![[System] Supreme Striker](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-system--supreme-striker.webp)
"Berkumpul!"
Matahari sudah sedikit tergelincir dari langit di kota Bogor, waktu sudah menunjukan pukul 1 siang yang artinya latihan Tim A sudah selesai. Namun, setelah mengeluarkan tangisan dan teriakan yang terpendam, mereka masih menunjukkan semangat untuk tetap berdiri di atas lapangan hijau ini.
"Saya tahu kalian ingin bersenang-senang lebih lama! Tapi istirahat adalah bagian dari latihan!" ungkap Manajer Zul
Mereka semua segera berkumpul di hadapan Manajer Zul ....
Sambil memegang sebuah kertas yang digulung, Manajer Zul berdiri di atas gundukan tanah dan membuat dirinya terlihat oleh 35 orang murid Tim A.
"Saya ingin menyampaikan hal lain lagi! Kalian semua melihat kerumunan tadi pagi kan? Akademi baru saja membuka pendaftaran murid baru dan besok akan dilaksanakan hari pertama seleksi calon murid!
"Maka dari itu, seperti yang kita lakukan di setiap tahunnya ...."
Erlan mengingat hari pertamanya merumput di Akademi Merajyat sebagai calon murid, pada tahun 2034. Saat itu kemampuan Sepakbolanya tidaklah seberapa, bersama 70 orang calon murid Akademi sektor Pria, Erlan melakukan seleksi selama 7 hari ...
Pada hari pertama seleksi, Akademi Merajyat melakukan unjuk bakat dengan memainkan pertandingan selama 180 menit, calon murid dibagi menjadi 2 dan akan secara bergantian memasuki lapangan untuk menempati posisi yang mereka inginkan.
Dan hal menariknya adalah, murid-murid Akademi Merajyat juga akan memasuki lapangan dan mengisi posisi yang kosong dalam tim calon murid tersebut. Tujuannya adalah untuk pamer dan secara tidak langsung mengatakan pada calon murid, bahwa inilah kemampuan minimal yang harus mereka raih untuk menjadi bagian Akademi Merajyat ...
Di seleksi tahun kemarin, Erlan memainkan posisi Striker dan Captain menjadi bagian dari timnya. Captain menjadi Midfielder—Pemain Tengah—yang menguasai jalur bola dan menahkodai tim. Berkat hal tersebut, Erlan berhasil menunjukkan ketajamannya sebagai Striker.
Meskipun hanya bermain selama 25 menit bersama Captain, Erlan dapat merasakan kebahagiaan saat menerima bola yang diumpan dengan baik ke kakinya oleh Captain. Hal tersebut membuat Erlan lebih semangat menjalani seleksi calon murid Akademi Merajyat ...
Dan statistiknya menunjukan, bahwa pertandingan di hari pertama seleksi calon murid baru memberikan efek besar dalam perkembangan calon murid.
Di tahun 2034, 25 dari 35 calon murid sektor Putra yang berhasil menjadi murid Akademi Merajyat adalah mereka yang melakukan pertandingan di seleksi hari pertama bersama Captain, salah satunya Erlan.
Mereka mengalami peningkatan karena merasa tercerahkan oleh permainan senior-senior yang apik dan cantik dalam memainkan bola di lapangan ...
"... Jadi! Saya meminta partisipasi kalian untuk bermain bersama calon murid, besok! Setidaknya 10 orang saja, ada yang mau?"
Captain yang pertama kali mengangkat tangannya, kemudian Bayu menyusul. Namun setelahnya tidak ada yang mengangkat tangan lagi. Mereka mungkin telah pulih, tetapi untuk pamer kemampuan saat baru saja mengalami kekalahan adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan ...
Maka dari itu, Captain menatap ke barisan belakang. Dia tersenyum lebar saat melihat 10 orang murid Tim A lainnya maju. Mereka adalah pemain yang tidak terpilih dalam tim Akademi Merajyat pada Kualifikasi Nusantara U-17 yang lalu. 10 orang itu tahu akan datang hari ini, mereka ingin mengambil kesempatan untuk menampilkan kemampuan sesungguhnya kaki-kaki mereka.
Mereka telah diremehkan hanya karena tidak terpilih, maka ini saat yang tepat untuk unjuk gigi ...
Tetapi ada satu orang yang lebih menarik perhatian. Manajer Zul menatap Erlan yang sedari tadi memutar kepalanya ke segala arah seperti anak bebek yang kehilangan induknya ...
"12 memang cukup, tapi, Erlan? Apa kamu tidak ingin ikut?" ucap Manajer Zul sambil mengangkat alisnya pada Erlan, sebagai orang yang bersikeras memasukan Erlan ke Tim Kualifikasi kemarin, Manajer Zul juga ingin Erlan menunjukkan kemampuannya saat tanpa bantuan seniornya ...
Tetapi Erlan hanya diam membeku sambil menggelengkan kepala, dia tidak takut, tetapi, 'Aku harus melakukan latihan harian System! Berlatih di Akademi! Percuma kalau aku kelelahan saat melawan Akademi Batavia, mereka tim yang lolos ke Nusantara U-17 kan? Aku harus melawannya!'
Erlan telah sedikit mendengar tentang Akademi Batavia dan ingin fokus pada latih tanding besok. Jadi dia akan menolaknya, dan tahu harus memberikan alasan yang bagus pada Manajer Zul yang selalu mempercayainya, "Aku—”
"Oke," Manajer Zul memotong ucapannya begitu saja, tidak peduli dengan alasannya.
Erlan tersenyum mendengarnya, bukan ketakutan pada Manajer Zul, tapi dia takut kalau Staff Kepelatihan tambah tidak suka kepadanya, 'Aku benar-benar tidak bisa! Kalau pun bisa, besok aku akan—’
"Jika ada yang berubah pikiran, langsung saja datang ke lokasi seleksi!" ungkap Manajer Zul sambil menatap tajam pada Erlan.
Erlan hanya bisa menghembuskan napas panjang mendengar kalimat itu, Manajer Zul seperti mengerti apa saja isi otaknya!
"Baiklah! Besok datang seperti biasa! Untuk yang bersedia bergabung membantu seleksi bisa langsung menuju lokasi seleksi saja! Paham?!"
""""YES, SIR!""""
"Latihan selesai! Bubar!"
***
[Kamu berhasil menyelesaikan Quest {Latihan Harian}!]
[...System melakukan evaluasi...]
Erlan berjalan menjauhi gerbang utama dari Akademi Sepakbola Merajyat. Dia tidak berani berlama-lama di dalam, menghindari Manajer Zul. Di luar akademi yang dikelilingi tembok berwarna putih serta pohon Pinus yang menjulang tinggi, udara sejuk berhembus dan menyegarkan suasana.
Peluhnya sehabis latihan tadi menghilang seketika ...
Sinar matahari terhadang oleh lebatnya pepohonan, Erlan sedang menunggu System memberikannya hukuman, seperti kemarin ...
Jika hukumannya berlari sejauh 5,000 meter lagi, dia akan meminta pak Tejo untuk menjemputnya nanti saja, dia ingin berlari di sekitar Akademi karena suasananya lebih nyaman dan tidak banyak orang ....
[...Evaluasi selesai...]
{Grade: ZYY—1}
{Kamu terlalu malas! Lari 5,000 meter untuk menerima Rewards!}
[×Jika gagal, Skill Sepakbolamu akan berkurang sebanyak 50%!]
[Timer: {02:59:45}]
"Yes!" Erlan berlari, tidak berniat mengeluh sedikitpun setelah mengetahui Grade-nya naik. Dia menggerakkan kakinya yang mulai dingin tersebut dengan penuh semangat, "Mari panaskan suasana! Masa muda itu memang harus penuh dengan perkembangan!"
Erlan tidak mengerti apa yang terjadi, dirinya memang terbiasa melakukan lari jarak jauh, tetapi perbedaan hari pertama dan kedua ini cukup aneh. Dia merasa lebih segar dan kakinya tidak mengeluh ....
Padahal saat hari pertama dia merasa ingin mati saja, 'Mungkinkah karena perkembanganku? Grade? Level? Entahlah... Pastinya bukan dari skill merawat sepatu!' Erlan berlari di bawah teduhan pohon sambil melamun, sejauh matanya memandang masih banyak mobil yang terparkir di dalam Akademi.
"Tahun lalu aku daftar paling terakhir dan itu jam 11 siang, tidak ada pemandangan seramai ini! Tapi—tunggu... apa mungkin???"
"Selamat siang, Kak Erlan!"
Tiba-tiba saja ada seorang anak laki-laki yang menyapanya, Erlan yang belari cukup cepat sampai harus mundur kembali untuk melihat sosoknya secara jelas ...
Tidak membuka mulut, Erlan jalan di tempat sambil menganalisa wajah itu, 'Calon murid Akademi? Apa dia mengenalku?' anak itu memiliki tinggi sepundaknya, 'Hmm 165? Mungkin memang lebih muda dariku?'
Anak itu tidak mengatakan apapun dan diam membeku karena ditatap tajam. Erlan sampai memiringkan kepalanya, tidak mengerti dan merasa tidak perlu mengerti. Fokusnya sekarang hanya tertuju untuk menyelesaikan hukuman dari System, jadi dia melanjutkan larinya begitu saja ...
'Yah, nanti juga bertemu lagi, kalau dia malu-malu, aku yang akan bertanya duluan! Untuk saat ini aku harus melawan—’
"A—Aku akan bergabung dengan Akademi ini dan memberikan umpan terbaik untukmu!"
Erlan menghentikan langkah kakinya untuk menghormati semangat itu. Dia pernah merasakan perasaan tersebut! Sebagai calon teman seperjuangan di dalam Akademi ini, tentu saja Erlan ingin melihatnya berkembang lebih jauh lagi ...
Dia pernah dan masih merasakannya! Rasa haus akan perkembangan dirinya di dunia sepakbola! dan satu hal yang ingin di dengar dari orang lain saat itu ...
Erlan tidak berbalik, dia hanya menatap ke samping kiri, "Siapa namamu?"
"Aku Eizo! Shindo Eizo!"
"Eizo 'kah?" kemudian Erlan menatap langit biru yang ditutupi dedahanan Pinus, "Umpan terbaik 'ya?? Aku akan menantikan hari itu datang, Eizo...," tuntasnya, melanjutkan hukuman 5,000 meter, dan meninggalkan anak itu sendirian dengan kalimat tersebut ...
Eizo Shindo, wajah anak itu pucat. Dia menatap kedua tangannya dan menggerakkan jari-jarinya, lalu mencubit lengannya dengan keras ...
"Erlan Ryo.. aku baru saja bicara dengan Erlan Ryo...."
***
Pagi datang, Erlan telah terbangun, dia sudah bersiap untuk menghadapi Akademi Batavia, salah satu raksasa asal Jakarta yang berhasil menembus fase group dari kejuaran Nusantara U-17.
Namun, sebelum dapat melakukan itu, Erlan harus ...
—PING!
[Quest: Latihan Harian]
{Running: 5,000 meter (0%)}
{Dribbling: 1,500 meter (0%)}
{Positioning: (0%)}
{Cooling Down: 30 menit (0%)}
{Passing: 100 kali (0%)}
"Passing? Aku ini Striker, untuk apa???”