[Sequel] Flower From The Hell

[Sequel] Flower From The Hell
Adam Wright Pov 2 /Lamaran/



Adam Wright Pov 2


...*LAMARAN*...


.........~•*★*•~.........


Kejadian kasus sekte jubah merah telah selesai. Ayah Elian bernama Allan Hemswarth tidak ada kabar sama sekali. Kemungkinan dia melarikan diri saat penangkapan sekte jubah merah tempo lalu. Elian laki-laki yang aku cintai sekarang tinggal di apartemenku. Dengan melalui banyak proses dan pertimbangan akhirnya aku bisa mendapatkannya. Aku tahu jika dia masih depresi sejak tiga bulan terakhir setelah kejadian itu. Dia enggan pulang ke rumahnya, bahkan tawaran untuk tinggal bersama dengan nyonya Margaretha dia tolak.


Elian hanya berdiam diri sepanjang hari di kamarnya. Dia juga terkadang menangis sendiri sambil menatap ke luar jendela. Bahkan malamnya Elian juga tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Aku terus saja terbangung dengan tangisannya dan mencoba menenangkannya. Serta menunggu Elian sampai bisa tertidur kembali.


Aku sedih melihat Elian yang terus saja melamun di dekat jendela, menatap langit yang hampa. Untung saja jendela di apartemenku sudah aku lindungi dengan teralis besi, sehingga dia tidak bisa bunuh diri melompat dari atas gedung berlantai 15 ini. Aku tinggal di apartemen berlantai 15 yang cukup tinggi di tengah kota. Aku memberi Elian kamar sendiri dan aku juga tidur sendiri.


Walaupun aku mencintainya dan berhasrat ingin meniduri tubuh indahnya, tetapi aku tahu kalau dia masih butuh cinta yang bisa membuatnya nyaman. Aku ingin membuatnya nyaman di sampingku. Aku juga ingin mendapatkan hatinya, cintanya, dan tubuhnya. Aku bukan lelaki jahat yang hanya ingin merasakan tubuhnya. Aku mencintainya dan kadang aku berhasrat ingin menidurinya itu wajar bagi para lelaki sepertiku.


Setiap hari, setiap waktu, aku selalu mengunjungi Elian di kamarnya. Menanyakan kabarnya, kadang bercerita tentang keseharianku padanya. Dia tidak menoleh sama sekali padaku, yang dia pandangan hanya langit di kejauhan yang tidak lepas dari matanya. Aku tidak tahu dia mendengarkanku atau tidak, tetapi aku tetap saja berusaha berkomunikasi dengannya.


Aku tidak perduli walau dia sudah gila dan tidak bisa disembuhkan. Aku akan merawatnya dengan baik dan penuh cinta. Terkadang Margaretha juga menghubungiku menanyakan keadaan Elian aku hanya bisa mengatakan kalau dia baik-baik saja. Tapi tetap saja dia sering menghubungiku karena kawatir dengan keadaan Elian. Sepertinya dia sudah menganggap Elian seperti anaknya sendiri. Jika Elian seperti ini terus, dokter Orlando pasti akan membawanya lagi ke rumah sakit jiwa. Aku lebih suka menahan Elian yang gila di rumahku dari pada di rumah sakit jiwa.


Sekarang kita berdua lagi makan malam bersama. Aku memyiapkan makan malam yang aku beli setelah pulang dari kantor di meja kamarnya. Kami selalu makan di kamarnya sambil memandang pemandangan kota dari lantai 15. Elian memakan makan malamnya dengan diam. Pertanyaanku yang sering aku lontarkan tidak pernah dia jawab. Aku tetap berusaha ingin berkomunikasi dengan Elian dengan cara apapun.


Aku selalu mengamati tubuhnya yang semakin lama aku merasakan ada keanehan pada tubuhnya. Walaupun Elian makan dengan rutin sehari tiga kali, tetapi dia hanya makan setengah dari yang aku berikan. Perutnya terlihat sedikit bertambah buncit. Apakah dia cacingan atau menderita sakit yang parah. Aku takut jika Elian pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.


"Elian aku merasakan ada yang aneh denganmu!" Tanyaku sambil mengusap tangannya yang sudah selesai makan. Dia hanya menatapku sekilas lalu menundukkan wajahnya melihat ke perutnya. Dia Usap beberapa kali perutnya yang buncit terlihat seperti mengeras.


"Perutmu terlihat buncit. Apa kau cacingan?" Tanyaku lagi menatap ke dalam matanya.


"Tidak tau!" Jawabnya singkat lalu dia berjalan ke kasur dan berbaring di sana. Aku menghentikan makanku dan menghampirinya.


"Mau pergi ke dokter?" Tanyaku lagi sambil mengusap rambutnya. Dia hanya menggelengkan kepala yang mengatakan tidak mau.


"Tapi kau juga sedikit pucat. Aku akan memanggilkanmu dokter besok. Aku tidak ingin kau sakit." Ucapku dengan lembut.


"Tidak! aku tidak mau!" Tolaknya dengan nada bergetar yang sedang menahan isakan tangisnya.


"Kalau begitu aku panggilkan dokter Orlando untukmu, sudah sejak sebulan lalu kau menolak untuk menerima kehadiran dokter Orlando." Kataku lagi berusaha untuk membuat Elian sembuh dari penyakitnya.


"Tidak mau!" Bentaknya menutup wajah dan terisak di sana. Kau sedikit keras kepala Elian.


"Hemm kalau begitu besok ke rumah sakit." Kataku memaksa Elian pergi ke rumah sakit. Mentalnya sakit sekarang perutnya juga sakit. Aku tidak ingin Elian mati perlahan-lahan oleh penyakit yang terus menggrogoti tubuhnya.


"Aku tidak sakit, aku tidak mau ke rumah sakit!" Serunya dengan diikuti tetesan air mata yang keluar dari matanya semakin banyak.


"Tidak apa-apa ada aku di sini. Aku akan menjagamu apapun yang terjadi. Kau terlihat lelah dan letih. Dokter pasti akan memberi vitamin yang dibutuhkan oleh tubuhmu agar terlihat lebih kuat. Aku akan menemanimu, percayalah. Aku akan selalu ada di sampingmu. Bagaimana, kau mau pergi ke rumah sakit!" kataku terus membujuknya agar mau ke rumah sakit. Dia seakan tersentak mendengar ucapanku. Elian berbalik menatapku denga matanya yang lentik itu. Entah apa yang dia pikirkan dia seakan percaya padaku. Dengan gerakan yang lemah dia menerima ajakanku ke rumah sakit. Aku bersyukur Elian akhirnya mau sedikit terbuka padaku.


.........~•*★*•~.........


Hari liburku aku gunakan untuk memenuhi janjiku membawa Elian pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan keadaan tubuhnya. Kami menuju ke ruang USG melihat apa yang ada di perut Elian. Apakah lemak, cacing, atau tumor yang membuat perut Elian membuncit.


Elian terlentang di atas ranjang dengan baju setengah berbuka di bagian bawah perutnya sampai ke dada. Dokter mengoleskan gel entah apa itu langsung ke perut Elian dan meletakan alat USG berbentuk alat deteksi berkabel ke perut Elian. Dokter memutar-mutar alat itu dan mencari sumber masalah yang menyebabkan perut Elian membuncit.


"Selamat pak, ternyata istri anda sedang hamil. Kira-kira sudah menginjak usia empat bulan. Lihat tangan dan kaki sudah terbentuk sempurna." Ucap dokter itu memberi selamat padaku. Elian nampak terkejut dengan pernyataan si dokter. Aku pun tidak percaya dengan perkataan dokter itu.


"Benarkah dok? Tidak mungkin dia bisa hamil, dia laki-laki dok." Kataku meminta penjelasan dari semua kehamilan Elian.


"Benar, lihatlah!" Ujarnya menunjuk janin Elian di layar monitor. Benar saja sebuah janin bergerak-gerak di sana. Sejak kapan Elian bisa hamil. Elian adalah lelaki tulen, kenapa bisa hamil. Aku pusing memikirkan sesuatu yang di luar nalarku.


"Ini aneh sekali!" Seruku masih mencerna apa yang aku lihat sekarang. Yang pasti janin itu bukan anakku, apakah anak itu adalah anak Orlan dan Elian. Cinta mereka berdua sudah membuahkan hasil. Tetapi bagaimana bisa Elian hamil, ilmu anatomiku terlalu rendah.


"Tapi lihatlah pak, rahimnya terbentuk sempurna dan janinnya juga sehat. Apa benar Elian laki-laki." Jelas dokter itu tidak percaya jika sebenarnya Elian adalah seorang laki-laki.


"Bayinya ternutrisi dengan baik karena dia mengambil banyak nutrisi dari ibunya, sehingga membuat ibunya lemah karena kekurangan gizi dan vitamin. Untuk menguatkan tubuh ibu dan janinnya akan saya resepkan obat dan vitamin untuk di ambil. " Tambah dokter itu tidak perduli jika Elian adalah laki-laki atau perempuan.


"Saya mau bertemu dengan dokter ahli anatomi dan gender untuk mengkonsultasikan masalah ini." Pintaku pada dokter itu. Aku takut jika kehamilan Elian beresiko terhadap kesehatan tubuhnya.


"Terima kasih dokter atas bantuannya!" Ucapku berterimakasih sambil membantu Elian duduk. Elian nampak menunduk menahan sedih. Kenapa airmatamu tidak ada habisnya agar kau berhenti untuk menangis. Aku tidak ingin melihat Elian terus-menerus menangis. Dasar Orlan kurang ajar, beraninya membuat Elian terus menderita.


"Jika sudah selesai konsultasi dengan para dokter dan dinyatakan aman, bisa konsultasi lagi dengan saya tentang kehamilannya istri anda. Aku tahu mungkin ini aneh. Bisa saja istri Anda dulu seorang transgender atau mungkin dia memiliki gender ganda. Bisa di konsultasikan dulu ke dokter spesialis gender untuk lebih lanjutnya tentang resiko kehamilan istri anda." Jelasnya dengan ramah sambil memberikan resep obat yang harus aku tebus di apotik rumah sakit.


"Baik dokter, terima kasih atas sarannya." Jawabku membantu Elian berdiri.


"Sama-sama, jangan lupa obatnya di minum tiga kali sehari untuk menguatkan kandungannya." Seru dokter itu mengingatkan kami. Aku hanya mengangguk untuk menjawabnya sebelum pergi.


Setelah pemeriksaan dan mengambil obatnya kami segera pulang karena Elian sudah merasa resah.


"Apa kau baik-baik saja!" Tanyaku membantunya duduk di kursi. Dia hanya diam saja lalu memandang keluar jendela.


"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa hamil. Aku akan merawatmu dan bayimu dengan baik." Kataku yang juga ikut duduk di sampingnya. Aku memegang tangannya dengan lembut untuk menyakinkannya akan kata-kata yang aku ucapkan. Elian malah menarik tangannya dan terisak menahan tangis.


"Antarkan aku pulang ke rumah bibi Margaretha." Ucapnya tanpa melihatku. Aku tahu dia sedang menahan kesedihan.


"Tidak bisa, besok kau harus melakukan pemeriksaan dengan dokter spesialis gender." Tolakku agar Elian tetap berada di sini.


"Tidak perlu, kau sudah terlalu banyak membantuku. Bahkan aku tidak punya apa-apa untuk membayar kebaikanmu. Aku terlalu lama menyusahkanmu." Serunya dengan nada sendu. Airmata yang dia bendung meluap menjadi sebuah tangis yang menyayat hati. Aku tidak merasa keberatan sama sekali, justru kehadiranmu membuat hatiku tenang. Karena selama ini aku sangat mencintaimu.


"Tidak perku khawatir, Elian. Aku melakukannya dengan sepenuh hati tanpa meminta imbalan darimu." Jawabku sambil mengambil tangannya dan mengecupnya sekilas. Dia masih menahan air mata dan isakan demi isakan, padahal air matanya sudah tumpah berkali-kali.


"Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi padaku!" Ucapnya menundukan kepala tidak berani melihat ke arahku.


"Tidak apa-apa, kau sudah terlalu banyak menderita. Sekarang aku akan merawatmu dengan baik." Kataku sambil memeluknya. Aku sandarkan kepalanya ke dadaku yang lebar dan mengelus puncak kepalanya dengan lembut. Elian tidak keberatan sama sekali bahkan semakin kuat tangisannya di dadaku.


"Aku mencintaimu Elian, sangat sangat sangat dan sangat mencintaimu. Apakah aku harus mengatakannya lagi. Aku mencintai Elian. Adam mencintai Elian. Aku sangat sangat sangat mencintaimu, hehehe." Ucapku mengutarakan cintaku dengan menggebu-gebu.


"Hahaha, terimakasih." Serunya tertawa kecil dalam tangisannya yang terharu dengan pernyataan cintaku. Aku sendiri menahan malu mengungkapkan perasaanku yang tidak romantis sama sekali pada Elian.


Setelah larut dalam tangisan, Elian sekarang diam kembali sambil memperhatikan langit yang gelap di luar jendela. Entah apa yang sedang dia pikirkan, dia tersenyum tipis sekilas lalu sirna. Aku memeluknya dari belakang dan mengecup pucuk kepalanya berkali-kali karena gemas. Aku ingin kebahagiaan bersama Elian berlangsung selamanya.


...........~•*★*•~...........


Setelah melalui rangkaian pemeriksaan dari dokter ke dokter akhirnya mendapat kesimpulan kalau Elian memang memiliki gender ganda. Ada rahim dalam perut Elian. Serta lubang faginanya berdekatan dengan lubang anvs. Sehingga jika dia bisa melahirkan dengan normal, maka dia akan melahirkan bayinya melalui fagina yang kemungkinan besar akan mendapatkan perobekan yang cukup lebar untuk mengeluarkan bayinya. Namun, jika tidak memungkinkan lahir normal maka akan dilakukan operasi sesar untuk mengeluarkan bayinya.


Aku lihat wajah Elian terlihat syok berat sampai dia hanya bisa diam dan memalingkan wajahnya berkali-kali. Hormon-hormon dalam tubuh Elian juga berubah seiring dia mengalami kehamilan. Di mana dadanya, tidak maksudku payvdaranya terlihat sedikit besar. Mungkin saja payvdaranya sedang memproduksi air susu. Pikiran kotorku menjadi liar sejenak saat melihat tubuh telonjang Elian waktu mengalami pemeriksaan. Elian tidak mau aku jauh-jauh darinya, jadi mau tidak mau aku harus ikut denganya ke manapun dokter membawanya untuk melakukan pemeriksaan.


..........~•*★*•~..........


Aku berusaha membuat Elian senang dan menghiburnya ketika pulang dari kerja. Aku selalu membawakan mainan, baju, dan apapun untuk keperluan bayi yang akan lahir itu. Perlahan-lahan Elian sudah mulai bisa tersenyum bahkan tertawa melihat tingkah konyolku. Aku rasa dia sudah mulai terbuka dan melupakan kejadian mengerikan dulu.


Aku merasa senang sekali dia sudah benar-benar menerimaku dalam hidupnya. Sampai pada malam di mana salju turun untuk pertama kalinya, aku membawa Elian pergi untuk makan malam di luar. Aku berniat melamarnya dan menikahinya setelah dia melahirkan bayinya nanti.


Aku membawanya ke sebuah restoran yang bernuansa elegan dan sederhana. Aku yakin dia akan menolak jika aku mengajaknya ke restoran yang mahal. Kami makan berdua di sana menikmati makan malam yang disajikan di meja kami. Suasana dingin di restoran tersebut membuat suasana semakin romantis. Aku melamarnya dengan malu-malu. Menyodorkan cincin ke hadapannya sambil tersenyum manis sebisaku. Aku lihat Elian nampak terkejut lalu diam menatapku. Elian mengamati cincinnya sejenak lalu menghela nafas dan memperhatikanku kembali.


"Aku selalu berharap kalau aku dan Orlan akan memakai cincin yang sama dalam pernikahan." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Elian mengingat laki-laki yang selama ini dia cintai. Aku agak iri denga Orlan karena bisa mendapatkan cinta dari Elian dengan semudah itu. Aku putus asa jika Elian akan menolak lamaranku. Setidaknya aku sudah berusaha membuat Elian mencintaiku walaupun akhirnya adalah penolakkan.


"Tapi kenyataannya bahwa dia pergi meninggalkanku sendirian di dunia ini. Aku tidak bisa hidup tanpa dirinya." Serunya lagi dengan nada sendu.


"Tidak apa-apa kalau kau menolaknya, aku tidak akan memaksa. Jangan menangis!" Seruku sambil mengusap air mata yang jatuh ke pipi gemuknya. Aku sudah siap akan semua jawaban yang akan Elian berikan padaku. Aku tidak menyesalinya.


"Tapi aku sadar sekarang! Aku melihat dirinya di dalam dirimu. Aku melihat Orlan dalam dirimu." Ucapnya yang membuatku sedikit tersentak. Tangisan yang dia tahan terlihat pecah dan membuat kata-kata yang keluar dari mulutnya seakan terputus-putus. Aku hampir tidak percaya dengan kata-katanya.


"Maukah kau selalu bersamaku. Menerimaku apa adanya." Kata-katanya membuatku terkejut haru. Aku sangat bahagia sekali dia menerima lamaranku.


"Aku janji akan menjagamu, melindungimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku mencintaimu lebih dari apapun." Seruku dengan mata berkaca-kaca karena terharu. Aku pun meraih tangan yang indah dan lentik itu, lalu melingkarkan cincin ke jari manisnya. Elian tidak menolaknya dan malah tersenyum manis padaku. Aku sangat bahagia sekali melihatnya tersenyum dengan tulus sekarang. Akhirnya aku mendapatkan cintamu, Elian.


.........~•*★*•~.........