![[Sequel] Flower From The Hell](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-sequel--flower-from-the-hell.webp)
Sarah Sheika S. Pov 2 /Bunga Iblis 2/
..."BUNGA IBLIS"...
........~••«💙»••~........
Tepat satu tahun kami akan melakukan persembahan dengan seorang wanita sebagai tumbalnya. Ritual berjalan lancar seperti biasanya. Setelah ritual itu berakhir dan semua anggota yang hadir pergi meninggalkan aula persembahan. Aku memanggil raja iblis lagi. Raja iblis datang dengan suara gemuruh yang menakutkan.
"Ada apa kau memanggilku lagi, pengikutku?" Tanyanya dengan seringai lebar keluar dari asap hitam yang tebal.
"Saya menanam bunga iblis. Dia anak laki-laki yang manis dan cantik. Dia bisa melihat hantu dan gemar membunuh orang. Aku ingin menghadiahkan anak itu pada anda." Ucapku bersujud dihadapannya.
"Makanan yang lezat!" Tuturnya menjilat gigi-giginya yang runcing tanda masih kelaparan.
"Aku sudah berusaha menanam bunga iblis untuk mendapatkan anak perempuan untuk dipersembahkan pada yang mulia raja, tetapi saya masih gagal. Aku mohon yang mulia kabulkan keinginanku, sebagai persembahan akan aku berikan anak itu untuk anda." Kataku mememohon keinginanku pada sang raja.
"Saya mohon yang mulia raja!" Mohonku menangis sedih dihadapannya.
"Baiklah, apa permintaanmu? Ingat, jika kau berbohong nyawamulah taruhannya. Menjadi budakku untuk selama-lamanya." Serunya yang membuatku senang.
"Saya mengerti yang mulia. Aku ingin mendapatkan hati, cinta, dan tubuh Allan Hemswarth. Laki-laki yang sangat saya cintai. Sekalipun jiwa saya bayarannya." Pintaku padanya dengan antusias.
"Bawa laki-laki itu padaku. Aku akan menuruti semua keinginan pengikutiku yang setia." Ucapnya menyentuh daguku dengan kuku hitam dan panjangnya. Tidak lupa seringai hitam itu masih terlihat jelas di mataku, sungguh menakutkan.
"Baik yang mulia. Terimakasih atas kebaikan yang mulia raja." Kataku berterimakasih sambil menutup mataku karena ketakutan melihat seringainya.
"Kemudian bawa anak itu padaku!" Ucapnya sebelum menghilang tanpa bekas.
Akhirnya aku berhasil membujuk raja iblis. Memang benar, raja iblis sangat bermurah hati pada pengikutnya. Stella menghampiriku menepuk bahuku dengan senyum lebar yang tidak pernah luntur dari wajahnya.
"Selamat ya, kau berhasil!" Seru Stella memberiku selamat. Sekarang tinggal langkah terakhir. Membawa Allan ke mensen ini untuk menghapus ingatan dan cintanya pada Lilian. Selanjutnya Allan akan aku miliki untuk selama-lamanya.
"Stella, bantu aku membawa Allan ke sini!" Pintaku pada stella.
"Mudah saja, ayo lakukan!" Serunya bersemangat pergi.
........~••«💙»••~........
Aku dan Stella mencari waktu dan tempat yang tepat untuk menculik Allan. Aku ingat sebentar lagi ulang tahun Allan yang ke 35 tahun. Bagaimana jika aku menculiknya di hari paling spesial dalam hidup Allan. Ide yang sangat bagus.
Sore hari di hari ulang tahun Allan aku menunggunya di mobilku bersama Stella. Aku melihat di sebrang jalan Allan yang sedang bertarung dengan beberapa anggota jubah merah suruhanku untuk menangkap Allan. Allan memang laki-laki yang tangguh, mendapat beberapa pukulan dari lawan masih bisa bangkit melawan. Laki-laki yang sempurna untuk dimiliki. Setelah Allan dipukul mundur, mereka menyuntikan bius pada Allan sampai Allan sempoyongan dan ambruk. Allan pingsan dan dibawa masuk ke dalam mobilku.
Hujan turun tiba-tiba membasahi jalan dan mobilku. Mendung yang sedari tadi berkumpul akhirnya menurunkan hujan saat aku bisa mendapatkan Allan dalam genggamanku. Apakah langit mendukung perbuatanku. Aku membawa Allan ke mensen kami untuk melakukan ritualnya. Aku ingin raja iblis menghapus ingatan, memberikan ingatan palsu padanya.
Aku menyuruh mereka meletakan tubuh Allan di atas batu altar dan merantainya agar tidak dapat kabur dari sana. Kemudian mantra yang menggema di seluruh ruangan terdengar menakutkan. Raja Iblis datang memenuhi panggilanku.
"Rajaku dialah yang aku cintai." Ucapku menunjuk Allan yang mulai sadar dihadapanku.
"Hanya demi cinta kau rela menjual jiwamu." Seru raja iblis yang berusaha menggoyahkan tekatku.
"Iya. Aku ingin dia menjadi milikku sepenuhnya." Kataku mantap.
"Anak muda, bagaimana denganmu, apakah kau bersedih menberikan cintamu pada Sarah Sheika.". Tanya raja iblis pada Allan yang sudah sadarkan diri.
"Tidak! Sampai matipun aku tidak akan pernah mau bersama wanita licik dan kejam itu. Tidak akan pernah." Tolak Allan yang membuatku sakit.
"Sebenci itukah kau padaku Allan. Hanya demi Lilian kau memutuskan persahabatan kita. Melukai hatiku yang sepenuhnya mencintaimu."Seruku menangis dihadapannya.
"Kau telah berusaha membunuh wanita yang aku cintai dan anakku. Aku tidak menyangka kau wanita yang begitu kejam!" Cibir Allan membuatku terbakar emosi. Aku tidak ingin kalian bahagia, tidak akan pernah. Kalian harus menderita karena berani menyakiti hatiku. Ayahku, ibuku, sekarang sahabat sekaligus cintaku berani menyakitiku. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka hidup dengan tenang.
"Lihat, dia tidak ingin bersamamu." Cibir raja iblis padaku.
"Jika kau tidak ingin bersamaku, maka kau juga tidak boleh bersama Lilian. Kau berani menyakiti hatiku, maka rasakan pembalasanku. Rajaku tolong hilangkan ingatan dan cintanya pada Lilian dan berikan kenangan palsu padanya" Pintaku pada raja iblis dengan emosi yang meluap-luap.
"Menghilangkan ingatan akan kembali lagi. Sedangkan menghilangkan cinta itu tidak akan mungkin. Karena cinta adalah sumber kekuatan dari manusia." Ucap raja iblis yang mebuatku terkejut. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan Allan.
"Tapi aku sungguh ingin memilikinya!" Mohonku bersujud di depan raja iblis.
"Aku akan melakukan apa yang aku bisa! Tapi, dia akan sangat berbeda dengan apa yang kau harapkan. Namun, dia akan sangat menyayangimu." Seru raja iblis yang membuatku mendongak menatap keberadaannya. Aku sunggu sangat senang rajaku berbaik hati mengabulkan permintaanmu.
"Aku mengerti!" Kataku semangat untuk segera mendapatkan Allan, laki-laki yang sangat aku cintai.
Secepat kilat raja iblis menusuk jantung Allan, mebuat Allan kesusahan bernafas. Darah Allan muncrat sampai mengenai wajahku yang terkejut. Urat-urat diwajahnya terlihat jelas. Kemudian darah kental semakin membanjiri batu altar yang dingin. Mata Allan yang melotot perlahan-lahan tertutup. Allan mengereng menghembuskan nafas terakhirnya. Kenapa raia iblis membunuhnya. Allan akan sadar Kembali kan? Kenapa dia tidak bergerak. Mataku mengalir dengan derasnya menangisi tubuh Allan yang dingin. Rajaku iblis tiba-tiba menghilang begitu saja, menyisahkan tubuh Allan yang sudah mati di atas batu altar.
"Allan bangunlah. Allan! Kenapa kau membunuhnya rajaku. Aku mencintainya." Tangisku histeris memeluk tubuh Allan. Stella hanya melihatku dengan tatapan datar. Apakah mereka semua menipuku.
Di sela tangisanku yang memeluk kepala allan sebuah tangan menyentuhku. Aku melihatnya, ternyata tangan Allan yang bergerak menyentuh ujung kepalaku. Matanya terbuka dan menatapku yang menangis sesenggukan. Dia tersenyum padaku. Aku sangat bahagia Allan bisa kembaki hidup.
"Sarah tenang saja, aku akan selalu mencintaimu." Ucap Allan mengecup keningku. Akhirnya aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku tidak akan pernah melepaskanmu Allan.
"Karena Allan sudah kembali, waktunya mengambil anak iblis itu." Ucap Stella tersenyum sinis ke arahku.
"Ya." Jawabku disertai seringai tergambar jelas di bibirku.
"Kalian sudah siap." Perintah Stella pada semua anggota sekte jubah merah.
"Ya tuanku." Jawab mereka patuh.
"Tunggu kedatangan kami membawa bunga iblis." Ucapku sebelum pergi dari mensen itu bersama Stella dan Allan.
Entah mengapa Allan menjadi berbeda, dia sangat perhatian padaku dan menuruti semua perintahku. Bahkan senyum manis selalu dia tunjukan dihadapanku. Aku tidak perduli akan hal itu yang terpenting adalah Allan sudah menjadi milikku. Aku Stella dan Allan pergi ke rumah Lilian dalam keadaan badai hujan yang terus menghembuskan angin yang kuat. Kilatan petir seperti cahaya lampu yang terus terpancar dilangit. Bahkan suara guntur menggetarkan hati. Stella menunggu di mobil sedangkan aku dan Allan bersiap masuk. Aku membunyikan bel pintu agar Lilian datang menyambut akan kehadiranku dan Allan. Lama menunggu pintu tidak kunjung dibuka, aku menggedor pintunya berkali-kali sampai Lilian membuka pintunya.
"Sayang kau baru pulang bersama Sheika." Sapanya dengan wajah yang nanpak takut.
"Ya! Di mana Elian?" Jawabku sambil mencari Elian.
"Untuk apa kau mencari Elian!" Jawab Lilian dengan tangan gemetaran. Aku semakin menajamkan tatapanku yang membuat Lilian ketakutan.
"Dia itu adalah bunga iblis yang aku tanam di rahimmu. Semua aku lakukan hanya demi mendapatkan Allan. Sekarang aku sudah mendaparkan Allan jadi aku tidak membutuhkan dirimu dan anak itu." Ucapku mendorong Lilian sampai terjatuh ke lantai. Wajahnya nampak kaget dengan perkataanku.
"Kenapa kau seperti ini Sheika." Serunya terisak menangis melihatku.
"Kebapa aku seperti ini? Semua ini adalah salahmu, merebut Allan dariku. Kau yang bodoh tidak bisa menbedakan orang yang berpura-pura baik padamu hahahah, wanita bodoh."
"Allan!" Panggil Lilian menangis sedih pada Allan. Allan hanya diam saja tanpa bicara.
"Allan sudah menjadi milikku. Jangan berharap untuk bahagia dengan Allan karena hidupmu akan berakhir sampai di sini hahaha." Ucapmu yang membuat Lilian membulatkan mata terkejut.
aku meraih rambut Lilian dan menyeret rambutnya sampai ke dapur. Aku menendang-nendang wanita itu dengan emosi karena aku benci dengan wanita itu. Allan hanya memandangku dengan seringai di bibirnya. Dia lalu duduk di kursi memandangiku yang sedang menyiksa Lilian. Aku langsung melanjutkan aksiku menyiksa Lilian sebelum dia mati.
"Sheika, aku mohon jangan sakiti Elian. Dia masih kecil!" Ucap Lilian yang terus menangis dan mengadu kesakitan.
Aku tidak memperdulikan perkataan Lilian. Aku malah menarik rambutnya lagi sampai dia setengah berdiri dan membenturkan wajahnya ke meja dapur berkali-kali. Barang-barang yang ada iatas meja sampai jatuh berserakan karena getaran benturan kepala Lilian. Kemudian aku menariknya berdiri dan menendang perutnya sampai membentur kaca besar yang ada di pinggir pintu. Aku mengambil serpihan cermin itu dan bersiap menghujamkannya ke perut Lilian dengan geram. Sudah lama aku ingin membunuh wanita ini.
"Ibu! Ibu! Ibu!" Panggil Elian menangis histeris. Lilian yang hamori mati tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menggerakan bibirnya dengan mata yang terpejam.
"Apa yang kau lakukan pada ibuku, dasar kejam!" Teriak anak itu yang membuatku Emosi dan menamparnya. Dia malah semakin bertambah kencang tangisannya.
"Lihat apa yang dibawa tuanku."Ucap Allan meletakan pisau dimeja.
"Apakah kau akan membunuhku seperti orang-orang itu. Jangan berharap! Lihatlah bagaimana aku membunuh ibumu, hahahah." Kataku tertawa sinis menatap Elian. Allan memegangi tangan Elian yang dipanggunya. Semua itu memudahkanku untuk membunuh Lilian, wanita menjijikan itu.
Aku menghampiri Lilian yang terbujur lemas di lantai. Bagian bawahnya sudah mengeluarkan darah. Nafas Lilian sudah mulai terputus-putus tidak berdaya. Anak Lilian sudah mati di dalam kandungan. Lebih baik aku mulai dari wajahnya yang menyebalkan itu.
Aku gores wajahnya yang menjijikan itu sampai darah membanjiri luka yang aku buat. Lilian mengigit bibirnya menahan teriakan keskitannya. Aku puas melakukannya tidak perduli Lilian mau berteriak atau tidak, yang pasti Lilian harus menderita. Sekarang lihatlah wajah Lilian, nampak semakin cantik.
Kemudian tanganku berpindah menyayat bagian bawah Lilian yang pernah melakukan hal menjijikan pada Allan. Kemudian berlanjut sampai ke perutnya. Aku lihat lilian sudah tidak bergerak lagi. Dasar lemah, hanya siksaan sedikit saja sudah mati. Aku mengobrak-abrik perutnya dan mencari janin yang sudah kehabisan air ketuban dan mati. Aku belah isinya walaupun sudah mati agar aku puas menyiksa Lilian sampai ke akarnya.
Aku lempar bayi itu ke sembarang tempat, lalu menusuk jantung dan leher Lilian bertubi-tubi dengan murka. Darah ketal mengalir dari sana dengan derasnya sampai menggenang disekitar tubuh Lilian. Akhirnya kau mati juga Lilian. Seakan aku belum puas menyiksamu dan membunuhmu.
"Sudah selesai? Waktunya membawa tuanku pergi." Ucap Allan tersenyum miring menatapku.
"Sudah ayo pergi!" seruku menarik lengan Elian dengan kasar keluar dari rumah itu. Aku membiarkan mayat Lilian tergeletak di sana. Keadaan di luar tetap sama saja, hujan deras tiada henti. Angin yang bertiup dengan kencangnya, serta petir yang terus bergemuruh di atas langit. Tidak lupa suara tangisan Elian yang membuatku enosi.
"Bisakah kau lebih lembut pada tuanku." Ucap Allan menyuruhku untuk bersikap lembut pada Elian.
"Dia hanya manusia biasa, kenapa harus dipanggil tuan!" Bentakku tidak suka dengan sikap Allan yang membela Elian yang sebentar lagi bakalan mati dimakan oleh raja Iblis.
"Dia adalah bunga iblis. Dia adalah segalanya bagi rajaku." Ucap Allan lagi. Apakah bunga iblis harus di hormat. Setahuku tidak, mereka hanya tumbal bagi rajaku. Aku merasakan Allan menang benar-benar berbeda, dia seakan tahu segalanya tentang bunga iblis.
"Kenapa kau berbeda Allan! Apakah kau bukan Allan?" Tanyaku menatap wajahnya dengan penasaran. Aku bahkan sampai tidak sadar Stella sudah berada di sampingku dan menggendong Elian yang terus menangis sesenggukan.
"Aku memang bukan Allan, tetapi aku mencintaimu sejak kau bergabung dengan sekte jubah merah penyembah tuanku." Serunya yang membuatku terkejut. Apa ini yang diberikan raja iblis padaku. Tubuh manusia tapi jiwanya berbeda. Apakah dia akan mencampakan aku seperti Allan.
"Siapa kau? Kenapa kau mendiami tubuh Allan." Bentakku menangis. Kenapa yang aku minta tidak sesuai harapanku.
"Aku adalah iblis. Tapi tenag saja, pengalamanku di dunia manusia sangat banyak, dan aku sangar mencintaimu. Akan aku buat kau hidup dalam bahagia. Karena aku sangat mencintaimu!" Ucapnya mengambil tanganku dan mengecupnya penuh cinta.
"Kau yakin tidak akan meninggalkanku seperti Allan?" Tanyaku terharu mendengar perkataannya.
"Allan sudah mati, raja yang telah membunuhnya. Jika aku tidak mendiami tubuh ini, kau tidak akan pernah melihat Allan lagi. Tenang saja, aku akan terus berusaha menjadi Allan yang selalu mencintaimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu." Jawabnya memeluk tubuhku. Rasanya hangat sekali diperlakukan dengan penuh cinta seperti ini. Tidak perduli yang ada di dalam tubuh Allan iblis atau pun makhluk lain, asalkan dia sudah berjanji tidak akan meninggalkanku itu sudah lebih dari cukup.
"Itu benar sekali! Dari pada mengharapkan cinta yang tidak terbala, tubuhnya lebih baik dari pada cintanya. Cepatlah yang mulia raja tidak suka berlama-lama menunggu." Ucap Stella yang masih menggendong Elian sudah berhenti menangis. Dia nampak kelelahan dan mengantuk.
Kami kembali lagi ke mensen yang sudah disambut oleh para anggota sekte jubah merah. Mereka sudah selesai menyiapkan ritualnya. Sekarang Aku sudah menjadi pemimpin beserta Allan dan Stella. Aku menidurkan Elian yang tertidur di sepanjang perjalanan ke atas batu altar yang membuatnya terbangun. Dia menatao kami lalu menangis memanggil ibu dan papanya. Aku menyuruh Stella membacakan mantranya tanpa memperdulikan tangisan Elian.
"Tidak, kau yang berhak membaca mantranya." Tolak Stella memberikan kitab itu padaku.
"Kenapa aku?" Tanyaku heran.
"Karena kau yang menanam bunga itu, kau yang harua menyerahkannya. Kau adalah pemimpin utama kami. Selamat atas terpilihnya Sarah untuk menjadi pemimpin kami." Seru Stella yang membuat seluruh anggota jubah merah membungkuk kepadaku.
"Silahkan memulai ritualnya ketua!" Ucap Stella menyuruhku memulai ritualnya lagi. Aku mengangguk mengerti dan membaca mantra yang ada di kitab.
Seperti biasa mantra yang bergemuruh diucapkan bersama memenuhi ruangan. Sampai suara erangan menakutkan datang diiringi kepulan asap hitam yang sudah kami tahu. Lambang iblis mulai bercahaya dan memunculkan sesosok tinggi hitam dan besar berada tepat di depan Elian.
"Kami persembahan bunga iblis untuk yang mulia raja." Ucapku diiringi oleh seluruh anggota sekte jubah merah. Mantra ini akan selalu mengeiringin anak iblis saat disantap habis oleh raja iblis yang hanya menyisakan darahnya untuk kami para pengikutnya.
""Kami datang membawa apa yang Anda inginkan." Ucapku memberi salam kepada raja. Kami membungkuk dan bersujud dihadapan Raja iblis.
"Apa?" Tanyanya menatap ke arahku dengan tatapan tajam.
"Bunga! Bunga yang anda inginkan!" Kataku menunjuk Elian yang menangis sesenggukan menatap raja iblis di depannya.
"Hemmm baunya harum sekali, aku menyukainya. Energi spiritualnya sangat kuat aku benar-benar menginginkannya." Ucap raja iblis dengan wajah kelaparan menatap Elian penuh *****. Aku tidak sabar untuk hidup tenang dari gangguan Lilian dan Elian. Cepat matilah Elian.
"Dia seorang laki-laki yang spesial untuk anda." Kataku mempersembahkan Elian pada raja iblis. Elian sedari tadi menatap ke arah raja iblis, seakan dia tidak ada rasa takut berada di sekitarnya. Anak ini berani juga.
"Makanan yang lezat untukku. Hemmm, kau berani menatapku nak. Kau tidak takut?" Seru raja iblis menyadari tatapan Elian. Raja Iblis mengangkat dagu kecil Elian dan tersenyum dengan seringai yang lebar seakan ingin memakan Elian langsung sekali telan.
"Tidak! Kau tampan sekali!" Jawab Elian yang membuatku terkejut. Apakah dia bodoh tidak bisa membedakan antara tampan dan menakutkan. Atau yang Elian lihat berbeda dengan apa yang kami lihat. Aku mendengar kekehan kecil dari suara raja iblis seakan yang dikatakan Elian sangat lucu.
"Apa kau mau menggodaku. Sayangnya aku tidak menyukai laki-laki nak." Seru raja iblis mencubit pipi gemuk Elian dengan tangan hitam dan kukunya yang runcing.
"Di mana ibu dan papaku hikks hikks?" Tanya Elian yang di sertai tangis yang pecah lagi.
"Mana Aku tahu nak. Kau bahkan bisa melihat wujud asliku. Kau berbeda dengan bunga-bungaku sebelumnya walaupun kau laki-laki. Kau terlihat enak sekali, baumu harum dan manis. Aku menyukainya. Sayang sekali kalau kau mati sekarang. Mau ikut denganku nak." Ucap raja iblis mengulurkan tangannya ke arah Elian. Namun, Elian malah mundur ketakutan.
"Tidak! Aku ingin ibuku kembali. Huhuhuhu. Kembalikan ibuku, kembalikan adikku, dan papaku." Rancau Elian menangis dan memeluk kaki raja iblis. Berani sekali anak ingusan itu menyentuh yang mulia raja iblis. Anak ini terlalu berani.
"Kenapa kau menangis anak manis. Tangan kecil ini sangat indah, berapa banyak orang yang kau bunuh." Seru raja iblis mengambil dan memegangi tangan Elian yang mulai berhenti menangis. Aku lihat tangan kecil dan putih itu dijilat oleh raja iblis. Kenapa tidak langsung dimakan saja seperti biasanya, kenapa harus berele-tele seperti ini. Aku sudah malas menunggu percakapan mereka yang tidak penting.
"Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu ibu, ayah dan adikku. Aku tidak mau di sini, aku tidak suka di sini." Rengek Elian menangis ingin pulang. Mau pulang ke mana Elian, seluruh keluargamu sudah mati. Lebih baik kau ikut mereka ke neraka.
"Kau ingin pulang, ikutlah denganku aku akan membawamu pulang. Akan aku berikan apapun yang kamu mau." Ucap raja iblis menggandeng tangan Elian bersiap pergi dari sini. Bagus, cepatlah pergi dari dunia ini.
"Maaf tuan, kalau saya mengganggu percakapan anda. Anda tidak bisa membawa anak itu ke tempat kita karena dia masih manusia. Upacara perkawinan hanya bisa dilakukan ketika usianya mencapai 18 tahun. Di saat itulah anda bisa membawanya pergi." Cegah Allan menghentikan raja iblis membawa anak itu.
"Iya kau benar juga." Seru raja iblis setuju dengan perkataan Allan.
"Kenapa Allan, dia laki-laki sudah sepantasnya menjadi santapan raja kita bukan menjadi bunga (Istri) raja." Protesku pada Allan yang tetap membiarkan anak itu hidup di dunia manusia. Siapa yang akan merawatnya, lalu siapa yang akan mencari keberadaanya jika dia pergi ke negara lain. Sangat merepotkan.
"Kau membuat bunga iblis yang langka Sarah. Aku menyukai usahamu. Sebelumnya tidak ada yang pernah berhasil memberiku seorang bunga perempuan. Sekarang ada laki-laki yang layak jadi istriku." Ucap raja iblis memuji usahaku. Aku tersanjung atas pujiannya.
"Apakah anda akan menjadikannya bunga iblis (Istri)." Tanyaku memastikan.
"Tentu saja! Karena kelahiran anak iblis telah ditentukan. Dantalion harus lahir dari rahim manusia. Anak itu pantas menjadi wadahnya." Ucap raja iblis yang menginginkan kelahiran anak iblis dari perut Elian. Bagaimana bisa, Elian adalah seorang anak laki-laki yang tidak bisa melahirkan anak.
"Maaf kalau saya lancang. Biarkan anak ini tumbuh dewasa di dunia manusia. Jika dia dewasa nanti akan kami persembahkan untuk anda. Akan saya siapkan upacara pembuahan saat hari ulangtahun yang ke-18 tahun." Seru Allan dengan penuh keyakinan.
"Bagus! Siapkan darah 1000 wanita untuk membuat rahim pada anak itu. Seperti biasa, darah dari pengorbanan akan membuat kalian hidup abadi. Persiapkan untuk kelahiran Dantalion anakku. Setelah Dantalion lahir bunuh anak itu. Tujuan utamaku adalah mendapatkan anak itu. Kelahiran Dantalion sudah ditakdirkan." Ucap raja iblis memberi perintah membuat rahim dari darah 1000 wanita. Tugas yang sangat berat bagi kami.
"Sarah kaulah pemimpin sekte jubah merah sekarang, karena kau yang mampu memberikanku bunga iblis. Bawa anak ini, rawat sampai dewasa dan berikan padaku untuk dibuahi." Perintah raja iblis lagi padaku dengan tegas. Aku sampai tidak berani membantahnya. Kenapa menjadi pemimpin memiliki tuas yang begitu berat. Merawat bunga iblis yang aku benci, menyiapkan darah wanita sebanyak itu. Kemudian apa lagi yang akan dia perintahkan padaku.
"Saya mengerti!" Seruku patuh.
"Elian, calon ibu dari anakku. Ikutlah dengan ibu barumu. Dia Sarah yang sekarang akan menjadi ibu barumu. Dia yang akan merawatmu sampai kau siap melahirkan anak-anakku." Ucap raja iblis mengusap mata Elian dengan lembut sebelum menghilang. Aku menghampiri Elian yang mematung dengan tatapan kosong. Sepertinya ingatannya sudah dihapus oleh raja iblis. Semua itu bagus, dia tidak akan menjadi anak yang memberontak karena siksaanku. Lihat saja Elian, walaupun kau calon istri dari raja iblis, kau tidak akan aku biarkan hidup bahagia di dunia ini.
Setelah upacara persembahan yang gagal itu, aku membawa Elian pulang. Wajah dan tatapanya masih kosong seperti biasanya. Aku membawanya ke kamar tidurnya dan membaringkannya di kasur. Dia tidak berkedip sama sekali. Entah apa yang telah dilakukan oleh raja iblis padanya, aku tidak perduli. Aku meninggalkan sendirian di kamar dengan lampu yang masih menyala.
Aku turun ke bawa menemui Allan yang membawa mayat Lilian. Aku menyuruhnya mengubur di hakaman samping. Allan menurut saja tanpa protes. Sedangkan aku beristirahat di kamar Allan dan Lilian sebelum besok peronbakan total rumah ini. Tidak lama Allan kembali dengan keadaan kotor setelah mengubur mayat Lilian agar tidak ada yang menyadari kematiannya. Setelah membersihkan diri, Allan datang menuju ke ranjang. Pandangan kami yang oenuh cinta saking bertemu, sampai kami saling memuaskan satu sama lain.
........~••«💙»••~........