Your Boss Is Mine!!!

Your Boss Is Mine!!!
Cinta Mas Radit



Pukul 14.00 telah tiba. Akhirnya Iren bisa pergi dari kantor ini. Ia yang masih kesal dengan perlakuan Jessy hanya bisa menelan ludah. Bagaimanapun Jessy itu bosnya. Ia tak boleh bertindak mengikuti emosinya.


Bu Ella menghampiri Iren,


" Kamu mau pulang sekarang?" Ngga nunggu Pak Mervin dulu?" tanya Bu Ella.


" Emangnya saya dapet tugas dari Pak Mervin?" Iren malah balik bertanya.


" Saya tau kamu kan lagi BT gara - gara Bu Jessy. Ya siapa tau kamu mau liat Pak Mervin buat ilangin BT nya kamu." Iren ngga ngerti maksud Bu Ella.


" Kamu tau ngga? Banyak karyawan disini yang menjadikan Pak Mervin sebagai mood booster nya mereka. Walapun cuma ngeliat dari jauh, tapi pesona Pak Mervin itu udah kayak seorang pangeran tampan yang jadi impian banyak putri." ucap Bu Ella melanjutkan.


"Sehebat apa sih Pak Mervin sampe bikin cewek - cewek kegirangan?" tanya Iren penasaran.


" Makanya kamu jangan pulang dulu. Hari ini kan para bos ada pertemuan besar, jadi Pak Mervin pasti datang. Selesai meeting, Pak Mervin biasanya kesini buat bikin kopi kesukaannya sendiri." ucap Bu Ella.


"Ngga ah! Saya mau pulang aja sekarang. Takut telat juga ke cafe ngga enak sama yang lain." Iren menolak rayuan Bu Ella.


"Iren,, Iren,, ntar kamu nyesel loh!" Bu Ella mencoba mencegah Iren pergi.


Iren tidak menghiraukan ucapan Bu Ella. Ia tetap pergi juga. Iren hendak ke lobby dengan menggunakan lift. Tidak sampai 5 menit, pintu lift sudah terbuka. Ketika ia hendak keluar, tanpa sengaja ia menabrak sebuah tempat sampah. Ia tak melihatnya karena fokus dengan ponselnya.


Tong sampah itu menggelinding cukup cepat hingga Iren harus mengejarnya. Suara gesekan tong dengan lantai membuat orang yang ada disitu terganggu. Segera ia bawa tong itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Iren sepertinya sedang sial.


Tatapan tak suka dari orang - orang di lobby membuat Iren merasa tak enak hati. Ia segera keluar meninggalkan ruangan itu menuju halte.


30 menit sudah Iren menunggu taksi namun tak ada yang kosong. Taksi yang melewati halte semuanya berisi penumpang. Cukup lama Iren berdiri. Akhirnya Iren pun duduk di kursi halte yang sudah mulai usang.


Iren melihat sebuah taksi yang mencoba mendekat ke halte. Iren segera bangkit dan melambaikan tangannya meminta taksi itu berhenti. Taksi itupun berhenti tepat di depan Iren. Ketika hendak masuk, tiba - tiba ada seorang perempuan yang mendorong Iren dan membuatnya jatuh. Bukannya menolong, orang - orang di halte malah menertawakannya.


Si perempuan itu bukannya meminta maaf malah memasuki taksi dan meninggalkan Iren. Taksi itu pun melaju bersama perempuan tak tahu diri itu.


Iren berteriak kesal menghadapi kesialannya yang datang berrubi - tubi. Ia bangkit dari jatuhnya dan kembali duduk. Iren membersihkan kotoran yang menempel di pakaiannya.


Tak lama berselang, sebuah sepeda motor sport berhenti di depan Iren. Iren tak mempedulikannya. Ia masih tertunduk fokus dengan pakaiannya yang kotor.


"Hai mungil. Pulang yuk!" lelaki itu turun dari motornya.


Iren mendongak. Ia kegirangan melihat sosok didepannya.


"MAS RADIT!" teriak Iren. Ia menghampiri Radit dan refleks memeluknya.


Tentu Radit tidak akan menolaknya. Ia malah Keenakan dipeluk Iren.


"Untung ada Mas Radit kalo ngga aku udah malu sendiri gara - gara kejadian tadi." ucap Iren kesal masih dipelukan Radit.


Radit hanya tersenyum. Ia paham jika si Mungilnya sedang badmood.


"Ceritanya sambil jalan ya. Yuk kita pulang!" ajakan Radit langsung Iren ikuti. Ia sudah tak sabar ingin segera pergi dari halte itu.


Di jalan Iren memegang Radit erat. Ia menceritakan kesialan apa yang terjadi menimpanya hari ini sambil menangis. Lagi - lagi Radit tersenyum. Ia hanya diam mendengarkan curhatan si mungilnya.


"Udah ya jangan kesel lagi. Sekarang kamu peluk erat Mas, lalu kamu bersandar aja di punggung Mas!" pinta Radit dengan lembut.


...****************...


"Iren, turun yuk. Kita udah sampe." ucap Radit sambil melepaskan helmnya.


Iren tak kunjung menjawab. Radit menoleh ke belakang untuk melihat Iren dan ternyata Iren tertidur. Radit membopong Iren dan membawanya ke ruang emergency yang tersedia di cafe itu.


Radit merebahkan tubuh Iren di atas sofa. Masih terlihat bekas linangan air mata di pipi Iren. Radit menghapus jejak kesedihan Iren dengan tangannya. Ia bisa melihat betapa dalamnya kesedihan Iren, beratnya beban yang harus dipikul Iren.


Radit mencintai Iren. Ia masih menyimpan rasa indah itu dalam hatinya. Ia masih menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.


Sebenarnya Radit tak rela si mungilnya itu menanggung sendiri beban hidupnya. Tapi, Iren selalu menolak bantuannya. Iren tak ingin merepotkan siapapun. Selagi Iren masih hidup, Iren akan mengejar sendiri apa yang dicarinya. Prinsip ini semakin membuat Radit kagum dengan Iren.


"Masih tidur dia?" suara Poppy memecah keheningan ruangan itu.


"Belum." jawab Radit cuek.


" Mending kamu balik ke ruangan kamu, banyak kerjaan yang udah nunggu kamu dari tadi." pinta Poppy.


"Terima kasih sarannya, tapi aku masih mau disini." tolak Radit.


"Ngapain? Nungguin bocah ini bangun? ayo dong Radit. Semenjak kamu kenal dia kamu jadi orang bodoh." ucap Poppy kesal.


" Aku mau bagaimana, aku mau seperti apa itu bukan urusan kamu!" Radit pun ikut kesal.


"Dengerin aku baik - baik. Kerjaan kamu terbengkalai. Waktu kamu habiskan cuma buat ngurusin dia. Kamu juga ngga ada waktu buat aku.Kamu berubah, Radit!" Poppy menyeka air matanya.


" Pekerjaanku pasti akan selesai sesuai dengan waktunya. Kamu ngga usah repot - repot urusin hidup aku lagi. Waktu buat kamu? Sejak kapan kamu butuh waktu dari aku, hah?" Radit semakin emosi.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku berucap lebih kasar!" Radit mengusir Poppy.


"Radit, kamu berani usir aku?" Oh, aku tahu. Gara - gara bocah ini kan kamu.....?" ucapan Poppy terpotong.


" Kamu apa???? Sebaiknya kamu keluar sekarang!" Radit lagi - lagi mengusir Poppy.


Dengan perasaan terpaksa Poppy meninggalkan Radit dengan Iren. Tanpa mereka sadari, ternyata Iren sudah bangun sedari tadi dan mendengar semua perdebatan mereka.


Radit tertunduk disamping Iren. Ia sedang meredakan emosinya gara - gara berdebat dengan Poopy.


"Mas?" Iren memanggil Radit pelan.


" Hei, kamu sudah bangun?" Radit terkejut.


Iren tertunduk. Ia berusaha mengucapkan sesuatu. " Mas, maafin Iren, Iren ngga bermaksud untuk...." ucap Iren pelan namun terhenti karena jari Radit sudah mendarat di bibirnya.


Radit menarik tubuh Iren dan memeluknya. Ia menyakini Iren pasti mendengar semua ucapannya tadi dan itu pasti membuat Iren sedih.


"Kamu ngga perlu minta maaf. Mas yang minta maaf karena udah ganggu tidur kamu. Mas janji akan menceritakan semua yang terjadi antara Mas dengan Poppy. Sekarang kamu siap - siap ya. Sepertinya cafe sudah mulai ramai." Radit melepaskan pelukannya dan mencium kening Iren.


Iren tak mengerti mengapa ia selalu mau diperlakukan manis oleh Radit. Apa ini yang dinamakan cinta? Rasa aneh yang belum pernah Iren rasakan dari lawan jenisnya.