![[Sequel] Flower From The Hell](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-sequel--flower-from-the-hell.webp)
Sarah Sheika S. pov 3 /Anakku2/
(Maafkan aku yang baru up... hik hik.. up satu bulan sekali😭. Aku pikir aku bisa me-manage waktu, ternyata enggak bisa. mungkin aku harus hiatus deh, biar enggak bikin para pembaca kecewa... terus pertanyaannya, kapan bisa nulis lagi? Belum ada jawaban, yang pasti kalau inget waktu buat nulis, author bakal nulis lagi walaupun gak ada yang baca😢) Gak usah berlama-lama, silahkan baca🙃
...ANAKKU 2...
...~*🥀*~...
Aku mengajak anak itu keluar untuk makan bersama dengan Allan. Elian memilih banyak makanan yang dia sukai. Dia juga bicara banyak dengan Allan yang setia menanggapi omongannya. Aku lelah melihat kebahagiaan mereka berdua. Walaupun hanya Papa palsu, tetapi dia memerankan peran seorang ayah dengan sangat baik.
Kenapa aku harus mengasuh anak ini, ditambah lagi harus menyiapkan seribu wanita untuk tumbal. Berapa usia Elian sekarang, berapa tahun aku harus menunggunya sampai berusia 18 tahun. Sangat lama sekali. Aku sudah tidak sabar menantikan anak itu pergi menjauh dari kehidupanku.
"Ibu, Ibu, suapi! Hahaha, ayo suapin ibu..." panggilnya lalu duduk di pangkuanku. Aku langsung memelototinya yang berani duduk di pangkuanku. Aku tidak suka Elian memanggilku Ibu. Melihat wajahnya saja aku muak. Rasanya aku ingin melemparkan tubuhnya yang kotor itu ke jurang. Lihat! Wajahnya yang menyebalkan mengingatkanku pada Lilian. Wanita sialan itu.
"Ibu, ayo..., ayo..., suapi!" ucapnya lagi tidak sabaran. Rasanya aku ingin menjambak rambutnya dan melemparkannya ke lantai sekarang juga, hahh. Sayangnya, Allan malah menghentikanku. Dia seakan memberiku isyarat jika aku harus sabar dan berperilaku baik pada Elian. Cihh, hanya bunga iblis saja, kenapa aku harus memperlakukannya seperti ratu. Toh, setelah melahirkan anak itu dia juga akan mati.
"Cepatlah sayang, Elian sudah begitu lapar!" Allan menyuruhku menyuapi anak sialan ini. Jika tidak di luar, aku sudah menyiksanya tanpa ampun. Baiklah, kali ini aku akan memperlakukanmu seperti anakku sendiri. Tunggulah sampai di rumah, kau akan aku perlakukan seperti binatang.
"Iya ayo cepat ibu––ibu, aku lapar," rancaunya lagi dengan semangat.
Aku menyuapi Elian yang terlihat sangat senang menerima suapan dariku. Bahkan dia banyak bicara saat sedang makan. Tanpa sadar aku tersenyum, hatiku terasa ada serpihan kebahagiaan melintas saat melihat keceriaan Elian. Astaga, aku tidak boleh terbawa oleh suasana. Sesaat aku hampir lupa jika dia adalah anaknya Lilian yang harus aku siksa setiap hari dalam hidupnya. Aku tidak boleh lengah hanya karena tingkah polos bocah kecil ini.
"SARAH! Hai, lama tidak bertemu," sapa seorang wanita yang langsung duduk di kursi kosong di depan kami bersama seorang laki-laki. Aku ingat siapa wanita itu, dia adalah teman masa kecilku. Namanya Margaretha, kebetulan dulu kita sangat dekat dari taman kanak-kanak sampai SMA.
"Margaretha, lama tidak bertemu. Aku dengar kau pindah kota, kenapa bisa sampai di sini lagi?" sapaku balik yang sudah mengingat siapa wanita yang menyapaku.
"Aku baru saja menikah dan mengikuti suamiku tinggal di sini. Perkenalkan, ini suamiku namanya Jordan Smith." Margareta mengenalkan suaminya padaku. Aku menjabat tangan Jordan yang terulur padaku. Elian yang menyadari ada tangan besar mendekat, sontak dia berbalik dan memelukku. Dia seakan takut dengan orang asing, atau memang takut dengan orang asing. Dia sekarang sangat pemalu dan penakut, beda dengan Elian yang dulu. Elian yang pemberani dan pembunuh.
"Hallo, Jordan," sapa Jordan sambil mengenalkan namanya.
"Hai, aku Sarah Sheika dan ini Allan, suamiku," sapaku balik mengenalkan namaku dan Allan. Allan juga menjabat tangan Jordan dengan ramah.
"Kita jadi reuni di sini ya, hahaha. Sangat lucu! Akhirnya kalian berdua menikah, aku senang sekali. Cintamu akhirnya terbalas Sarah selamat ya, hahaha," ucap Margaretha tertawa senang sambil menepuk bahuku. Aku pun tersipu malu karena omongan Margaretha. Dari dulu Margaretha adalah teman curhatku. Margaretha sudah tahu jika aku sangat mencintai Allan sejak kecil. Namun, aku sangat takut untuk mengungkapkannya pada Allan. Sungguh sangat memalukan mengingat betapa bodohnya aku memendam cintaku begitu lama untuk Allan.
"Iya terima kasih, hahaha,” tawaku terkekeh geli.
"Apakah ini anak kalian? Astaga! Cantik sekali dan sangat lucu. Biarkan aku menggendongnya,” puji Margaretha sambil mengulurkan kedua tangan ingin menggendong Elian, tapi Elian malah menggelengkan kepala dan menyembunyikan wajahnya di dadaku. Kenapa dia sangat menyusahkan sekali.
"Dia takut padaku? Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu hahaha," bujuk Margaretha yang sangat ingin menggendong Elian. Namun, Elian tetapi saja tidak mau lepas dariku. Dia malah terisak ingin menangis.
"Hahh, padahal aku ingin menggendongnya. Sayang sekali ya,” imbuh Margaretha tampak kecewa. Aku ingat, Margaretha dari dulu sangat menyukai anak-anak. Sangat disayangkan Elian malah tidak menyukainya. Hahh, siapa yang peduli dengan anak ini, malah bagus jika dia tidak memiliki teman barang satu pun yang menyayanginya.
“Hahaha, dia sangat penakut. Jika sudah mengenal dekat, dia pasti akan terbiasa denganmu." Aku mengelus pundak Elian untuk menenangkannya yang ingin menangis. Aku senang, Margaretha tampak mengerti dengan apa yang aku katakan.
“Dia sangat pemalu seperti dirimu ya Sarah. Hahaha, sangat disayangkan aku tidak bisa memeluknya. Lihat, dia sangat lucu dan manis,” ucap Margaretha terlihat sangat menyukai Elian. Anak mengerikan ini siapa yang akan menyukainya. Hah, kalian semua tertipu dengan wajah manis dan imutnya.
“Maka kalian harus sering-sering bertemu agar bisa memeluknya,” tambahku.
"Tenang saja, nanti aku akan membuat anak yang tidak kalah manis untuk menemani anak kalian. Siapa namanya, aku tidak enak memanggilnya anak Kalian?” tanya Jordan yang sedari tadi diam. Allan juga dia sama diamnya menikmati makanannya. Aku dan Margaretha yang sedari tadi mengoceh berdua karena sudah lama tidak bertemu.
"Namanya Elian, Elian Hemswarth," jawab Allan bersemangat.
"Nama yang bagus. Eh, tunggu! Dia anak laki-laki?!" ucap Jordan tampak terkejut mengetahui jika Elian adalah anak laki-laki. Aku rasa banyak orang yang salah mengira jika Elian adalah seorang anak perempuan. Termasuk aku, dulu aku juga sempat tertipu dengan wajah manisnya.
“Iya, hahaha,” jawabku terkekeh geli.
“Astaga, aku pikir perempuan. Dia sangat cantik dan imut untuk ukuran anak laki-laki. Hahahaha, kita berdua tertipu ya Sayang,” imbuh Margaretha yang juga terkejut mengetahui jika Elian adalah seorang anak laki-laki.
“Dia masih kecil, sudah sepantasnya menggemaskan. Tapi kalau sudah tumbuh menjadi remaja mereka sudah tidak imut lagi,” tambah Jordan yang langsung paham dengan situasinya.
“Kau benar Jordan. Kalau masih kecil susah dibedakan laki-laki maupun perempuan.” Allan menjawab dengan penuh ramah. Tidak lupa senyum lebarnya tidak pernah luntur dari bibirnya.
Untuk ukuran Allan yang asli, dia tidak pernah tersenyum selebar itu. Namun, aku menyukainya. Aku selalu ingin Allan tersenyum lebar seperti itu untukku. Aku sudah tidak peduli jika yang ada di dalam tubuh Allan adalah orang lain, asalkan dia selalu ada di sampingku dan terus mencintaiku itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak akan melepaskannya lagi.
Cukup lama kami saling berbincang-bincang. Aku jadi tahu jika Margaretha tinggal tidak jauh dari tempat tinggalku berada. Dia memberikan alamat rumahnya sehingga aku bisa berkunjung kapan pun ke rumahnya. Bahkan dia juga mengundang kami untuk makan malam bersama di rumahnya. Untuk mengakrabkan diri lagi seperti dulu aku menerima tawarannya. Lagi pula Margaretha orang yang sangat baik, dia juga sangat mendukung hubunganku dengan Allan, jadi mungkin kami bisa menjalin persahabatan kembali.
...~*🥀*~...
Semenjak makan malam bersama dengan Margaretha kami semakin dekat. Margaretha yang sudah tahu rumahku juga sering mampir. Semakin lama Elian juga sudah bisa menerima kehadiran Margaretha. Aku bahkan sekarang disibukkan mengurusi Elian, sampai tugas mengumpulkan darah wanita untuk persembahan, Stella yang melakukannya beserta Allan. Mereka berdua menyuruhku fokus mengurus Elian yang sebentar lagi akan bersekolah, masuk ke PAUD.
Sampai sekarang walaupun aku bersikap manis kepada Elian di hadapan orang lain, akan tetapi di dalam rumah aku sering membentaknya sampai Elian menangis. Bahkan aku tega memukulnya saat ingin menyentuhku. Aku masih terbayang wajah Lilian di wajahnya. Walaupun Allan terus menyuruhku tidak menyiksa Elian, aku tetap saja tidak bisa. Aku merasa dendamku pada Lilian masih membara saat melihat wajahnya. Namun, terkadang hatiku juga terasa sakit saat melihat wajah Elian yang menangis. Ada apa dengan diriku sekarang, hah siapa yang peduli dengan anak itu.
Haish lelahnya, padahal aku hanya duduk-duduk santai sambil membaca buku, tetapi kenapa punggukku rasanya ingin remuk. Aku meregangkan otot-otot tangan dan tubuhku sejenak sebelum mengembalikan beberapa buku yang aku baca kembali ke rak buku. Tanpa sengaja aku melihat bunga berwarna unggu kemerahan yang ada di rak buku. Bunga Elian ini masih saja segar seperti biasanya. Bunga iblis memang penuh misteri. Warnanya yang indah penuh dengan ilusi. Kapan aku bisa melihat bunga ini layu, yang pasti, saat Elian mati.
Aku meletakkan buku bacaanku di rak buku di samping bunga itu. Bunga iblis yang menandakan akan kehidupan seorang anak dari darah iblis. Aku hampir saja lupa, sudah waktunya menjemput Elian di sekolah. Aku pergi sesegera mungkin menjemput anak sialan itu untuk kembali ke rumah.
Setelah cukup lama menjemput anak sialan itu, aku bergegas mandi. Udaranya sudah sangat dingin. Sebentar lagi akan musim dingin. Aku harus secepat mungkin menyiapkan segala kebutuhan untuk musim dingin mendatang. Aku harus bergegas menyiapkan kayu bakar di perapian. Namun, langkahku dihentikan oleh suara yang begitu menusuk telingaku.
“Ibu.... Ibu... Ibu... Lihat! Lihat ini ibu. Aku mendapat bintang empat. Lihatlah ibu! Ibu menjadi Suparman! Hahaha,” seru Elian tergesa-gesa berlari menghalangi jalanku. Dia juga menunjukkan hasil gambar abstrak khas anak TK ke hadapanku. Gambar yang sangat jelek sekali.
“DIAM! Berisik sekali kau anak sialan. Jangan pernah menggambarku menjadi gambar menjijikkan seperti itu. SANA PERGI!” bentakku sambil mendorong Elian menjauh dariku sampai tersungkur di lantai. Elian tampak terkejut dan matanya mulai dipenuhi air mata. Wajah sedihnya sama dengan wajah Lilian. Wajah menjijikkan itu yang tidak aku suka. Rasanya aku ingin sekali merusak wajah itu.
“Tapi.... Ibu... Aku mendapatkan bin—“ ucap Elian yang membuatku tersentak dari lamunanku mengingat wajah Lilian.
“Pergi ke kamar sekarang!” perintahku tidak ingin mendengar suara Elian yang bisa membuatku menjadi iba.
“Ibu... Kenapa ibu––....” gumam Elian yang langsung aku bentak.
“PERGI!” bentakku lagi dengan keras sampai Elian terlonjak kaget. Aku lihat matanya yang merah penuh air mata sudah mulai tumpah. Wajahnya juga sudah berkerut ke dalam. Aku tahu sebentar lagi dia akan menangis.
“Hikks... Hikks... HUWAAA IBU... IBU.... IBU JAHAT! Hikks...hikks...” tangis Elian berteriak keras mengataiku. Sontak hatiku semakin terbakar emosiku.
“Ibu...Maaf....hikks...hikks...Ibu...Maaf....” tangisnya ketakutan seakan aku akan menamparnya bertubi-tubi seperti biasanya.
“Ibu.... Hikks... Ibu...” tangisnya lagi menatapku dengan wajah sedihnya. Entah mengapa perasaanku terasa berat. Sampai tanpa sadar tanganku mengepal berusaha menahan gejolak yang aneh dalam hatiku.
“Dasar anak menyebalkan!” dengusku berlalu pergi meninggalkan Elian yang sedang sedih sendirian di ruang tamu.
Setelah persiapan musim dingin selesai bel pintu berbunyi, menandakan ada tamu yang sedang berkunjung. Aku bergegas membukanya, ternyata Margaretha yang datang. Kami berdua berbincang-bincang bersama seakan kami kembali seperti dulu. Sahabat baik yang sudah lama terpisah dan kini bersatu kembali. Sampai aku melihat Elian turun dari lantai atas. Dia yang menyadari kehadiran Margaretha langsung berlari dan memeluk Margaretha.
“Bibi Margaretha! Hahahaha,” panggil Elian langsung memeluk Margaretha dengan sayang. Kenapa, aku merasa iri dengan pelukan itu. Pelukan yang terasa begitu dipenuhi kebahagiaan. Sejenak aku mengingat kenangan-kenangan yang terlintas saat Elian berusaha menyentuhku, di saat itulah aku selalu menepisnya.
“Hahaha, Elian!” Margaretha juga membalas pelukan Elian dengan senang. Aku tidak ingin melihatnya lagi.
“Ibu! Ibu, aku lapar. Ayo, makan!” ucap Elian menarik-narik ujung dress yang aku kenakan. Wajahnya berekspresi memohon padaku. Beginilah Elian, setiap kalian aku membentak dan menyakitinya. Dia akan menangis dan berteriak padaku. Setelah itu dia akan bersiap seperti biasanya padaku, lengket dan manja. Seperti siksaan yang aku berikan tidak ada artinya baginya.
“Hahaha, kau sangat lapar ya, Elian. Hahaha,” seru Margaretha mengusap rambut Elian dengan gemas. Sejenak aku kembali lagi dari lamunanku.
“Hahaha aku belum masak, biarkan aku masak dulu. Margaretha, tolong jaga Elian sebentar ya,” ucapku ramah seperti biasanya.
“Kita kan bisa masak bersama, ya kan Elian!” ajak Margaretha yang membuatmu terkejut. Aku tidak ingin merasakan perasaan aneh saat berada di dekat Elian dan Margaretha lagi. Perasaan yang membuatku iri dengan kedekatan mereka berdua. Aku tidak ingin berhenti menyiksa Elian.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kalian bermainlah di ruang tengah. Elian pasti belum puas bermain bersama denganmu kemarin, hahaha,” paksaku agar mereka bisa pergi menjauh dariku. Aku bisa memasak dengan tenang, tanpa gangguan dari mereka berdua.
“Baiklah, Elian ayo.... Hari ini kau main apa?” ucap Margaretha sambil mengajak Elian berjalan ke ruang tengah. Lamat-lamat aku mendengar obrolan mereka saat menjauh dariku. Hahh, mereka tampak sangat akrab.
“Apa ya? Aku ingin menggambar lagi,”
“Wah, ide yang bagus,”
Setelah selesai memasak untuk makan malam bersama Margaretha aku pergi ke ruang tengah menghampiri mereka berdua yang tengah asih bersenda-gurau. Mereka terlihat sangat akrab sekali.
“Kau suka menggambar Elian?” tanya Margaretha yang menghentikan langkahku untuk mengacaukan kegiatan mereka. Aku malah berbalik dan bersembunyi dibalik tembok untuk mendengarkan obrolan mereka yang sebenarnya tidak penting bagiku. Namun, kenapa aku sangat penasaran akan obrolan mereka berdua.
“Suka!” jawab Elian spontan yang masih memoles pensil warna di gambarnya.
“Suka gambar apa?” tanya Margaretha yang masih asyik mengamati gambar Elian.
“Gambar ibu!” jawab Elian mendongak melihat Margaretha yang tersenyum ramah padanya. Spontan hatiku terasa terbelah menjadi dua. Apa maksud Elian bicara seperti itu.
“Kenapa suka gambar ibu?” tanya Margaretha lagi seakan belum puas dengan jawaban Elian.
“Karena ibuku cantik! Hehehe,” jawab Elian spontan dengan wajah bahagia. Astaga, kenapa rasanya senang sekali saat ada seseorang yang memujiku. Apa lagi dari mulut anak kecil yang sangat menggemaskan seperti Elian.
“Iya ibumu cantik, hahaha. Makanya cantiknya nurun ke kamu. Hahaha, lucu sekali kamu.” Margaretha juga menanggapi omongan Elian dengan baik.
“Bibi Margaretha, lihat gambarku! Bagus tidak?” Elian menunjukkan hasil gambarnya ke Margaretha. Dia sangat bersemangat mendengar jawaban dari Margaretha.
“Bagus! Wah, sangat bagus! Elian pandai sekali menggambar,” Puji Margaretha melihat gambar Elian yang tampak aneh itu.
“Bibi yakin kalau gambar ini bagus, kalau bagus ibu pasti juga menyukainya. Tadi gambarku jelek, ibu tidak suka. Hari ini aku harus gambar ibu lebih cantik lagi.” Elian tampak senang mendengar jawaban dari Margaretha. Berbeda denganku, kenapa rasanya perasaanku bercampur aduk menjadi satu. Rasanya sangat tidak nyaman. Antara sedih, menyesal, bahagia, semua itu bergejolak memenuhi hatiku. Aku sampai tidak bisa membedakan antara perasaan benci dan sayang untuk Elian.
“Iya Elian, gambarmu sangat bagus, ibumu pasti sangat menyukainya. Ini ibu sedang apa? Dan ini gambar apa?” tanya Margaretha mengomentari gambar yang Elian buat.
“Lihat, ini ibu sedang masak ikan! Ikan bakar madu kesukaanku. Masakan ibu selalu enak. Aku suka semua masakan ibu. Dan ini gambar aku dan papa sedang bermain mobil. Hari ini ibu masak sup kepiting, bibi harus coba. Supnya enak sekali bibi...” jelas Elian dengan antusias.
Kenapa seakan keluarga kami sangat lengkap di mata Elian. Kenapa tanganku gemetaran, aku melihat tanganku yang selalu terlintas kenangan saat tangan ini memukul Elian. Kenapa aku jadi lemah seperti ini. Aku tidak boleh lemah hanya karena sedikit godaan dari bocah tengil seperti Elian.
“Iya iya... Kamu sudah lapar ya,”
“Iya bibi, aku mau tunjukan gambarku ke ibu, ibu pasti suka.” Jawab Elian semangat. Dia berdiri dengan memegangi gambarnya yang dibanggakan. Senyum manisnya tidak pernah luntur dari bibir kecilnya.
“Iya ayo.... Sarah!” seru Margaretha terkejut. Aku pun juga sama terkejutnya saat kami saling berpapasan.
“Ahh Margaretha, kau mengagetkanku. Padahal aku ingin mengajak makan malam bersama,” ucapku berusaha bersikap normal kembali.
“Iya ibu, aku sudah lapar. Ibu... Ibu... Ibu... Lihat gambarku! Bagus kan' Bu? Ini aku dan papa sedang bermain mobil sambil menunggu ibu masak ikan bakar madu. Ibu suka kan... Ibu suka kan?” ujar Elian dengan antusias sambil mengulurkan gambarnya padaku. Aku langsung menerima dan tersenyum manis pada Elian. Seakan aku sangat senang mendapatkan hadiah gambar abstrak dari anakku sendiri.
“Hahaha, gambar yang bagus. Elian memang pintar!” ucapku memuji Elian sambil mengelus rambutnya pelan. Elian tampak tersenyum bahagia mendengar pujianku.
Elian, padahal selama ini aku selalu menyiksamu. Akan tetapi kenapa kau tidak menunjukkan sikap perlawananmu padaku. Sebenarnya aku seperti apa di dalam pikiranmu selama ini. Kenapa kau membuatku bimbang Elian. Dasar anak sialan, berani sekali kau mengacaukan hati dan pikiranku.
“Akhirnya ibu suka gambarku!” seru Elian senang lalu memeluk perutku dengan erat.
“Kenapa masih di sini, ayo kita makan malam bersama!” Suara bas Allan yang mengejutkan kami semua. Ternyata Allan sudah pulang.
“Papa sudah pulang, yeee!” Elian langsung berteriak senang dan menghampiri Allan.
“Hahaha iya sayang, sini Elian anak papa yang paling manis.” Allan menggendong Elian dan mereka berdua bercanda bersama. Kenapa aku sangat bahagia merasakan kedamaian keluarga kecil yang begitu hangat.
“Elian manis sekali!” gumam Margaretha terkekeh geli melihat Elian yang sedang bercanda dengan Allan.
“Hahaha jangan iri, sebentar lagi kau juga akan segera memiliki anak seperti kami.” Aku mengelus pundak Margaretha.
“Hahaha, aku baru mengandung 5 bulan. Masih lama untuk menunggu anak kami lahir,” seru Margaretha terkekeh geli sambil menunjukkan perutnya yang buncit padaku. Aku langsung mengelusnya dengan lembut.
“hahaha aku akan menantikan kelahiran anakmu. Ayo makan malam bersama di sini sampai Jordan menjemputmu,” ucapku mengajak Margaretha untuk makan malam bersama sebelum Jordan menjemputnya pulang.
“Baiklah!” sahut Margaretha yang dengan senang hati menerima ajakanku untuk makan malam bersama.
...~*🥀*~...