![[System] Supreme Striker](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-system--supreme-striker.webp)
Bercat putih dengan ornamen kayu di setiap sudutnya. Mulai dari meja, bangku, hingga anak tangga di rumah ini adalah design dan pengaturan dari kedua orang tuanya, tidak ada yang berubah sejak 3 tahun lalu. Erlan tinggal sendiri, sementara Ibu dan Ayahnya sibuk bekerja mengelilingi dunia ...
Diminta untuk hidup mandiri sejak usia 12 tahun membuatnya terbiasa ketika membuka pintu berwarna putih dan tidak mengharapkan seorang pun untuk menyapanya di dalam rumah ...
Meski akan ada asisten rumah tangga yang datang beberapa hari sekali, bola adalah satu-satunya teman di dalam rumah yang sepi sunyi ini. Bakatnya sudah terasah sejak kecil, Erlan menyusuri rumah sambil men-jugling bola di kakinya, dia tidak pernah merusak satupun barang karena kecerobohan kakinya.
-bug—bug-bug-bug—
Erlan berhenti di depan meja makan, ada sangat banyak bahan makanan mentah di atas meja tersebut serta kertas kecil yang bertuliskan tinta hitam.
"Tetap berjuang... Kamu.. sudah melakukan yang terbaik?" Erlan memiringkan kepalanya, "Siapa???" memikirkan seseorang yang mungkin mengirimkannya hadiah seperti ini secara tiba-tiba.
Mama dan Papanya tidak masuk dalam list tersebut. Erlan paham betul kalau kedua orang tuanya terlalu sibuk untuk memikirkan anaknya yang masih payah dan tidak mampu melewati tembok sepakbola tingkat Provinsi.
"Ya... mereka tidak mungkin mengingatku," bahkan tidak yakin kalau itu akan berubah walau dia dapat mencapai kejuaran tingkat Nasional.
Mereka tidak memanjakannya secara mental, namun menyiapkan fasilitas agar Erlan dapat hidup tenang dan bersaing dengan teman seusianya. Meski begitu, Erlan ternyata mampu membuktikannya dan melewati level seusianya, dia bahkan mendapatkan menit bermain lebih banyak daripada 90% murid di Akademi Sepakbola Merajyat.
Padahal belum genap satu tahun dirinya memasuki Akademi tersebut ...
"Tapi bagaimana dia bisa tahu setiap makanan kesukaanku?" Erlan terpesona dengan hadiah yang memenuhi meja kayu sepanjang 3 meter itu.
Di hadapan matanya ada sekarung apel, pisang, tomat, brokoli, wortel serta 2 krat telur, "Dia bahkan memberiku ini!" Erlan melihat paket suplemen yang sebelumnya ingin dia beli di toko online, tetapi orang itu bisa mengetahuinya! Kemudian dia berjalan menuju kulkas dua pintu yang sangat besar di pojokan ruang makan itu ...
Dan tebakannya benar, matanya seketika disuguhkan oleh penampakan daging ayam, sapi, dan ikan yang sudah di proses! Ada note kecil juga di sana, "Lihat.. kau itu sangat jenius??? Dia bahkan meledekku!" Erlan langsung menutupnya, dia masih tidak dapat menemukan jawaban di kepalanya.
"Bibi kan libur hari ini? Bagaimana orang ini bisa masuk? Apa pak Budi yang bukain pintu?"
Erlan meninggalkan bolanya dan langsung menuju tempat pak Budi berada, yaitu sebuah pos kecil yang berada dekat gerbang. Dia adalah satu-satunya orang yang menemani dan menjaga Erlan di rumah ini, jadi seharusnya dapat mengetahui siapa yang mengirimkan barang-barang itu.
—tuk-tuk-tuk
Pintu post berwarna putih itu terbuka, dan pria tua berseragam dengan tinggi 190 centimeter keluar dari sana ...
"Pak Budi, tadi ada yang kirim barang?"
"Oh, Juragan udah lihat 'ya?"
"Iya, itu banyak banget. Kok tadi gak bilang pas saya sampai rumah?"
Pak Budi kebingungan harus menatap ke arah mana setelah mendengar pertanyaan Erlan, "Itu.. anu, Gan... Tamunya ... tamunya yang minta begitu," jawabnya sambil menggaruk rambut putihnya akibat penuaan itu.
Erlan membelalakkan matanya, "Loh? Ada tamunya juga? Kok gak telpon saya?"
Pak Budi menelungkup kedua tangannya, "Maaf, Gan. Tadi saya niatnya juga gitu, tapi tamunya bilang dia cuma disuruh Nyonya buat kirim itu...."
"Oh??? Emang buktinya apa? Siapa nama tamunya?" Erlan cukup mencurigai gerak-gerik tamu tidak wajar itu, "Soalnya Mama gak bilang apa-apa sama saya..," tambahnya.
"Oh, yaudah, pak Budi. Lain kali telpon saya dulu ya.. soalnya takut ada apa-apa..."
"Kenapa, Gan?! Ada barang yang ilang???!"
Erlan langsung melambaikan kedua tangannya, "Enggak-enggak, pak Budi! Gak ada yang hilang!" ungkapnya sambil terus menggelengkan kepala, 'Mana mungkin ada yang berani!' pikirnya saat melihat pria tua berambut putih yang tiba-tiba berubah menjadi hewan buas itu.
Penampilannya sangat menipu! Dulu ada sekelompok maling yang habis dihajar sampai babak belur, padahal baru menyelinap gerbang rumah! Jika ini kisah kerajaan, pak Budi ada Royal Guard dari keluarganya!
"Aduh.. saya pikir teh ada maling... sekali lagi, saya minta maaf, Gan! Saya janji gak ngulangin lagi!"
"Ahaha... Iya, pak Budi. Santai aja~ ... Tapi kenapa jadi manggil saya Gan Gan terus ya, pak Budi?!" Erlan menatapnya dengan tajam saat mengungkit masalah ini, padahal sudah sering diingatkan agar jangan memanggilnya seperti itu.
"Aduh... Maaf! Saya teh lupa, Juragan— eh, Raden!"
"LOH LOH LOH! Kok malah Raden sih!!? Erlan aja pak Budi, Erlan aja cukup! Okay?"
"Siap, Raden Erlan!" pak Budi memberikan hormat.
Erlan memberikannya balasan hormat dan pak Budi kembali ke sikap sempurna, mereka tiba-tiba saja menjadi pasukan pengibar bendera. Tapi bukan itu yang Erlan inginkan!
"Tunggu-tunggu! Pak Budi... Itu sama aja dong! Erlan aja Erlan! Bisa kan?"
"Aduh maaf, Raden.. saya teh gak bisa. Gak enak sama Nyonya sama Tuan. Itu kan juga nama Raden Erlan.. masa saya—"
"Ah.. senyaman pak Budi aja deh." Erlan menyerah untuk membuatnya berubah pikiran, tidak akan terlalu masalah baginya kalau itu di lingkungan rumah saja, "Yaudah, Ingat yang tadi kan? Jangan diulangi lagi, telpon aja telpon~" jelas Erlan sambil membuat gerakan menelpon dengan tangannya dan berjalan meninggalkannya ...
—THOMP!
"SIAP! KOMANDO DI TERIMA!"
—THOMP!
Pak Budi menghentakkan kakinya sangat kuat ke tanah.
"Raden... Raden mau dikenalin kembang desa gak? Saya kenal anak lurah yang cantik loh~" ungkap pak Budi sambil mengangkat telunjuk ke langit dengan senyuman lebar di wajahnya.
Erlan hanya menoleh sedikit saat berjalan, "Ah, bisa aja bercandanya, pak Budi."
Keduanya sering bercanda satu sama lain, tapi ini pertama kalinya pak Budi meledeknya soal wanita. Erlan tidak dapat menahan wajah merahnya yang melambangkan kepolosannya itu dan mempercepat langkah kaki untuk memasuki rumah, kalau tidak ....
"Raden Erlan!" pak Budi belum selesai meledeknya, orang tua itu membentuk cerobong dengan tangannya, menjadikan suaranya menggelora, "Nona yang antar barang cantik nan anggun loh! Xixixi... Kalau penasaran~ lihat CCTV aja~" dia sangat berdedikasi saat meledek anak dari Tuannya.
Erlan mendengarnya dengan sangat jelas. Dia sempat membeku di depan pintu sebelum akhirnya mempercepat langkah kakinya di dalam rumah! Hasrat dan gairah kepenasaran di dalam tubuhnya menyeruak!
'Siapa Nona cantik itu?! Kenapa aku sampai lupa soal CCTV?!!'