
Hari ini cafe ramai sekali. Hampir semua stok makanan dan minuman habis. Iren tak henti - hentinya bolak balik membawakan pesanan customer. Rani yang bertugas sebagai kasir pun kewalahan. Panjangnya antrian membuat Rani tak sempat untuk duduk sedetik pun.
" Duh Ren, pegel banget kaki gue. Kayaknya harus ke tukang pijit nih, sumpah ngga enak banget." ucap Rani mengeluh.
"Di seberang sana kayaknya ada deh. Gue pernah baca di spanduknya." ucap Iren.
"ya udah gue duluan ya, mau mandi dulu. Oh iya, elu mau pulang apa mau tidur disini?" tanya Rani.
"Kayaknya gue mau pulang aja. Gue ngga ada baju ganti buat besok soalnya." ucap Iren.
"Ya udah. Eh, bentar deh Ren. Elu udah tau belum?" Rani mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Iren.
"Kemarin ngga sengaja gue lewat terus gue liat bacaan ini. Gue khawatir elu belum tau makanya gue foto." jelas Rani.
" Sumpah gue ngga tau apa - apa. ini pasti kerjaanya tante Siska." jawab Iren.
"Waduh, ampe segitunya tante elu, Ren? mending elu selidikin deh cepet - cepet." ucap Rani.
"Makasih ya infonya." ucap Iren.
"Iya sama sama. Elu yang sabar ya. Gue cabut dulu." Rani pun pergi.
Ya Tuhan! siapa orang yang udah tega mgelakuin ini semua, apa mungkin itu kerjaan Tante Siska? Tante Siska memang sejak dulu ingin menjual rumahku. Iren berguman dalam hatinya. Saat Iren memikirkan siapa yang menjual rumahnya, tiba - tiba Mas Radit menghampirinya.
"Hai, belum pulang?" tanya Mas Radit.
"Eh, Mas Radit. Belum Mas, masih pengen istirahat aja." Iren terkejut dengan kedatangan Mas Radit.
"Mungil, ikut Mas yuk. Kita cari angin sebentar. Hari ini cafe rame banget. Kayaknya Mas butuh sesuatu biar fresh lagi." ajak Mas Radit.
"Ayok Mas. Tapi Iren belum mandi, bau badannya. Gpp?" tanya Iren.
"Ngga apa - apa dong. Mas Radit suka bau badan Iren." ucap Mas Radit genit.
"Dih, jorok amat sih. Udah ah ayo jalan.! ucap Iren.
Mas Radit dan Iren pergi meninggalkan ruang istirahat itu. Di parkiran cafe, ternyata Poppy sudah menunggu Radit. Betapa kesalnya Poppy melihat Radit dan Iren jalan berdua.
"Radit, aku ikut pulang bareng kamu ya. Aku takut soalnya udah malem." Poppy mendekati Radit.
Mas Radit tidak memberikan respon yang baik pada Poppy. Terlihat jelas di wajahnya jika Mas Radit kesal.
"Mas, ngga apa - apa kita perginya lain waktu aja. Iren pulang duluan ya." ucap Iren merasa tidak enak ada di antara Mas Radit dan Poppy.
Mas Radit malah memegang tangan Iren dengan kuat. Iren semakin tidak enak. Iren ingin melepaskan genggaman Mas Radit namun tak bisa.
"Kamu pulang sama Mas aja." jawab Mas Radit lembut.
"Mobil kamu kemana? Biasanya juga tiap hari kamu pulang sendiri." tanya Radit ketus.
"Mobilku ada di parkiran. Aku cuma lagi takut aja Radit pulang sendiri soalnya udah malem. Aku pengen ditemenin sama kamu." ucap Poppy memelas.
" Aku ngga mau pulang sama kamu. Kamu telpon aja cowok kamu, kan bisa." ucap Radit pedas.
Radit segera memakaikan helm pada Iren dan menyuruhnya naik. Radit dan Iren pun pergi melaju kencang meninggalkan Poppy.
...****************...
Radit dan Iren tiba di sebuah taman. Motor sport mewah telah terparkir dan mereka mencari tempat duduk.
"Harusnya tadi Mas pulang aja sama Mbak Poppy. Iren ngga enak mas." ucap Iren.
" Aku ngga mau Iren. Aku maunya pergi sama kamu." ucap Radit pelan. Radit mendekatkan wajahnya pada wajah Iren. Terdengar jelas tarikan nafas Radit di telinga Iren.
Iren terpelongo. Baru kali ini Radit menyebut kata "aku" padanya.
"Iren, Mas mau curhat boleh?" tanya Radit pelan.
" Boleh Mas. Cerita aja." ucap Iren.
Radit menceritakan perihal hubungannya dengan Poppy. Terlihat jelas wajah Radit yang begitu serius. Saking seriusnya, bisa Iren lihat kilauan cahaya di pojok mata Radit. Sungguh miris apa yang Radit alami.
Dulu, Radit dan Poppy memiliki hubungan spesial. Kala itu Radit masih bekerja di sebuah perusahaan di luar negeri. Radit berniat untuk menjadikan Poppy sebagai istrinya. Ia yakin bahwa Poppy bisa menjadi teman hidupnya.
Malam itu Radit ingin membuat surprise untuk Poppy. Radit mendatangi apartemen Poppy diam - diam dengan membawa sebuah cincin. Radit ingin melamar Poppy.
Tiba di depan kamar Poppy, Radit semakin deg degan. Ia sudah tak sabar ingin segera masuk. Namun ada hal yang aneh. Kamar Poppy tidak terkunci, malah sedikit terbuka.
Radit khawatir terjadi hal - hal yang tidak diinginkan terhadap Poppy. Radit segera masuk dan melihat sesuatu yang mencengangkan.
Terlihat di atas lantai ada sebuah kemeja biru tergeletak begitu saja. Ada sebuah juntaian celana panjang hitam beserta ikat pinggangnya di sofa. Radit kaget bukan main. Apa yang ia lihat adalah pakaian seorang laki - laki.
Radit memberanikan diri untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar. Kamar itu sedikit terbuka. Radit bisa melihat sebuah lingerie merah di atas lantai dan sebuah underware khas pria.
Jantung Radit semakin berdetak kencang. Ia semakin penasaran siapa yang sedang bercinta di kamar calon istrinya.
Radit tidak melihat sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu di atas kasur. Hanya terlihat bed cover dan bantal guling yang sudah berantakan. Radit melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Bak terkena petir di siang bolong. Apa yang radit saksikan sungguh menyayat hati. Orang yang sangat dicintainya tengah bermadu kasih di sebuah bath tub dengan seorang pria yang sangat Radit kenal.
Poppy terkaget dan berusaha melepaskan pria yang tengah berada di atas tubuhnya. Lelaki itu pun sama. Ia berusaha bangun namun Radit keburu mendaratkan bogem mentah ke wajahnya.
Poppy berselingkuh dengan rekan kerja Radit sendiri. Ternyata, hubungan mereka sudah terjalin sejak lama. Ini sangat menyakiti Radit. Di saat ia sudah menemukan tambatan hatinya, calon ibu untuk anak - anaknya kelak Radit malah diselingkuhi.
Radit berhenti dari perusahaan itu dan memilih untuk bekerja di cafe Pak Bobby yang ternyata adalah Om Radit sendiri. Gajinya memang tidak sebesar di perusahaannya dulu, tapi Radit merasa tenang disini.
Setahun berlalu. Radit sudah bisa melupakan semua kenangan pahitnya. Namun kenangan pahit itu teringat kembali dikala Poppy bekerja di cafe yang sama dengannya. Saat itu cafe memang sedang membutuhkan ahli keuangan dan Pak Bobby meminta Poppy untuk mengisi posisi itu. Pak Bobby mendapat rekomendasi dari sahabatnya yang tak lain adalah ayah Poppy.
Sungguh, kehadiran Poppy membuka kembali sakit hati yang sudah Radit buang jauh - jauh. Poppy ingin kembali padanya namun Radit menolak mentah - mentah itu. Radit sudah merasa jijik dengan kelakuan Poppy.
"Mas ngga bisa menyalahkan Pak Bobby. Kan pak Bobby ngga tau masa lalu Mas." Iren berkata pelan.
"Iya, untuk hal itu Mas bisa paham. Sekarang Iren tau kan kenapa Mas selalu bersikap acuh pada Poppy." tanya Radit. Iren hanya mengannguk pelan.