[System] Supreme Striker

[System] Supreme Striker
C004—Peluang=Goal



"Mama aneh-aneh aja sih...."


Erlan berdiri di atas rumput dan tanah yang becek karena hujan sangat deras tadi sore. Jam sudah menunjukan pukul 8 malam, cuacanya baru saja tenang dan udara sejuk mulai menyelimuti seluruh sudut desa.


—Thwack-—thwack


["Oh, kamu ngelawan Mama? Durhaka loh!"]


"Enggak, Ma!" jawab Erlan yang sedang video call dengan Mama-nya sejak tadi sore.


—Bulp!


Tas yang berisi 5 bola di jatuhkan olehnya di atas rumput hijau itu. Erlan sedang berada di atas lapangan. Meski malam hari, penerangannya sangat baik dan itu bisa terjadi karena sorot dari puluhan tiang lampu yang berdiri tegap mengelilingi lapangan seluas 100 meter itu ...


["Gimana, bagus kan?"]


"Ah? Bukannya aku udah bilang itu ke Mama ya?"


["Emang iya? Kapan?"]


"Huh....~" Erlan menghembuskan napas panjang. Dia tahu dan paham kalau orang tuanya sibuk, tapi tetap saja itu menyakitkan hatinya mengetahui pesan darinya bahkan tidak terbaca. Padahal dia sudah memikirkan kalimat terbaik agar orang tuanya tahu dia bahagia!


Sejak 1 tahun yang lalu Mama-nya secara spontan merenovasi lapangan seluas 100 meter ini agar sesuai dengan kebutuhan pemain sepakbola. Dengan alasan agar Erlan dapat berlatih kapanpun dia mau, seperti malam hari ini.


Orang tuanya rela mengeluarkan uang ratusan juta hanya untuk itu. Seluruh penduduk di desa bahkan juga mendapatkan manfaat karenanya ...


["Eh, tapi kok becek banget? Karena hujan?"]


"Kan aku udah bilang gitu, Ma... Hujan deras tadi."


["Bukan begitu, Erlan! Coba kamu ambil tanahnya."]


Erlan tidak berani protes dan langsung melakukannya begitu saja, dia mencongkel tanah serta rumput yang becek itu dan menunjukannya ke kamera.


["Loh.. kok ... Ini penyerapannya jelek banget!"]


"Ha? Maksudnya?"


["Iya.. harus direnovasi lagi ini!"]


"Tunggu-tunggu! Renovasi apanya lagi? Ini Mama mau bikin lapangan di desa terpencil jadi stadion apa gimana sih?" Erlan memasang wajah aneh di depan kamera. Namun, Mama hanya tersenyum padanya tanpa menjelaskan apapun, "Ya.. terserah Mama deh," tambahnya.


"Aku mulai sekarang ya?"


["Emang kamu bisa? Becek loh.. nanti jatuh.. besok aja."]


"Besok? Emangnya gak sibuk?" ucap Erlan sambil menatap gawang dengan mata sendunya, hidungnya memerah karena cuaca dingin.


["Enggak.”]


Erlan memalingkan pandangannya dari kamera setelah mendengar jawaban itu. Dia tahu betul kalau itu hanya harapan palsu, sudah ribuan kalinya dia dijanjikan manis seperti itu ...


["Erlan gak percaya sama, Mama? Yuk pulang aja.. besok pagi Mama telpon! Okay?"]


"Gak." Erlan sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tercampur dengan air hujan di tanah, "Mau lihat, kan? Yaudah, sekarang aja!”


["Besok aja, Nak..."]


Erlan mengabaikannya dan langsung meletakan HP itu di atas tripod agar dapat menyoroti dirinya saat menendang bola ke arah gawang di atas lapangan yang basah kuyup. Kini Mama hanya bisa melihat bagian belakang tubuhnya, karena itu diletakan di jarak 25 meter dari gawang. ...


Sebelumnya saat dia meminta akses ke CCTV, Mama-nya segera tahu apa yang dicari oleh anaknya. Erlan telah mengkonfirmasi bahwa Nona itu memang diizinkan oleh Mama, jadi apa yang dikatakan pak Budi itu benar semuanya ...


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi tentang kebenarannya dan tinggal mencari tahu siapa Nona itu. Tapi tiba-tiba saja Mama memberi syarat kepadanya jika ingin melihat CCTV, yaitu menyuruhnya untuk menendang bola ke dalam gawang sebanyak 100 kali dari jarak 20 meter.


Sebenarnya itu sangat mudah bagi Erlan, tapi dia khawatir dengan cuaca di luar yang dingin dan lapangan becek ini. Tapi Mama-nya terus memaksa, seperti yang terjadi sebelumnya, dan orang tuanya baru mengetahui kalau lapangan ini tidak layak digunakan jika hujan ...


Barulah Mama-nya melarang, tapi itu sudah terlambat ...


Erlan tidak dapat menahan rasa dihatinya lagi, sangat jarang dia berbicara selama ini dengan orang tuanya. Selain itu, ini semua tentang sepakbola! Mama-nya mulai tertarik untuk mengetahui sejauh mana perkembangannya sebagai pemain!


Jadi apa salahnya untuk pamer dan mencari perhatian? Namun, tentu bukan itu saja ...


Cuaca dingin, becek dan permintaan Mama-nya untuk 'besok' saja sebenarnya sudah cukup agar kakinya melangkah kembali ke rumah. Tetapi ...


—Ping!


[Erlan sudah berada di lapangan, System akan memulainya!]


[Timer: 01:59:59]


'System sialan!'


[Special Quest: Mama Request!]


{Masukan bola ke gawang dari jarak 20 meter sebanyak 100 kali}


Namun, bukan itu yang membuatnya terlalu gundah, tetapi sebuah plot twist yang dibuat oleh System!


{Getarkan tiang gawang dari jarak 20 meter sebanyak 100 kali}


{×Jika gagal, Skill Tendanganmu berkurang 25%}


Erlan segera menyejajarkan 5 bolanya secara horizontal di jarak 20 meter dari gawang, 'Niatku itu untuk pamer! System malah ingin menjelekanku di depan Mama!'


"Mama siap?!!" Erlan berteriak karena jaraknya dengan HP itu 5 meter di belakangnya, kemudian memasang telapak tangannya di belakang telinga ...


["Hati-hati, Nak!"]


Dan memberikan jempol ke kamera, "Semoga Mama gak mikir aneh-aneh ...," bisiknya sambil memperhatikan targetnya ...


[Goal (0/100)]


[Getarkan Gawang (0/100)]


Erlan mulai menendang bola pertama, kali ini semuanya dilakukan tanpa bantuan System. Dia benar-benar akan menunjukan skill sesungguhnya dalam meracik tendangan yang dapat menembus jala.


—Shooo


[Goal (1/100)]


Tetapi dia tidak hanya ingin menendang lurus, namun akan melakukan beberapa variasi agar Mama mengetahui kalau anaknya ini bersungguh-sungguh mengenai sepakbola ...


—Shooo


Straight Shot, bolanya lurus menuju gawang dengan kekuatan maksimalnya, suaranya bahkan bergema di tengah kesunyian. Itu masuk tepat di atas kepala Goal Keeper khayalannya.


[Goal (2/100)]


—Shooo


Passing Shot, seperti saat mengoper bola, yaitu dengan kaki bagian dalam. Masuk setelah menyentuh tiang kiri. Dia menggunakan kaki terlemahnya, yaitu kaki kanan.


[Goal (3/100)]


—Shooo


Kali ini Curve Shot, yaitu melengkungkan bola menggunakan jempol dan kaki bagian dalam, seperti saat Free Kick di Final kemarin. Setelah menendang sisi bola, itu dengan indahnya membuat lengkungan di udara sebelum masuk di pojok atas gawang,


"Woah!" Erlan bahkan tersanjung oleh kakinya sendiri.


[Goal (4/100)]


—Shooo


Menggunakan kaki kiri lagi, namun dengan memanfaatkan tiga jari: kelingking, manis, dan tengah. Masih jauh dari sempurna, kekuatan kakinya tidak cukup ideal untuk melakukan ini ...


Trivela Shot, jika disempurnakan putaran bolanya, Goal Keeper akan terkecoh dan mengira bola itu lurus ke tengah padahal tujuan aslinya adalah bagian kiri mulut gawang.


'Sulit... aku bisa cedera kalau salah mendarat.'


[Goal (5/100)]


Erlan segera berlari untuk mengambil bola tersebut di gawang.


[Timer: 01:56:30]


"Lumayan..." menyusun kembali setiap bola itu, kemudian berlari untuk mendekati HP-nya, "Gimana, Ma? Kelihatan kan?"


["Iya.. jelas kok."] jawabnya sambil tersenyum.


Erlan tidak mengatakan apapun walaupun sebenarnya sangat senang karena Mama tidak melakukan apapun selain memperhatikannya. Namun, Erlan hanya membalasnya dengan mengangkat satu jempol dan tersenyum kecil, 'Ini belum apa-apa, Ma...'


Dia segera kembali lagi di hadapan bola dan mengulangi yang baru saja dia lakukan, menendang bola ke gawang, di lapangan yang sepi nan sunyi ini!


"Aku harus meningkatkan tensinya...."


***


—Shooo-Swoosh


Angin dingin bertiup tiada hentinya, Erlan masih bersemangat dalam menendang bolanya menuju jaring, dan mengatur sedemikian rupa agar dia dapat menyelesaikan itu secara bersamaan ...


[Goal (49/100)]


[Getarkan Gawang (49/100)]


Akurasinya malam ini sangat baik, Erlan tidak meleset dari tujuannya hingga tendangan ke 99 ini. Sebelumnya, jika bolanya tidak masuk ke gawang, itu pasti menggetarkan tiang gawang, ataupun sebaliknya. Tersisa satu bola di hadapannya, dia ingin menjadikan ini 100 dan mengisi 50 di keduanya.


["Ayo, satu lagi 50!"]


Mama masih setia menontonnya, dan waktu yang tersisa untuk Special Quest ini adalah ...


[Timer: 01:12:10]


Sudah hampir satu jam, bajunya mulai basah setelah bolak-balik menendang dan mengambil bola di gawang, 'Aku harus mulai membiasakan kaki kanan.' Erlan sejak lahir selalu menggunakan bagian kiri tubuhnya, dan orang tuanya tidak mengubah kebiasaan itu.


Tetapi sebagai pemain bola, terlagi penyerang, 'Aku harus bisa memanfaatkan segala cara untuk mencetak angka! Aku tidak ingin mengulangi 15 peluang 1 Goal kemarin!' Erlan mengambil langkah mundur, dia ingin mencari momentum dengan berlari. Jika tidak begitu, nanti hanya akan menghasilkan sedikit kekuatan ...


—Thwack-thwack-thwackthwack


—Shoooooo


Dia berlari, dan melakukan Straight Shot dengan kemampuan maksimal kaki kanannya, bola itu langsung meluncur dan membentur tiang atas lalu memantul ke tanah sebelum terjerembab ke jaring gawang ...


[Goal (50/100)]


[Getarkan Gawang (50/100)]


'Hampir aja....' Erlan masih kesulitan untuk mengontrolnya, jika tadi satu inch lebih tinggi, maka bola itu hanya akan dipantulkan oleh tiang!


["Hebat banget anak Mama!"]


Sebagai ibunya, Mama tahu kalau kekuatan tubuh Erlan itu terletak pada bagian kiri, tendangan kaki kanan tadi benar-benar mengejutkannya. Getaran tiang tadi menggelor dan membuatnya merinding.


Lagi, Erlan hanya tersenyum dan memberikan jempol sebagai balasannya, dia langsung berlari menuju gawang untuk mengambil bola ...


thwack-thwack-thwack—BUACK


["Aduh! Erlan kenapa?!! Nak?!?"]


Erlan terjatuh karena tersandung oleh kakinya sendiri. System membuatnya melamun saat berlari, 'APA MAKSUDNYA DIUBAH?'


"Gapapa, Ma!" dia berteriak, tahu kalau Mama-nya akan khawatir.


System tiba-tiba saja mengirimkan pesan bahwa Special Quest akan diubah, alasannya karena Erlan menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengolah tendangan. Dia mencapai akurasi 100% dalam 100 tendangan untuk Special Quest. System tidak suka kemudahan tersebut, mulai saat ini, gawang tidaklah kosong ...


'Gila... System ini beneran buatan Semesta atau gimana sih?' Erlan sangat terkejut karena dia menyaksikan kehadiran sebuah hologram Goal Keeper di depan gawang yang sedari tadi dihajar olehnya tanpa rasa bersalah ...


[System menghargai kemampuanmu! Special Quest telah diubah!]


[Special Quest: 50 Peluang!]


{Sebagai Striker, tidaklah banyak Peluang menyerang yang terjadi dalam pertandingan 90 menit! Striker berkualitas harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan dan mencari Peluang di wilayah lawan!}


[...Rewards Penyelesaian...]


{Jika kamu berhasil memanfaatkan setiap Peluang, dari 50 Peluang yang diberikan untuk mencetak Goal, Rewards akan berkali-kali lipat!


100% (50) Goal (×100)


90% (45) Goal (×50)


80% (40) Goal (×25)


50% (25) Goal (×10)


30% (15) Goal (×5)}


{×Jika dibawah 30%, tidak ada yang terjadi. Hanya saja, sepertinya kamu lebih cocok menjadi penghuni bangku cadangan!}


—Chough! Erlan hampir mati tersedak karena membacanya ...


Tidak adalagi yang lebih menyedihkan daripada duduk cantik di bangku cadangan dan menonton timmu kalah! Terlagi untuk Striker yang bercita-cita menguasai kotak penalti lawan? Kalimat dari System adalah hinaan terbaik bagi pemain bola!


[Striker terbaik dapat mengetahui titik lemah Goal Keeper saat satu lawan satu! Terimalah tantangan dari System!]


[...GK Bot Grade XXX...]


[Timer: 00:59:58]


Darahnya mendidih ketika membacanya, sebelumnya Erlan menganggapi System hanya seperti candaan saja. Kini, hologram Goal Keeper di bawah mistar gawang menatap tajam dan melipat tangannya, bak dewa perang yang sedang menunggu pahlawan desa untuk bangkit melawannya ...


Dengan pandang rendah seperti itu....


"Tiada pilihan selain membuktikannya padamu, bukan? System gila ..."