![[Sequel] Flower From The Hell](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-sequel--flower-from-the-hell.webp)
Sarah Sheika S. Pov 2 //
..."BUNGA IBLIS"...
........~••«💙»••~........
Setelah aku mendapatkan sebuah janin di rumah sakit kandungan, sekarang aku tinggal mencari seorang wanita yang ingin memiliki anak. Aku pergi ke ruang pemeriksaan kandungan, melihat siapa yang sedang berkonsultasi ingin mendapatkan seorang anak. Saat aku menyapukan mataku tanpa sengaja aku melihat Lilian di sana.
Dengan wajah bak malaikat aku menghampirinya, menanyakan kabar, dan berbincang-bincang sedikit dengannya. Dia sampai sekarang bahkan tidak pernah tahu, jika aku yang selama ini telah menyakitinya. Sunggu wanita yang bodoh. Lilian ternyata bercerita tentang rahimnya yang rusak untuk kemungkinan hamil hanya sedikit. Dia juga harus ruting ke dokter untuk kontrol kesehatan rahimnya agar bisa subur kembali. Sebuah keberuntungan yang baik bagiku. Aku bisa menggunakan Lilian untuk menanam bunga Iblis.
"Aku punya jamu kesuburan. Produk jualanku yang baru." Tawarku padanya setelah berbincang-bincang ke sana ke mari.
"Kau jualan jamu kesuburan juga? Kapan kamu akan menikah dan berhenti menjual barang-barang aneh seperti itu. Bukannya menjadi penata rias artis sudah lumayan gajinya." Ucapnya mengusik emosiku. Jika Allan tidak kau rebut, aku pasti sudah menikah lebih cepat darimu Lilian. Kau sumber masalah bagiku, kau merusak hidupku.
"Ini produk jamu dari keluarga ibuku. Mereka menyuruhku untuk meneruskan usaha ibuku. Jamu ramuan ibuku memang sangat manjur. Banyak pelanggan yang menuai hasilnya dan terbukti aman. Kau harus mencobanya." Tawarku lagi agar dia percaya.
"Aku sedikit ragu karena aku tidak percaya dengan ramuan herbal." Serunya ragu untuk memakai jamu ramuan yang aku tawarkan. Tenang saja Lilian, aku jamin kau akan langsung hamil dan mengandung anak iblis. Karena jamu yang akan aku berikan padamu nanti akan aku campur dengan benih bunga iblis.
"Jamuku tidak berbahaya, kau bisa mencobanya dahulu. Jika tidak ada hasilnya kau bisa konsultasi ke dokter." Paksaku padanya agar dia percaya.
"Jamunya sunggu aman kan?" Tanyanya ragu-ragu.
"Iya, tidak ada efek sampingnya. Aku akan berikan 6 bungku untuk diminum seminggu 3 kali. Setelah dua minggu, kau konsultasikan ke dokter apakah jamunya bekerja." Kataku berusaha menghasutnya dengan perkataanku yang terdengar meyakinkan.
"Baiklah!" Ucapnya akhirnya setuju dengan tawaranku.
"Ayo main ke rumahku, akan aku buatkan untukmu. Tenang saja aku tidak akan menyakiti temanku sendiri." Ajakku pada Lilian. Dia menganggukan kepala setuju dan mengikutiku pulang ke rumahku.
Di rumahku, Lilian sedang menunggu ruang tamu. Sedangkan aku sedang bersiap-siap membuat bibit bunga iblis. Menanam janin yang aku bawa ke dalam pot, tidak lupa memberikan benih iblis ke dalam genggaman bayi itu. Mantranya aku ucapkan secara lembut agar Lilian tidak mendengarkannya. Setelah berbunga dan berbiji, aku ambil bijinya. Aku masukan ke dalam ramuan jamu kesuburan untuk Lilian. Aku menghamiri lilian yang masih duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya dan memberikan jamunya pada Lilian untuk diminumnya.
"Cobalah. 6 bungkus jamu kesuburan untukmu." Kataku menyodorkan gelas yang berisi ramuan dengan ekstra biji bunga iblis dan enam bungkus jamu kesuburan tanpa benih bunga iblis.
"Terimakasih. Ini uangnya." Ucapnya mengambil uang dari dompetnya dan menyodorkannya padaku.
"Tidak perlu, semua gratis untukmu. Aku tulus membantumu, semoga kau cepat hamil ya." Tolakku berusaha terlihat seramah mungkin. Dia menyimpan uangnya kembali di dompetnya.
"Terimakasih Sheika. Ternyata kamu memang baik sekali. Tidak seperti apa yang dikatakan Allan. Allan selalu menyuruhku untuk menjauhimu, dia takut jika kau akan mencelakaiku. Padahal kenyataanya kau sangat baik sekali, maaf atas sikap Allan yang begitu kasar padamu." Ucapnya memujiku. Dasar bodoh, aku hanya berpura-pura baik padamu. Kau sudah termakan omonganku. Selanjutnya rasakan akibat dari kebodohanmu yang mudah mempercayai orang yang telah berbuat jahat padamu.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Kau masih mempercayaiku saja, itu sudah cukup." Ucapku tersenyum manis dihadapannya.
Setelah percaya akan kata-kataku, Lilian langsung meminumnya sampai habis. Untuk semakin mengakrabkan diri, aku mengajaknya berbincang-bincang sebentar sebelum hari semakin malam. Aku mengantarkan Lilian pulang sebelum Allan pulang, takut Allan akan memarahiku lagi karena berusaha mencelakai istrinya.
........~••«💙»••~........
Seperti pengawal aku terus mengikuti perkembangan Lilian dengan mengamatinya dari luar rumah. Aku sungguh penasaran apakah dia sudah hamil atau belum. Hanya butuh jarak dua minggu Lilian sudah hamil. Sungguh sangat menakjubkan. Aku akan segera memilikimu Allan. Aku sudah tidak sabar menantikan hari di mana kita bisa bersama.
Bulan berganti bulan, momen yang sangat dinantikan sudah datang. Lilian sudah melahirkan seorang anak. Aku bersiap dengan hadiahku menuju ke bangsal di mana Lilian dirawat bersama bayinya yang baru lahir. Aku berharap bayi itu berjenis kelamin perempuan.
"Hai Lilian, apa kabar?" Sapaku memeluk dan cipika-cipiki dengan Lilian. Tidak lupa memberikan hadiahku padanya yang masih berbaring di ranjang.
"Di mana anakmu, aku ingin melihatnya?" Tanyaku berbasa-basi karena aku sudah tahu jika anaknya ada di box bayi di sebelah Lilian.
"Itu lihatlah, dia sangat manis. Mirip dengan Allan." Jawabnya sambil tersenyum manis.
Aku menghampiri box bayi dan menggendong anak itu, lalu memastikan jenis kelaminnya. Ternyata seorang bayi laki-laki yang sangat manis. Awalnya aku pikir perempuan karena parasnya yang cantik dan manis, tidak aku sangka kenyataannya adalah laki-laki. Aku gagal menjalankan misiku.
Seperti yang dikatakan Stella, aku harus terus berusaha menanam bunga iblis sampai aku mendapatkan anak perempuan. Kemudian membiarkannya tumbuh dewasa dan menikahkannya dengan raja iblis. Jika anaknya laki-laki aku harus menyerahkannya sebagai tumbal. Sungguh menyebalkan. Sebelum aku menyerahkan anak ini, aku sudah ingin membunuh anak ini dan ibunya itu.
"Bayi yang manis, siap namanya?" Tanyaku sambil menimang-nimang bayi yang tertidur pulas itu.
"Namanya Elian Hemswarth. Gabungan dari nama kami berdua. Semoga Elian menjadi anak yang hebat seperti ayahnya." Jawabnya yang membuatku iri.
Memberikan nama anak ini dari gabungan nama orang tuanya. Seharunya seperti apa yang aku impikan. Menikah dengan Allan dan melahirkan anak-anaknya. Memberikan nama anak kita nama yang indah dari nama kita berdua. Semua mimpiku sirna hanya karena ada wanita pengganggu ini.
Aku menidurkan bayinya di box bayi lagi. Lalu berpamitan pergi dengan Lilian. Aku pergi meninggalkan rumah sakit dengan geram. Aku harus segera mendapatkan anak perempuan untuk memperoleh keinginanku.
Sesampainya di rumah aku merenungi kegagalanku. Aku frustasi tidak bisa mendapatkan anak perempuan. Bahkan aku harus melihat momen bahagia Lilian mendapatkan seorang anak. Tiba-tiba Stella datang menanyaiku tentang anak itu. Aku mengatakan semuanya jika anak itu lahir sebagai anak laki-laki yang artinya aku gagal. Aku akan mengambilnya segera dan memberikanya langsung kepada raja iblis.
"Tunggu, jangan emosi dahulu." Seru stella menghentikanku. Dia menarik tanganku untuk duduk kembali. Lalu aku duduk dengan kesal.
"Ada apa lagi? Sudah jelas anak itu laki-laki. Aku harus memberikannya kepada raja iblis." Tukasku geram.
"Bunga Iblis hanya bisa dipersembahkan saat umurnya sudah tiga tahu. Raja tidak menginginkan bunga iblis yang masih bayi." Ucap Stella yang membuatku mengeratkan kepalan tanganku.
Berapa lama lagi aku harus menunggu untuk mendapatkan laki-laki yang sangat aku cintai. Aku sudah tidak tahan melihat kebahagiaan mereka lebih lama lagi. Lebih baik aku menjauh untuk sementara waktu sampai anak itu berusia 3 tahun. Dari pada harus merasakan sakit hati melihat kebahagiaan mereka bertiga.
Selama tiga tahun aku terus berusaha membuat bunga iblis. Sayangnya semua bayinya berjenis kelamin laki-laki. Kenapa susah sekali mendapatkan anak perempuan. Padahal Stella juga sudah membantuku. Aku hampir putus asa. Jangan-jangan Stella menipuku.
.........~••«💙»••~........
Setelah Elian berusia 3 tahun aku berniat mengambilnya. Aku pergi ke rumahnya yang ternyata kosong. Aku diam-diam mengirim pesan pada Lilian menanyakan kepergianya. Ternyata mereka sedang berlibur ke pantai. Cih mereka malah bersenang-senang dibalik penderitaanku. Lihat saja, setelah ini kalian akan aku kirim ke neraka untuk disiksa selamanya di sana.
Tiga hari mereka pergi. Aku menunggu kedatangan mereka pulang. Hari di mana mereka pulang Allan pergi bekerja lagi. Ini kesempatanku membawa anak itu pergi untuk persembahan. Aku menjalankan mobilku masuk ke halaman rumah Lilian. Menyiapkan bingkisan untuk diberikan pada Lilian. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan anak itu dan membawanya pergi.
"Hai Lilian, bagian liburannya. Menyenangkan!" Sapaku saat Lilian membuka pintu rumah.
"Sheika, masuklah! Lumayan menyenagkan. Kami liburan bersama dengan keluarga Boby. Sayangnya kau masih sibuk bekerja." Serunya mempersilahkan aku masuk. Aku mengikuti Lilian masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur karena Lilian sedang masak untuk makan siang.
"Aku pergi ke luar kota untuk proyek 3 film sekaligus. Aku sangat sibuk waktu itu. Sekarang sudah mulai senggang." Kataku ditengah perjalanan kami menuju ke dapur.
"Di mana Elian, sudah tiga tahun aku tidak bertemu dengannya. Dia pasti sangat manis sekali." Tanyaku sambil meletakan bingkisan di atas meja dapur. Aku ingin melihat seberapa manisnya anak itu sebelum mati.
"Elian sini nak, sapa bibi Sheika." Panggil Lilian berkali-kali, sampai dari ruang tengah munculah seorang anak laki-laki yang cantik. Dia imut sekali mirip dengan Allan. Pipi gemuknya merah merona, ingin sekali aku memiliki anak seperti itu. Sadarlah Sheika, dia adalah anaknya Lilian yang kau benci.
"Akhh, hallo bibi Siqa." Sapanya terengah-engah berlari menuju ke arahku. Dia meraih tanganku dengan tangan kecilnya. Aku langsung menggendongnya dan mencium pipi gemuk yang memerah.
"Suaramu lucu sekali Elian, hahaha." Kataku tertawa mendengar suaranya yang masih cedal. Siapapun tidak akan menyangka jika dia adalah anak laki-laki. Apakah semua bunga iblis seperti itu. Jika aku merubahnya menjadi perempuan apakah raja iblis akan tertipu. Biar aku tanyakan pada Stella setelah ini.
"Dia sangat nakal hahaha, jangan puji dia." Ucap Lilian tersenyum senang sambil mengusap rambut Elian dengan gemas.
"Ibu, rambutku bisa rontok nanti!" Timpal Elian dengan wajah imutnya. Dia sangat menggemaskan. Apakah setelah aku mendapatkan Allan, kami bisa memiliki seorang anak dalam kehidupan kita nanti. Aku hanya bisa berharap.
"Dia sangat manis. Aku menyukainya." Kataku menurunkan Elian. Elian langsung pergi lagi ke ruang tengah. Entah apa yang sedang Elian lakukan, dia sibuk sendiri di sana.
"Semua ini berkatmu, karena bantuanmu aku bisa hamil lagi. Lihatlah sekarang, aku juga sedang hamil menginjak 2 bulan. Belum terlihat, tetapi Allan sangat bahagia." Serunya tiba-tiba yang membuatku terkejut. Kenapa dia bisa hamil lagi tanpa memakan biji bunga iblis. Sunggu wanita yang subur, aku iri padamu Lilian.
"Selamat ya. Ternyata ramuan jamuku manjur." Ucapku memberi selamat pada Lilian dengan wajah penuh amarah. Aku ingin membunuh mereka berdua sekarang.
Aku mengambil pisau dapur dan menyembunyikannya di belakang punggungku. Aku hendak menusuk Lilian dengan pisau dapur sampai aku dikejutkan oleh kehadiran Elian yang berlari-lari dengan senang menuju ke arah kami. Aku menyimpan pisau itu kembali ke tempatnya. Takut ketahuan jika aku ingin melukai mereka berdua.
Ternyata anak itu sedang bermain kejar-kejaran dengan para hantu. Elian tidak merasa takut sama sekali pada hantu itu yang bentuknya aneh-aneh. Bahkan Lilian membiarkanya saja, tanpa takut jika para hantu itu menyakiti Elian. Tidak pernah aku tahu jika bunga iblis akan memiliki kekuatan yang sama seperti kami. Awalnya aku tidak bisa melihat hantu, tetapi sekarang aku bisa melihat hantu sejak menjadi pengikut sekte jubah merah.
"Makanlah dulu. Mainnya dilanjut lagi setelah pulang dari rumah paman Boby." Seru Lilian menggendong Elian dan mendudukannya di kursi untuk makan siang.
"Kalian akan pergi ke rumah Boby?" Tanyaku terkejut karena mereka akan pergi. Kita baru makan siang kenapa sudah mau pergi.
"Iya. Sandra baru melahirkan anak pertama mereka. Kami ingin menjenguknya. Kau mau ikut?" Jawabnya mengajakku pergi ke rumah Boby.
"Tidak bisa, aku masih banyak pekerjaan." Tolakku tidak ingin ikut pergi ke rumah Boby. Kemudian aku mendengar suara klakson mobil. Lilian langsung keluar dan tidak lama dia kembali lagi.
"Siapa?" Tanyaku penasaran.
"Tidak. Makan siang bersama Elian saja aku sudah cukup, ayo keluar bersama-sama. Anak yang pintar!" Tolakku menggendong Elian keluar rumah dan memasukannya ke dalam mobil taksi. Sedangkan Lilian mengunci pintu dahulu sebelum berpamitan denganku. Aku menjalankan mobilku pergi duluan dari rumah Lilian.
........~••«💙»••~........
Aku pergi menemui Stella, menceritakan semua tentang Elian yang bermain dengan para hantu. Stela mengatakan jika Elian adalah anak yang langka. Sebelumnya tidak ada anak dari bunga iblis yang bisa melihat hantu. Stella malah menyuruhku nendekati anak itu dan mengamatinya. Apakah ada sesuatu yang aneh dari anak itu. Aku emosi dan memarahi Stella yang menunda-nunda persembahan itu. Aku sudah tidak sabar ingin memiliki Allan secepatnya.
"Tenanglah, kita ini awet muda. Jangan takut akan menjadi tua." Ucap Stella menenangkanku.
"Tapi aku ingin secepatnya mendapatkan Allan." Bentakku frustasi.
"Amati tingkah anak itu. Bawa anak itu padaku, biar aku melihatnya. Jika semua tingkah anak itu sangat unik, kita ceritakan pada yang mulia raja iblis. Pasti anak itu akan menjadi hadiah spesial untuknya sehingga kau bisa mendapatkan keinginanmu tanpa harus membuat anak perempuan." Jelas Stella. Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku yang terasa pening.
"Kau yakin raja iblis akan mengabulkan permintaanku dengan hadiah anak itu." Tanyaku memastikan.
"Ya, aku pastikan yang mulia raja iblis akan mengabulkan keinginanmu." Jawab Stella mantap.
"Baiklah aku akan melakukannya!" Tukasku setuju dengan perkataan Stella untuk mengamati anak itu.
........~••«💙»••~........
Stella membawaku datang ke rumah Lilian, dia tidak sabar ingin bertemu dengan Elian. Dia ingin melihat langsung anak itu dan menyentuh anak itu dari dekat. Kenapa aku harus mendapat tugas sesulit ini. Aku enggan melihat kebahagiaan Lilian bersama anak itu. Stella keluar dari mobilku lalu berjalan menjauh dan menghilang. Cepat sekali Stella menghilang, aku ragu dia manusia atau bukan. Lalu aku membawa mobilku masuk ke pekarangan rumah Lilian. Membawa hadiah untuk Elian yang sedang belajar di meja dan bertegur sapa dengan Lilian yang sibuk memasak.
"Ibu, aku ingin ke toko mainan sweetdoll di kota lain." Seru Elian datang dengan pakaian rapi mengajak Lilian pergi. Tidak hanya aku, Lilian ibunya juga terkejut dari mana dia bisa mengetahui toko mainan di kota lain.
"Tidak boleh. Dari mana kau tahu tempat seperi itu? Kita pergi ke toko mainan disebrang jalan ya." Tolak Lilian Tidak mengijinkan Elian pergi, lalu menggendong Elian dan menciumi pipi gemuknya. Aku heran kenapa anak sekecil ini sudah tahu toko mainan yang tidak pernah dia kunjungi. Apa benar yang dikatakan oleh Stella, jika Elian berbeda.
"Ibu ayoo pegi ke sanaa." Rengek Elian memaksa Lilian pergi ke tempat yang dia inginkan.
"Tidak sayang! Besok adalah ulang tahunmu yang ke-4 tahun. Papa pasti akan memberikanmu hadiah mainan yang banyak." Tolak Lilian berusaha mengalihkan perhatian agar anaknya tidak ingin pergi.
"Ibu aku ingin pergi ke sanaaa ibuuu." Rengek Elian lagi dalam gendongan Lilian.
"Biarkan aku yang mengantar Elian pergi. Sekalian aku ingin mengajak Elian jalan-jalan." Seruku mengambil Elian dari gendongan Lilian. Ini kesempatan membawa Elian menemui Stella.
"Apakah tidak apa-apa, aku merepotkanmu." Ucap Lilian merasa tidak enak hati padaku.
"Tidak apa-apa, Elian sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Lagi pula sejak dulu aku ingin bisa liburan bersama Elian, tetapi aku sibuk bekerja." Kataku meyakinkan Lilian.
"Bolehlah, jangan pulang larut malam. Pastikan Elian makan siang nanti." Ucap Lilian membiarkan Elian pergi denganku. Aku mengangguk mengerti akan pesan Lilian padaku.
"Holee akhirnya pegi." Sorak Elian senang. Aku langsung membawanya masuk ke dalam mobilku. Menjalankan mobilku pergi ke rumah Stella sebelum ke tempat mainan yang diinginkan Elian.
"Elian mau beli apa nanti di sana?" Tanyaku berbasa-basi pada Elian saat di perjalanan pergi.
"Beli boneka beluang." Jawabnya antusias.
"Kau laki-laki kenapa membeli boneka beruang." Kataku terkekeh geli dengan perkataannya.
"Kan nanti buat Lily sama lyla." Jawabnya senang. Siapa Lily dan Lyla, aku lihat dia hanya bermain sendirian dengan para hantu itu. Apa mungkin Elian membeli boneka untuk para hantu itu. Sudah mati masih saja menginginkan sesuatu di dunia, tidak ada gunanya.
"Kenapa kita ke sini?" Tanya Elian dengan wajah polosnya. Aku membawanya menemui Stella di rumahnya.
"Kita mampir sebentar di rumah bibi. Bibi mau ambil sesuatu di rumah. Ayo masuk." Jawabku sambil menggandeng tangan kecil itu masuk ke dalam rumah Stella.
Di dalam rumah, Stella sudah menunggu kedatangan kami berdua dengan seringai menakutkan di bibirnya. Stella lalu mengambil tangan Elian dan menariknya sampai terduduk di pangkuannya. Elian tidak merasa keberatan sama sekali. Dia nampak tenang dan tidak takut dengan orang asing yang baru dia temui.
"Tangan yang kecil ini penuh dengan darah. Aku menyukainya. Kau adalah bunga rajaku yang dia cari. Elian akan menjadi hadiah paling mengesankan yang pernah ada." Ucap Stella saat menyentuh tangan Elian. Aku memang pandai membuat bunga iblis. Tidak lama lagi aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan.
"Bibi bicara apa?" Tanya Elian tidak mengerti.
"Tidak ada apa-apa, kau boleh pergi sekarang." Jawab Stella menurunkan Elian dari pangkuannya.
"Sudah selesai!" Tanyaku menggandeng tangan Elian.
"Tentu saja! Berhati-hatilah. Tangan kecil ini gemar membunuh." Ucapnya sebelum kami pergi.
Aku membawa Elian ke tempat di mana dia inginkan. Toko mainan Sweetdoll. Toko mainan yang bergaya klasik ini terlihat banyak boneka yang terpajang di etalase kaca yang nanpak dari luar. Sayangnya toko itu terlalu sepi. Untuk apa Elian datang ke tempat seperti ini. Aku membantu Elian turun dari mobil dan mengantarkanya masuk ke dalam toko.
"Bibi di sini saja. Aku akan masuk sendir di dalam." Ucap Elian tidak ingin aku ikut dengannya masuk ke dalam toko.
"Kau mau masuk sendirian?" Tanyaku Heran.
"Iya, aku hanya sebentar. Tunggu ya." Ucapnya langsung pergi masuk ke dalam toko mainan itu.
Aku menunggunya sampai setengah jam dia baru keluar dari toko mainan itu. Elian bergegas berlari ke arahku yang menunggunya di depan mobil. Aku membulatkan mata saat dia berada di depan mataku. Badannya penuh dengan darah. Bau amis semerbak daru tubuhnya. Aku takut jika ada yang melihatnya, jadi aku langsung menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Aku khawatir dengan Elian yang penuh dengan darah, siapa yang berani menyakiti bunga iblis sebelum persembahan. Aku mengecek seluruh badan Elian yang berlumuran darah, ternyata tidak ada luka sedikitpun padanya. Aku menghela nafas lega. Elian hanya tersenyum manis menatapku yang khawatir padanya.
"Ini darah siapa?" Tanyaku penasaran.
"Darah pemilik toko." Jawabnya singkat.
"Apa kau membunuhnya?" Tanyaku lagi.
"Yaa. Dia ingin membunuhku, makanya aku membunuhnya." Jawabnya dengan wajah polos. Aku tahu semuanya, ini yang dimaksud Stella.
Elian dengan tangan keciknya mampu membunuh orang, bukanya Elian adalah hadiah yang bagus. Hahahah, tanpa anak perempuan aku bisa menjadi pemimpin dan mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku membawa Elian pergi ke toko pakaian, membelikan Elian baju ganti agar tidak ada yang menyadari Elian habis menbunuh orang. Membersihkan semua darah yang mengotori tubuh Elian dengan tisu basah dan memakaikan pakaian baru pada Elian. Lalu aku mengajak Elian makan siang sebelum dia aku antar pulang.
Beberapa hari setelah kami berkunjung dari toko mainan sweetdoll itu muncul berita yang beredar luas. Pemilik toko adalah pesikopet yang membunuh banyak anak-anak untuk memuaskan hasrat pesikopetnya. Dia di temukan mati seminggu setelah tokonya buka tetapi tidak ada penjualnya. Dia mati dengan cara mengenaskan sama seperti apa yang dia lakukan pada korbannya. Seberapa hebat anak iblis ini sampai berani membunuh pembunuh sekali pun. Elian kau memang hebat.
........~••«💙»••~........
Setelah pulang kerja aku menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya Lilian. Bercengrama dengan Elian bunga Iblis itu. Dia seperti biasa bermain dan belajar dengan hantu penghuni rumahnya.
Sampai satu bulan setelah hari ulang tahunnya dia merengek untuk pergi ke penjara. Aku curiga, Elian pasti ingin membunuh seseorang lagi. Ini adalah kesempatan yang bagus membuat bunga iblis menjadi hadiah yang semakin menarik untuk rajaku.
"Ibuu ayo ke sana sebentarrr." Rengek Elian memeluk kaki Lilian.
"Tidak, untuk apa kau pergi ke sana. Kantor polisi bukan tempat untuk anak-anak." Tolak Lilian yang tidak habis pikir dengan permintaan anaknya yang aneh-aneh.
"Elian, bibi baru membuat ice cream banyak rasa di rumah. Mau ikut bibi mengambil ice creamnya?" Ajakku menggendong Elian dan memciumi pipi gemuknya.
"Akan aku antar kau ke penjara." Bisikku pada Elian yang langsung mengerti omonganku.
"Benarkah, ayo pergi!" Seru Elian senang menarikku agar cepat pergi.
"Dasar anak nakal, mendengar ice cream saja langsung suka." Ucap Lilian terkekeh geli melihat tingkah anaknya.
"Cepat pulang ya!" Seru Lilian memperingati kami untuk segera pulang. Aku menganguk mengerti, lalu membawa Elian pergi.
Aku mengantarkan Elian ke kantor polisi bagian penjara. Memberikan Elian bekal untuk seseorang yang ingin Elian temui dan memberikan nomer telefonku padanya agar polisi nanti menghubungiku bukan menghubungi Lilian. Aku menunggu Elian di dalam mobil dan membiarkan Elian melakukan apa yang dia mau.
Tidak lama menunggu aku sudah mendapat panggil dari polisi. Aku berpura-pura menjadi ibunya yang khawatir kehilangan Elian. Setelah menutup telfonnya aku bergegas masuk ke dalam kantor polisi bagian penjara. Di sana sudah ada Elian yang duduk memakai handuk sambil menangis tersedu-sedu. Aku memeluk Elian dan menggendong tubuhnya yang basah kuyup.
Polisi di sana menceritakan semua kejadian pembunuhan itu padaku. Dimana mereka beransumsi ingin membunuh Elian di kamar mandi, tetapi gagal dan mengakibatkan Anna Satt masuk ke dalam bak mandi yang sempit. Pembunuhan yang sangat cerdik sekali Elian, aku tidak menyangka kau sepandai ini.
........~••«💙»••~........