
Hari ini akan menjadi hari yang penting bagi So Hyun pasalnya dia harus mempersiapkan diri untuk ikut wawancara di sebuah perusahaan. Wanita muda itu memasukkan surat lamarannya ke beberapa perusahaan tapi ditolak. Kemudian dia mencoba untuk memasukkan surat lamaran lagi ke perusahaan lain. Dengan harapan dirinya bisa diterima. Pun hari ini dia mendapatkan kesempatan bagus karena perusahaan yang bergerak di bidang kebersihan menerima lamaran kerjanya.
Rutinitas harian yang dilakukan So Hyun hanya seputar mencari pekerjaan tetap atau sekedar bekerja paruh waktu untuk menghidupi dirinya dan Kai. So Hyun adalah tipikal wanita pekerja keras dia tak ingin dikasihani oleh orang-orang. Itulah mengapa So Hyun sering dianggap sebagai wanita angkuh padahal jika dilihat-lihat So Hyun adalah wanita baik—bagi sebagian orang yang sudah mengenalnya. So Hyun mungkin akan marah jika seseorang melakukan kesalahan tapi setelah itu ia takkan mengungkitnya lagi. Itulah mengapa Kai selalu melakukan kesalahan lalu dia akan meminta maaf dan kemudian berbuat salah lagi.
Dering ponsel menyentak lamunan wanita muda yang sedang menunggu gilirannya ia buru-buru melihat nama si penelpon dan ternyata itu adalah Lee Nami. Sahabat baiknya ah rasanya sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Tanpa menunggu lama So Hyun langsung menjawab panggilan dengan senyum yang mengembang.
"Halo, Hyun-ah. Ini aku Lee Nami."
Di sini So Hyun mengangguk meskipun Nami tak melihatnya. Setelah menyelesaikan S1-nya Nami dan So Hyun terpisah sekian tahun. Sedangkan So Hyun masih menetap di Seoul wanita muda itu hanya punya satu keinginan. Dia ingin memiliki pekerjaan tetap agar dia punya alasan untuk mengambil alih Kai. Sudah cukup wanita muda itu melihat Kai menderita jika dibandingkan dengan penderitaannya maka sudah pasti So Hyun akan mengatakan penderitaan Kai lebih berat.
Cukup lama So Hyun merenung hingga suara Nami kembali membuatnya kembali pada realita.
"Kim So Hyun."
"Ah ya. Maafkan aku, bagaimana kabarmu?"
Di seberang sana Nami tersenyum sekaligus merasa legah. Dia pikir So Hyun akan marah karena lama tidak memberi kabar tapi wanita muda itu masih sama.
"Aku baik kau sendiri?"
"Aku juga baik. Tumben menghubungiku. Ada apa?"
Nami menghela napas berat diam-diam dia menolehkan wajahnya menatap seorang pria yang tengah menatapnya dengan tubuh ditutupi selimut tebal. Sedangkan dirinya hanya menggunakan bathrobe.
"So Hyun, ada yang ingin aku katakan. Aku harap setelah mendengar ini, kau takkan marah padaku."
Tersirat rasa penasaran di wajah So Hyun, selama hampir sepuluh tahun ia mengenal Nami. Tidak sekalipun So Hyun mendapati Nami dalam keadaan serius. Suara wanita di seberang sana pun terdengar parau. Mungkin saja dia habis menangis, tapi setahu So Hyun. Nami itu sama tegar dengan dirinya daripada berpikir yang aneh-aneh So Hyun pun kembali dalam sambungan.
"Katakan, aku pikir itu hal yang sangat penting." So Hyun menilik arloji di pergelangannya, masih ada lima menit sebelum gilirannya.
"So Hyun ... sebenarnya, selama ini aku dan Taehyung menjalin hubungan secara diam-diam. Aku tahu ini terlalu tiba-tiba, tapi aku harus segera mengatakannya. Karena sebentar lagi kami akan menikah, maaf."
So Hyun mengangguk seiring dengan maniknya yang mengembun. Pantas saja sejak dulu Nami dan Taehyung selalu bersama. Pernah sekali So Hyun memergoki mereka saling berciuman namun So Hyun masa bodoh dengan hal itu. Tapi sekarang semuanya sudah terbukti kedua orang yang begitu ia percaya kini mengkhianati dirinya. Bermain api di belakang seseorang tolong ingatkan So Hyun untuk tetap tegar.
"Aku turut senang. Sampaikan salamku pada Taehyung. Semoga pernikahan kalian berjalan lancar," ujar So Hyun dengan suara bergetar. "Sudah dulu ya. Aku harus ikut wawancara," imbuhnya segera mengakhiri panggilan.
Hatinya berkecamuk sakit begitu juga dengan kepala yang tiba-tiba terasa begitu pening. Jujur saja So Hyun merasa tidak tenang antara tetap bertahan membiarkan orang melihat tangisnya atau pergi melarikan diri. Menunda kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan hingga pada akhirnya So Hyun memilih untuk beranjak dengan air mata yang mengalir deras.
Wanita muda itu mengusap air matanya kasar sebelum berlalu pergi meninggalkan kesempatan besar hanya untuk menangisi kisah asmaranya yang gagal.
Panitia pelaksana yang bertugas dalam kegiatan lamaran hanya bisa menatap wanita muda itu dengan alis terangkat naik. Merasa bingung sebab hanya tersisa satu menit saja sebelum giliran wanita muda itu.
"Nona Kim So Hyun." Panggilan itu ditujukan untuk So Hyun namun tidak ada satu pun yang beranjak. "Ada yang melihat Nona So Hyun? Sekarang gilirannya untuk wawancara."
"Sepertinya dia sudah pergi," ujar seseorang pada laki-laki yang berdiri tepat di depan pintu ruangan wawancara.
"Baiklah, berikutnya Tuan Park Young Ji."
....
Meletakkan map birunya pada bangku taman yang ia duduki. So Hyun tak peduli jika nanti orang lain melihatnya dalam keadaan kacau. Nyatanya itu lebih baik daripada ia harus menahan tangisnya, sumpah itu sakit sekali. Padahal So Hyun sudah mengatur semua masa depannya dengan begitu baik. Pertama dia akan mencari kerja, kedua So Hyun akan menunggu Taehyung, dan ketiga setelah Taehyung kembali dari Amerika mereka bisa langsung menggelar acara pernikahan.
Ah ya So Hyun merasa seperti orang bodoh jelas sekali waktu itu sebelum berangkat Nami pernah mengatakan ia akan ke Amerika untuk menemui kekasihnya. Mereka akan tinggal di sana cukup lama, sekarang So Hyun paham betul mengapa Taehyung hilang kabar berengsek memang.
"Aku mencintaimu, sangat cinta."
So Hyun tersenyum kecut ketika mengingat ucapan Taehyung tempo hari. Lelaki itu merupakan cinta pertama So Hyun dialah yang menguatkan So Hyun di saat wanita muda itu merasa bahwa hidupnya tak berguna. Dia lelaki kedua yang memperlakukan So Hyun dengan sangat baik setelah sang ayah tiada. Taehyung itu layaknya seorang ayah bagi So Hyun tapi siapa sangka. Dia satu-satunya laki-laki yang mematahkan hati So Hyun menghancurkan wanita muda itu secara perlahan.
Di tengah teriknya matahari So Hyun masih setia menitihkan air mata meraung dengan kedua telapak tangan yang menutup matanya. Wanita muda itu menangis hingga sesenggukan sedikit menyita para turis yang berkeliling di taman Yeouido.
Sesekali So Hyun mengembuskan napasnya berharap rasa sesak di dada sedikit berkurang. Namun setelah membayangkan kisah kasihnya bersama Taehyung. Membuat air matanya luruh, rambut yang dikuncir tampak berantakan. Bahkan So Hyun melupakan pahanya yang terekspos karena rok yang ia kenakan.
"Semua orang melihatmu."
So Hyun mendongak maniknya bersiborok dengan manik hitam seorang wanita yang dia temui beberapa hari lalu. Wanita cantik yang berbaik hati meloloskan Kai dari ancaman penjara. Wanita itu datang dengan senyuman yang mengembang. Pun jangan lupakan jas yang kini sudah menutupi paha So Hyun entah punya siapa tapi aromanya begitu wangi. Cukup membuat So Hyun merasa tenang dalam sesaat.
Mengusap air matanya So Hyun meraih map biru yang sempat ia letakkan di bangku. Kemudian segera mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
"Baru selesai wawancara ya?" tanya wanita itu sembari mendudukkan dirinya tepat di samping kiri So Hyun.
So Hyun mengangguk entah bisa disebut wawancara atau tidak. Pasalnya So Hyun pergi sebelum wawancara dimulai dan itu membuat So Hyun menyesalinya sekarang. Entah butuh waktu berapa lagi untuk mendapatkan kesempatan berlian seperti hari ini. Iya hari ini hari tersial dalam hidupnya.
"Kau gagal?"
"Tidak Nyonya, aku mengundurkan diri."
Kang Seolhee menautkan alinya bingung harusnya seseorang menggunakan kesempatan itu dengan baik. Namun tidak dengan wanita muda di sampingnya.
"Ada masalah. Mau bercerita?"
Seketika itu tangis So Hyun kembali pecah tanpa rasa ragu So Hyun merengkuh tubuh kurus Seolhee. Meletakkan kepalanya pada ceruk leher wanita yang lebih tua darinya itu—Seolhee cukup mengerti. Dia pikir So Hyun adalah wanita kesepian yang membutuhkan perhatian lebih.
"Nyonya a-aku ...."
So Hyun ingin bercerita tapi ia tak ingin dikasihani. Akhirnya wanita muda itu hanya menangis tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya ingin melampiaskan emosi dalam dirinya pada wanita yang kini menepuk pelan punggungnya. Tepukan pelan yang membuat So Hyun mengenang mendiang nyonya besar Kim. So Hyun ingat di saat ia sedang bersedih. Ibunya akan memberikan sentuhan hangat dan juga merapalkan kata-kata sayang agar dirinya semakin tenang.
Seolhee juga mengusap surai sepunggung So Hyun. Surai wanita muda Kim itu beraroma strawberry, Seolhee menyukainya. Seakan-akan dia tengah memeluk seorang anak kecil sungguh rasanya Seolhee ingin sekali cepat-cepat mengatakan tujuannya datang menemui So Hyun.
Usai merasa puas So Hyun kembali menarik diri dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Seolhee mengulum senyumnya sembari mengusap air mata di pipi So Hyun.
"Oh ya Nyonya perkenalkan aku Kim So Hyun." Wanita muda itu mengulurkan tangan lalu disambut dengan hangat oleh Seolhee.
"Kang Seolhee. Tolong jangan panggil aku nyonya cukup Kakak saja."
So Hyun menarik telapak tangannya dengan gesit manik teduh Seolhee membuatnya sedikit baikan. Apalagi ketika wanita itu memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
"Aku lihat kau sedang membutuhkan pekerjaan. Apa itu benar?"
So Hyun mengangguk. "Eum, bodohnya aku malah meninggalkan kesempatan emas itu."
Seolhee terkikik geli dengan kedua tangan saling bertaut. "Aku bisa memberikan apa pun untukmu, asal kau mau bekerja sama denganku."
"M-maksud Nyonya apa?"
....
"Apa kau sudah menemuinya?"
Seolhee mengangguk lemah. Pertemuan dan rencana yang telah dia susun tidak berjalan dengan tidak baik. Dia sudah mengatakan alasannya menemui wanita muda itu tapi yang dia dapatkan adalah penolakan secara halus. Pantas saja Jungkook melihat gelagat istrinya sedikit berbeda.
Mengembungkan pipinya dengan embusan napas kasar. "Puft! Padahal aku begitu bersemangat tapi dia menolak."
Jungkook menghentikan aktivitas makan malamnya sedikit memperhatikan wajah sang istri. Dari hari ke hari Seolhee semakin kurus dan pucat. Harusnya Seolhee sudah baik-baik saja selama menjalani kemoterapi tapi wanita itu tidak menunjukkan perubahan akan sembuh. Pun dokter juga mengatakan pada Jungkook bahwa yang bisa menyembuhkan wanita itu hanya dari dirinya sendiri meskipun Seolhee menelan berbagai macam obat. Tepat saja dia takkan menunjukkan tanda-tanda akan sembuh. Sebab Seolhee tak punya keinginan untuk cepat sembuh.
"Kalau begitu berhenti menemuinya kita bisa mencari orang lain."
Seolhee mengangkat wajahnya melihat ke seberang meja. Tepat di hazel Jungkook jika Seolhee menginginkan orang lain. Maka dia tak perlu repot-repot menunggu atau pun menemui So Hyun. Harusnya dari dulu dia sudah melakukannya mencari orang yang tepat atau begini saja. Katakan So Hyun itu termasuk wanita langka sejak pertama bertemu Seolhee sudah mengagumi So Hyun. Mengagumi sosok wanita muda itu, selama tiga puluh empat tahun dia hidup di bumi dan untuk pertama kalinya dia melihat ada orang yang berani membentak sang suami padahal dia sendiri tak bisa melakukan itu. Jelasnya So Hyun adalah wanita tepat yang bisa menjadi ibu pengganti.
"Sayang, bagaimana jika dia berubah pikiran?"
"Cukup Seolhee! Sejak awal aku tidak menyukai dia apa kau lupa saat dia membentakku?"
"Kau kesal dengannya karena hal itu? Demi Tuhan Jungkook. Menurutku dia sangat baik dan aku sudah berbicara dengannya."
"Terserah kau saja aku tidak peduli."
Jungkook menyudahi acara makannya. Lelaki Jeon itu berderap menjauh meninggalkan Seolhee yang merengut tak suka, Jungkook itu selalu saja begitu keras dan tak mau diatur.
Sementara itu di tempat yang berbeda So Hyun menatap Kai bersama lima orang pria. Wajah Kai terlihat babak belur. Hal itu tentu membuat So Hyun merasa sangat kesal dia pikir Kai takkan pernah berubah walaupun dipanggil oleh pihak kepolisian atau dipukul oleh orang-orang yang berbeda kasta dengan mereka.
"Kau memiliki Noona yang cantik. Bagaimana kalau dia menjadi jaminan ganti rugi?"
Kai berusaha meloloskan diri dari kedua lelaki yang menahannya sembari menunggu So Hyun melangkah semakin dekat. Rok di atas lutut dengan lekuk tubuh yang indah pasti membuat libido seorang laki-laki naik 99%, apalagi paras So Hyun yang menawan. Terlebih mata madu indahnya, siapa pun akan bertekuk lutut demi mendapatkan wanita muda itu.
"Noona," ucap Kai setelah wanita muda itu berdiri tepat di hadapan mereka.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah yang ya lumayan tampan. Menatap dirinya penuh minat tatapan lelaki itu seakan menelanjangi dirinya.
"Langsung saja. Nona, adikmu ini merusak mobil mewahku dan aku membutuhkan uang untuk menggantikan beberapa yang rusak." lelaki itu berucap dengan smirk di wajahnya yang terlihat kolot.
So Hyun mengangkat sebelah alisnya. Pandangan wanita muda Kim itu tertuju pada sebuah ferrari 488 yang terparkir di seberang jalan rumahnya. Sedetik kemudian ia ternganga melihat kaca mobil yang retak dan juga spion yang patah. Ah dan jangan lupakan pintu mobil yang hancur.
Rasanya-rasanya wanita itu ingin memukul kepala Kai sekarang juga tapi So Hyun masih menahan amarahnya. Dia tak ingin menyakiti Kai yang memang sudah sakit saat ini.
"Mobilku seharga ratusan juta won, daripada kau memperbaikinya. Bagaimana kalau kau beli yang baru saja?" tawar sang lelaki entah namanya siapa. "Atau ... jika kau mau jadi istriku saja."
"Sialan!" umpat So Hyun dalam hati. "Tuan tolong lepaskan adikku."
Mengikuti ucapan So Hyun. Lelaki itu menyuruh anak buahnya melepaskan Kai. Kemudian dengan langkah yang tertatih Kai berjalan menghampiri So Hyun.
"Noona aku tidak melakukannya, sungguh."
So Hyun memejam sejenak. "Tuan—"
"Park Jimin, kau bisa memanggilku dengan sebutan sayang juga tidak masalah."
Wanita muda itu mengepalkan tangannya, membuat map biru itu remuk. So Hyun benci jika ada yang menggombal rasanya ia ingin muntah saja.
"Berikan aku waktu, aku janji akan menggantinya," ujar So Hyun tegas.
Lelaki tiga puluh enam tahun itu tersenyum tipis tangannya terulur mengangkat dagu So Hyun membiarkan manik mereka saling bersiborok.
Mata yang indah. Park Jimin mengaguminya—mengagumi mata indah yang So Hyun miliki.
"Tiga hari. Waktumu hanya tiga hari dan jika lewat dari itu maka kau harus menerima konsekuensinya."
[]