
Seokjin cukup terkejut lantaran melihat gadisnya yang kini emosional. Dengan cepat, Seokjin mencoba untuk menenangkan hati Ryuna dengan memeluknya erat sambil mengelus surai hitam lebat gadisnya itu.
"Chagi.. Tenangkan dirimu.. Kau bisa sakit nanti jika terus menerus stress.. Aku yakin, kita bisa melewati semuanya.. Tenanglah" Bujuk seokjin.
"Baiklah.. Benar.. Kita pasti bisa melewatinya.. Dan kita akan membuktikan bahwa cinta kita sangat besar.. Agar appa dan eomma sadar bahwa cinta sejatiku adalah oppa.. Seokjin oppa" Mengulas senyum manis.
"Bagus.. Kau harus seperti ini terus.. Selalu tersenyum agar tidak terlihat tua.. Kulihat saat kau marah, wajahmu penuh dengan kerutan tua.. Aku bahkan terkejut. Aku berpikir 'apakah orang yang disamping ku ini adalah bidadariku atau nenek tua?' aku coba membuka tutup mataku, untuk mengenali wanita yang ada di sampingmu dan ternyata itu kau, ryuna kekasihku" Tertawa kekeh setelah melihat wajah Ryuna yang berubah masam saat mendengar ucapan dari nya.
"Oppa apa kau ingin mengejekku?! Huh?! Dasar para pria!hanya ingin gadisnya cantik! Atau jangan-jangan, kau akan meninggalkan ku jika suatu saat aku sudah tua dan tidak cantik lagi?! " Umpat gadis itu kesal.
"Hmm saran yang bagus.. Aku akan melakukannya dimasa tua nanti" Seokjin tersenyum dan berpura-pura memikirkan hal itu saat tiba di masa tua dengan tatapannya yang ia alihkan menatap langit-langit kantin rumah sakit.
"Yya! Jahat sekali! Aku tidak memberimu saran barusan! " Dengus Ryuna kesal.
"Hahaha.. Gampang sekali kau merajuk.. Tidak.. Tidak mungkin aku meninggalkan mu hanya karna kerutan yang akan muncul di wajahmu.. Dan apa kau tidak tau, aku yang tampan sedunia ini pun juga akan memiliki kerutan di wajahmu saat aku menua nanti. Sama sepertimu chagi-ah" Mencubit pelan hidung gadis kesayangan nya itu.
"Atau mungkin, kau yang sekarang menurutmu tampan sedunia, mungkin saja saat tua nanti jadi pria jelek sedunia" Balas gadis itu tertawa lebar membuat Seokjin kesal.
"Yya Ryuna apa kau sedang berniat balas dendam? Wah kau ini! " Cibir pria berbahu lebar itu dan langsung menggelitiki kekasihnya itu tanpa aba-aba dari nya.
"Ahahaha sudah.. Haha sudah oppa.. Haha ini geli" Ucap Ryuna memberhentikan Seokjin yang menggelitiki nya.
"Minta maaf" Ucap Seokjin datar.
"Hah? " Ryuna bingung.
"Untuk apa? "
"Haish.. Untuk kesalahanmu yang sudah mengejekku tadi" Berpura-pura merajuk.
"Hah aku tau.. Apa bayi besar ini sedang merajuk, ha? Ah lihatlah wajahmu jadi sangat merah oppa" Goda Ryuna seraya mencolek dagu Seokjin.
Seokjin cuma diam. Menahan malu yang teramat.
"Baiklah aku minta maaf.. Maafkan kekasihmu ini ya bayiku" Ryuna masih menggoda Seokjin. Kali ini dengan mencubit pelan pipi Seokjin berulang kali.
Dan 'cup'..
Seokjin mencium sekilas bibir Ryuna. Ryuna hanya bisa terdiam memating manakala bibir nya serasa disambar begitu saja oleh kekasihnya. Sesaat kemudian, ryuna langsung memukul pelan dada Seokjin.
"Aku menerima permintaan maafmu, chagi" Tersenyum puas.
"Dasar pria mesum" Cibir Ryuna pelan.
"Oh ya, oppa aku harus mengecek keadaan pasien-pasien ku sekarang" Ucap gadis bernama Ryuna itu kalau ingat tugasnya.
"Baiklah.. cepat pergilah dan periksa semua pasien mu dengan baik.. jika sudah selesai bekerja, telpon aku sebelum pulang. kau mengertikan chagi? " tanya Seokjin mengacak-acak rambut kekasihnya.
"eoh aku mengerti.. bye" ucap Ryuna sebelum pergi.