[Sequel] Flower From The Hell

[Sequel] Flower From The Hell
Sarah Sheika S. Pov 1/Kebencianku1/



Sarah Sheika S. Pov 1//


...*KEBENCIANKU*...


........~••«💙»••~........


Namaku Sarah Sheika Seikh yang biasa dipanggil Sheika oleh seseorang laki-laki yang sangat aku cintai. Aku bekerja sebagai seorang penata rias aktris dan aktor. Aku cukup digemari oleh orang lain karena bakatku yang luar biasa dan parasku yang cantik. Aku bangga akan semua pujian itu berharap Allan Hemswarth akan memandangku sempurna.


Allan Hemswarth memiliki paras yang yang tampan dan gagah. Dia adalah sahabatku sejak kecil. Dia selalu menceritakan keluh kesahnya padaku. Aku sangat senang dia berbagi rahasianya denganku. Bahkan dia sangat perhatian padaku. Aku selalu memimpikan kapan Allan akan mengutarakan cintanya padaku mengingat dia sangat perduli denganku.


Sampai pada suatu hari saat masa kuliah, ada sebuah tugas akhir semester yang mengharuskan berbagi kelompok dengan mahasiwa lain. Kami membuat film bersama dan aku beruntung bisa satu kelompok dengan Allan. Sampai aku melihat ada gerak gerik yang mencurigakan pada Allan. Dia terus saja memandangi wanita yang bernama Lilian itu dalam diam. Sampai Allan terang-terangan menunjukan perhatiannya kepada Lilian.


Semakin lama kedekatan mereka sangat terlihat jelas. Aku meremas kertas yang ada di meja melihat kemesraan mereka. Aku tidak suka jika Allan menyukai wanita lain selain aku. Tidak hanya aku yang tidak suka dengan kedekatan Allan dengan Lilian. Boby Hansson nampak tidak suka dengan kedekatan mereka karena ternyata Lilian adalah tunangannya. Mereka sudah dijodohkan sejak kecil. Semua itu bagus, aku bisa membuat mereka berpisah dan aku akan memiliki Allan seutuhnya.


Berbagai cara aku lakukan agar mereka berpisah dari memprofokasi keduanya, mencelakai mereka, membuat cemburu, sampai restu dari kedua belah pihak, sayangnya mereka tetap saja lengket seperti perangko. Sampai mereka memutuskan untuk kawin lari dan hanya mengundang teman terdekatnya saja.


Aku benci mereka, aku frustasi dengan kebahagiaan mereka berdua. Mereka tidak boleh bahagia, Allan hanya milikku. Saat aku tengah bersedih di pantai merenungi nasib cintaku yang kandas, ada seorang wanita datang menghampiriku.


"Sendirian!" Sapa wanita itu dengan ramah duduk di sampingku.


"Ya!" Jawabku yang masih bersedih sambil menatap pantai yang gelap. Deburan ombak yang aku dengar membuatku tenang.


"Namaku Stella Brockman. Kau?" Ucapnya Memperkenalkan dirinya.


"Aku Sarah Sheika." Jawabku acuh.


"Kau ada masalah. Ceritalah, aku akan membantumu sebisaku." Ucapnya yang membuatku mengalihkan perhatianku padanya. Aku tidak akan mengatakan masalahku kepada orang lain yang baru aku kenal. Dia terlihat sok baik padaku. Aku membuang muka dan tifak memperdulikanya.


"Hanya karena cinta yang tidak terbalas kau bersedih seperti ini. Kau bisa mencari cinta yang baru. Laki-laki masih banyak diluar sana. Namun, memang susah untuk mendapatkan lelaki yang sama dengannya. Jangan bersedih, terus berusahakah mendapatkan cintanya jika kau ingin memiliki laki-laki itu." Ucapnya panjang yang membuatku terheran. Kenapa dia bisa mengetahui semua masalahku tanpa aku mengucapkan sepatah kata padanya.


"Apakah kau seorang cenayan?" Tanyaku penasaran dengan kehebatanya mampu menebak masalahku.


"Iya. Ceritalah, aku pendengar yang baik! Jawabnya menepuk bahuku untuk menpercayainya. Aku pun tidak ragu untuk menceritakan semua kesedihan dan kebencianku pada Lilian. Stella membuatku tenang akan semua masalah yang aku hadapi sekarang. Dia memang pendengar yang baik akan semua masalahku.


"Mau bergabung dengan sekte aliran jubah merah. Kita dengan senang hati akan mendengar keluh kesahmu. Raja kami sangat bermurah hati, dia pasti akan terus membuatmu bahagia." Serunya yang tiba-tiba mengajakku bergabung dengan sekte baru yang telah dia buat.


"Aku tahu kau orang yang baik, tapi maaf aku wanita yang taat beragama." Tolakku tidak ingin terjerumus ke dalam iblis yang sesat.


"Ayolah, aku tahu senua masalah yang kau hadapi tidak mudah. Kami akan memberikan solusi yang kau inginkan. Aku pastikan kau akan puas menjadi bagian dari kami." Ucap Stella yang masih ingin mengajakku masuk ke sekte jubah merah. Stella terus-menerus memaksaku untuk ikut ke aliran agama jubah merah yang dia anut. Stella bilang jika semua permintaanku akan segera terkabulkan jika aku mau bergabung dengan mereka. Aku ragu dan bimbang, apakah aku akan menjadi berdosa karena menyembah selain tuhanku.


"Maaf aku tidak tertarik!" Kataku akhirnya menolak semua tawarannya yang menggiyurkan untuk masuk ke sekte jubah merah.


"Baiklah jika kau tidak ingin bergabung, aku sudah tidak bisa memaksamu lagi. Kau tidak boleh bersedih terus menerus. Sesekali kau harus melawan Lilian, membuat Lilian merasakan penderitaanmu." Ucapan Stella menbuatu tergerak. Dia benar aku harus memblas rasa sakitku diacuhkan oleh Allan.


Membuat Lilian kehilangan cinta dan kebahagiaannya. Aku harus membuat Lilian terus menderita dengan apapun caranya. Kata-kata Stella membuatku tersadar memang benar aku harus membalaskan dendanku pada Lilian yang berani merebut laki-laki yang sangat aku cintai.


"Aku pergi dulu ya." Pamitnya memberikan nomer ponselnya padaku sebelum pergi. Aku menyimpan nomer Stella dan akan menghubunginya jika aku tertarik masuk ke dalam aliran agamanya.


........~••«💙»••~........


Sekarang aku masih memasang wajah baik dan manis dihadapan mereka. Aku berpura-pura manis dan baik dengan mereka. Masuk ke dalam keluarga kecil mereka yang bahagia. Bercanda ria dengan musuhku sendiri.


"Sheika, aku hamil. Lihatlah tespek yang menunjukan garis merah dua. Aku ingin membuat Allan terkejut dengan kemanikanku." Serunya di tengah kami masak di dapur. Lilian mengatakan dengan berani padaku jika dia sedang hamil. Lihat saja kau tidak akan pernah bisa mengandung anak dari Allan.


"Berita yang bagus sekali Lilian. Allan pasti terkejut." Kataku tersenyum manis menyembunyikan kebencianku padanya.


"Kau benar, aku ingin melihat ekspresi lucunya saat sebentar lagi dia menjadi seorang ayah." Ucapnya terkejeh geli membayangkan Allan terkejut mendengar kehamilannya. Lihat saja Allan akan terkejut bukan karena kehamilanmu, tetapi kehilangan calon buah hatinya.


"Iya hahaha!" Tukasku ikutan senang. Aku yang membantu Lilian memasak mengaduk masakan di wajan dengan geram. Aku melihat minyak di sampingku, aku menjalankan ideku mencelakai Lilian agar dia keguguran. Saat Lilian fokus menotong sayuran di dapur, aku menumpahkan sedikit minyak di sampingnya agar dia terjatuh. Benar saja dia terpeleset terjatuh dan mengadu kesakitan.


"Aouww sakit!" Jeritnya kesakitan.


"Kau baik-baik saja kan Lilian!" Kataku pura-pura panik melihat Lilian yang terjatuh.


"Aku perutku kram, sakit sekali." Serunya yang aku bantu berdiri dan duduk di kursi.


"Astaga ada darah di lantai." Ucapku pura-pura terkejut dan panik. Lilian masih mengerang kesakitan memegangi perutnya. Sayangnya ternyata niat jahatku dilihat oleh Allan yan pulang dari kantor. Aku melihat wajahnya yang murka menatapku.


"Menjauh darinya. Kau wanita iblis yang berani mencelakai istriku. Pergi kau dari sini, kau bukan temanku lagi!" Marahnya dan menampar wajahku.


"Kenapa kau menamparku, aku tidak melakukanny apa-apa!" Teriakku menangis merasakan sakit akibat tamparannya.


"Kau membuatnya jatuh. Aku melihatnya! Lebih baik kau pergi dari sini, jangan pernah tunjujan wajahmu dihadapanku." Bentakknya mengusirku.


Aku marah dan menangis histeris karena Allan lebih memilih membela Lilian dari pada aku. Aku pergi dengan keadaan kacau, Allan malah membenciku. Dia tidak ingin bertemu denganku, bahkan melihat wajahku hanya kerena wanita itu. Kenapa kau jahat sekali padaku Allan. Aku tidak akan membiarkan hidup kalian bahagia sampai kalian mati sekali pun. Geramku sambil memukul stir mobilku bertubi-tubi meluapkan semua amarahku.


Tanpa pikir panjang aku menelfon Stella dan mangatakan padanya jika aku ingin bergabung dengan mereka. Stella menerimaku dan menyuruhku datang ke rumahnya. Aku sudah tidak perduli jika yang aku sembah iblis sekali pun, asalkan mereka berdua menderita aku tidak masalah.


Aku pergi ke alamat rumah yang dikirimkan oleh stella. Aku mengatakan semua keluh kesahku padanya lagi. Dalam kesedian dan tangisanku, Stella langsung membawaku ke sebuah mensen untuk upacara penerimaan anggota baru sekte jubah merah. Di sana aku diberi jubah berwarna merah dan disumpah untuk setiap pada raja iblis yang mereka sembah. Aku mengikuti semua upacara penerimaan anggota baru sekte jubah merah sampai ke tahap akhir yaitu pembuatan lupa bergambar iblis di punggungku. Rasanya sangat nyeri dan sakit, tetapi seketika rasa sakit itu hilang. Namun, bekas lukanya masih tergambar jelas di punggungku. Walaupun kecil tetapi agak menggangguku.


Aku akhirnya diterima di sekte itu. Aku mengikuti berkumpul sekte jubah merah itu. Ternyata yang mereka lakukan hanyalah bersenang-senang dengan narkoba. Makanan dan minuman, semuanya dicampur dengan narkoba. Pemujaan hanya kami lakukan setahun sekali dengan tumbal seorang wanita.


Baru aku ketahui untuk pertama kalinya persembahan itu di depan mataku. Wanita yang jadi korban akan di paku di atas batu, lalu diperkosa oleh iblis itu sampai meregang nyawa. Ritual yang terakhir adalah menusuk jantung tumbal dan menyayat nadi sampai darah keluar mengalir ke sumber yang susah tertampung. Di sana Stella mengucapkan mantra lagi dan membagikan darah hasil korban itu untuk semua pengikit sekte jubah merah. seketika wajah mereka semua berubah menjadi menyeramkan. Ternyata mereka yang sudah menyembah iblis itu akan menjadi makluk yang tidak bisa disebut manusia lagi. Mereka menjadi kuat dibandingkan manusia biasa.


"Minumlah, jika kau tidak meminumnya kau akan rugi. Sudah terlamat untuk mundur!" Ucap Stella yang mengetahui ketakutanku.


Aku akhirnya meminum darah itu dengan rasa jijik. Namun, anehnya darah itu rasanya sangat manis, apakah aku bukan manusia lagi sekarang. Sepertinya begitu, aku sudah bukan manusia lagi. Maka dari itu, aku sudah tidak ada jalan untuk mundur. Setelah ritual selesai. Aku pulang kembali ke rumahku.


........~••«💙»••~........


"Jau baik-baik saja Lilian!" Kataku memberukan bunga dan kue padanya.


"Iya aku baik-baik saja. Walaupun masih sedih kehilangan anak pertamaku, aku tahu semua ini sudah takdir. Aku tidak perlu khawatir." Jawabnya mencoba tersenyum di bibinya yang pucat karena habis mengalami pendarahan di rahimnya akibat keguguran.


"Maafkan aku Lilian. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku bersalah. Maafkanbaku yang telah berbuat jahat padamu." Ucapku berpura-pura sedih di depannya. Mengakui semua kesalahanku yang telah mencelakiannya.


"Tidak apa-apa semua ini bukan salahmu. Semua ini adalah kecelakaan, maafkan Allan yang sudah berbicara kasar padamu." Ucapnya memegang tangaku yang menunduk pura-pura sedih atas kesalahanku. Dasar bodoh, kau dengan polosnya menerima permintaan maafku dengan mudahnya. Kau terlalu naif Lilian.


........~••«💙»••~........


Aku berjalan keluar dari rumah sakit dengan senyum kepuasan tergambar di wajahku. Jika aku tidak bisa memiliki Allan, Lilian pun juga tidak boleh. Kalian akan aku buat serasa hidup dalam neraka. Tanpa kebahagiaan sedikitpun.


Berhari-hari dan berbulan-bulan aku terus melancarkan seranganku. Aku selalu membuat masalah dalam kehidupan Allan. Membuatnya di phk dari pekerjaanya, susah mendapat pekerjaan, sampai diusir dari keluarganya sendiri. Sayangnya Lilian selalu membantu suaminya, memberikan modal untuk membuat usaha pembuatan film yang membuat Allan sukses dan keluarganya memberikan salah satu perusahaannya untuk Allan. Lihat saja, keberuntungan akan segera hilang dari kehidupan kalian berdua untuk selamanya.


Allan diangkat menjadi direktur di perusahaan perfileman. Perusahan Allan membuat acara pesta besar di perusahaan dalam rangka penyambutan direktur baru. Aku menghadiri pesta itu sebagai tamu undangan dari perusahan tempat aku bekerja. Aku menyapukan pandanganku untuk menemukan keberadaan Allan dan mendekatinya, alangkah terkejutnya aku malah melihat Lilian bersama Allan dengan perut Lilian yang membesar, pasti sedang mengandung.


Aku heran dengan lilian yang sangat subur. Setelah keguguran dia bisa hamil lagi. Lihatlah kebahagiaan mereka berdua yang membuatku iri. Aku harus membuat rencana agar dia keguguran lagi. Aku tidak akan membiarkan Allan mempunyai keturuan dari wanita itu. Aku mengeratkan genggaman tanganku di gelasku yang setengah aku minum. Aku langsung meletakan gelas yang berisi anggur itu ke meja dengan kasar, Lalu pergi dari sana karena aku sudah tidak kuat melihat kebahagiaan Allan dan Lilian.


Aku pergi ke rumah Stella, mengatakan kebencianku padanya. Aku sampai menggebrak meja berkali-kali karena kesal. Aku bahkan sudah meminum habis rum yang disediakan oleh Stella untuk menemani kesedihanku. Sayangnya aku tidak bisa mambuk sama sekali. Tubuhku yang sekarang sangat kuat. Aku mengatakan rencanaku yang akan meracuni Lilian sampai mati pada Stella karena aku sudah stres memikirkan Lilian.


"Aku akan memberikan obat aborsi dengan dosis tinggi agar tidak hanya anaknya yang mati, ibunya juga mati hahaha." Kataku emosi. Stella yang dekat denganku mengetahui niat jahatku. Di depanku dia terlihat sedang berfikir dengan keras.


"Kau ingin menggugurkan kandung wanita itu. Sangat bagus sekali, aku sedang membutuhkan janin untuk menanam bunga iblis. Aku akan membatumu menyingkirkan wanita itu asal aku mendapatkan janinnya." Ucapnya yang langsung aiu setujui. Aku tidak perduli dengan anak Lilian, bahkan Lilian sekalipun. Aku mengangguk menerima tawaran bantuan dari Stella.


"Berapa usia janinnya?" Tanya Stella tersenyum mencurigakan. Stella terlihat sangat menginginkan janinnya. Perduli apa aku dengan mereka, jika Stella bisa membuat Lilian menderita aku sangat senang sekali.


"Dari besarnya perut Lilian sepertinya kehamilannya berusia empat bukan mendekati lima bulan." Jawabku mengingat dan berusaha mengira-ngira usia janin Lilian.


"Bagus, berapa pun usia janin yang terpenting lebih dari tiga bula aku menerimanya." Ucapnya menerima janin Lilian untuk pemujaan. Maaf Lilian kau akan aku gunakan dalam menghasilkan anak untuk persembahanku.


Aku melakukannya rencanaku secara diam-diam karena Allan sudah tidak ingin melihat wajahku. Aku mengajak Lilian pergi makan siang di sebuah restoran di dekat kampus dulu. Menyuruh pegawai masak yang salah satunya adalah penganut aliran sekte jubah merah untuk memasukan obat aborsi super manjur yang diberikan oleh Stella.


"Makanan tadi sungguh enak, aku jadi ingat masa kuliah dulu." Kataku memulai berbincang-bincang setelah selesai makan.


"Iya sangat enak. Aku akan membawa pulang makanan kesukaan Allan." Ucapnya menanggapi omonganku. Kita berdua berbincang-bincang sedikit sebelum pulang.


"Aku harus segera pulang mengambil kue yang di minta Pamela. Kita sudah membuat janji akan bertemu. Pamela akan menikah bulan depan. Tidak menyangka sebentar lagi dia akan menikah." Pamitnya berbasa-basi.


"Sunggu sangat mengejutkan sekali ya." Seruku terkekeh geli mendengar pernikahan Pamela yang tidak penting untukku.


"Biar Aku antar kau pulang." Tawarku memberi tumpangan pada Lilian yang dijawab Lilian dengan anggukan kepala dan senyum manis di wajahnya. Senyum itu akan berubah menjadi tangisan kesakitan Lilian. Hidupmu tidak akan pernah tenang selama kau masih bersama Allan.


Aku mengantarkanya sampai ke rumah. Aku berpura-pura langsung pergi karena ada urusan. Setelah makan siang Lilian masih terlihat baik-baik sampai beberapa jam berlalu. Aku terus mengamati Lilian dari jauh sampai tidak lama mobil Allan kembali. Ternyata obatnya sudah bekerja. Aku mengikuti mereka sampai di rumah sakit dan benar saja Lilian keguguran. Anaknya mati di dalam kandungannya.


Lilian menangis histeris di dalam pelukan Allan yang membuatku iri. Awas Lilian aku akan membuatmu gila sampai bosan untuk hidup. Aku memgikuti suster yang membawa janin Lilian, lalu mengambilnya. Aku membiarkan Lilian dan Allan bemesraan sebentar sebelum aku mejatuhkan mereka lagi. Aku pulang membawa janin Lilian dan menyimpannya di kulkas.


Esok hari aku membawa janin Lilian pergi ke rumah Stella. Dia mwnerimanya dengan senang hati. Tidak lupa wajah kagum tergambar jelas di wajahnya.


"Ini janin yang kau minta." Kataku menyodorkan janin itu yang langsung diterima oleh Stella.


"Bantu aku menanamnya." Ucapnya meminta bantuan padaku.


"Untuk apa kau meminta bantuanku untuk menanam janin itu. Sudah tidak ada urusannya untukku." Tolakku tidak suka dengan janin milik Lilian.


"Kau harus tahu semuanya. Kau satu-satunya orang yang tahu tugas pemimpin sepertiku. Kelak kau bisa menggantikanku sebagai pemimpin." Serunya merangkul pundakku untuk mengikuti langkahku.


"Aku tidak perlu tahu. Menjadi anggota saja sudah puas." Tolakku lagi.


"Menjadi pemimpin semua permintaanmu akan menjadi lebih utama dari yang lainnya. Raja sangat menyukai pemimpin." Bisiknya tertawa menakutkan di telingaku.


Aku memutuskan membantu Stella menanam janin itu di dalam pot. Memasukan janin itu ke dalam tanah dan memasukan biji berwarna merah di dalam genggaman tangan janin yang lengket itu. Menguburnya dan meletakanya di balkon agar terkena cahaya bulan. Stella mengucapkan mantra dalam pot itu tumbuhlah bunga yang menguncuk, lalu mekar dan menunjukan sebuah mutiara merah ke unguan. Bunganya yang sangat cantik sekali.


Kemudian Stella mengambilnya dan menarun biji itu dengan hati-hati di dalam sebuah kotak. Setelah itu Stella mengajakku menemui seorang wanita yang lumayan cantik. Stella memberikan biji itu dengan percuma. Aku lihat wanita itu nampak bahagia.


Setelah kembali pulang aku memaksa Stella menceritakan semuanya padaku tentang kebingunganku kenapa biji itu dia berikan secara pecuma pada wanita itu.


"Biji apa itu sebenarnya. Bagaimana cara menggunakannya?" Tanyaku penasaran.


"Itu adalah biji bunga iblis. Aku memberikan biji itu kepada Stefia yang 10 tahun belum dikaruniai anak. Dia sungguh ingin memiliki seorang anak. Setelah dia menelan biji bunga iblis itu, dia akan mudah hamil. Jika anaknya laki-laki, maka kita akan mengambilnya saat anak itu berumur tiga tahun dan menumbalkanya ke pada raja iblis. Tetapi jika anaknya perempuan, kita akan mngambilnya saat berumur 18 tahun. Kita akan menjadikannya ibu bagi para anak kegelapan (Iblis)." Jelasnya panjang lebar.


Jadi seperi itu, wanita yang tidak bisa memiliki anak (Mandul). Jika wanita itu menelan benih bunga iblis itu maka, dia akan bisa hamil dengan mudahnya. Sayangnya semua itu hanya tipuan, saat anaknya tumbuh dewasa kita akan mengambilnya secara paksa. Karena anak itu memang diciptakan untuk tumbal raja iblis yang kita sembah.


........~••«💙»••~........


Sudah genap tiga tahun ajubfokus bekerja dan berkumpul dengan angota sekte jubah merah sampai aku melupakan kebencianku pada Lilian sejenak. Kami (para anggota sekte jubah merah) mendatangi keluarga Stefia Hariston untuk mengambil anaknya. Tidak aku sangka cara mereka begitu kejam yaitu membunuh kedua orang tuanya. Lalu menyeret anak yang sudah berusia tiga tahun itu yang terus menangis tersedu-sedu.


Kami membawa anak itu ke mensen pemujaan kami, menelanjangi anak itu dan terlihat bahwa anak itu berjenis kelamin laki-laki. Stella membacakan mantra seketika lambang iblis bercahaya, kemudian munculah siluet hitam raja Iblis yang datang dengan cepat lalu menghilang. Anak itu juga menghilang bersama raja iblis dan menyisakan darah yang berceceran di atas batu. Aku syok melihatnya. Secepat itukah membunuhnya.


Sejak ritual mengerikan itu aku menjadi jarang berkumpul dengan anggota sekte jubah merah. Karena aku hampir muntah melihat kejadian menjijikan itu. Aku sempatkan melihat Allan lagi, dia terlihat semakin gagah dan tampan dengan brewok tipisnya. Di belakangnya ada wanita yang menyusulnya menuju ke parkiran kantor. Dia tidak lain adalah Lilian yang tengah hamil lima bulan.


Kenapa aku bisa kecolongan lagi. Tiga tahun tidak bertemu, Lilian sudah hamil lagi. Kali ini aku akan terang-terangan memusnahkan wanita itu. Wanita yang dengan polosnya merebut laki-laki yang aku cintai, bahkan membuatnya membenciku untuk selama-lamanya. Aku akan menghapus senyum itu dari wajahnya.


Aku mengarahkan mobilku mengikuti mobil Allan yang keluar dari parkiran kantor. Di jalan yang lumayan sepi aku menabraknya sedikit, berharap agar mereka mengalami kecelakaan ringan dan membuat Lilian keguguran. Namun, mobil Allan malah oleng dan menabrak truk yang berlawanan arah sampai mobilnya terpental keluar dari jalanan. Aku syok berat melihat kecelakaan mobil itu. Aku hanya berharap terjadi kecelakaan kecil, tetapi malah kecelakaan yang cukup parah.


Aku membawa mobilku segera pergi dari sana saat tempat kecelakaan itu bertambah ramai dan mobil polisi semakin banyak mengelilingi tempat itu. Semoga kau baik-baik saja Allan, jangan tinggalkan aku. Badanku gemetaran, aku menangis dalam ketakutan akan kehilangan Allan. Aku mengutuk diriku sendiri yang bertindak ceroboh sehingga mengakibatkan orang yang aku cintai sekarat.


........~••«💙»••~........