
Di depan sebuah rumah sakit langkah kaki Iren dipercepat. Matanya menyisir gedung itu tajam, ia mencari ruang IGD namun tak ditemukan. Iren menghampiri sebuah meja besar, ada 2 orang pegawai wanita disitu yang sedang berdiri dengan pakaian rapi, lengkap dengan atribut rumah sakit.
"Permisi, bu. Ruang IGD disebelah mana ya? Saya mencari korban kecelakaan tabrak lari atas nama Bapak Sukma dan Ibu Novi." tanya Iren dengan suara terbata - bata. Salah satu pegawai wanita itu kemudian menunjukkan arah menuju ruang IGD. Iren segera berlari kesana. Beratnya tas yang sedari tadi ia gendong dipundaknya seakan tiada isi. Rambut panjangnya sudah tak beraturan, seragam yang ia kenakan pun lusuh, basah dengan cucuran keringat. Semua itu tidak ia hiraukan. Iren hanya ingin segera menemui ayah dan ibunya.
Pintu IGD tertutup rapat. Iren panik bukan main. Ia ingin masuk namun khawatir mengganggu dokter atau pasien disitu. Ia pun mengintip pada celah jendela, ada bagian yang tidak tertutup oleh tirai. Dilihatnya ayah dan ibunya tergeletak di atas kasur, keduanya tak sadarkan diri dan berlumuran darah. Tiba - tiba ada seorang suster yang menutup tubuh kedua orang yang sangat ia cintai dengan kain selimut dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ayaahhhh! Ibbuuuuu! " teriak Iren.
Iren menerobos pintu dan menyrbabkan pintu itu mengeluarkan suara yang sangat keras.
Pprrraakkkkkkk!!
Iren tertegun. Matanya hanya melihat ke arah pojok tempat ayah dan ibunya terbaring. Ia berjalan pelan sambil terus terisak. Sebuah kertas yang sedari tadi ia genggam kini ikut basah terkena jatuhan air matanya. Semua orang diruangan itu hanya terdiam melihat Iren yang tengah berduka. Bahkan, ada seorang dokter yang juga menyapu air matanya karena tak kuasa melihat apa yang dialami Iren.
Iren menangis tersedu - sedu. Tangannya bergetar ketika membuka selimut dibagian atas. Tangisnya semakin pecah, kertas yang ia pegang terjatuh, suasana menjadi gelap, Iren tak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian.....
Mata Iren masih terpejam namun sedikit bergerak. Dahinya mengernyit, silauan cahaya menyeruak memasuki bola matanya. Langit - langit ruang IGD mulai nampak jelas. Iren melihat sekeliling, terbangun dan mencari jenazah orang tuanya. Pandangannya terhenti pada sosok perempuan paruh baya dengan tatapan sinis.
"Akhirnya kamu bangun juga. Ngapain sih Ren pake acara pingsan segala? bikin repot aja." ucap wanita itu ketus.
Dengan deraian air mata, Iren menjawabnya,
"Tante kan tahu, ayah ibuku sudah meninggal. Aku anaknya, Tan. Aku cuma punya mereka. Mana mungkin aku diam saja saat mereka ngga ada? Wajar Tan kalo aku bersedih. " jawab Iren lirih.
"Ya udah ngga usah nangis, toh udah meninggal juga kan, hayu cepetan bangun, kita harus segera pulang!" ajak wanita itu masih dengan nada marah.
Wanita paruh baya itu Tante Siska, adik kandung dari ibunya Iren. Sikap mereka sangat berbanding terbalik. Ibu Iren memiliki sifat penyayang, sabar, rendah hati. Sementara adiknya memiliki perangai buruk, sukanya belanja dan tak punya rasa empati.
"Oh iya, tadi dokter nitip ini, katanya jatuh pas kamu pingsan. " sambung Tante Siska sambil menyodorkan kertas.
Iren meraih kertas itu, buliran air mata kembali menggenangi pelupuk matanya.
"Eehhhhh, malah nangis lagi, saya tunggu di lobby, kalo 5 menit kamu belum sampai juga tinggal kamu sendirian! " ucap Tante Siska marah.
Iren bergegas bangun sambil menahan sakit di bahunya. Ketika ia pingsan, bahunya mengenai tiang infusan dan meninggalkan memar. Tiba di lobby, tante Siska sudah menghilang. Ancaman wanita itu memang benar. Iren bergegas mencari taksi ke depan rumah sakit. Tak berapa lama kemudian, taksi datang.
Di perjalanan, ternyata sedang macet parah. Maklum, saat itu berbarengan dengan jam pulang kantor. Taksi tak bergerak sedikitpun. Iren semakin panik dan bingung. Ia memutuskan untuk turun, dan hendak membayar namun uang yang ada di saku seragamnya tidak cukup. Argo taksi menunjukkan nilai yang lebih besar 2 kali lipat dengan uang yang ia punya. Awalnya supir taksi itu marah karena Iren membayar tidak sesuai dengan argo, namun setelah Iren menjelaskan apa yang sedang ia alami, supir taksi itu bisa memakluminya.
Masih butuh waktu 30 menit untuk Iren sampai dirumah. Seringnya Iren berjalan kaki membuat ia tahu jalan pintas agar cepat sampai ke rumahnya. Setibanya ia dirumah, Iren mendapati jenazah ayah dan ibunya telah selesai dikebumikan. Iren lantas berlari menuju tempat pemakaman dikampung itu.
Langit menghitam, petir menggelegar. Rintik hujan mulai membasahi apapun yang ada dibawahnya. Iren tidak menghiraukan itu. Ia terus melangkah menuju pusara orang tuanya.
Hujan semakin deras, seluruh tubuh Iren basah kuyup. Ia tiba di pusara orang tuanya, 2 buah gundukan tanah yang masih merah dan basah dengan beberapa taburan bunga khas diatasnya. Iren memposisikan diri diantara kedua pusara itu. Dengan nada lirih diiringi isak tangisnya, Iren berucap seorang diri.
"Ayah,,, Ibu,,,. Hari ini Iren dapat kabar bahagia. Pastinya ayah ibu juga senang mendengarnya. Iren berhasil dapat beasiswa untuk kuliah, yah,, bu,,. Iren menjadi lulusan terbaik disekolah. Lihat yah,,, bu,,, lihat! Di kertas ini bertuliskan nama Iren, IRRIANA SUKMAJAYA, putri dari Bapak Sukma dan Ibu Novi. Tapi,,,, kenapa ayah dan ibu pergi ninggalin Iren? Harusnya hari ini kita bahagia kan yah,,, bu,,,." tangisan Iren tak terbendung lagi. Iren menangis sejadi - jadinya.
Selang beberapa menit, tangisan Iren mulai mereda. Ia melanjutkan ucapannya. Ia menghela nafas dalam - dalam.
"Iren yakin dan percaya kalo ayah dan ibu orang baik, makanya Tuhan panggil ayah dan ibu duluan. Tuhan ngga mau lihat ayah dan ibu disakiti lagi oleh orang - orang. Iren janji, yah,,, bu,,,. Iren akan berusaha keras untuk mewujudkan impian ayah ibu. Iren pamit ya yah,,, bu,,,. Nanti Iren pasti balik lagi kesini."
Iren menghapus airmatanya. Ia meletakkan kertas yang sedari tadi ia genggam. Kertas itu sudah mulai sobek karena terkena air hujan. Ia bangkit dari duduknya dan pulang.
Seminggu kemudian,,,,
Sudah 7 hari Iren ditinggal ayah dan ibunya untuk selamanya. Banyak pelayat yang datang, ada teman sekolahnya, bapak ibu dewan guru, dan tetangga dekat Iren. Iren bukan asli orang sini. Ia pindahan dari daerah kecil di Sumatera. Tak heran Iren tidak memiliki saudara dekat. Hanya Tante Siska lah satu - satunya keluarganya. Tante Siska ikut dengan ibunya Iren merantau dan bekerja disini ketika masih gadis. Setelah menikah dengan Om Johny, tante Siska memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Dari semua pelayat yang datang, tampak seorang laki - laki berpostur tinggi, kulitnya putih dan cukup tampan. Laki - laki itu bernama Steve.
Steve adalah teman satu kelas Iren. Bisa dibilang teman dekat karena mereka sering berkomunikasi. Steve sering membantu Iren dalam hal finansial, namun Iren sering menolak karena merasa tidak enak. Bagi Iren selagi kedua tangannya masih berfungsi pantang baginya untuk meminta - minta. Steve tahu betul prinsip Iren, ia pun tak kehabisan akal. Pernah suatu ketika Iren hendak membayar uang SPP namun di statusnya sudah lunas. Ternyata Steve sudah membayar semuanya.
"Aku tau kamu kuat. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya Iren." ucap Steve lembut.
"Terima kasih, Steve. Kamu selalu ada buat aku. Terima kasih." ucap Iren pelan.
"Sama - sama. Udah ya kamu jangan nangis lagi. Aku ikut sedih kalo kamu sedih. Janji ya sama aku. " ucap Steve penuh harap.
"Iyah, aku janji. " ucap Iren dengan sedikit senyum.
Steve pun menyunggingkan senyumnya. Raut wajahnya menunjukkan rasa bahagia ketika Iren tersenyum. Hari sudah sore. Para pelayat pulang satu per satu. Iren masuk ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang sudah bertahun - tahun menjadi tempat peraduannya. Iren menatap ke atas, dalam hatinya bertanya, siapa orang yang sudah menabrak orang tuanya? orang yang tega membiarkan ayah dan ibunya tergeletak dengan lumuran darah, ditinggal begitu saja ditengah jalan?