
Berangkat kuliah pagi, pulang kuliah langsung kerja sampai malam. Begitu seterusnya aktifitas Iren. Bahkan di hari libur Iren sering mengambil lembur di cafe. Iren sudah tak peduli lagi dengan cibiran orang. Hatinya sekarang sudah kebal. Yang ada di fikirannya hanyalah kuliah dan mencari uang untuk biaya hidup dan melunasi hutang orang tuanya kepada tante Siska. Saking sibuknya, terkadang Iren tak pulang ke rumah. Ia sering menginap di kos temannya atau di mess cafe tempat ia bekerja. Selain jarak yang cukup jauh, Iren juga menghindari tante Siska.
Tante Siska sering meminta uang kepada Iren. Dia selalu beralasan untuk membeli makan. Iren tahu kalau tante Siska bohong. Dia meminta uang bukan untuk makan melainkan untuk foya - foya. Padahal tiap bulan Iren selalu membayar cicilan hutang orang tuanya. Namun, entah kemana perginya uang itu.
Terlebih ketika Om Johny di PHK dari pekerjaannya, tante Siska seperti orang stress. Sering marah - marah tak jelas pada Iren.
Bulan ini adalah bulan terakhir Iren untuk membayar hutang pada tante Siska. Sejumlah uang dalam amplop sudah ia siapkan, dan tak lupa Iren melebihi 500 ribu didalamnya. Iren memang benci tantenya, tapi ia pun kasihan melihat tante Siska yang sedang kesusahan. Kebetulan hari ini kuliahnya libur dan cafenya sedang tutup sementara karena pemiliknya belum pulang dari USA.
Iren punya banyak waktu untuk rebahan hari ini. Sambil menunggu tante Siska datang, Iren menonton acara televisi favoritnya. 30 menit berselang tante Siska datang. Seperti biasa ia selalu berteriak memanggil nama Iren, tak sabar ingin segera dibukakan pintu.
"Tok,,, tok,,, tok,,,! Iren! Iren! Irennnnnn! " teriak tante Siska.
"Iya, tan sebentar!." Iren menyaut seraya berlari membukakan pintu. Ternyata tante Siska tidak sendiri. Ia mengajak om Johny datang ke rumah. Hal yang tidak biasanya.
"Lama amat sih! cepetan bikinin tante sama om es jeruk! Panas banget udara hari ini. " pinta tante Siska.
Iren lalu menuju dapur untuk membuatkan minuman. Iren mengepalkan tangannya seperti ingin meninju sesuatu. Ia kesal atas perlakuan om dan tantenya. Kalo saja ia tidak sabar, sudah habis orang berdua itu ia pukuli. Iren lalu kembali ke ruang tamu dan meletakkan minuman di atas meja. Ia juga membawa amplop coklat berisi uang cicilan.
"Tan, ini uang cicilan bulan ini. Sudah lunas semua ya Tan. Hutang ayah dan ibu Iren sekarang sudah selesai. "ucap Iren.
"Loh, lunas darimana? Ini baru pokoknya saja. Bunganya masih ada 10 juta. Itu karena ayah dan ibumu telat bayar sehingga cicilannya berbunga. " ucap Om Johny keras.
"Ya Tuhan! Kenapa om dan tante seperti ini? Dari awal tidak ada kesepakatan seperti ini kan? Aku juga menyaksikan ketika ayah dan ibu meminjam uang ke tante. " jawab Iren marah.
"Sebenarnya ngga ada sih, cuma lain dulu lain sekarang Iren. Zaman sudah berubah. Aturan berhutang juga kan berubah. " ucap tante Siska santai. Iren marah dan berdiri dari duduknya.
"Kalian memang keterlaluan! Selama ini ayah dan ibu selalu memberi makan kalian, selalu menolong kalian saat kesusahan. Tapi apa balasannya? Kalian jangan pernah berharap aku akan seperti ayah ibu. Aku bukan sumber uang kalian! " ucap Iren lantang.
"Kalo kamu ngga mau bayar bunganya, tante akan jual rumah ini. Maaf ya Iren sayang, kemarin tante ambil sertifikat rumah ini tanpa bilang ke kamu dulu. " ucap tante Siska licik.
"Om kasih kamu waktu 1 bulan untuk melunasi bunganya. Kalo kamu ngga bisa bayar, rumah ini akan kami jual. " ancam om Johny.
Tante Siska dan Om Johny pergi meninggalkan Iren. Mereka terlihat bahagia melihat Iren menderita.
"Ya Tuhan! Manusia macam apa mereka! Kenapa mereka tak henti - hentinya menyakiti aku dan keluargaku?. " tanya Iren sedih.
...----------------...
Malam tiba ditemani rintik hujan yang sejak sore turun. Iren masih memikirkan omongan om Johny tadi siang. Bagaimana mungkin Iren bisa mengumpulkan uang 10 juta dalam waktu sebulan? Gaji dari cafe saja hanya cukup untuk biaya hidup dan bayar cicilan. Iren bisa saja meminjam kepada temannya, tapi tidak sebesar itu. Temannya pun hanya anak rantau dengan biaya hidup pas - pasan.
Sempat terlintas di pikiran Iren untuk meminjam uang kepada Pak Bobby, pemilik cafe tempat Iren bekerja. Namun, ia merasa tak enak. Selama ini, Pak Bobby selalu membantu finansial Iren. Ia sering melebihi gaji Iren dengan alasan untuk kuliah. Di beri pekerjaan saja Iren sudah bersyukur. Iren pun mengurungkan niatnya.
Pikiran Iren sudah mentok. Tak ada cara lain yang bisa ia lakukan. Satu - satunya jalan adalah ia harus mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar. Malam itu juga Iren mencari lowongan pekerjaan di berbagai website. Banyak lowongan bagus namun harus dengan ijazah sarjana. Sedangkan saat ini Iren hanya memiliki ijazah SMA.
Iren tak patah semangat. Ia terus mencari lowongan kerja untuk lulusan SMA. Sudah satu jam lebih Iren mencari namun belum juga dapat. Iren lelah dan semangatnya mulai kendur. Iren pun merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ya Tuhan, beri aku jalan terbaik untuk menyelesaikan semua masalah ini. Iren berdoa dalam hati.
Iren mengambil gawainya, membuka aplikasi chatting untuk melihat kabar teman - temannya. Ada yang posting kalimat amarah, banyak juga yang memposting video - video lucu sampai membuat Iren tertawa. Ini sedikit menghibur hati Iren yang sedang galau. Ada teman Iren yang memposting sebuah lowongan pekerjaan sebagai office girl. Cara melamarnya pun mudah, semuanya serba online. Melihat salary yang besar, Iren tertarik untuk melamar ke perusahaan itu.
Iren bergegas mengambil laptop dilaci meja. Laptop itu ia beli dari gajinya bekerja di cafe. Ia membuka website perusahaan itu dan benar saja lowongan pekerjaan memang benar dan salary nya pun juga besar. Iren bergegas menyiapkan CV dan dokumen lain yang dibutuhkan untuk di upload. Malam ini ia tidak merasa ngantuk sama sekali padahal malam sudah larut.
20 menit kemudian, upload dokumen selesai. Iren berharap diterima di perusahaan itu walaupun hanya jadi office girl. Baginya itu tak masalah, yang penting ia bisa mendapatkan uang untuk melunasi hutang.
Iren sedikit merasa tenang. Ia berdoa semoga lamarannya bisa diterima. Iren akan membicarakan hal ini pada bosnya. Ia mengambil gawainya dan melihat jam yang menunjukkan pukul 2 pagi, berarti di USA sekitar jam 2 siang. Ia mencari nama Pak Bobby di buku telepon lalu mulai mengirim pesan. Kebetulan Pak Bobby sedang online. Tak lama berselang Pak Bobby membalas pesan Iren. Wajah Iren berseri, Pak Bobby memberinya izin untuk bekerja ditempat lain asalkan Iren tidak meninggalkan tanggung jawabnya di cafe.
Iren bersyukur, Tuhan mengabulkan doanya. Iren bergegas tidur, esok ia akan pergi ke kampus untuk mengajukan cuti kuliah. Terpaksa Iren melakukan ini karena nanti waktu Iren akan dihabiskan ditempat kerja.