![[System] Supreme Striker](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-system--supreme-striker.webp)
Meski masih kepikiran dengan Latihan Harian yang ditambahkan dengan Passing 100 kali, Erlan tidak punya banyak waktu untuk mencari alasannya, hari ini adalah hari besar baginya, dia ingin mengetahui sejauh mana kemampuannya sebagai Striker saat di hadapkan dengan tim yang memiliki pertahanan kuat, apa Erlan bisa menembus gawang Akademi Batavia?
Erlan turun dari mobil, jarak dari jalan ini sampai ke Akademi Merajyat adalah 5,000 meter, "Pak, nanti tunggu di parkiran aja, soalnya saya gak ke loker, bisa kan?"
"Baik, saya akan menunggu Raden Erlan di parkiran."
"Pak, jangan ikutin, Pak Budi..."
Pak Tejo menggelengkan kepalanya, tidak setuju atas perintah tersebut, "Setelah saya pikir, yang diucapkan oleh senior Budi itu benar. Jadi mohon izin untuk memanggil anda demikian, Raden Erlan."
—huh Erlan tidak tahu harus berkata apa jika bicara dengan pak Tejo. Situasinya berbanding 180 derajat antara pak Budi dan pak Tejo. Pak Budi yang seharusnya menjaga rumah dengan kegagahannya malah lebih suka bercanda. Sedangkan pak Tejo yang adalah supir pribadinya dan harus menemani kemanapun Erlan pergi sikapnya sangatlah kaku.
Dan kini dia akan selalu mendengar 'Raden Erlan' di luar rumahnya karena pak Tejo. Erlan tidak mengerti bagaimana orang tuanya menemukan kedua orang unik ini.
Keanehan lainnya adalah, suatu hari tiba-tiba saja pak Tejo mengubah panggilan pak Budi menjadi 'senior Budi'. Erlan bertanya-tanya kenapa ada keanehan diantara kedua orang tua ini, namun dia menemukan jawabannya...
'Kalah main catur lagi pasti! Pak Budi kenapa gak ngalah aja sih...'
Semua itu karena catur! Pak Tejo dikalahkan oleh pak Budi berkali-kali saat bermain catur di waktu luang mereka! Erlan sempat menegur hal tersebut, namun pak Budi hanya tertawa ketika mendengar protesnya dan pak Tejo tetap memegang teguh keputusannya sendiri untuk tetap menggunakan 'senior Budi'.
Kini, sudah tidak ada gunanya bagi Erlan untuk menegur dan mengganti pandangannya lagi, dia harus menahan perasaan tidak nyaman tersebut di dalam dirinya sendiri ...
'Mama juga pasti ketawa doang kalau aku bilang kayak gitu, dahlah.'
—Swooosh perhatian Erlan seketika teralihkan saat melihat laju dari 3 bis di jalan raya. Tercetak [Akademi Sepakbola Batavia] di bagian sampingnya, Erlan segera sadar, bahwa dirinya tidak dapat bersantai lagi ...
Pak Tejo menyadari perubahan ekspresi Erlan, sangat jarang Erlan terlihat sangat serius saat menatap sesuatu kecuali ketika dalam pertandingan sepakbola. Namun saat melihat nama sebuah akademi sepakbola di bus tersebut, pak Tejo segera menanggapinya sebagai bahaya yang akan datang ...
"Apa saya perlu menghadang mereka, Raden?"
"Hah?!"
"Ya, jika Raden mau, mereka akan sampai di akademi 30 menit lagi. Saya akan buat skenario yang bagus supaya mereka datang lebih lambat dan Raden tidak perlu merasa cemas—”
"Gak usah, pak Tejo," pangkas Erlan. Dia sadar betul kalau semua orang yang disewa jasanya oleh kedua orang tuanya adalah manusia yang tidak bisa dianggap remeh, perkataan pak Tejo tadi adalah hal serius.
Bisa saja orang tua ini mencelakai dirinya sendiri hanya untuk hal remeh ini, jadi lebih baik menolaknya secara tegas. Sorotan mata Erlan masih mengikuti rombongan bus tersebut, hingga mereka tertelan oleh arus lalulintas yang ramai oleh kendaraan...
"Pak Tejo gak perlu buat laporan." Erlan menghentikan pak Tejo yang sedang mengetik sesuatu di tangannya, orang tua itu menggerakkan jarinya sangat cepat tanpa melihat gadget-nya ...
"Baik, Raden."
Langitnya sangat cerah, matahari menyibak kebenaran di dunia dan menyinari harapan umat manusia, "Ini pertarungan pertamaku untuk mencapai puncak Sepakbola...."
***
Untungnya dia berangkat lebih cepat, Erlan sampai di akademi dalam 55 menit. Kemarin itu memakan waktu 40 menit, tetapi karena dia ingin menjaga staminanya, dia jadi mengurangi kerja ototnya.
Erlan juga langsung menjumpai pak Tejo yang khawatir karena sudah menunggunya sedari tadi, orang tua itu hampir melakukan hal gila, sebenarnya orang tua ini sudah melakukan persiapannya dengan santainya sih...
—huh "Pak Tejo... Jangan dilakuin lagi ya, nanti orang lain malah gak nyaman di sekitar saya." Erlan meletakan sebuah tombak yang sangat tajam di dalam bagasi mobil.
Untung saja dia sampai sebelum keributan terjadi dan merebut benda mengerikan itu. Pak Tejo hampir meletuskan semua ban dari bis Akademi Batavia dengan dalih untuk menjaganya ...
"Nyonya meminta saya untuk mengaja Raden ketika di luar rumah. Saya harus menolak permintaan itu."
"Ya tapi jangan merusak barang orang lain dong.. mereka tidak melukai saya loh.. jangan ya, kecuali saya minta aja!" tegas Erlan, dia kini merasa harus menegur orang tuanya sendiri agar pak Tejo lebih memperhatikan sikapnya, "Paham?"
"Paham, tapi saya masih menolaknya, Raden Erlan."
Erlan benar-benar kesulitan menghadapinya, pak Tejo memang hanya ingin melaksanakan tugas yang diberikan orang tuanya, jadi dia tidak bicara panjang lebar lagi dan segera megabaikan keanehan tersebut. Erlan harus tetap fokus untuk menyelesaikan Latihan Harian dan melanjutkannya dengan latih tanding nanti ...
Namun sebelum itu ...
—Pass Erlan mencoba menyelesaikan Latihan Harian Passing, tetapi itu tidak bekerja sedikitpun! Sesuai dengan dugaannya!
[Quest: Latihan Harian]
{Running: 5,000 meter (100%)}
{Dribbling: 1,500 meter (100%)}
{Positioning: (100%)}
{Cooling Down: 30 menit (0%)}
{Passing: 100 kali (0%)}
"Sial."
"Kau ini sebenarnya kenapa?" tanya Bayu yang sedari tadi bersedia untuk mengikuti permintaan Erlan dengan buta.
Erlan meminta bantuan Bayu dengan alasan melakukan latihan tambahan sebelum waktu latih tanding dengan Akademi Batavia tiba.
Mereka akan melakukan pertandingan tersebut di jam 2 siang nanti, latihan utama di Akademi dikurangi setengahnya, dan sekarang masih jam 12 siang.
Erlan sedang mencoba berbagai cara untuk menyelesaikan Latihan Harian tersebut. Awalnya dia melakukan Passing dengan jarak 5 meter, itu tidak bekerja. Erlan berpikir kalau itu tentang kesempurnaan sebuah Passing, namun tidak merubah apapun.
Sampai-sampai dia mencoba mengubah jarak Passing-nya menjadi 7 meter, 10, 15, sampai-sampai itu menjadi Long Pass—Operan Jauh—sejauh 45 meter, tetap tidak bekerja.
"Gapapa, Bay... Penasaran aja," ucap Erlan yang sudah kehabisan akal.
"Oh! Kenapa gak tanya Captain aja? Dia pasti lebih paham soal masalah ini."
Erlan menyadari kebodohannya sekarang, dia terlalu terpaku dan termakan oleh pemikirannya sendiri sampai lupa kalau ada orang lain yang mahir dalam masalah Passing. Dia langsung berterimakasih pada Bayu dan langsung menuju tujuannya!
Tempat Captain berada, yaitu ...
"Oh, lihat siapa yang datang," ledek Manajer Zul saat melihat kemunculan Erlan di tempat seleksi calon murid Akademi.
Kini dia terjebak. Bukan karena orang lain melainkan dirinya sendiri yang menempatkan keinginan hatinya mempelajari Passing dan malah mendatangi tempat yang 'Jika tertarik, kalian langsung datang saja ke tempat seleksi'.
Mendapatkan ucapan seperti itu dari Manajer Zul, Erlan tidak dapat memberikan alasan lagi, dia sendiri yang datang! Jadi alasannya yang 'hanya ingin mempelajari Passing' tidak akan berguna, tapi dia tetap mencobanya ...
"Hmm, saya mau ketemu Captain doang, Coach! Itu! Mau belajar soal Passing!"
"Oh?! Dan kamu datang ke tempat yang tepat, selamat datang, silahkan...." Manajer Zul mengatakannya seperti seorang pelayan dan mendorong Erlan untuk segera memasuki lapangan seleksi ...
Erlan tidak berani melawannya! Sudah tidak ada jalan kembali setelah menyentuh lapangan itu! Jadi di dalam lorong tersebut, Erlan menentukan keputusannya, dia tidak suka merasa terpaksa saat melakukan sesuatu, menurutnya itu sikap yang sangat buruk untuk dimiliki.
Erlan menerimanya dan melangkahkan kakinya sendiri meski tetap dengan wajah sendunya melewati kegelapan lorong ini ....
Namun itu hanya bertahan beberapa saat ...
""""**GOAL**!!!""""
Teriakan penonton memekakkan telinga, tempat seleksi ini terbuka untuk umum dan banyak orang yang datang hanya untuk menyaksikan seleksi calon murid Akademi Merajyat.
"Anak itu.. bukankah kecepatannya terlalu mengerikan?"
"Ahahah! Merajyat akan menunjukan taringnya tahun depan! Kita kedatangan musuh Defender kembar! Dan sekarang muncul Winger kembar dipihak kita!"
"Sepertinya akan ada persaingan berat di posisi Striker tahun depan?"
Erlan tersentak saat menonton pertandingan calon murid tersebut. Beberapa saat kemudian murid Akademi Merajyat lainnya menyadari kedatangan Erlan, mereka semua terkejut, karena tidak menyangka kalau dia benar-benar datang kemari ...
Dan merasa kasihan, menurut mereka Erlan datang di saat yang tidak tepat ...