[System] Supreme Striker

[System] Supreme Striker
C010—Siapa yang menyangka?



Erlan tidak dapat mengalihkan pandangannya pada lapangan hijau, permainan dari para calon murid Akademi menelan realitanya. Dia tidak menyangka akan menyaksikan permainan yang baik dalam seleksi ini ...


—puk "Jangan melamun."


Tiba-tiba saja seseorang berkata demikian, mengembalikan Erlan pada keadaan normal. Erlan menatapnya dengan penuh pertanyaan ...


"Captain? Sudah berapa lama pertandingan ini berjalan?"


"30 menit."


—Ohh hal tersebut mengingatkan kembali Erlan di hari itu, tetapi itu karena dia merasa permainan sepakbolanya tidak sebaik anak-anak ini. Perbedaan levelnya cukup signifikan dan membuat Erlan mempertanyakan pengalaman mereka...


"Apa ada data dari mereka, Captain?"


"Aku belum melihatnya, tapi Coach Zul bilang kalau 40% dari mereka mempelajari sepakbola dari Eropa. Dan 90% dari mereka mengenal sepakbola dari usia 3 tahun...."


Erlan membelalakkan matanya setelah mengetahui fakta tersebut, dia mengenal olahraga ini di usia 8 tahun! Itu juga hanya sebagai penggemar! Erlan secara kebetulan menemukannya saat kebosanan menunggu kedua orang tuanya di bandara. Erlan menonton klip video yang menunjukkan permainan bintang sepakbola.


Kehebatan sepakan Goal CR7 dan kelincahan La Pulga serta persaingan keduanya di arena hijau membuat Erlan terjerembab dan sejak hari itu dia terus menggali informasi tentang sepakbola. Rasa cinta akan bola bundar perlahan bangkit, hasilnya adalah sekarang, dia memutuskan untuk mengambil langkah menjadi pemain sepakbola!


Namun, hal lain yang membuatnya takjub adalah ...


"Sebenarnya.. ada berapa banyak calon murid di sini???"


"Hmm.. 200? Bukan, tapi 235 di sektor Putra!"


Erlan menggelengkan kepalanya berkali-kali saat mendengar angka tersebut, itu bahkan melebihi tiga kali lipat dari jumlah tahun lalu! Ledakan calon murid seperti ini, Erlan penasaran bagaimana Akademi Sepakbola Merajyat menanggapinya?


Dia kembali untuk menemui Manajer Zul dan menanyakan hal tersebut, dan mendapatkan jawaban, bahwa jika calon murid itu menjanjikan dan pantas untuk dibina, maka tidak masalah untuk melebihi kapasitas.


Terlagi Akademi sedang memperluas lahan bangunan mereka...


Kini, Terdapat empat lapangan yang digunakan untuk unjuk bakat calon murid ini. Mereka bermain diwaktu yang bersamaan selama 90 menit. 235 orang itu dibagi menjadi 16 tim, dan saat ini adalah 8 tim pertama yang sedang menjalani babak pertama ...


"Jadi.. kenapa kalian belum turun ke lapangan?" tanya Erlan mengenai 11 anggota tim A yang bahkan tidak melakukan pemanasan.


Tetapi mereka hanya menggelengkan kepala, 'Pantas aja si Bayu masih ikut latihan utama tadi. dia bahkan tidak di sini sekarang! Ini pasti alasannya.'


Erlan tidak berdiam diri dan mulai menelusuri setiap sudut. Kedua matanya sedang menelisik setiap wajah dari pemain di setiap lapangan dan menyadari bahwa di setiap tim ada 2 anggota tim B yang bermain, totalnya ada 16 anggota tim B yang turun untuk menjadi bagian unjuk bakat.


"Ah, jadi begitu, Coach mengganti taktiknya...." singkat Erlan dalam lamunannya, dan segera kembali untuk menemui Captain! Dia hampir saja melupakan tujuan awalnya!


Namun ...


"Ah, aku harus bermain sekarang ... Kita lanjutkan nanti!" Captain malah pergi meninggalkannya untuk bergabung dengan salah satu tim calon murid, "Saya Linggar, Captain dari tim inti Akademi Merajyat! Saya akan mengisi posisi Midfielder! Tolong kerjasamanya," perkenalan singkat dari Captain.


Erlan tidak dapat berbuat apapun selain menunggu dan mempelajarinya secara langsung dengan menonton Captain memposisikan dirinya saat Passing.


Hanya selang beberapa menit, Captain mulai dipercaya untuk menempatkan kakinya pada bola. Permainan tim tersebut menjadi halus dan bergerak maju akibat dari kekuatan Passing-nya. Terlihat mereka semua menjadi cerah saat merasakan secara langsung arahan dari Captain di tengah lapangan.


Erlan pun tersenyum, kini dia mulai mendapatkan pencerahan di dalam kepalanya, sangat jarang dirinya untuk memahami pergerakan bola di lapangan tengah, Erlan selalu hanya fokus pada penempatan dirinya di daerah pertahanan lawan! Dan bola pasti akan datang~


Kini dia paham ...


—puk "Sudah cukup melamunnya, kamu nanti masuk di babak kedua 'kan?" Manajer Zul tidak membuang waktu untuk menjerumuskan Erlan ke dalam rencananya.


Erlan pasrah, mau tidak mau dia harus menerima konsekuensinya karena memilih memasuki lapangan ini. Erlan juga menanyakan apa alasan Manajer Zul menurunkan anggota Tim B dalam unjuk bakat ini ...


"Agar mereka tersadar, bahwa keberadaan mereka sedang terancam, jika murid membeludak, kehadiran Tim C bisa direalisasikan,


"Oh, kalian yang di Tim A juga bisa diturunkan ke C," tegas Manajer Zul.


"Apa yang bisa kita lakukan di Tim C? Apa kita bisa turun ke lapangan?" tanya salah satu dari mereka.


"Belajar, sebulan sekali mengikuti kompetisi tingkat lokal? Tidak banyak, untuk apa memikirkan pertandingan jika mengoper bola saja tidak becus? Lebih baik latihan kan?"


Tamparan keras bagi mereka, Erlan membelalakkan matanya, itu dengan jelas ditujukan pada dirinya yang masih kesulitan melakukan Passing!


'Untung aku Striker, tidak perlu—'


—puk ketiga kalinya Erlan menerima tepukan dipundaknya.


"Striker juga harus belajar Passing." Manajer Zul langsung menegurnya. Dia sangat paham kalau remaja hanya memikirkan Goal dan Goal saja. Melupakan bahwa harus ada yang memulainya dari bawah.


"Siang semuanya! Hari yang cerah bagi kita untuk—”


"Bayu, kamu terlambat! Masuk ke lapangan 2! Sekarang!" ucap Manajer Zul.


"Ta—tapi, Coach! Aku belum...." Bayu yang berencana untuk mengejutkan mereka malah mendapatkan serangan balik. Senjata makan tuan!


"Tidak ada alasan! Ada kalanya kamu memasuki lapangan secara mendadak! Masuk sekarang!"


Erlan langsung merinding mendengar suara yang menggelegar tersebut, Manajer Zul tidak menyukai sikap meremehkan tersebut! Jika itu dilakukan secara sadar, maka kamu akan menerima akibatnya!


"Coach, saya main 10 menit aja 'ya?" tanya Erlan, dia ingin segera melarikan diri!


"45 menit."


”15?"


”40 menit?"


"Okay! 30 menit!" Erlan tahu akal bulus tersebut! Dia akan dijebak untuk memainkan pertandingan di atas 35 menit atau menerima ancaman!


"Cerdas seperti biasanya, huh? Oke, 30 menit! Deal?" jelas Manajer Zul sambil menjulurkan tangannya.


"Deal!" Erlan langsung menerima perjanjian tersebut, dia mengenal karakter Manajer Zul yang selalu menepati janjinya ...


***


Pertandingan dari 8 tim pertama calon murid telah menunjukan 70 menit, Erlan bersiap untuk memasuki lapangan. Bersamaan dengan itu, ada calon murid lain yang akan masuk ke lapangan ...


"Kak Erlan, mohon bantuannya," ucap calon murid itu sambil menundukkan kepalanya.


Erlan cukup terkejut dengan kesopanan tersebut, dia menatap keberadaan anak itu dengan tatapan tajam dan mendalam, sampai-sampai penonton di tribun mengira Erlan mengancam calon murid itu!


"Kenapa anak itu?" tanya manusia A.


"Entahlah, mungkin lapar," jawab manusia B.


Erlan masih tidak dapat mengenal sosoknya saat menunduk, tetapi ketika melihat wajah pucat itu, ingatan kemarin langsung terlintas. Erlan ingat setiap layar dan adegan di pertemuan mereka, namun dia lupa tentang namanya ...


"Ah! Sayang sekali kamu akan melawanku hari ini! Pasti akan menyenangkan kalau aku memanggil namamu untuk menerima umpan yang indah, bukan?" ucap seseorang yang melupakan nama seseorang.


Erlan kehilangan namanya begitu saja, itu bahkan belum ada 24 jam saat dia mendengarnya kemarin hingga detik ini! Dia menjadi agak sungkan untuk bertanya lagi!


Calon murid itu juga hanya menundukkan kepalanya tanpa membalas perkataan Erlan, hingga akhirnya kedua orang itu memasuki lapangan ...


—PRIIITTTT


'Sial, kita satu tim....'