[Sequel] Flower From The Hell

[Sequel] Flower From The Hell
Sarah Sheika S. Pov 1 /Kebencianku 2/



Sarah Sheika S. Pov 1 //


Bagian Ini aku up lagi, soalnya kehapus karena sistem eror pas mau up pov ke-2....


..."KEBENCIANKU"...


........~••«💙»••~........


Esok harinya aku pergi ke rumah sakit dimana mereka dirawat. Lilian keguguran dan rahimnya rusah. Aku beruntung sekali dia tidak aka bisa hamil lagi. Aku pergi melihat Allan yang mengalami luka paling parah bahkan dia kritis di ruang icu. Bagaimana ini, kenapa aku malah melukai laki-laki yang sangat aku cintai. Kenapa Lilian yang tidak terluka parah dan mati. Aku tidak mau kehilangan Allan. Allan harus menjadi milikku.


Aku mendengarkan percakapan antara dokter yang merawat Allan dengan ibu Allan. Aku mendegar kenyataan yang mebuatku sedih. Allan mengalami pendarahan otak, tulang kakinya patah, dan jantungnya bocor karena mendapat tusukan tulang rusuknya yang patah. Kemungkinan untuk hidup sangat sedikit. Allan akan tetap maywi secara perlahan-lahan.


Aku menangis mendengar percakapan mereka dari luar. Saat mereka sudah keluar dari ruang icu aku bergegas masuk melihat Allan yang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang. Aku tidak mau kehilangan dirimu, Allan. Aku harus bisa melihatmu setiap waktu. Aku memutuskan pergi ke rumah Stella meminta bantuannya untuk menyelamatkan Allan. Aku ingin membuat Allan seperti kita, manusia tanpa luka dan tanpa rasa sakit.


Aku bergegas pergi dari rumah sakit menuju ke rumah Stella. Beruntung Stella selalu ada di rumah, jadi aku bisa bertemu dengannya. Aku memeluknya dan menangis histeris di pundak. Dia menepuk pundakku, mencoba menenangkanku. Dia membawaku duduk di kursi tamannya.


"Stella tolong aku. Aku tidak mau kehilangan Allan. Aku mencintainya, dia tidak boleh mati." Rancauku sambil mengusap air mataku dengan kasar.


"Apa yang harus aku bantu?" Tanya Stella dengan tenang.


"Aku ingin Allan sembuh. Aku ingin Allan menjadi anggota seperti kita sehingga Allan bisa selamat dari luka." Ucapku meminta bantuan Stella.


"Aku tidak melakukannya. Dia sekarat, dia tidak bisa melakukan ritual. Kau harus meminta bantuan pada raja sendiri dan berikan dia bayarannya." Seru Stella menberitahuku bagaimana aku bisa menyelamatkan Allan. Apapun akan aku lakukan asalkan Allan bisa selamat.


"Apa bayarannya?" Tanyaku antusias.


"Terserah raja iblis menginginkan apa darimu." Jawab Stella dengan santai.


"Ayo pergi!" Seruku tergesa-gesa menarik Stella pergi ke mensen itu untuk bertemu dengan raja iblis. Aku sudah membulatkan tekatku untuk menyelamatkan Allan.


Setrleah sampai di mensen itu aku langsung memakai jubah merah. Di aula persembahan aku membaca mantra di dalam buku kuno di depan altar batu besar. Stella masih menemaniku di sampingku. Perlahan-lahan sebuah bayangan hitam muncul dari kumpulan asap hitam di tengah altar batu hitam itu. Terdengar suara menakutkan menggema di seluruh ruangan yang membuat bulu kudukku merindung ketakutan. Ini pertama kalinya aku bisa bertatapan langsung dengan raja iblis dala jarak sedekat ini. Sang raja sudah ada di depan mataku, aku mengatakan keinginanku padanya.


"Rajaku, aku memohon kemurahanmu untuk membantu orang yang aku cintai sembuh dari penyakit yang membuatnya sekarat. Mohon bantuanya." Pintaku brrsujud di depan raja iblis itu. Dia malah terkekeh geli mendengar permintaanku.


"Mudah saja. Berikan rahimmu dan aku akan mengabulkan permintaanmu." Ucapnya dengan suara berat dan menakutkan. Raja iblis meminta rahimku sebagai bayarannya. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan permintaannya.


"Silahkan, ambilah rahimku rajaku!" Seruku berjalan masuk ke dalam lingkaran batu yang bercahaya di hadapanku.


Dia menusuk perutku dengan cakar hitam dan runcingnya. Aku mengadu kesakitan merasakan perutku rasanya tercabik-cabik sampai darah keluar dari perutku dengan derasnya. Perlahan-lahan kepulan asap hitam dan bayangan raja iblis menghilang. Menyisakan diriku sendiri yang mengadu kesakitan. Perutku terlihat berlubang dan mengeluarkan darah yang terus mengalir. Aku duduk sejenak untuk beristirahat yang ternyata perutku berangsur membaik dan sembuh.


Di ujung batu altar Stella datang membawa cawan dan tersenyum lebar ke arahku. Dia membantuku turun dari batu altar. Badanku masih lemah untuk bergerak.


"Selamat Sarah kau berhasil." Ucap Stella memberi selamat padaku karena telah berhasil melakukan pemujaan. Dia juga menuangkan darah dari cawan ke botol kaca agar mudah dibawa.


"Cepatlah bawa darah ini untuk Allan. Allan akan cepat sembuh setelah meminum darah hasil pengorbananmu." Seru Stella memberikan botol kaca berisi darah pengorbanan itu padaku. Aku menerimanya dengan senang. Setelah tubuhku pulih seutuhnya, aku bergegas pergi ke rumah sakit ditemani Stella.


Aku berjalan perlahan-lahan memasuki ruang icu dan memastikan tidak ada dokter yang sedang berjaga di sana. Secara diam-diam aku meminumkannya dengan lembut di bibir allan yang terbaring lemah di ranjang. Setelah selesai aku mengamati perubahan pada tubuh Allan yang mulai normal kembali. Napasnya dan detak jantungnya menunjukan angka normal di layar monitor. Semoga kau cepat sembuh Allan, doaku sebelum keluar dari ruang icu.


........~••«💙»••~........


Aku yang menyelamatkan Allan, bukan wanita lemah itu. Seharunya kau berterimakasih padaku Allan bukan padanya. Allan lihat aku sekali saja, aku juga mencintaimu sepenuh hati di sini. Aku rela memuja Iblis dan menukar rahimku hanya demi dirimu, tapi apa balasan darimu. Sesuatu yang menyakitkan. Aku akan mendapatkanmu, hatimu walaupun nyawaku sendiri adalah taruhannya.


Aku pergi dari rumah sakit itu dalam keadaan kesal karena emosi yang meluap-luap dari hatiku. Aku sampai di rumah dengan keadaan letih. Di kursi ruang tamu sudah ada Stella yang menungguku dengan seringai menakutkan ke arahku. Aku duduk di depannya dan menatapnya penuh tanya.


"Ada apa kau datang ke rumahku?" Tanyaku penasaran. Sekarang bukan waktunya untuk pemujaan, dia datang penuh curiga.


"Aku hanya ingin mengatakan ini padamu. Apa kau ingin menjadi pemimpin?" Tanyanya yang membuatku terkejut. Dia datang hanya untuk mengatakan semua ini. Menjadi angota saja aku sudah puas, tidak perlu menjadi pemimpin.


"Tidak!"


"Kau yakin. Asal kau tahu, menjadi dua pemimpin itu hanya perlu melakukan dua tahap. Tahap pertama korbankan sesuatu sesuatu untuk sebuah ke inginan, yang ke dua korbankan jiwamu untuk sebuah keinginan." Jelasnya. Aku masih fokus mendengarkan perkataannya.


"Kau sudah mengorbankan rahimmu untuk keinginanmu. Hanya tinggal satu tahap lagi kau akan menjadi pemimpin. Kau Hanya perlu menjual jiwamu untuk sesuatu keinginan yang sangat ingin kau dapatkan." Tambahnya.


"Aku belum memikirkannya." Kataku yang masih ragu untuk menjadi pemimpin sekte


"Biar aku beritahu padamu kenapa aku bisa menjadi peminpin sekte. Dulu sku juga sama sepertimu menukar rahimku untuk balas dendam pafa mereka yang mencelakaiku. Kemudian menukar jiwaku untuk mendapat kesenangan. Kau hanya butuh satu tahap lagi untuk menjadi pemimpin dari sekte jubah ini. Kau hanya butuh mencari sebuah keinginan yang benar-benar kau inginkan." Ceritanya yang membuatku tergiur.


"Menjadi pemimpin sekte adalah sebuah anugrah. Kau akan hidup abadi dengan kesenangan, kekayaan tiada habis, cinta yang manis, kecantikan yang selalu kau rasakan, kehormatan yang tinggi, dan tubuh yang sehat." Ucapnya berusaha meyakinkanku.


Stella bilang menjadi pemimpin akan selalu mendapatkan kesenangan. Dengan Sekali meminta keinginan aku akan mendapatkan semua kesenangan itu. Orang yang selalu aku inginkan adalah Allan. Allan laki-laki yang selalu aku cintai sejak smp. Aku ingin Allan menjadi milikku seutuhnya. Aku tidak perjuli jika jiwaku menjadi bayaranya, asalkan Allan menjadi milikku. Semua itu bayaran yang setimpal.


"Tidak perlu terburu-buru, kau bisa memikirkan dahulu apa yang benar-benar kau inginkan." Tambahnya sambil bersandar di sofa.


"Aku setuju! Bagaimana caranya?" Seruku antusias. Aku memegang tangan Stella untuk segera memberitahuku caranya. Aku sudah tidak sabar ingin mendapatkan apa yang aku inginkan.


"Kau serius?" Tanya Stella apakah aku yakin.


"Tentu saja!" Jawabku mantap.


"Caranya mudah saja. Saat kau menjual jiwamu dalam pemujaan untuk sebuah keinginan kau harus membawa hadiah. Hadiahnya adalah bunga Iblis. Kau harus menanam bunga sepertiku. Memberikan hadiah anak wanita untuknya. Untuk menjadi iblis sepertinya." Jelas Stella yang membuatku ingat bagaimana Stella menanam bunga dari janin bayi yang telah mati.


Aku harus membuat anak dan janinnya untuk menanam bunga iblis. Sedangkan aku sudah tidak punya rahim. Bahkan aku sudah tidak mengalami menstruasi semenjak rahimku diambil oleh raja iblis. Stella juga sama, dia tidak memiliki rahim. Dia menggubakan rahim wanita yang mandul untuk mendapatkan anak Iblis. Aku juga sama, aku harus mencari seseorang yang ingin memiliki anak, sehingga aku bisa menipunya. Setelah anak itu lahir, aku akan mengambilnya untuk persembahan. Setelah itu aku akan mendapatkan Allanku seutuhnya.


"Aku hanya butuh mencari janin bayi dan wanita mandul untuk mendapatkan anak iblis (bunga iblis)." Kataku tersenyum senang. Bukan hal yang sulit untuk mendapatkan janin bayi.


"Kau harus ingat, raja kita hanya menginginkan anak wanita. Jika kau gagal mendapatkan anak wanita, kau harus mengulanginya lagi sampai kau mendapatkan anak perempuan. Satu lagi anak laki-laki juga harus di persembahkan kepada raja ibkis untuk makanan." Ucap Stella memperingatiku. Aku paham, aku hanya butuh menanam bunga iblis. Menyerahkan anak Iblis entah laki-laki atau perempuan. Namun, aku harus berusaha untuk mendapatkan anak perempuan untuk mendapatkan keinginanku.


"Aku mengerti. Apakah sulit mendapatkan anak perempuan dari menanam bunga iblis?" Tanyaku.


"Tidak terlalu sulit. Hanya butuh keberuntunganmu saja. Kau harus tetap berusaha." Jawabnya.


"Baiklah akan aku coba." Kataku yang sudah membulatkan tekatku untuk mendapatkan Allan seutuhnya.


.........~••«💙»••~........