, ingat itu!"


Jun menunduk.Dia mencoba menenangkan diri dan menarik napas agar sedikit lebih kuat.


Tampak di kejauhan beberapa orang mengendarai motor besar memperhatikannya. Di belakang motor motor itu sebuah mobil mini van berwarna hitam.


Bersambung...


Tinggalkan Like, komen, dan vote nya ya 😘 💋