
Hari pun terus berganti, matahari dan bulan selalu bertukar tempat, dan kini adalah hari dimana merupakan hari perjodohan Kim Ryuna dengan orang yang bahkan tidak ia kenal. Tampak kini wajah gadis itu terlihat lesu dan tidak bersemangat sejak pagi hari. Hal yang begitu ia benci kini menghampirinya dan menyeretnya ke dalam neraka pernikahan.
"Kenapa saat aku memiliki orang yang sangat mencintaiku, aku harus menikah dengan orang yang sama sekali tak kukenal?! Kau tidak adil Dunia! Kau tidak adil! " Ucap gadis itu frustasi yang saat ini sedang berada di kantin rumah sakit sejak jam makan siang dimulai.
"Memikirkan perjodohan itu? " Tanya seseorang yang tiba-tiba berada di samping gadis itu. Membuat gadis itu terkejut sekaligus tersadar dari lamunannya.
"Ah Seokjin oppa.. Kau mengagetkan ku saja.. " Lega gadis itu seraya memperhatikan kekasihnya duduk di kursi di depannya.
"Apa yang ku katakan benar? " Tanya pria itu.
"Eoh! Aku memikirkan bagaimana dunia bersikap tidak adil pada hubungan kita" Liriknya menundukkan kepalanya.
"Sudahlah jangan pikirkan.. Aku yakin, pada akhirnya kita akan hidup bahagia" Ucap Seokjin menenangkan ryuna.
"Bersama? " Tanya ryuna.
"Semua berada dalam jalan Tuhan menentukan takdir.. Kau maupun aku sendiri tidak bisa mengubah takdir.. Tapi kita bisa mencoba untuk mencintai takdir" Pungkasnya.
"Jika takdir mengatakan bahwa aku akan hidup bahagia namun bukan bersamamu, aku akan memilih untuk meninggalkan dunia ini saja" Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Yya! Chagi-ah, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan melukai dirimu saat kau menganggap dunia tidak adil pada kita.. Berjanjilah" Pinta Seokjin yang khawatir bagaimana selanjutnya ryuna bertindak pada dirinya sendiri.
"Aku berjanji jika aku akan menceraikan pria itu setelah satu tahun.. Aku akan membuatnya membenciku agar pernikahan itu hancur.. Jadi aku bisa kembali padamu oppa dan kita hidup bersama.. Aku bisa berjanji untuk hal ini" Pungkas Ryuna. Pun disambut anggukan oleh Seokjin, kekasihnya itu.
Sungguh.. jika ryuna bisa memilih, ia akan memilih untuk pergi dari dunia ini daripada harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai. Alasan ia tidak meloloskan niat nya itu, karena sosok yang selalu menguatkannya selalu berada di sampingnya. Dan sekarang, Ryuna dan Seokjin sedang mengobrol dari hal yang cukup penting hingga yang tidak penting. Sangat mesra.. Ya orang\-orang yang berada satu atap dengan tempat yang mereka tempati merasa iri dengan kemesraan dari mereka. Senyum manis yang selalu mereka buat dengan sepenuh hati, menambah kesan yang sangat cocok pada pasangan ini. Hingga sebuah dering dari ponsel Ryuna membuyarkan kemesraan mereka. Tampak wajah Ryuna yang sempat ceria menjadi lesu kembali. Dari siapa lagi jika panggilan itu bukan dari Mr. Kim, ayah dari gadis itu.
"Ryuna, putriku.. bagaimana keadaanmu? kau baik-baik saja kan?apa kau bahagia karna sebentar lagi akan bertemu dengan calon suamimu? " ucap pria tua dari dalam ponsel itu.
"Keadaanku? Kau menanyakan keadaan ku? sejak kapan kau jadi perhatian pada keadaanku? apa appa sedang sakit? selama ini bahkan saat aku demam tinggi saat kecil, appa ataupun eomma tidak pernah berada disisiku! kalian hanya sibuk dengan pekerjaan kalian itu, yang tidak pernah ada kata selesai nya sama sekali!! " pungkas ryuna dengan emosi yang sudah memuncak. Pun Seokjin dengan cekatan berpindah tempat ke samping Ryuna dan mencoba menenangkannya kedalam rangkulannya.
"Maafkan appa dan eomma.. Tapi sungguh ini semua demi kamu.. " Tambah pria Bermarga Kim itu.
"Mau berapa kali ku katakan pada kalian.. aku tidak butuh gemilang harta! aku.. aku hanya butuh perhatian dan kasih sayang dari kalian sebagai orang tua ku!! " Ucap Ryuna sedikit lebih keras.
"Baiklah.. lebih baik lupakan saja masalah ini.. Appa hanya ingin kkatakan, Nanti saat Pukul 18.00 pm, kau datang ke Cafe ShinHo di Pusat Gangnam.. Calon suamimu akan datang tepat pukul 18.00 pm.. jadi usahakan kau datang sebelum tiba waktunya.. jangan sampai terlambat.. kau mengerti? " tanya pria itu.
"Jangan sebut dia dengan sebutan 'calon suamiku'! aku benci kata itu! " tegas gadis itu.
"Dan ya.. appa ingin aku datang ke Cafe itu? baik.. aku akan datang.. agar kalian puas! puas sudah mempermainkan hidupku, jodohku, bahkan takdirku! " ucap Ryuna sebelum mematikan panggilannya sepihak.