YOUNG WIFE

YOUNG WIFE
Bab 6. Memorial day of death



Gangdong-gu, 8 Mei 2013. Masih tercetak jelas di ingatan So Hyun bagaimana beberapa rumah dilelap api, menelan banyak korban termasuk keluarganya. Kira-kira sudah tiga tahun lebih kebakaran itu terjadi, kebakaran yang berasal dari sebuah rumah. Saat itu beberapa orang mengatakan bahwa ada kebocoran gas elpiji, hingga mengakibatkan kebakaran. Jarak rumah yang berdekatan membuat api menjalar cepat, membakar rumah-rumah lainnya. Tak ada kenangan tersisah, semua telah melebur menjadi abu. Bahkan ada sebagian orang yang tidak ditemukan mayatnya, beruntung keluarga So Hyun sempat terselamatkan. Namun, hanya bertahan beberapa menit sebelum kedua orang tua serta adik bungsunya mengembuskan napas terkahir mereka.


Tempat dan tanggal yang sama, musim semi di tahun 2016 ini membawa banyak kenangan pahit bagi dirinya. So Hyun menatap jejeran pohon maple, terlihat begitu indah. Sayangnya So Hyun hanya dapat menikmati keindahan itu dari kejauhan, mendengus jengkel akan aktivitas yang terbatas. Seharusnya pagi ini So Hyun telah berada di daerah tempat dia tinggal dulu, membawa seikat bunga lyli atau sedap malam untuk mengenang arwah keluarganya dan juga para tetangga yang ikut tewas dalam kejadian mengerikan itu.


Ketukan di pintu tak sedikit pun membuat So Hyun bergerak, dia masih betah dengan posisinya yang berdiri sambil melihat ke arah taman belakang. Katakan saja dia sedang kesal karena tak diizinkan keluar, padahal hari ini merupakan hari peringatan kematian keluarganya. So Hyun yakin pasti Kai dan juga Bibi Song sudah berada di rumah abu, atau paling tidak mereka sedang ke Gangdong-gu untuk menaruh rangkaian bunga serta lilin di sana.


"Nona muda."


"Pergilah, aku tidak ingin bertemu siapa pun. Tidak juga dengan tuan dan nyonyamu!"


Sang pelayan menoleh dan mendapati presensi sang tuan yang sudah siap dengan setelan formalnya tengah berdiri di depan pintu kamar, lelaki Jeon itu hendak ke kantor. Namun, seperti biasa dia akan mengunjungi istri muda terlebih dahulu sebelum berangkat. Rutinitas baru yang dikerjakan Jungkook, memperlakukan kedua istrinya dengan sangat adil.


Kira-kira sudah genap seminggu So Hyun terkurung di dalam bangunan berlantai tiga ini, menikmati hari-hari monotonnya. Di siang hari So Hyun akan menyendiri, terkadang ditemani sang pelayan. Lalu malamnya Jungkook akan datang menemaninya sekaligus memberikan kehangatan pada rahim So Hyun.


Jungkook melonggarkan dasinya, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar. Tak lupa memberikan isyarat pada sang pelayan untuk segera keluar, karena ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan sang istri muda.


Setelah pintu kamar tertutup, Jungkook berjalan menghampiri So Hyun. Suara ketukan pantopel Jungkook menyambangi ruangan luas dengan aroma khas vanilla, aroma parfum yang digunakan So Hyun.


Jungkook menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celana, maniknya awas menatapi surai legam So Hyun. Dari arah belakang pun So Hyun terlihat begitu cantik, pantas saja Seolhee selalu menggoda Jungkook dengan pertanyaan konyolnya.


"Bukankah sudah aku katakan tempo hari?" So Hyun terkejut mendengar suara Jungkook, cukup membuat jantungnya berdentum keras. "Sesaat setelah kau menginjakkan kaki di rumah ini, maka seluruh hakmu dicabut. Tempatmu hanya di sini, akan sangat berbahaya jika kau keluar. Orang-orang bisa saja melihatmu dan rencana kami pasti akan gagal."


So Hyun ingat, Jungkook pernah mengatakannya saat lelaki itu menginjakkan kaki untuk pertama kali di rumahnya. Sekarang So Hyun menyesal, ini benar-benar buruk. Dia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya selama setahun kedepan, pastinya begitu membosankan. Terlebih dirinya tidak diperbolehkan untuk menggunakan ponsel, sial memang.


Mengembuskan napas jengah, akhirnya So Hyun berbalik. Bibir melengkung dengan mata mengembun membuat So Hyun tampak seperti seorang anak kecil, sangat menggemaskan.


"Tidak bisakah sekali ini saja Tuan memberikan izin untukku?" Jungkook diam, wajahnya terlalu datar. Sulit sekali untuk menebak apa yang dipikirkan lelaki Jeon itu. "Tolonglah, aku harus pergi ke rumah abu. Keluargaku pasti sedih jika aku tidak ke sana tahun ini."


Jungkook memijat pelipisnya frustasi, ia jadi serba salah. "Baiklah kalau begitu, untuk hari ini saja. Aku mengizinkanmu untuk keluar."


Seketika manik So Hyun berbinar terang, So Hyun lepas kendali. Tanpa sadar dia berjalan menghampiri Jungkook dan memeluk lelaki Jeon itu, tak lupa mengecup pipi sang suami.


"Terima kasih Tuan, sungguh terima kasih banyak."


Sementara itu di belakang sana, tepat di balik pintu kamar. Diam-diam Seolhee menorehkan senyum, betapa bahagianya melihat sang suami terlihat akur dengan istri mudanya. Sadar jika Jungkook hendak keluar setelah berpamitan dengan So Hyun, Seolhee buru-buru berlari menuruni tangga. Dia tak ingin dicap sebagai penguntit karena kedapatan melihat kedua pasangan suami istri itu bermesraan di dalam kamar.


Sepeninggalnya Jungkook, So Hyun bersorak gembira. Wanita muda itu berjalan menuju walk in closet, untuk mencari gaun yang indah. So Hyun pikir dia harus terlihat cantik sebelum mengunjungi ayah, ibu, dan juga adiknya.


....


Kai melipat bibir bawahnya saat melihat presensi So Hyun, wanita muda Kim itu menggunakan mini dress putih berbahan brokat dengan aksen ban warna putih di bagian pinggang. Outfit bergaya monokrom ini membuat So Hyun terlihat lebih anggun, terlebih saat wanita muda itu memilih untuk menyanggul surainya, lalu ditambah sedikit aksesori seperti anting dan kalung permata. Ah dan jangan lupakan polesan makeup tipis yang menambah kadar kecantikan dalam diri So Hyun.


Sempat membuat Kai terkejut, pasalnya So Hyun jarang sekali tampil feminim seperti ini. Kai sendiri mengenakan pakaian formal, dia datang untuk menghormati kedua orang tua So Hyun. Sama halnya seperti yang dia lakukan dua tahun lalu, rasa bahagia Kai semakin bertambah ketika So Hyun memeluknya erat. Hampir seminggu tidak bertemu membuat rasa rindu kedua orang itu membuncah, bahkan tanpa ragu Kai mengecup pipi So Hyun. Sebagai bentuk kasih sayang seorang adik untuk kakaknya.


"Noona kemana saja seminggu ini? Apa Noona tidak tahu kalau aku begitu merindukan Noona?"


Pada akhirnya Kai menangis juga, sumpah dia sangat merindukan So Hyun. Meskipun pelayan yang bekerja di apertemen barunya terus mengatakan bahwa So Hyun baik-baik saja. Namun, Kai tidak langsung percaya sebelum mendengar dan melihat secara langsung keadaan kakaknya.


"Maafkan Noona, bagaimana harimu. Berjalan dengan lancar tidak?"


Kai mengangguk setelah melepaskan dekapannya dari tubuh So Hyun, membiarkan tatapan mereka saling bertemu.


So Hyun mengeluarkan tisu dari tas sandangnya, menghapus air mata Kai. "Kita akan jarang bertemu, jaga dirimu baik-baik dan jangan bersikap nakal selama Noona tidak bersama denganmu."


Kai mencekal pergelangan tangan So Hyun, kepalanya menggeleng perlahan. "Tidak Noona, jangan tinggalkan aku lagi."


Hati So Hyun sakit, benar-benar sakit saat melihat sumber kebahagiaannya menangis. Wanita muda itu mendongak, menatap langit-langit ruangan yang dipenuhi rak-rak berisi abu. Berharap air matanya tidak keluar, tapi percuma saja. Sebab tangisan Kai terlalu menyedihkan, So Hyun tak kuat jika harus melihat Kai seperti ini.


"Kai janji tidak akan berulah lagi, Noona pulang ya." Kai menyatukan kedua tangan di depan dada, memohon pada So Hyun. "Temani Kai, kita tinggal bersama seperti dulu lagi."


So Hyun mendekap Kai, menepuk punggung berbalut jas hitam itu dengan pelan. So Hyun pikir dia akan menangis setelah mengenang kematian keluarga. Namun, sepertinya kali tidak. Dia harus menitihkan air mata karena ulah Kai, anak itu terus memohon agar So Hyun pulang bersama dengannya, tapi berulang kali juga So Hyun menolak. Wanita muda itu mengatakan ada sesuatu yang lebih penting, dan dia sudah berjanji akan sering mengunjungi Kai.


Usai berpelukan dan menguatkan satu sama lain, Kai meminta izin untuk keluar. Dia bilang akan menunggu So Hyun di depan rumah abu, sedang So Hyun mulai meletakkan bunga pada abu keluarganya. Di dalam rak kaca So Hyun dapat melihat foto ayah, ibu, dan juga adiknya Beomgyu.


"Ayah, Ibu, Gyu. Bagaimana kabar kalian di sana, apa kalian bahagia?"


Hingga satu sekolah mulai gempar, membicarakan kebakaran yang terjadi di daerah Gangdong-gu. Hal itu pula yang langsung membawa So Hyun menuju rumahnya, berlari sepanjang jalan dengan harapan kedua orang tuanya dan sang adik tidak menjadi korban si jago merah. Namun, ketika ia tiba di sana. Hanya mayat yang dia temukan dalam kerumunan banyak orang, sungguh saat itu So Hyun merasa dunianya runtuh seketika.


Sempat terlintas dalam benak So Hyun untuk membakar dirinya, tapi lagi-lagi pikiran itu dihancurkan oleh perkataan orang-orang yang juga kehilangan keluarga mereka. Termasuk Bibi Song, wanita baya itu memberikan pengaruh baik dan sampai kapan pun So Hyun takkan melupakan Bibi Song yang sempat mengeluarkan dirinya dari keterpurukan.


Hampir satu jam lebih So Hyun berbicara di depan abu keluarganya, menceritakan bagaimana kehidupan yang ia jalani sekarang. Dia juga mengatakan bahwa dirinya telah menikah, tapi hanya dalam kurun waktu satu tahun. Karena setelah itu, So Hyun akan pergi. Dengan terus terang So Hyun mengatakan jika dirinya tak ingin berada di antara dua hati, So Hyun juga meyakinkan dirinya bahwa dia takkan mengikutsertakan perasaannya dalam pernikahan tersebut. So Hyun melakukan pernikahan tersebut semata-mata hanya ingin membalas kebaikan Jeon Jungkook, well tak ada alasan pasti untuk mempertahankan pernikahannya.


Setelah berpamitan, So Hyun pun melangkah keluar. Hendak bertemu Kai, tapi anak itu tidak ada di depan rumah abu.


"Noona!" So Hyun menoleh ketika mendengar suara Kai. Anak itu berlari ke arahnya dengan dua buah es krim, seperti biasa Kai selalu bersikap perhatian.


So Hyun menerima es krim pemberian Kai, matanya sembab dengan hidung yang memerah.  Kai sengaja membeli es krim agar suasana hati So Hyun menjadi lebih baik, karena menurut banyak orang makan makanan yang manis-manis bisa membuat seseorang bahagia dan melupakan sejenak rasa pahit dalam diri mereka.


"Noona, sebelum pulang kita makan bersama ya."


So Hyun mengangguk, sembari melangkah menuju halte bersama dengan Kai di sisi kirinya. Memeluk lengan So Hyun, sedang tangan kirinya sibuk memegang es krim.


"Baiklah, ayo cari tempat makan yang enak di sekitar sini."


"Ya, ayo pergi!"


....


Malam semakin larut, dan Jungkook masih sibuk bercinta dengan pekerjaannya. Melihat-lihat hasil laporan yang dikirimkan Bu Kwon lewat Email, sekaligus melihat jadwal rapat besok.


Ketukan di pintu kamar membuat Jungkook menoleh, tak lama setelahnya Seolhee muncul dengan segelas coklat panas. Wanita itu tersenyum simpul mendapati wajah lelah sang suami, Jungkook memang seorang pekerja keras. Dia juga termasuk lelaki yang sangat bertanggung jawab, terbukti ketika Jungkoom kembali dari London. Dia membawakan dua kalung berlian, satu untuk So Hyun dan satunya lagi untuk Seolhee.


Hal sederhana yang membuat Seolhee semakin mencintai suaminya. Sadar akan kedatangan Seolhee, Jungkook segera melepas kacamata bacanya.


"Belum tidur?" tanya Jungkook sambil menepuk paha padatnya, memberi isyarat pada Seolhee untuk duduk di atas pangkuannya.


Seolhee menurut setelah meletakkan coklat panas ke meja, wanita itu mengambil posisi menyamping dengan lengan yang mengalung pada leher Jungkook.


"Aku tidak bisa tidur, kau sendiri mengapa masih di sini?" tanya Seolhee sengaja memancing Jungkook, tujuannya ingin bertanya mengenai So Hyun. Namun, melihat wajah lelah sang suami. Seolhee mengurungkan niatnya.


Jungkook tak menjawab, lelaki itu memeluk pinggang ramping Seolhee. Mengecup ceruk leher sang istri, menciptakan gelenyar aneh dalam diri Seolhee.


"Sayang—hentikan," pinta Seolhee berusaha menjauhkan diri. Namun, Jungkook tetaplah Jungkook, seseorang yang benci menerima penolakan.


"Aku ingin bercinta Sayang, sudah lama tidak melakukannya denganmu." Jungkook mengatakannya dengan terus terang, dia tidak bohong.


kedua manik mereka saling bertemu cukup lama sebelum Jungkook mendekatkan wajahnya, meraup bibir tipis Seolhee. Keduanya saling bertukar saliva dengan kepala bergerak miring, menyesap, *******, serta mengigit satu sama lain.


Sementara di depan pintu So Hyun tampak mematung, menatap kedua pasangan suami istri itu dengan perasaan aneh. So Hyun memejam sejenak, niatnya mengunjungi rumah utama untuk membawa sebuah surat yang diberikan seseorang di depan rumah saat ia hendak masuk tadi menjadi gagal. Wanita muda itu menggenggam erat surat dalam telapak tangannya, lantas bergegas kembali dalam kurungan. Ya, So Hyun harus segera kembali sebelum Jungkook, atau sang pelayan pribadi mengeceknya di kamar.


Ruangan mewah ini tampak sunyi ketika So Hyun melangkah keluar, interior di sini tak beda jauh dengan tempat yang ia tempati. Semua sama-sama mewah, dan ah mengapa ruangan besar ini sunyi dan kemana para pelayan yang bekerja di sini. So Hyun pun tidak tahu, mungkin saja mereka berada dalam asrama pelayan.


Sebelum benar-benar keluar, So Hyun meletakkan amplop berisi surat ke atas meja dekat vas bunga. Pada bagian ujung amplop terlihat renyuk, berkat telapak tangan So Hyun.


Setelah mengambil beberapa langkah akhirnya So Hyun tiba di tempat tinggalnya, bangunan yang terpisah dari bangunan utama. Tiba-tiba So Hyun menghentikan langkahnya, dia ingat tadi ada seorang gadis remaja menitipkan tablet obat dengan isi yang hampir habis. Gadis itu menitipkannya ketika mereka berada dalam bus. Tanpa sadar So Hyun memasukkannya ke dalam tas.


Wanita muda itu mengeluarkannya dari dalam tas, di bawa cahaya yang temaram So Hyun dapat membaca nama obat. Yang tak lain adalah obat kontrasepsi penggugur kandungan, So Hyun menggeleng tak percaya.


"Astaga apa yang dia lakukan?" tanya So Hyun pada dirinya sendiri, wanita muda itu masih berpikir keras hingga dirinya melesat masuk ke dalam kamar. "Huft, jaman semakin berubah. Banyak anak gadis yang hamil di bawah umur," imbuhnya kemudian meletakkan obat tersebut di bawah bantal.


So Hyun melepaskan high heel-nya, melihat sejenak tumit yang memerah. "Ah, sakit sekali."


Mengabaikan rasa sakitnya, So Hyun memilih untuk berbaring. Dia lelah sekali setelah menangis, dan juga menghabiskan waktunya bersama Kai. Namun, So Hyun sama sekali tak dapat memejamkan mata. Ingatan wanita itu berputar-putar pada apa yang dilihatnya tadi, tengang bagaimana Jungkook mencumbui Seolhee.


Wanita muda itu mengembuskan napas letih sembari menahan dadanya. "Apa ini, mengapa aku kesal?"


[]