Your Boss Is Mine!!!

Your Boss Is Mine!!!
The First Day in PT. Permata Intan Jaya



Jam dinding menunjukkan pukul 04.00. Alarm dari handphone Iren berbunyi. Ia segera bangun. Jiwa raganya sudah siap untuk menghadapi tantangan baru hari ini. Iren merapikan tempat tidurnya, lalu ia menyiapkan pakaian yang akan ia pakai. Atasan kemeja putih dengan celana bahan berwarna hitam, lengkap dengan sepatu kets hitam tanpa tali. Sebelum mandi, Iren memasak nasi goreng dulu agar badannya sedikit hangat.


Iren sudah rapi. Ia ikat rambut hitam panjangnya menyerupai ekor kuda poni. Nasi goreng sudah habis disantap. Sebelum berangkat Iren berdoa meminta kepada Tuhan semoga hari ini segala urusannya dimudahkan. Iren mengambil tasnya lalu keluar dari rumah. Tak lupa ia mengunci pintu dari luar. Rumah ini memang tidak memiliki benda berharga. Tapi, Iren tidak rela jika ada orang asing masuk ke dalam rumahnya dengan niat tidak baik, termasuk om dan tantenya.


TIIDDIIIDDDDD...


Suara klakson motor mengagetkan Iren. Sebuah motor sport berwarna hitam sudah terparkir didepan rumahnya. Seorang pengendara laki - laki lengkap dengan jaket kulit dan helm melambaikan tangannya kepada Iren. Kemudian, laki - laki itu membuka helm nya dan melempar senyum pada Iren.


"MAS RADIT." ucap Iren lantang. Iren segera menghampirinya.


"Ngapain pagi - pagi udah disini? Bikin kaget aja. Iren pikir Mas itu penculik tau! " ucap Iren kesal.


"Iya, Mas memang mau culik Iren." jawab Mas Radit.


"Dih, apaan sih. Udah ah aku jalan dulu ya takut telat soalnya. " Iren hendak meninggalkan Mas Radit. Namun, lelaki tampan itu menarik tangan Iren hingga Iren tertahan didekapannya.


"Mas anterin kamu ya, biar ngga telat. Jangan ditolak! Mas udah bangun pagi - pagi demi apa coba? Cuma demi kamu, mungilkuh! " Jemari Mas Radit mencubit hidung Iren pelan.


"Oh,, OK, OK. " jawab Iren gugup.


Iren memboncengi motor itu lalu mereka berangkat. Di jalan Iren tak banyak bicara. Ia masih membayangkan apa yang Mas Radit lakukan padanya tadi pagi. Iren senyum - senyum sendiri. Tanpa ia sadari, Mas Radit memperhatikannya melalui kaca spion. Mas Radit hanya tersenyum melihat pipi si mungilnya kemerahan.


Sekitar 45 menit Mas Radit dan Iren sampai di PT. Permata Intan Jaya, salah satu perusahaan yang besar di ibukota dengan gedung puluhan lantai dan dinding kaca. Tumben sekali jalanan tidak semacet biasanya. Padahal ini hari Senin, hari yang "dibenci" oleh banyak pegawai.


"Kamu semangat ya, Maaf Mas ngga bisa nemenin kamu. " ucap Mas Radit sembari membuka helm yang dipakai Iren.


"Iya Mas. Makasih ya, Mas hati - hati dijalan. " jawab Iren.


"Iya sayang. Mas pergi dulu. " jawab Mas Radit manis sambil senyum.


Iren tertegun. Badannya serasa kaku mendengar kata "sayang" dari Mas Radit. Ia tidak membalas ucapan Mas Radit. Bibirnya mengatup, ingin berucap namun sulit.


"Mbak! Mbak!" ucap seorang lelaki tegap berseragam safari.


Iren terkejut. Ia tersadar dari diamnya.


"Iya pak. Bapak ngomong ke saya? " tanya Iren gagap.


"Mbak ada keperluan apa disini? Saya perhatikan mbak berdiri saja dari tadi. " tanya lelaki itu yang ternyata seorang security.


Iren menjelaskan maksud kedatangannya. Lalu security itu mengantarkan Iren ke depan resepsionis dan menyampaikan maksud Iren.


Iren mencari ruang HRD mengikuti petunjuk sesuai arahan resepsionis. Tak sulit mencari ruangan tersebut. Iren mengetuk pintu pelan lalu masuk ke dalam. Ada sekitar 5 orang pegawai didalamnya.


"Permisi. Saya mencari Pak Tonny. Resepsionis meminta saya mencari beliau disini." ucap Iren sopan.


Seorang lelaki dewasa menghampiri Iren. Beliau menyalami Iren dan mengenalkan diri.


"Saya Tonny, apakah ini ibu Iren?" tanya beliau.


Iren merespon Pak Tonny dengan anggukan kepala. Pak Tonny meminta Iren mengikutinya ke sebuah ruangan lain.


"Silahkan duduk, Bu Iren." ucap Pak Tonny.


"Terima kasih. " jawab Iren lalu menduduki sebuah sofa.


Pak Tonny mengajak Iren berkeliling. Diberitahunya bagian - bagian ruangan yang menjadi tanggung jawab Iren nantinya. Pak Tonny juga mengenalkan Iren pada seorang office girl senior, yang akan menjadi atasan Iren. Namanya Bu Ella. Bu Ella sudah 10 tahun bekerja disini. Usianya sekitar 40 tahun.


Pak Tonny meninggalkan Iren dan Bu Ella di pantry. Iren gugup untuk memulai obrolan. Padahal, Bu Ella sepertinya baik orangnya.


"Nama kamu siapa tadi? Bu Ella memulai obrolan.


"Nama saya Iren bu. " jawab Iren gugup.


"Kamu jangan gugup begitu. Sekarang kan kita satu profesi. Kamu anggap aja saya seperti kakak, atau teman juga boleh." jawab Bu Ella sambil tersenyum.


Iren merasa lega. Ternyata benar Bu Ella memang baik.


"Kamu kenapa mau jadi office girl? Kayaknya kamu masih muda? Kenapa ngga ngelamar posisi lain?" tanya Bu Ella penasaran.


Iren menjelaskan alasannya melamar di perusahaan ini. Iren juga menceritakan tentang sifat om dan tantenya yang memperlakukannya dengan buruk.


"Oalaahhh.... malang sekali kamu Iren. Yo wis ngga apa - apa. Sekarang kamu yang semangat kerjanya ya. Jangan sungkan untuk nanya ke saya kalo ada kesulitan. " Ucap Bu Ella menyemangati.


Iren merasa punya kawan sekarang. Walaupun baru hari pertama tapi Iren bisa merasakan kedekatannya dengan Bu Ella. Bu Ella menjelaskan bagaimana cara menggunakan alat - alat yang ada di pantry. Ini pertama kalinya Iren belajar. Jika di cafe Iren tinggal mengantarkan pesanan saja, tapi disini Iren juga harus membuat pesanan karyawan.


Iren bisa memahami penjelasan Bu Ella dengan baik. Ketika Bu Ella sedang memperagakan cara membuat kopi, HP Bu Ella berbunyi.


"Iya, Bu. Maaf tadi lagi ngajarin anak baru cara bikin kopi. " ucap Bu Ella pelan.


Terdengar suara perempuan sedang marah - marah dari HP Bu Ella. Lalu Bu Ella menjawabnya dengan pelan sembari menahan kesal.


"Baik, Bu. Segera saya antarkan. " Bu Ella menutup telepon.


Iren sebenarnya kepo siapa perempuan yang marah - marah itu. Namun, ia urungkan niatnya untuk bertanya karena khawatir membuat Bu Ella semakin kesal.


"Dia itu Jessica Alexandria Nasution, anak dari salah satu pemilik saham di perusahaan ini. Bu Jessi menjabat sebagai kepala manager." jelas Bu Ella tanpa Iren minta.


"Oh, ibu buat salah ya sama Bu Jessi sampe dia marah - marah. " Iren memberanikan diri bertanya.


"Bu Jessi itu cantik, turunan bule gitu, tinggi, putih, tapi sayang ngga punya etika. Ngomongnya nge gas mulu, apa - apa pengen cepet. Sama Pak Mervin aja dia berani membantah, apalagi sama kita, cuma office girl. " ucap Bu Ella.


Penjelasan Bu Ella membuat Iren merinding. Bagaimana jika nanti Iren bertemu dengan Bu Jessi? Iren tidak bisa membayangkannya.


"Kalo Pak Mervin siapa bu? " tanya Iren penasaran.


"Pak Mervin itu salah satu direktur disini. Dia itu baik, ngga sombong. Mau berbaur dengan bawahannya. Pernah waktu itu dia ke pantry bikin kopi sendiri. Padahal kan dia bisa nyuruh orang." Bu Ella menjelaskan.


"Sekarang kita bikin coffe latte ya. Kamu perhatikan cara buatnya bagaimana. Ini kopi kesukaan Bu Jessy. Kamu harus bisa biar nanti ada yang gantiin saya kalo saya sedang sibuk ngurusin yang lain. " pinta Bu Ella.


Bu Ella memperagakan cara membuat coffe latte bak seorang chef. Beliau mahir sekali menggunakan alat dan mencampurkan bahan yang digunakan. Setelah selesai, Bu Ella segera mengantarkannya ke ruangan Bu Jessi. Sementara itu, Iren tetap di pantry. Ia menunggu Bu Ella kembali karena masih ada banyak yang ingin Bu Ella tunjukkan terkait pekerjaannya sebagai office girl.


Iren merasa jenuh. Bu Ella belum juga datang. Iren memutuskan untuk berkeliling melihat - lihat pantry. Areanya cukup luas, 2 kali lebih besar dari ruang TV dirumah Iren. Pada sebuah dinding ada beberapa bingkai foto susunan karyawan di perusahaan ini. Mulai dari pemilik perusahaan sampai manager bagian.


PAULA AGUSTINUS MERVIN,


Direktur Keuangan


Iren memfokuskan pada salah satu bingkai foto bertuliskan nama diatas. Sosoknya tampan, hidungnya mancung, senyumnya manis, seperti artis bintang hollywood.