[System] Supreme Striker

[System] Supreme Striker
C007—Kebangkitan



[Quest: Latihan Harian]


{Running: 5,000 meter (100%)}


—Fyuuhhh~ Erlan tiba di depan loker utama untuk murid Akademi. Berdiri di depan lokernya, dia membukanya menggunakan sidik jari, di dalamnya sudah terdapat barang-barang miliknya yang sebelumnya dititipkan dengan Pak Tejo.


Erlan sebelumnya sangat khawatir karena lupa memberikan kunci untuk membuka loker ini, tapi sepertinya Pak Tejo sering memperhatikannya menaruh kunci di saku tas, dan bisa membuka lokernya ...


"Untung saja~"


"Yow~ apa yang untung?"


Erlan meloncat dari posisinya. Dia sangat terkejut karena tiba-tiba datang sebuah suara di kesunyian ini, "Bay.. jangan kayak maling lah.. huh!" Erlan terlalu fokus pada dunianya sejak berlari tadi,


"Ahaha! Bilang aja kamu sedang ketakutan~"


Erlan hanya melirik Bayu dengan tatapan masam, dia terlalu lelah untuk menanggapi candaan tersebut. Melihat jam yang sudah menunjukan pukul 9, Erlan segera mengeluarkan sepatu dan memakainya untuk bersiap menunju lapangan.


Akademi Sepakbola Merajyat melakukan latihan 4 kali dalam seminggu: Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu. Jika Merajyat akan mengikuti kompetisi, barulah anak-anak yang masuk dalam tim inti akan menjalani kamp latihan dan menginap di Akademi sampai hari pertandingan tiba.


Seperti saat persiapan Kualifikasi Nusantara U-17 seri ke 5 yang lalu.


Dalam jadwal normalnya, sektor Putra akan melakukan latihan yang terbagi menjadi 2 sesi, yaitu pagi dan sore atau Tim A dan Tim B. Tim A memiliki 35 orang dan Tim B 50 orang.


Erlan adalah bagian dari di Tim A, dia akan menjalani latihan pagi hari hingga jam 1 siang nanti.


Bisa dibilang, Tim A adalah tempat berkumpulnya murid terbaik yang dimiliki Akademi Merajyat atau murid yang paling rajin dan menunjukkan perkembangan secara signifikan dalam kemampuan Sepakbola mereka.


Erlan juga memulai langkahnya di Akademi Merajyat dengan memasuki tim B, namun dia adalah murid jenius yang dapat melewati batasan antara Tim B ke A. Hanya dalam setengah tahun berlatih di Akademi, Erlan dapat meloncati perkembangan murid lainnya dan menunjukkan asanya untuk bergabung dalam barisan terbaik, yaitu Tim A.


Akademi Merajyat menerima murid dengan minimal usia 14 tahun dan maksimal 17 tahun. Setelah memasuki usia 18 tahun, pada umumnya anak itu akan direkomendasikan untuk memasuki Klub Sepakbola Profesional atau paling rendahnya ditawarkan menjadi Tim Junior dari klub-klub profesional di Indonesia.


Jadi untuk pembagian pengalaman dalam Tim A di Akademi ini, Captain adalah Seniornya, Bayu ada di bawahnya Captian, dan Erlan itu Juniornya, di bawah Captain dan Bayu. Erlan adalah yang termuda!


Meski begitu, Erlan berhasil mendapatkan kepercayaan mereka semua dan dia juga telah membuktikannya ...


"Bayu! Erlan! Kalian sangat lambat! Latihan akan dimulai!" Captain berteriak dari pintu ruangan loker ini. Semangatnya selalu menggebu-gebu, bahkan saat latihan.


""Yes, Sir!"" Keduanya segera berlari menuju rumput hijau untuk berkumpul dengan murid Tim A lainnya ...


Cuaca hari ini cerah namun menyejukan, hari yang baik untuk memulai rutinitas latihan Akademi Merajyat di hari Sabtu ini. Namun, setiap anggota dari Tim A masih belum bisa menunjukkan sikap mereka yang biasanya setelah mengalami kekalahan 2 hari yang lalu ...


Di kepala mereka masih terngiang-ngiang bunyi peluit saat babak adu Penalty selesai ...


"Teman-teman! Aku minta maaf!"


Seorang dari mereka tiba-tiba saja berhenti dari rutinitas latihan, dan tertunduk lesu. Dia adalah Sam, salah satu penendang di babak adu Penalty yang gagal memasukan bolanya ke gawang. Bukan karena di tangkap oleh Goal Keeper musuh, tetapi karena tendangannya menjulang tinggi ke udara ....


34 orang lainnya juga segera berhenti melangkahkan kaki, suasana di dalam lapangan seketika menjadi suram. Meski hanya 25 orang dari mereka yang tercatat dalam Tim yang mengikuti Kualifikasi Nusantara U-17. Namun, itu mengakibatkan mental mereka semua terjatuh ....


Padahal tinggal selangkah lagi menuju kejuaran tingkat Nasional! Mereka semua berpikir demikian di dalam hatinya, namun, tidak ada yang berani menunjuk atau menyalahkan siapapun dalam kegagalan tersebut. Masing-masing dari mereka menyimpan rasa bersalah.


Tetapi yang paling terdampak pada hal tersebut, tentu saja ...


"Tidak, Sam!" Goal Keeper yang menjaga mistar gawang saat babak Penalty mengangkat tangannya, "Itu kesalahanku!" kantung matanya menghitam, wajahnya sangat lesuh, "Andai saja aku bisa menghadang semua tendangan itu! Kita pasti ...."


Semua murid menutup mulut mereka rapat-rapat, tidak ada yang berani bicara sedikit pun. Mengakui kesalahan dan menyesal adalah sebuah keberanian! Tiada satupun dari mereka berusaha merendahkan kedua orang itu lebih jauh lagi. Terutama pemain termuda di Tim tersebut ....


Erlan langsung membungkuk sempurna di hadapan mereka semua, dia sadar kesalahan utama pada pertandingan hari itu terletak pada dirinya, 'Aku! Tolong salahkan aku saja, Senior! Aku membuang 14 peluang terbaik kita! Tolong.. siapapun—’


"Salahkan aku saja, ya Erlan???"


—PLAK


Captain menampar punggungnya sangat keras, dan mencengkram pundak kirinya. Kedua orang itu kini membungkuk di hadapan semua orang. "Maafkan aku! Aku sebagai Captain hanya bisa berlarian dan memberikan petunjuk bodoh selama pertandingan! Maafkan aku karena tidak dapat menjaga lini tengah dengan baik!"


"Itu salahku juga!" namun, Captain memotong ucapannya, "Itu salahku karena tidak dapat membimbing Junior ini dengan baik! Andai saja umpanku dapat menyambungkan lini belakang dan penyerang kita! Seharusnya kita bisa menang ... Tolong maafkan aku!"


'Sial...' Erlan menggigit bibirnya, dia sangat kesal terhadap mental lemahnya ini yang selalu saja menyerahkan hal sulit pada Captain, 'Kalian sangat memanjakanku sebagai penyerang! Akulah yang terlalu bodoh saat mengeksekusinya...'


Tidak ada yang berani melontarkan kata-kata penyesalan lagi, mereka semua tahu bahwa Captain telah menanggung derita. Beradu nasib tidaklah menyelesaikan masalah! Terlagi itu telah menjadi masa lampau! Jadi untuk apa lagi? Lebih baik mengeluarkannya saja ....


Di stadion kemarin mereka sudah berusaha keras untuk menegakan kepala, bahkan saat di rumah! Akademi Merajyat ini, tempat latihan ini satu-satunya saksi perjuangan keras mereka selama berlatih!


Dan rumput inilah satu-satunya tempat yang pantas untuk menjadi saksi kesedihan di hari itu! Mereka semua menjatuhkan diri ke tanah secara serempak: terduduk, terkulai, dan mengamuk.


Tangis dan teriakan terdengar dari 35 orang murid Tim A. Mereka semua kini sibuk menangis, berusaha meluapkan penyesalan tersebut!


Staff Kepelatihan dan Manager Akademi Merajyat bertatapan satu sama lain, mereka setengah bingung dan merasa lega. Mereka memang sengaja tidak menyampaikan kalimat semangat atau penyesalan apapun sejak hari kekalahan tersebut, dan ternyata murid-murid ini dapat menunjukkan kelemahan mereka terhadap satu sama lain.


Manager yang merupakan pria tua benama Zul itu tersenyum tipis. Pemuda-pemuda ini mengingatkan perjuangannya saat berusaha untuk bermain di Tim Inti ataupun saat bermain di klub profesional dulu. Olahraga memang dapat membangkitkan segalanya...


Kekecewaan, kesedihan dan kesengsaraan ini dengan sengaja ditekankan untuk generasi muda Pesepakbola Indonesia, karena hal tersebut adalah satu-satunya jalan menuju kebangkitan selanjutnya!


Bangsa kita sudah terlalu nyaman untuk kalah!


"Kalian semua! Bangkitlah! Kalian boleh marah, menangis ataupun tertawa! Tetapi perhatikan sikap tubuh kalian! Orang kuat adalah orang yang tetap berdiri saat ombak besar menerjang ke arahnya!


"Dia tetap berdiri di tempat yang sama! Saat kebahagiaan datang maupun pergi! Bangkitlah anak muda!"


Kalimat tersebut telah memantikan api kecil di jiwa mereka. Kaki mereka tertancap di rumput hijau, tangan mereka mengepal dengan kuatnya, raga mereka perlahan bangkit, begitu juga dengan jiwa yang mulai mengamuk karena tidak nyaman hidup dalam keterpurukan!


Mereka ingin hidup bebas dan menjadi orang yang kuat!


Erlan berdiri tegar dengan kedua kakinya, tetapi membiarkan air mata mengalir deras di pipinya, kesedihan tersebut akhirnya dapat keluar seutuhnya!


'Pelatih benar.. aku hanya perlu bediri, berlari dan mencetak goal!'


"Kabar baik datang hari ini! Besok kita akan kedatangan tamu yang ingin dikalahkan, yaitu Akademi Batavia! Bangkit dan bersiaplah untuk menerjang gawang mereka!"


""""YES, SIR!""""


***


Di dalam kotak Penalty, terdapat dua orang yang sedang rebahan di bawah teduhan awan yang sangat jarang muncul di langit biru Jakarta ...


"Besok, kita ke Akademi Merajyat kan?"


"Ya."


"Apa bocah itu akan dimainkan?"


"Mungkin."


"Maksudku, mental bocah sepertinya harusnya sudah hancur kan? Dia bermain bagus sepanjang Kualifikasi, tetapi kesialannya malah jatuh di babak Final... Kau tahu?! AKU SANGAT KECEWA!!!"


"Diamlah."


"Maksudmu apa? Dari tadi kau hanya menjawabku dengan satu kata! Ada apa denganmu, Kino?!!"


"Diamlah, Fino! Aku sedang membayangkan wajah bocah itu menangis karena aku menjegalnya saat ingin menendang bola di kotak Penalty kita, BESOK!"


"Ahahaha, kau benar! Itu pasti akan menyenangkan!"


Mereka bergeletak dengan bahagia dia atas rumput ...


Fino dan Kino, pemuda kembar siam yang mendapatkan label sebagai Top Defender—Pemain Bertahan—di Provinsi Jakarta. Fino dan Kino adalah momok menakutkan bagi setiap Striker di Jakarta!