
Setahun sudah Iren hidup sendiri. Segala hal ia lakukan sendirian. Dulu waktu ibunya masih ada, ia selalu dilayani dengan baik. Mau makan tinggal makan, tidak pernah mencuci baju, hampir semuanya dilakukan oleh ibunya. Bukan karena Iren anak yang manja, tapi karena besarnya rasa sayang ibunya terhadap Iren yang membuat Bu Novi seperti berusaha memenuhi apa yang Iren perlukan. Menurut beliau, Iren sudah sangat lelah belajar disekolah dari pagi hingga sore. Ia tak ingin anak semata wayangnya makin lelah dengan pekerjaan di rumah. Iren sering menegur ibunya agar tidak perlu mengurusi keperluannya. Ia tidak ingin ibunya jatuh sakit karena kelelahan. Namun, ibunya tetap kekeh dengan pendiriannya.
Saat ini Iren disibukkan dengan kuliahnya. Karena Iren menjadi lulusan terbaik di SMA nya, ia mendapatkan beasiswa di sebuah kampus ternama di Ibukota. Jurusan yang ia ambil pun tak tanggung - tanggung, ilmu kedokteran. Sejak kecil Iren bercita - cita ingin menjadi dokter. Ia ingin bisa mengobati ayahnya yang sering sakit - sakitan karena usianya sudah tidak muda lagi. Selain itu, Iren juga ingin mengubah hidupnya. Ia lelah menjadi orang miskin. Keluarga Iren sering dihina orang, tidak diberi pertolongan, di cemooh, dikucilkan, ah... sedih rasanya.
Dulu keluarga Iren adalah keluarga yang berkecukupan, namun tetap sederhana. Banyak saudara dari ayah dan ibu Iren yang sering berkunjung ke rumahnya. Namun, saat ayahnya di vonis mengidap penyakit jantung, kehidupan mereka berubah. Ayah Iren dikeluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja. Uang pesangon yang diberikan habis dipakai untuk pengobatan ayah. Saudara yang sering berkunjung dulunya sekarang sudah tiada lagi yang datang, entah bagaimana nasib mereka sekarang.
Iren dan keluarganya jatuh miskin. Sudah tak ada lagi perusahaan yang mau menerima ayahnya bekerja. Saat itu Iren masih berusia 3 tahun. Iren tahu semua masa lalu keluarganya dari ibunya.
Karena sudah tidak adanya pemasukan, ibu Novi berinisiatif untuk membuka warung makan kecil - kecilan di depan rumah. Ibu Novi memiliki modal dari hasil tabungannya ketika suaminya masih bekerja. Masakan bu Novi memang enak, banyak pengunjung yang membeli makanan di warungnya. Di saat keluarga ini mulai bangkit, tante Siska datang dan membawa masalah.
Tante Siska dan suaminya Om Johny selalu numpang makan di warung bu Novi, pagi, siang dan malam. Mereka selalu ingin makan gratis, padahal penghasilan mereka cukup besar. Mereka beralasan jika mereka itu masih keluarganya. Jadi, tidak mengapa kalau makanannya di gratiskan. Iren sering menegur tantenya agar mau membayar, tapi tante Siska malah marah. Keluarga Iren hanya bisa mengusap dada melihat tingkah laku tante Siska dan Om Johny.
Bu Novi masih berjualan di bantu suaminya sampai Tuhan menjemput ajal mereka. Di perjalanan pulang dari pasar, mereka ditabrak oleh sebuah mobil mewah berwarna hitam. Mobil itu melaju kencang dan oleng dan menyerempet keduanya. Bu Novi terjatuh ke trotoar sedangkan suaminya terpental ke arah depan. Motor yang mereka tumpangi rusak parah. Pengendara mobil itu meninggalkan mereka begitu saja. Si pengendara langsung tancap gas dan pergi. Beruntungnya, banyak warga yang menolong. Mereka membawa keduanya ke rumah sakit terdekat namun sayang, Bu Novi dan suaminya tidak tertolong.
Selain kuliah, Iren juga memiliki side job sebagai pelayan di sebuah food court. Di tempatnya bekerja, jadwal kerja bisa disesuaikan dengan jadwal kuliah. Iren bisa mencukupi kebutuhannya sendiri dari sini. Kesibukannya cukup membuatnya sedikit melupakan kesedihannya. Ia harus melanjutkan hidup, ia bertekad untuk mendapatkan kehidupannya yang lebih baik.
Jam menunjukkan pukul 22.00. Iren baru saja sampai dirumah. Ia membuka tas dan mengambil kunci rumah. Ketika ia memasukkan kunci ke lubang pintu, terdengar suara tak asing dari arah belakang.
"Pulang juga kamu akhirnya, daritadi tante nungguin kamu disini sampe bentol - bentol digigitin nyamuk." Ucap tante Siska ketus.
Iren menarik nafas dalam - dalam berusaha tenang,
"Ada apa Tan?" tanya Iren singkat.
"Kapan kamu mau lunasin hutang orang tuamu? Tante lagi butuh duit nih. " tanya tante Siska.
" Tan, aku udah tiap bulan nyicil bayar hutang ke tante, aku ngga bisa langsung bayar semua, gajiku ngga cukup. Aku punya catatannya kuq, sisanya tinggal 10 juta lagi. " jawab Iren sembari menahan marah.
"Iya sih, tapi tante lagi butuh duit nih, ayolah ada kali buat makan di cafe, cepetan!. "
Iren tidak ingin ribut. Ia keluarkan uang 2 lembar pecahan 100 ribu dari dompetnya. Segera ia berikan kepada tantenya yang tidak tahu diri itu lalu masuk ke rumah dan mengunci pintu. Terdengar suara pintu cukup keras.
"Heh, Iren. Kurang ajar kamu ya! Ngga sopan sama tante kamu. Udah bagus rumah ini ngga saya jual buat nutupin hutang ayah ibu kamu!!! " ucap tante Iren marah. Tante Siska pergi meninggalkan rumah Iren dengan raut muka marah.
Dibalik pintu, Iren menangis. Ia teringat kedua orang tuanya. Ia tersungkur, linangan air mata semakin deras.
"Ayah,,, Ibu,,, Iren kangen kalian. Iren kesepian Yah, Bu. Ngga ada lagi yang belain Iren dari tante Siska. Iren takut,,, Iren,,, Iren,,,,,." ucapnya lirih.
Tak terdengar Iren melanjutkan ucapannya. Ia hanya menangis sesegukan. Tak berapa lama ia bangkit. Tangisnya terhenti. Ia usap pipinya yang basah.
Iren masuk ke kamarnya dan segera mandi. Di pikirannya ada begitu banyak beban berkecamuk. Ia tak tahu harus berbuat apa dan harus mulai dari mana. Selesai mandi, Iren menyisir rambut panjangnya yang hitam di depan cermin. Terlihat bayangan bingkai foto orang yang sangat ia cintai. Pak Sukma sedang duduk berdampingan dengan istrinya, Bu novi. Sementara Iren berdiri dibelakang keduanya sambil memegang pundak ayah ibunya. Mereka tampak bahagia. Senyum yang merekah semakin memancarkan keharmonisan keluarga ini.
Iren menghampiri foto itu yang ada diatas sebuah meja. Ia duduk di kursi kayu dengan warna senada dengan meja. Ia raih foto itu, di tatapnya dalam - dalam.
Iren menyunggingkan senyum seraya berkata,
" Ayah, Ibu, Iren sudah tahu apa yang harus Iren lakukan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Iren akan bekerja keras. Iren akan wujudkan mimpi ayah menjadi seorang dokter. Iren akan tunjukkan kepada semua orang yang sudah menyakiti kita bahwa Iren perempuan hebat, wanita kuat. Doakan Iren ya Yah,,, Bu,,,. " Iren mengecup foto itu dan memeluknya.
Di atas meja ada satu bingkai foto lagi yang menarik perhatian Iren. Sepasang pria dan wanita berseragam SMA di sebuah taman sekolah. Keduanya berdampingan, bergaya nyeleneh. Wanita itu adalah Iren dan pria disampingnya adalah Steve, teman dekatnya. Kala itu, Steve memaksa Iren untuk berswafoto. Iren tak mengerti apa maksud Steve. Iren baru mengetahui alasan Steve mengajaknya foto bersama menjelang keberangkatannya ke Amerika untuk melanjutkan studi, tepat di 40 hari kepergian ayah dan ibunya Iren.
Saat itu, Steve datang ke rumah Iren. Tak biasanya, Steve datang dengan wajah muram dan ia membawa sebuah paper bag kecil di tangannya. Iren pun berusaha menghiburnya.
" Hey, kenapa mukanya kuq ditekuk gitu? Steve, aku udah mengikhlaskan kepergian ayah dan ibuku. Aku udah ngga sedih lagi sekarang karena aku juga ngga mau liat kamu sedih." ucap Iren sambil tersenyum.
"Aku yakin kamu pasti bisa melewatinya, Iren. Bukan itu yang membuat aku sedih. " Steve menundukkan kepalanya.
"Lalu apa? Kamu tidak sedang dihukum ibumu kan gara - gara pulang larut malam? " ucap Iren menghibur Steve.
"Aku akan pergi dan tinggal di Amerika untuk melanjutkan studi. Jadwal take off nya besok pagi." ucap Steve seraya memandang Iren.
Detak jantung Iren serasa terhenti. Iren yang sedari tadi menunjukkan wajah ceria mendadak menjadi diam. Namun, ia berusaha untuk tersenyum Ia tak ingin Steve semakin bersedih.
"Bagus dong, Steve. Selamat ya! Aku doakan semoga kamu bisa meraih mimpimu, Kamu pasti bisa karena kamu hebat. " ucap Iren seraya mengangkat jempolnya.
Steve tahu betul sebenarnya Iren sedih. Di pelupuk mata Iren mulai terlihat kilauan cahaya dari buliran airmata yang hendak jatuh. Steve memeluk Iren erat. Steve membisikkan sebuah kalimat di telinga Iren, kalimat yang selalu muncul di mimpi Iren.
"I love you so much, I will miss you forever. "
Iren hanya terdiam, kaku namun tak dapat menahan derasnya air mata yang jatuh. Steve melepaskan pelukan eratnya. Ia pun menghapus air mata di pipi Iren.
"Aku harap kamu mau menyimpan foto ini di kamar kamu." ucap Steve seraya menyerahkan paper bag yang tadi ia bawa.
"Pasti. Aku akan menyimpannya. Kamu hati - hati ya disana." balas Iren sedih.
Steve pamit pulang. Ia meninggalkan Iren untuk waktu yang tak menentu. Iren membuka paper bag itu dan melihat foto ia dan Steve tengah tersenyum. Dibalik foto itu ada tulisan sebuah alamat email milik Steve. Mungkin ia sengaja agar Iren bisa menghubunginya.
(Ayah, Ibu, dan kamu Steve,,, kalian semua adalah segalanya untukku), gumam Iren dalam hati. Iren beranjak dari duduknya dan pergi tidur.