![[Sequel] Flower From The Hell](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-sequel--flower-from-the-hell.webp)
..."CERITAKU2"...
..........~•«★»•~..........
Dari kejadian penculikan kemarin Elian malah bersikap dingin padaku. Mengataiku berselingkuh dengan Erisha. Untuk apa aku berselingkuh dengan wanita ****** pembawa penyakit seperti itu. Yang selama ini aku cintai adalah dirinya, aku mendekatinya untuk mendapatkan cintanya bukan pacarnya. Kenapa percintaanku menjadi serumit ini. Padahal aku baru saja merasakan yang namanya cinta, besar sekali cobaannya.
Aku terkejut saat Elian yang marah dan menjauhiku tiba-tiba mendatangiku di kantor polisi. Jika bukan karena bawahanku Sam yang memberitahuku ada anak manis mencariku, aku tidak akan tahu jika Elian datang mencariku. Dia datang mengatakan tentang sekte jubah merah yang akhir-akhir ini meresahkan. Aku mengeratkan tanganku saat dia mengatakan jika dirinya ingin membalas dendam pada sekte jubah merah yang telah membunuh ibunya. Aku marah pada mereka yang juga telah menjadikan Elian sebagai tumbal. Untungnya bawahanku Jasmine yang telah aku tugaskan memata-matai sekte itu telah menyelamatkan bidadariku walaupun nyawanya sendiri adalah taruhannya.
Setelah dia memberitahu rute jalan yang acak aku langsung bergegas mencari markas mereka. Aliran agama penyembah setan selalu merugikan banyak orang, menggunakan manusia sebagai tumbal mereka. Setelah berhasil menyatukan jalan aku dan tim yang aku bentuk untuk menuntaskan sekte itu bergegas menuju ke lokasi. Sayangnya kami terlambat, mereka sudah kabur. Hanya menyisakan satu korban dan beberapa barang untuk pemujaan. Korbanya kami bawa untuk di otopsi dan menyelidiki identitasnya sebelum dikembalikan ke rumah keluarganya.
Barang-barang di sana aku suruh mengumpulkan menjadi satu mencari sidik jari dan petunjuk siapa saja yang tergabung dalam sekte itu. Sayangnya tidak ada sidik jari yang tertempel di barang yang satu pun. Aku menyuruh bawahanku memfoto setriap ruangan yang ada di sana dan mendenahkannya juga. Membakar semua barang-barang yang tersisa juga. Kemudian mencari hari untuk meruntuhkan bangunan yang membuat banyak masalah itu. Sampai aku sudah mendapatkan panggil dari pihak kontruksi jika mereka sudah siap berangkat menuju ke lokasi yang aku minta.
Setelah selesai menerima telfon aku dikejurkan oleh Elian yang datang bersama wanita tua dan seorang anak. Elian nampak pucat dengan pakaian penuh darah. Dia terlihat kelelahan. Siapa yang tega membuat Elian seperti itu. Aku berusaha ingin membantunya, tetapi dia malah mengatakan sesuatu yang tidak aku mengerti. Dia pergi menjauh, melaju dengan kecepatan penuh meninggakkan aku yang ingin mengejarnya.
Aku menghampiri wanita tua itu dan anak laki-lakinya. Membawanya keruangan tunggu untuk membuat mereka tenang karena sedari tadi mereka menangis. Setelah tenang, wanita tua yang bernama Margaretha Smith menceritakan semuanya. Menceritakan tentang anaknya Orlan Smith yang berubah menjadi monster setelah kembali dari sekte sesat jubah merah itu. Anak perempuannya yang bernama Everyn Smith dan suaminya Jordan Smith menjadi korban dari Orlan yang berubah menjadi monster. Berarti benar dugaanku pembunuhan sadis yang dilakukan kepada para wanita itu adalah ulah Orlan. Aku jadi teriengay akan Elian yang diculik oleh Marco, mungkin saja monster itu yang menyelamatkan Elian. Aku tidak menyangka sainganku adalah seorang monster.
Aku menanyakan kepada nyonya Margaretha ke mana Elian pergi agar aku bisa menyusulnya. Dia hanya memberitahuku tujuan Elian pergi bukan ke mana Elian pergi. Dia bilang Elian pergi untuk menemui seorang dukun. Aku harus berpikir dua kali mencari kemana kira-kira Elian pergi. Apakah aku harus mendatangi setiap rumah dukun di kota yang besar ini, sangat membuang waktu. Jika dipikirkan lagi Elian pergi mencari seorang dukun untuk menyelamatkan Orlan. Nyoya Margaretha bilang jika Elian mengurung Orlan di rumah, yang berarti Elian akan kembali ke rumah Orlan. Kadi ini maksud dari apa yang dikatakan Elian. "Jika aku tidak kembali, kau tahu ke mana mencariku!"
Aku bergegas menuju ke rumah Orlan bersamaan nyonya Margaretha dan beberapa bawahanku. Maggie, anak itu masih ada di kantor karena perlu penjagaan. Sampai di rumah Orlan aku menemukan tiga mayat memakai jubah merah. Mereka mati dengan bekas luka yang sama. Ada luka di dadanya, tepat menembus ke jantungnya. Apa cara seperti ini yang bisa membunuh para anggota sekte jubah merah itu. Aku menyuruh bawahanku membawa mayat mereka, sedangkan aku pergi ke kamar Orlan di mana Orlan di kurang.
Setelah sampai di kamar Orlan, aku dikejutkan oleh kamar yang kosong. Nyonya Margaretha juga nampak terkejut karena anaknya tidak ada di sana. Ada bekas darah di kasur aku mengambil sprei dan memberikannya kepada bawahanku untuk diteliti. Aku heran kenapa dia bisa kabur padahal dia di rantai di kamarnya sendiri. Rantainya juga putus dan rusak. Sebenarnya seberapa kuat anak itu. Aku menelfon detektif Marx, menyuruhnya dan bawahanya untuk mencari keberadaan Orlan. Bawahanku yang ikut denganku aku suruh kembali ke kantor untuk meneliti mayat dan darah di seprei kasir itu.
Aku menunggu Elian kembali bersama nyonya Margaretha yang memberikanku kopi dan beberapa cemilan yang ada dirumahnya. Sampai malam Elian juga tidak kunjung datang. Bahkan hujan turun dengan derasnya dan petir sudah menggelegar berkali-kali. Kemana anak itu pergi, aku sangat mengkhawatirkanya. Nyonya Margaretha juga tidak tahu ke mana Elian pergi. Aku juga belum mendapat kabar tentang keberadaan Orlan dan Elian. Hanya ada kemungkinan Orlan hilang, dia pasti pergi mencari keberadaan Elian. Jika Elian adalah sasaran Orlan dan sekte jubah merah itu, kemungkinan Elian akan mereka bawa. Jika mereka belum pindah tempat Elian pasti dibawa ke mensen itu.
Elian belum pulang sampai selarut ini berarti memang benar jika Elian telah mereka tangkap dan menjadikannya tumbal. Aku berdiri dari langkahku meningggalkan nyonya Margaretha yang terkejut karena kepergianku. Aku mengatakan padanya, jika aku akan pergi ke mensen jubah merah memastikan Elian ada di sana atau tidak. Namun, dia bersikeras ikut, karena dia ingin menyelamatkan anaknya walaupun nyawanya adalah taruhannya. Aku berusah menyuruhnya tetap di kantor bersama anaknya saat aku tiba di kantor. Untuk memastikan keamanan nyonya Margaretha, tetapi dia malah ingin ikut dengan kami. Aku mengijinkannya ikut tetapi dia harus tetap berada di dalam mobil. Dia mengangguk mengerti.
Aku mengerahkan banyak polisi untuk mengepung mensen itu lagi meskipun semua ini hanya asumsiku jika mereka belum pindah dari mensen itu. Jika mensen itu kosong, aku hanya bisa mengandalkan detektif Marx untuk mencari keberadaan Elian. Sesaat sebelum berangkat detektif Marx menghubungiku jika mobil Jordan yang di pakai Elian menuju ke sana, bahkan tidak hanya satu mobil. Ada 17 mobil dengan laju kecepatan sama beriringan menuju ke mensen itu. Semua itu menguatkan dugaanku jika Elian dan Orlan ada di sana.
Tengah malam di mana bulan purnama para pasukan polisi berjejer dengan senjata masing-masing bersiap untuk berperang. Mereka dengan tegas dan patuh mengikuti intruksiku. Kami mulai menuju ke mensen yang ingin aku hancurkan. Setelah sampai di sana, benar saja dugaanku. Banyak mobil terparkir di sana. Dari mobil yang aku lihat mobil mereka sangat mewah. Mereka berarti bukan orang sembarangan.
Di sana, di dalam krumunan orang yang sibuk melarikan diri aku melihat Elian terkapar tidak berdaya bersimpah darah. Dia menangis dan terus menangis. Tangan yang terpaku tidak dapat bergerak itu dia tarik paksa sampai darah berhampuran keluar dari tangannya. Rasa nyeri dan ngilu beradu menjadi satu. Aku yang setengah sadar langsung mendekatinya, membantunya lepas dari belenggu ditangannya. Dalam kekawatiran aku ingin membawanya keluar dari sana, tetapi dia malah mendorongku menjauh dan turun dari batu persembahan itu sampai jatuh. Jeritan kesakitannya sangat pilu ditelingaku.
Aku berusaha menenangkannya yang menangis dalam kesakitan. Sayangnya ditolaknya lagi. Dia malah mendorongku dan mengambil belati dari seorang pengikut aliran sesat yang tidak asing di mataku. Dia Sarah Sheika, ibu angkatnya Elian. Aku tidak menyangka dia rela menjadikan Elian sebagai tumbal. Aku langsung tersadar dari pandanganku pada Sarah dan berlari mencari Elian yang sedang emosi membawa belati. Ke mana perginya Elian, Kenapa cepat sekali. Padahal tubunya penuh darah dan wajahnya sudah pucat sekali, tetapi dia masih kuat berlari. Sampai aku berhenti di ruangan yang pintunya terbuka, aku melihat Elian yang sedang mengancam seorang wanita memakai jubah merah.
Elian nampak marah dan emosi padanya. Aku hanya diam saja melihatnya dari ambang pintu. Aku membiarkan Elian menyiksanya karena dia juga sudah menyiksa Elian. Mereka telah membuat Elianku terluka, biarkan Elian sendiri yang menghukumnya bahkan membunuhnya. Elian menghujamkan pisau ke arah wanita itu yang sudah tidak bernyawa berkali-kali dengan emosi. Aku menghentikan tangannya dan menari pisau dari Elian yang terus menangis histeris. Dia merengek-rengak padaku untuk memberikan pisau itu kembali padanya. Aku tetap tidak memberikannya dan menyimpan pisau itu di sabukku.
Tiba-tiba nyonya Margaretha datang dan memeluk Elian yang memangis sesenggukan. Bukannya aku sudah menyuruhnya untuk tetap diam di dalam mabil, dia membuat dirinya sendiri dalam bahaya. Elian nampak frustasi bahkan suaranya terdengar pilu. Elian merancau terus menerus tentang Orlan. Aku lihat matanya sudah tidak fokus lagi memandang ke satu arah, Elian terlihat mulai depresi.
Dalam tangisnya yang pilu dia menatapku sekilas lalu dengan sigap merai pisau yang aku simpan di sabuk kiriku. Dia dengan langkah tertatih menahan sakit pergi dari kami untuk mencari Orlan. Seperti kelinci yang cepat sekali kabur, begitulah Elian. Cepat sekali Elian menghilang, sampai kami bertemu kembali di lorong depan aula persembahan tadi. Dia menatap sekilas aku dan nyonya Margaretha, lalu pergi berbalik membelakangi kami. Dia terlihat mengendus-mendus bau mencari sesuatu. Sampai kami berjalan ke luar dari mensen. Aku terus saja menariknya dan menyuruhnya tenang, tetapi dia terus saja mendorong tubuhku menjauh. Dia bahkan Membentakku berkali-kali. Elian kenapa kau begitu memilukan, aku tidak kuat melihatmu seperti ini.
Kami bertiga dikejutkan dengan mayat bawahanku yang terjatuh dari lantai atas diikuti Orlan yang turun dari sana juga. Dia mengulurkan sangatnya yang dipenuhi darah ke arah Elian untuk mengajaknya pergi bersama. Sontak aku menghadangnya agar dia tidak bisa menyakiti Elian dan membawanya pergi. Dia terlihat marah dan menyerang ke arahku. Aku balik menyerangnya. Tubuhku sampai dilempar beberapa kali sampai membentur tembok dan pot tanaman liar di sana. Dia sangat kuat sekali bahkan kuku-kukunya sangat tajam menembus kulit pundakku. Pukulannya bisa meremukan tulang rusukku. Sunggu sakit sekali. Sampai aku bisa memukul dia balik, tetapi percuma saja dia terlihat tidak kesakitan sama sekali.
Aku tetap berusaha melawannya dengan sekuat tenaga untuk menjatuhkannya. Sampai dia berhasil menjatuhkanku dengan menarik tanganku dan menghempaskanku ke lantai yang membuatku sedikit muntah darah. Dia mencekikku, tiba-tiba nyonya Margaretha datang membantuku. Dia memukul punggung Orlan beberapa kali dengan balok kayu yang tidak kecil ukurangnya. Orlan berbalik dan menatap nyonya Margaretha dengan amarah. Orlan menggempaskan nyonya Margaretha sampai membentur dinding. Elian yang jauh di sana dengan nafas tersenggal-senggal menendang Orlan dan mendudukinya. Dia langsung menghujamkan belatinya yang kotor ke dada Orlan. Tepat ke jantung Orlan sampai dia muntah darah dengan derasnya.
Aku mencoba berdiri dan menghampiri Elian, tetapi langkahku terhenti oleh nyonya Margaretha yang menyuruhku tetap diam. Dia menahan tagisnya dalam diam mengamati anaknya dan Elian yang sama-sama diliputi kesedihan. Elian menangis histeris sambil memangku pundak Orlan. Orlan terlihat hanya tersenyim tipis dan mengelus pipi gemuk Elian. Kata-kata cinta, duka dan perpisahan bercampur menjadi satu. Cinta mereka sirna sampai di sini. Inilah yang dimaksud nyonya Margaretha, dia tidak ingin mengganggu momen berpisahan antara mereka berdua yang mengharukan. Elian terus saja menangis histeris memeluk tubuh dan kepada orlan dengan erat. Tubuh yang tidak bernyawa itu terus digoyangkan beberapa kali seirama dengan tangisan yang menyakiti telingaku. Elian merancau berkali-kali menyuruh Orlan yang sudah mati untuk segera bangun.
Aku mendekatinya karena tidak tahan melihat Elian yang menangis pilu seperti itu. Aku menariknya menjauh dari tubuh Orlan yang sudah tidak bernyawa. Elian terus merancau dalam tangisnya yang tiada henti. Mendorongku dan merangkak berkali-kali mendekati tubuh Orlan seakan tidak ingin berpisah darinya. Aku tidak kuasa membendung air mataku untuk jatuh, aku usap air mataku dengan kasar. Sampai aku menariknya dengan kuat dan menggendongnya pergi menjauh dari sana. Elian terus memukul-mukul tubuhku untuk tidak menisahkan mereka berdua. Aku sudah tidak tahan dengan rasa sedih yang membuat dadaku sesak. Tenanglah Elian, mungkin sebentar lagi kau bisa melupakannya. Tuhan pasti akan menguatkan hatimu di saat kau kehilangan seseorang.
Aku menutup buku laporan kasus tentang Elian. Memijat kepalaku yang penat. Sudah cukup aku memikirkan semua itu. Mereka sudah mati dan sekte mereka sudah hancur. Mereka tidak akan kembali lagi untuk mengusik hidup Elian. Yang harus aku pikirkan sekarang adalah bagaimana menyembuhkan Elian dari depresinya atas kehilangan Orlan. Orlan, lelaki seperti apa dirimu sampai Elian sangat mencintaimu. Bisakah aku seperti dirimu di mata elian?
"Komandan! Anda tidak pulang, ini sudah larut malam. Kasihan kekasih anda menunggu di rumah." Panggi bawahanku yang mengingatkanku untuk segera pulang. Kasihan Elian pasti belum makan malam karena aku belum pulang, aku harus bergegas pulang.
"Aku sedang bersiap untuk pulang." Jawabku berdiri dari kursi dan mengambil jaket. Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruanganku untuk segera pulang menemui seseorang yang menungguku di rumah.
..........~•«★»•~..........