
Di hari pertama bekerja sebagai office girl tidak terlalu melelahkan bagi Iren. Ia hanya belajar semua hal yang berkaitan dengan tugasnya. Penjelasan Bu Ella kemarin cukup Iren fahami dengan baik. Sebelum pulang, Pak Tonny meminta Iren untuk menandatangani sebuah kertas yang berisi tentang perjanjian kerja. Diatas kertas itu bertuliskan jika selama 3 bulan ini Iren harus mengikuti training. Jika hasilnya bagus, maka perusahaan akan menjadikan Iren sebagai pekerja tetap, sebagai office girl pastinya.
Jam kerja Iren pun dijelaskan pada kertas selembar itu. Selama training, Iren harus bekerja mulai pukul 6 pagi sampai jam 2 siang. Setelah itu, Iren diperbolehkan untuk pulang. Hal ini membuat Iren senang. Pasalnya, ia masih bisa bekerja di cafe Pak Bobby.
...****************...
Jam 05.30 Iren sudah ada di pantry. Ia mulai menyiapkan alat - alat kebersihan dan membersihkan setiap ruangan. Iren membersihkan ruangan sesuai dengan instruksi Bu Ella, karena setiap pemiliknya memiliki selera berbeda - beda. Ribet memang, tapi ini konsekuensinya bekerja dengan orang - orang besar di perusahaan besar pula.
Jam 7 Iren sudah selesai membersihkan ruangan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia terduduk lemas di kursi pantry. Membersihkan ruangan di lantai 20 yang cukup luas menjadi pengalaman pertama yang melelahkan bagi Iren. Biasanya, ia hanya membersihkan area rumah seminggu 3 kali karena rumahnya sering ditinggal bekerja.
"Wih, gesit banget!" suara Bu Ella memecah keheningan.
"Eh, Ibu udah dateng. " jawab Iren.
"Iya, saya abis bersihin ruang meeting di lantai 22. Katanya hari ini mau ada rapat para direktur jam 10." Bu Ella menjelaskan.
"Oh, seperti itu. Ruangan manager udah saya kasih parfum lavender. Ruangan Bu Jessi udah rapi, udah wangi mawar. Ruangan Pak Mervin juga udah wangi. Tapi menurut Iren sih baunya ngga enak. Instruksi ibu sudah saya jalankan. Laporan selesai! " Iren memeragakan orang yang sedang hormat didepan bendera.
"Anak pinter. Kerjaan kamu pagi ini beres ya. Selanjutnya kamu tinggal nunggu aja takutnya ada pegawai yang butuh sesuatu. " ucap Bu Ella.
"OK siap! " jawab Iren semangat.
Iren belum sarapan. Ia bingung kemana harus membeli makanan.
"Bu, kalo mau beli makanan dimana ya? Aku belum sarapan. " jawab Iren sambil nyengir.
"Oalah,, ibu lupa ngasih tau. Semua pegawai disini dapet jatah makan mulai dari sarapan, makan siang sampai makan malam. Yang lembur juga ada jatahnya. Kalo buat kita sudah tersedia di meja pojok sana. Tinggal di angetin aja kalo pengen anget. Tapi kalo bosen sama makanan catering, kamu bisa keluar gedung kuq, ada banyak food court disana. Kalo pengen lebih praktis, tinggal pesen pake aplikasi. " Bu Ella menjelaskan panjang lebar.
Iren sudah kelaparan. Jika harus keluar gedung cukup memakan waktu, yang ada nanti Iren keburu pingsan. Akhirnya Iren mengambil seporsi makanan yang ada diatas meja. Iren makan bersama dengan Bu Ella. Pekerjaan sudah beres, sarapan pun bisa santai.
"Makanannya enak ya bu. " Iren berkomentar sambil mengunyah makanan.
"Iya dong, cateringnya punya orang ternama, udah terkenal dimana - mana. Ibu jamin nanti kamu gemuk deh kerja disini. "jawab Bu Ella.
Iren dan Bu Ella tertawa. Mereka sudah akrab padahal baru kenal selama 2 hari. Selesai makan Iren menonton TV sedangkan Bu Ella kembali ke ruang meeting menyiapkan snack dan minuman.
...****************...
Jam menunjukkan pukul 08.30. Para karyawan sudah mulai berdatangan. Iren bisa melihat itu dari jendela pantry. Puluhan mobil mewah berdatangan. Sepeda motor juga banyak yang memasuki area parkir gedung.
Sambil menatap ke arah luar jendela, Iren melamun dan berucap dalam hati:
Enak banget ya jadi office girl disini. Masih training aja gajinya 5 juta, gimana kalo udah jadi pegawai tetap? Bisa - bisa kebeli motor sport nih.
Lamunan Iren buyar tatkala telpon di pantry berbunyi. Iren kaget, ia segera mengangkat telepon itu.
Selamat pagi. Dengan Iren di bagian pantry lantai 20, ada yang bisa saya bantu?
Seorang perempuan menjawab ketus,
Bawakan coffe latte ke ruangan saya sekarang!
Telepon itu langsung terputus. Iren bingung siapa yang telepon barusan. Ke ruangan mana pula ia harus mengantarkan kopi itu. Mana Bu Ella belum kembali, Iren semakin bingung harus nanya ke siapa.
Wait! coffe latte? Sepertinya yang tadi telepon Bu Jessi. Kata Bu Ella coffe latte itu kesukaannya dia. Iren berfikir keras.
TOK... TOK... TOK...
Iren mengetuk pintu dan masuk.
"Permisi bu, ini coffe latte nya sudah siap." ucap Iren gugup.
"Taro aja!. " jawab Jessi ketus.
Iren bingung harus meletakkan minuman itu dimana. Iren masih baru disini jadi belum hafal kebiasaan disini.
"Maaf, bu. Ditaronya dimana ya?" Iren memberanikan diri untuk bertanya lagi.
Jessi berbalik dengan kursinya. Ia yang sedari tadi membelakangi Iren nampak kesal dengan pertanyaan Iren. Ia melihat Iren dari bawah sampai kaki, tak ada yang terlewatkan. Sementara tangan Iren sedikit bergetar, khawatir Bu Jessi memarahinya.
"Kamu baru disini? " tanya Jessi.
Iren menjawab pertanyaan Jessi dengan anggukan kepala.
"Pantas masih bodoh, harus di ajarin dulu dari A sampai Z kebiasaan disini." ucap Jessi pelan namun menyakitkan.
Iren hanya terdiam, tertunduk tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Ella kemana? Kenapa kamu yang bawain kopi saya? " tanya Jessi masih dengan sinis.
"Bu Ella sedang menyiapkan ruang meeting bu di lantai 22." Iren menjawab pelan.
"Bawa kopinya kemari! " pinta Jessi.
Iren meletakkan kopi itu tepat didepan Jessi. Jessi mengambil kopi itu lalu menyeruputnya. Pandangan Jessi tetap fokus pada sosok Iren.
"Lumayan enak." Jessi memberikan komentar.
"Terima kasih. Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Iren sopan.
Jessi tidak menjawab. Ia hanya menyuruh Iren keluar dari ruangannya dengan mengepakkan telapak tangan kirinya sementara tangan kanan memegang cangkir kopi.
Setibanya di pantry, Iren menggerutu sendirian. Ia kesal dengan perlakuan Jessi. Ingin rasanya ia menjambak rambut Jessi. Apalah daya. Ia takkan pernah bisa melakukan itu sesakit apapun ucapan Jessi padanya.
"Ada ya manusia macam begitu? Cantik sih, body bagus, sempurna lah. Tapi sikapnya itu loh ya, MEMBAGONGKAN sekali! Ngomongnya tu pelan, santai tapi menyakitkan! " ucap Iren emosi.
Di belakang Iren ternyata Bu Ella sudah berdiri sejak tadi. Ia tertawa kencang.
HAHAHAHAHAHAHA......
Iren jadi malu karena menggerutu sendiri. Ia meminta maaf pada Bu Ella atas sikapnya.
"Maaf ya, Bu. Abis Iren kesel sih. " Iren kesal lagi.
"Kamu beruntung cuma di omongin, karyawan lain ada loh yang di lempar buku, hahahahahha. " Bu Ella makin jadi dengan tawaannya.
Iren memajukan bibirnya, menandakan ia kesal ditertawakan Bu Ella. Iren bergumam dalam hati:
Sabar Iren, sabar. Semua ada prosesnya. Inget hutang ayah ibumu. Jangan sampai ucapan Jessi membuatmu jatuh. Kamu pasti bisa, semangat!