![[Sequel] Flower From The Hell](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-sequel--flower-from-the-hell.webp)
Sarah Sheika S. pov 3 (Anakku 1)
..........~•°♥°•~........
...
Esok harinya aku melihat Elian masih tertidur pulas. Aku membiarkannya tidur. Kemudian aku turun ke bawah, memulai perombakan besar rumah ini. Aku ingin suasana baru yang berbeda saat ditempati Lilian. Aku tidak ingin mengingat wajah dan kenangan Lilian yang membuatku emosi.
Aku memastikan semua barang berharga yang ditinggalkan Lilian, mengambilnya dan membuangnya ke gudang. Ada juga barang-barangnya yang aku bakar di belakang rumah seperti sepatu, tas, pakaian, bahkan semua yang Lilian miliki aku bakar di belakang rumah.
Rasanya melelahkan melakukan semuanya sendirian. Aku pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Tanpa sengaja mataku menemukan sebuah kamera yang masih terbuka. Aku mengambil kamera itu, sayangnya kameranya dalam keadaan mati karena kehabisan baterai. Aku masih ingat, kamera ini adalah kamera yang dihadiahkan Allan untuk Elian. Siapa yang peduli dengan kamera ini, toh aku juga akan membuangnya.
“Sayang, di mana Elian? Apakah dia belum bangun?” tanya Allan yang tiba-tiba muncul di belakangku.
“Dia masih tidur nyenyak. Untuk apa kau mencarinya?” tanyaku balik tidak suka.
“Kau ingat tugas kita! Kita harus menjaganya dengan baik sampai dia dewasa.” Allan mengingatkanku akan tugas yang diberikan oleh Raja Iblis itu. Aku ingat itu, tapi raja iblis tidak pernah mengatakan aku harus memperlakukan anak itu dengan baik. Aku tidak akan memperlakukan anak Lilian dengan baik. Tidak akan pernah.
“Cih, aku akan melihatnya lagi,” ucapku kesal sambil berjalan pergi ke kamar Elian kembali.
Sesampainya di kamar Elian, aku melihat Elian yang masih tertidur pulas di kasurnya. Lihat anak itu, masih saja tetap tidur nyenyak. Atau Jangan-jangan dia sudah mati. Aku harus memastikan hembuskan nafasnya. Aku mengarahkan jariku di depan hidungnya. Samar-samar ada nafas hangat terasa di jariku. Syukurlah jika dia masih hidup. Tunggu, kenapa aku begitu mengkhawatirkannya. Jika anak itu mati bukankah aku akan merasa senang. Aku jadi tidak harus melakukan tugas melelahkan itu.
Aku menghela nafas, lalu mengambil semua barang-barang yang ada di kamar Elian. Kamera yang sempat terbawa oleh tanganku ini, aku satukan dengan barang-barang yang Elian miliki. Siapa tahu aku bisa menjual semuanya, mengingat Allan selalu memanjakan Elian. Elian selalu mendapatkan barang-barang mahal dari Allan. Tapi aku tidak bisa menjuaknya, bagaimana jika barang-barang ini ada yang mengenalinya dan menanyakan tentang Lilian dan Elian. Aku tidak bisa membiarkan orang mengetahui semuanya, mengetahui kematian Lilian. Aku harus membakarnya dan mengubur sisa-sisa sampahnya.
Aku mengambil semua foto pakaian dan apa pun yang ada di kamar Elian. Aku tidak ingin Elian teringat kenangannya dengan Lilian dari barang-barang yang ada di sini. Sampai aku menemukan sebuah kotak besi lengkap dengan kuncinya di bawah kasurnya. Aku coba membukanya dan melihat isinya. Ternyata banyak terdapat barang-barang Elian, ada memori card di sana, tanpa basa-basi aku meletakan kamera itu di dalam kota besi dan menguncinya.
“Sayang!” panggil Allah yang membuatku terkejut.
“Iya sayang, ada apa?” balasku.
"Sayang, pihak dekorasi rumah sudah datang. Mereka ingin bertemu denganmu," seru Allan berdiri bersandar di pinggiran pintu dengan gagah. Aku tersenyum senang sekarang, akhirnya aku bisa memiliki wajah dan tubuh tampan itu. Dia sekarang seutuhnya telah menjadi milikku.
"Kau tidak pergi bekerja!" ucapku menghampirinya dan memeluk tubuhnya singkat.
"Nanti setelah melihat Elian," balasnya masuk ke dalam kamar dan duduk di kasur Elian. Allan terlihat sangat menyayangi Elian. Tidak Lilian tidak anaknya mereka selalu saja dapat menarik perhatian orang lain. Aku benci itu. Aku ingin menyingkirkan anak itu juga.
“Kenapa masih di sini! Mereka sudah menunggumu.”
“Baiklah aku makan turun!” ucapku berjalan keluar kamar Elian.
Di ambang pintu, aku berbalik dan melihat Allan yang membelai tangan Elian dengan sayang. Tampaknya aku memiliki saingan baru. Setelah melihat Allan sekilas aku turun ke bawah, menemui pihak dekorasi untuk mengganti dekorasi rumah ini beserta barang-barang yang ada di sini. Aku ingin suasana baru yang berbeda saat rumah ini di tempati Lilian. Aku ingin menghapus semua kenangan tentang Elian. Menghilangkannya dari dunia ini.
Aku harus cepat turun memastikan pihak dekor yang aku panggil untuk mendekor ulang rumah ini apakah sudah melakukan tugasnya dengan baik atau tidak. Aku lihat di bawah sudah ada beberapa pegawai dekor yang sedang bekerja keras merubah rumah bagian bawah menjadi tampak berbeda dan indah. Ternyata mereka telah melakukan tugas mereka dengan baik. Aku menyukai hasil kerja mereka.
"Bagian ruang tamu dan dapur sudah selesai nyonya. Hanya tinggal sedikit dibenahi. Sekarang bagian mana lagi yang ingin Anda rubah?" sapa Roy, ketua dari pihak dekorasi saat melihatku turun dari tangga.
"Kamar saya! Saya ingin bernuansa bunga. Kemudian setelah selesai mendekorasi kamar saya, rapikan bagian atas yang ditempati anakku. Ruangan yang kosong biarkan saja," perintahku. Sekarang rumah ini sudah menjadi rumahku, bukan rumah Lilian lagi. Semua harus seperti apa yang aku inginkan.
"Hanya itu saja, ada lagi Nyonya?" tanyanya lagi.
"Jika memungkinkan sampai sore selesai, tolong benahi bagian depan dan belakang rumah. Setengah bayaran akan saya lunasi jika dekorasinya sudah selesai,” jawabku untuk mendekorasi seluruh rumah ini tanpa sisa. Aku tidak ingin ketinggalan sedikit pun dalam menghapus kenangan Lilian. Tadi pagi aku sudah menghapus semua akun dan foto di media sosial Lilian, jadi tidak akan ada yang menyadari hilangnya Lilian. Senangnya, si pengganggu akhirnya pergi menghilang.
"Baik nyonya, semua akan kami lakukan seperti apa yang sudah kita rencanakan sebelumnya,"
"Bagus!"
"Ibu, ibuuu, hikks hikks. Ibuuu––aku lapar!" Suara Elian yang menangis memanggil ibunya Lilian dalam gendongan Allan. Bagaimana aku harus menjawab jika dia menanyakan tentang Lilian. Bahkan di depan banyak orang seperti ini, cih, sangat merepotkan.
"Putra nyonya sangat lucu mirip dengan ayahnya. Hallo manis, apa kabar!" sapa Roy mencoba menggoda Elian. Elian malah memeluk Allan dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allan. Kenapa Elian terlihat berbeda, apa semua ini hasil dari perbuatan raja iblis? Siapa yang peduli akan hal itu.
"Dia pemalu ya, hahaha," ucap Roy yang tertawa kikuk karena Elian tidak menanggapi candaannya.
"Iya!" jawabku tersenyum palsu. Mencoba terlihat manis di depan banyak orang.
"Sini sayang, ayo kita makan di luar. Rumah kita sedang dibenahi," ucapku berakting penuh sayang pada Elian, semoga saja dia tidak akan menolak ajakanku. Benar saja Elian langsung mau memelukku. Ada apa ini? Apakah dia lupa dengan kejadian tadi malam? Dari ekspresi dan tingkah Elian sudah pasti dia tidak mengingat kejadian tadi malam. Bahkan kejadian aku membunuh ibunya juga. Apakah ini yang dikatakan oleh Raja Iblis? Baguslah, aku jadi tidak perlu susah payah membuat Elian percaya padaku.
"Saya titip rumah saya, jika sudah selesai kabari saya," perintahku pada Roy yang sudah aku percaya untuk menolak ulang rumahku sekarang.
"Baik nyonya!"
...***
...