Your Boss Is Mine!!!

Your Boss Is Mine!!!
Office Girl + Waitress? WHY NOT!



Weekend ini cafe sangat ramai. Mungkin banyak customer yang kangen nongkrong disini setelah seminggu tutup. Iren hampir tidak bisa diam saking banyaknya pesanan. Waktu makannya pun terganggu. Ia harus mencuri waktu untuk satu atau dua suap makanan. Ketika cafe tutup, barulah Iren bisa beristirahat dengan leluasa. Tidak hanya Iren, pekerja lain pun merasakan lelah yang sama.


Pak Bobby menyadari karyawannya kelelahan. Beliau memberi semangat dengan memberikan bonus diluar gaji. Semua karyawan bersorak dan berterima kasih. Bagi Iren bonus tambahan ini sangat berarti. Ia akan menyimpannya untuk tambahan membayar hutang.


Karena sudah larut, malam ini Iren akan tidur di mess. Iren membuka gawainya. Dilihatnya ada notifikasi email masuk, Iren pun membukanya. Iren kesenangan setelah membacanya. Ternyata email itu dari HRD perusahaan PT. Permata Intan Jaya, perusahaan tempat ia melamar malam kemarin. Berkas lamaran Iren diterima dan Iren dijadwalkan untuk mengikuti interview secara online besok pagi.


...****************...


Pagi ini Iren minta izin ke atasannya untuk ikut interview dan akan bekerja setelah selesai. Pak Bobby memang baik, beliau selalu mengizinkan karyawannya asalkan semua memang benar adanya. Iren meminjam laptop cafe karena laptop miliknya dirumah.


Iren kembali ke kamar. Ia segera mempersiapkan diri. Setelah berpakaian rapi, Iren menghidupkan laptop dan mengaktifkan wifi. Link untuk sesi interview ia buka. Terlihat seorang pria dengan pakaian formal menyapa Iren dan memulai percakapan. Iren menunjukkan mimik muka yang ceria. Ia menjawab pertanyaan dengan percaya diri. Interview itu memakan waktu kurang lebih 30 menit. Setelah selesai, Iren kembali ke area cafe.


Mas Radit, manager cafe tempat Iren bekerja menghampiri Iren. Lelaki berusia 25 tahun ini tidak memiliki kulit putih, tapi ia selalu tampak manis. Banyak karyawan disini yang jatuh hati padanya. Mas Radit juga baik, tidak sombong dengan jabatannya. Ia selalu berbaur dengan semua karyawan.


"Gimana interview nya, lancar kan?" tanya Mas Radit.


"Aku bersyukur Mas, semua berjalan lancar. Semoga hasilnya juga bagus ya, doain ya Mas. " jawab Iren penuh harap.


"Amin. Aku yakin kamu pasti bisa, Ren. Kamu itu perempuan hebat, pekerja keras. Aku percaya semua usahamu pasti membuahkan hasil yang baik. " Ucap Mas Radit.


"Terim kasih banyak, Mas." balas Iren.


"Kira - kira hasil interview nya kapan? Kalo kamu lulus, Mas traktir kamu kerak telor deh. " ucap Mas Radit.


"Asyiikkkk, bener ya Mas. Hasilnya hari ini juga Mas, jam 2 siang. Pihak HRD nanti kirim ke email aku lulus atau ngga nya. " jelas Iren.


"Ya udah Mas ke dalam dulu. Selamat bekerja, mungil. " ucap Mas radit meledekku seraya pergi. Aku hendak membalasnya namun Mas Radit keburu menghilang.


Postur tubuh Iren memang tidak tinggi semampai, tapi tidak terlalu pendek juga, sekitar 145an lah. Badan Iren ramping, pipinya chubby, bibir tipis dan hidungnya mancung. Mas Radit lah orang yang pertama kali menjuluki Iren dengan sebutan Si Mungil, lalu karyawan lain pun ikut - ikutan menyebut Iren Si Mungil, sampai Pak Bobby pun melakukan hal yang sama. Iren bersyukur orang - orang di cafe selalu baik padanya. Walaupun ada satu karyawan yang selalu jutek pada Iren. Iren menyebut perempuan itu dengan panggilan Mbak Poppy.


Mbak Poppy adalah pegawai angkuh di bagian keuangan di cafe ini. Ia selalu menyombongkan jabatannya, apalagi pada karyawan dibawah levelnya. Mbak Poppy selalu sinis pada Iren. Apa yang Iren lakukan selalu salah, sekalipun Iren melakukannya dengan benar. Terlebih jika Mas Radit mengajak Iren ngobrol, pasti Mbak Poppy semakin sinis. Sepertinya Mbak Poppy cemburu. Iren tidak ingin menghiraukan perlakuan Mbak Poppy padanya. Bagi Iren, ia hanya ingin bekerja dengan baik, tanpa merugikan siapapun. Toh, Mas Radit dan Mbak Poppy juga tidak memiliki hubungan spesial, jadi ngga masalah jika Iren sering berbincang dengan Mas Radit.


Siang ini cafe belum begitu ramai. Iren tidak terlalu sibuk. Iren pergi ke bagian dapur untuk membantu pekerja yang lain. Ketika sedang menyiapkan bahan makanan, HP Iren berbunyi pendek. Iren membaca sebuah pesan yang baru saja masuk. Betapa bahagianya Iren membaca pesan dari bagian HRD. Iren diterima bekerja di perusahaan besar itu. Ia biss mulai bekerja besok.


Semua karyawan memberi selamat pada Iren, tak ketinggalan Mas Radit juga. Dari kejauhan Mbak Poppy hanya menunjukkan muka datar. Iren membalasnya dengan senyum. Mendengar suara gaduh Pak Bobby pun menghampiri dapur, khawatir ada hal - hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali? " tanya Pak Bobby.


Semua karyawan terdiam, panik khawatir Pak Bobby marah. Mas Radit menghampiri Pak Bobby dan menjelaskan semuanya. Pak Bobby senyum sumringah, ia menghampiri Iren.


"Selamat Iren, selamat! Saya bangga sama kamu. Saya rela menukar 10 anak saya dengan kamu. Kamu berhak bahagia, Nak. " Pak Bobby menghapus air mata dengan tangannya.


"Ya Tuhan! Terima kasih banyak pak. Bapak baik sekali pada saya. Bapak mengingatkan saya kepada almarhum ayah saya. Sekali lagi terima kasih, pak. " ucap Iren haru.


Semua orang di dapur itu hanya terdiam, ikut terharu melihat perjuangan Iren yang dilakukan seorang diri. Semua tahu bagaimana kisah hidup Iren.


Pengunjung mulai ramai. Para karyawan sibuk dengan bagian masing - masing. Banyak customer yang memilih fasilitas take away karena cafe akan tutup lebih awal. Pak Bobby akan melakukan fogging yang rutin dilakukan seminggu sekali. Hal ini untuk mencegah adanya virus dan bakteri yang bisa menyebabkan penyakit.


Iren bersiap untuk pulang. Ada sebuah panggilan di HP Iren. Mas Radit rupanya yang menelpon.


Iya Mas ada apa? Tanya Iren.


Mas tunggu kamu didepan ya. Mas mau bayar hutang, hehehe. Jawab Mas Radit.


Bukan hutang uang. Mas kan janji kalo kamu lulus interview Mas mau traktir kerak telor kesukaan kamu. Ucap Mas Radit.


Oh iya ya, OK deh Iren ke depan sekarang. Jawab Iren lalu memutus sambungan telepon.


Iren dan Mas Radit pergi ke sebuah food court dengan mengendarai motor sport Mas Radit. Lokasinya tidak terlalu jauh dari mess cafe. Tiba disana, Iren disuguhkan dengan berbagai macam varian kerak telor. Mas Radit tahu banyak hal tentang Iren. Tidak hanya makanan favoritnya, tetapi kisah hidup Iren yang menyedihkan pun ia tahu. Pak Bobby lah sumber pengetahuannya tentang Iren. Dulu, ayah Iren pernah bekerja cukup lama di perusahaan yang sama dengan Pak Bobby. Ayah Iren sering menceritakan keluarganya kepada Pak Bobby. Tak heran jika sekarang Pak Bobby tahu banyak tentang keluarga Iren.


Sambil menunggu pesanan, Mas Radit mengambil air mineral di atas meja dan meminumnya.


"Haus ya, Mas." tanya Iren sambil senyum.


"Iya nih, kamu ngga pesen wedang ronde? Biasanya kamu pesan itu kalo mau makan kerak telor." ucap Mas Radit.


"Kadang aku heran deh. Kuq Mas Radit bisa tau semua hal tentang apa yang aku suka, aku itu bagaimana. Memangnya Mas suka mata - matain aku ya?" tanya Iren curiga.


"Iya, emangnya kenapa? " jawab Mas Radit.


"Seriusan Mas? " tanya balik Iren serius.


"TAPI BOONG. hahahahahaha. " Mas Radit tertawa renyah.


Iren menunjukkan muka kesal. Ia pun hanya diam. Tak lama kemudian, makanan favoritnya datang. Iren langsung melahapnya.


"Dih, kuq ngga nawarin sih. Mas kan juga pengen." ucap Mas Radit.


"BODO AMAT! " jawab Iren kesal.


Mas Radit hanya tersenyum. Entah mengapa Iren selalu membuatnya ceria. Sekalipun Iren marah, Mas Radit malah semakin suka. Ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata - kata. Diam - diam Mas Radit menyukai Iren.


"Udah dong jangan marah. Mas kan cuma becanda. " Mas Radit memelas.


"Iya Mas, aku ngga marah kuq, aku cuma laper aja. " jawab Iren nyengir.


Selesai makan, Iren dan Mas Radit pergi ke taman yang masih ada disekitar food court. Lampu - lampu menghiasi area taman yang hijau. Mereka memilih untuk duduk di kursi dekat kolam air.


"Iren, kalo kamu seharian kerja, kuliah kamu gimana?" tanya Mas Radit.


" Aku udah ambil cuti Mas untuk 1 tahun. Aku pengen fokus kerja dulu." jawab Iren serius.


"Kamu kan kuliah pake beasiswa, kenapa ngga beresin aja dulu kuliahnya, sambil tetep kerja di cafe?" tanya Mas Radit lagi.


"Awalnya aku juga mau gitu Mas. Tapi setelah aku pikir lagi, aku mau fokus kerja aja dulu. Pertama, aku pengen cepet bayar hutang sama tante Siska karena tante cuma kasih aku waktu 1 bulan. Aku ngga rela kalo harus kehilangan rumah. Terlalu banyak kenangan manis dirumah itu. Kedua, aku pengen nabung Mas. Nanti kalo aku lulus kuliah, aku mau langsung ambil spesialis. Mas tahu kan biayanya berapa. Beasiswaku hanya sampai aku lulus kuliah. Kalo mau lanjut, aku harus bayar sendiri. " jelas Iren.


"kita nikah aja yuk! " ajak Mas Radit.


"Hah? A... aappaa Mas?Nikah?" tanya Iren bingung.


Mas Radit menjawab Iren dengan tawaan. Ternyata ucapannya hanya bercanda. Lagi - lagi Iren dibuat kesal. Mas Radit mencubit pipi Iren dan mengembalikan senyum Iren. Ia membuka jaketnya dan memakainya ke Iren.


"Pakai ini, udah larut pasti udaranya dingin." pinta Mas Radit.


Iren tersipu malu. Sebenarnya Iren juga merasa nyaman didekat Mas Radit. Ia selalu memberikan perhatian untuk Iren. Mereka memutuskan untuk pulang.