YOUNG WIFE

YOUNG WIFE
Bab 3. Visit



Terhitung sudah dua hari ini So Hyun bekerja begitu keras hanya demi menghasilkan uang seratus juta won yang jelas-jelas takkan ia dapatkan dalam waktu singkat, sesekali umpatan keluar dari bibir pink alami wanita muda itu. So Hyun kesal bukan main saat tahu kejadian sebenarnya, wanita muda itu sudah mendengar penjelasan dari Kai. Awalnya So Hyun tidak percaya, tapi setelah mereka menemui dua teman Kai. Barulah So Hyun percaya, wanita muda itu bahkan menanggapi penjelasan para anak remaja dengan kepalan tangan yang mengerat.


"Noona, sudah aku bilang kan. Aku tidak salah, yang salah itu mereka. Siapa suruh membully anak gadis orang, yasudah aku, Soobin, dan Yeonjun akhirnya mengambil keputusan untuk merusak mobil mereka. Tapi tidak tahunya mereka malah meminta ganti rugi."


Lagi dan lagi, pernyataan Kai dua hari lalu mengiang di rungu wanita muda itu. Membuatnya mengusak surai frustrasi, So Hyun bisa saja mendapatkan uang lebih dari seratus juta won hanya dalam waktu semalam. Namun, caranya akan salah. Pun dia tak ingin menjadi wanita bodoh karena menjual harga dirinya, daripada seperti itu lebih baik langsung menikah saja dengan Park Jimin sialan itu. Maka semua akan berakhir.


Ngomong-ngomong soal pernikahan, So Hyun jadi ingat pertemuannya dengan Seolhee. Mereka juga sempat bertukar nomor ponsel, itu atas permintaan Seolhee. Wanita Kang itu mengatakan dia akan siap menerima panggilan dari So Hyun kapan saja, dia juga akan menunggu hingga So Hyun menyetujui kerja sama yang ia ajukan. Cukup menggiurkan, bayangkan saja bagaimana So Hyun bisa menjadi seorang miliarder hanya dengan menyetujui kersama tersebut, tapi kembali lagi pada dirinya. So Hyun masih cukup waras, apalagi setelah menikah dia akan berhubungan dengan laki-laki. Lalu setelah itu dia akan mengandung selama sembilan bulan, Ya Tuhan. Rasanya So Hyun belum sanggup untuk melakukannya.


So Hyun menggeleng, sudah cukup pikirannya berkelana ke mana-mana. Sekarang dia harus mencuci piring kotor bekas makanan para pengunjung kedai yang datang, sebelum itu So Hyun juga membantu Bibi Song untuk mengelap meja serta mengepel lantai. Kira-kira sudah hampir setahun lebih So Hyun bekerja di kedai Bibi Song, wanita lima puluan itu memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Dia seperti ibu bagi So Hyun, mungkin karena mereka berdua sama-sama kehilangan. Sebenarnya dulu mereka bertetangga, tapi setelah kejadian yang menelan banyak korban termasuk keluarga So Hyun. Membuat wanita itu kehilangan putri serta suaminya, malang sekali.


Hampir satu jam lebih So Hyun berkutat dengan barang-barang kotor, dia mengerjakan semua itu dengan telalten. Kedai Bibi Song memang selalu ramai, apalagi kue beras yang dibuatkan sang bibi memang terkenal lezat. Tak heran jika kedai yang berdiri sejak dua tahun ini selalu ramai.


"Sudah selesai?" tanya Bibi Song saat melihat So Hyun muncul dari arah dapur.


Wanita muda itu menorehkan senyum tipis sembari melepaskan celemek pink yang ia gunakan, meletakkannya pada meja kasir. Tempat Bibi Song tengah berdiri sekarang.


"Bibi bekerja dengan sangat keras, pasti Bibi lelah. Iya kan?" So Hyun balik bertanya.


Wanita itu menoleh sekilas, melihat wajah So Hyun yang basah oleh keringat. "Bagaimana dengan dirimu? Kau juga lelah Sayang, terima kasih untuk kerja kerasmu."


Melihat wanita baya dengan rambut digelung itu tersenyum, membuat hati So Hyun menghangat. Rasa lelah pun seakan menghilang, sejenak So Hyun merasakan beban hidupnya sedikit berkurang.


"Noona!" So Hyun menoleh ke arah pintu, di depan sana terlihat Kai hendam berjalan ke arah mereka dengan pakaian yang basah kuyup.


"Tetap di situ, kau bisa mengotori lantai jika berjalan ke sini."


Kai mengangguk, sudah menjadi rutinitas malam jika ia tidak sibuk dengan tugas sekolah. Maka jam kosongnya akan ia gunakan untuk menjemput So Hyun di tempat kerja, dia tidak ingin kakaknya itu pulang sendirian di larut malam.


So Hyun segera bersiap-siap, tak lupa mengambil payung karena di luar sedang turun hujan. Saat So Hyun hendak berpamitan, Bibi Song menahannya. Dengan sebuah amplop yang cukup tebal.


"Nak, ini gajimu." So Hyun terbelalak, tidak biasanya Bibi Song memberikan upah dalam jumlah banyak.


"Bibi, ini terlalu banyak."


Wanita baya itu mengusap lengan So Hyun dengan sayang, beberapa hari lalu dia sempat mendengar So Hyun menelpon seseorang. Kemudian menceritakan masalahnya, saat itu Bibi Song tak sengaja mendengar. Ia pun berinisiatif untuk membantu meringankan beban So Hyun.


"Kau membutuhkan uang itu bukan?" So Hyun mengangguk lemah, meskipun ia tak mengetahui berapa jumlah uang yang ada dalam amplop tersebut. "Pakailah, anggap saja itu bonus karena kau telah membantu Bibi. Hanya sedikit yang dapat Bibi berikan, semoga bisa membantu."


So Hyun melipat bibir bawahnya, wanita muda itu melepaskan payung dan segera memeluk Bibi Song.


"Terima kasih Bi, terima kasih untuk kebaikanmu selama ini."


Bibi Song tergelak saat mendengar isakan So Hyun, naluri sang ibu muncul ke pramukaan. Wanita baya itu pun menepuk punggung So Hyun, tak lupa mengecup pipi chubby kesukaannya.


"Berhenti menangis, pulang dan istirahatlah. Semoga harimu berjalan lancar," ujar Bibi Song. Kemudian melepas tautan di antara mereka.


So Hyun mengusap air matanya, lantas membungkuk memberi salam pada Bibi Song. "Sekali lagi terima kasih Bi, aku pulang dulu."


....


Menyematkan kedua tangannya di dalam saku jaket yang ia kenakan, wanita muda itu menatap ujung sneakers yang hampir rusak. Sesekali ia menendang poros jalan hanya untuk menghilangkan rasa gugup, wanita muda itu kini tengah berada di depan sebuah rumah mewah. Dengan halaman yang dipenuhi pohon maple, serta bunga-bunga indah terlihat bermekaran.


Semalam So Hyun sudah menghitung jumlah uang, dan Bibi Song memberinya empat puluh juta won. Uang itu terlalu banyak, harusnya gaji So Hyun hanya dua juta saja. Namun, wanita baya itu memberikan lebih. So Hyun jadi merasa tidak enak, dari empat puluh juta itu. Kai menambah sedikit, tak hanya itu teman-teman Kai pun menambahkan. Jadi total uang yang terkumpul semuanya ada lima puluh juta, So Hyun masih membutuhkan lima puluh juta lagi. Namun, dia bingung harus mendapatkannya dari mana. Pun pada akhirnya ia datang berkunjung tempat ini, tempat yang pernah ia tinggali dulu. Sebelum dirinya memilih untuk pergi dan tinggal di sebuah rumah yang sederhana, tapi cukup nyaman.


Wanita muda itu buru-buru menepi, bersembunyi di sebuah tanaman hias yang berada di depan rumah ketika melihat sebuah mobil hitam mengkilap tengah melaju dari arah berlawanan. So Hyun pastikan pasti itu adalah sang pemilik rumah, anak dari Tuan Kim Youn Jae. Kakak kandung Kim Taehyung, Kim Seokjin. Merutuki dirinya sendiri, pada akhirnya So Hyun mengurungkan niat untuk masuk dan meminjam sedikit uang pada Kim Seokjin. Dia tak ingin membuang malunya, memang keluarga Taehyung itu merupakan orang yang baik-baik. Namun, ketika mengingat ucapan Nami tiga hari lalu membuatnya mengingat kembali posisinya.


"Pulang lebih baik," ujarnya sembari berjalan menjauh dari rumah mewah tersebut.


Bicara soal rumah So Hyun jadi ingat masa lalunya bersama Taehyung, kedua orang tua Taehyung mempunyai hati yang begitu mulia. Mereka dengan senang hati membawa So Hyun masuk ke dalam rumah mewah itu memberikan semua yang diperlukan So Hyun. Namun, seiring berjalannya waktu So Hyun merasa tidak enak karena rasa suka yang terus tumbuh saat ia dan Taehyung mengerjakan tugas atau sekedar menghabiskan waktu libur mereka. Pun wanita muda itu memutuskan untuk hidup mandiri, dia menjual sisa perhiasan miliknya. Kemudian membeli rumah sederhana yang ia tinggali sekarang, memulai hidup barunya tanpa menyangkutpautkan Kim Taehyung dalam hidupnya. Hingga suatu saat, Taehyung datang. Memberikan secerca harapan, sekaligus cinta untuk So Hyun. Namun, hanya bertahan beberapa tahun saja. Sebelum akhirnya lelaki Kim itu memutuskan untuk pergi ke Amerika.


Ah, mengenang masa lalu itu memang menyakitkan. Terbukti saat rasa sesak kembali hadir membuat air mata luruh dengan pikiran yang berkecamuk.


So Hyun menghentikan langkah saat sebuah mobil menghadangnya di tengah jalan. Lalu sedetik kemudian Park Jimin beserta dua anak buah keluar, seketika itu jantung So Hyun berdentum keras. Napasnya seakan terhenti untuk beberapa saat, wanita muda itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul delapan pagi, dan Jimin datang lebih cepat dari yang dibayangkan.


"Kita bertemu lagi, Nona." Jimin tersenyum tipis dengan kedua tangan tersemat dalam saku celana. "Kau sudah mendapatkan uang seratus juta won?"


So Hyun gelagatan ketika dua pria berpakaian formal berdiri tepat di sisi kiri dan kanannya. Sementara Jimin berdiri tepat di depan wanita muda itu, tanpa sadar So Hyun meneguk salivanya kasar ketika Jimin memangkas jarak di antara mereka.


"T-tuan, sekarang aku tidak membawa uangnya." Wanita muda itu berucap dengan terbata.


Jimin kembali tersenyum, kemudian mengisyaratkan pada anak buahnya untuk memegang lengan So Hyun. Tentu saja wanita muda itu merontak, gila saja jika dia benar-benar dibawa pergi. Namun, perkiraannya salah. Lelaki Park itu malah mengapit dagu sang wanita, membuat bibir merah itu mengerucut.


"Astaga kau sangat menggemaskan Nona, mata madumu membuatku hampir gila." So Hyun menggeleng sambil berusaha meloloskan diri, tapi Jimin sendiri tak mau kalah. "Kau terus saja melawan, apa susahnya sih menjadi istri keempatku?"


Plak!


So Hyun terhenyak bersamaan dengan rasa panas yang menjalar di pipi kananya, untuk pertama kali seseorang memperlakukan dirinya begitu kasar. Membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah segar, bukan Kim So Hyun namanya jika dia menangis di saat-saat seperti ini.


"Bawa dia!" Jimin melangkah terlebih dahulu, lalu disusul dua anak buahnya yang membawa So Hyun menuju mobil.


"Lepaskan dia!"


Ketiga lelaki itu menghentikan langkah mereka, begitu juga dengan So Hyun yang langsung menoleh ke belakang. Tempat di mana seorang pria tengah berdiri, menatap bengis pada ketiga pria yang bisa-bisanya menyakiti seorang wanita.


"T-tuan Jeon." Jimin tergagap, segera ia memberikan isyarat pada dua anak buahnya untuk melepaskan So Hyun. Pun wanita muda itu segera berlari dan bersembunyi di balik punggung lebar Jeon Jungkook.


Lelaki Jeon itu menoleh ketika mendapati kaos hitamnya digenggam erat oleh So Hyun. Ia juga melihat darah mengalir dari sudut bibir wanita muda itu.


"Katakan, apa masalahmu Park Jimin?" tanya Jungkook tegas, membuat Jimin lekas menudunduk.


"A-adiknya menghancurkan ferrari 488 yang baru kubeli sebulan lalu."


Alis tegas Jungkook terangkat naik, tanpa diberitahu pun Jungkook dapat menebak si pelaku. Pastinya remaja yang ia temu tempo hari, saat istrinya yang pesakitan datang ke kantor polisi hanya untuk mengurus masalah sang ipar.


"Pulanglah, aku akan mentransfer uang ke rekeningmu. Setelah itu kau bisa membeli yang baru," ujar Jungkook. Membuat mata So Hyun terbelalak.


Tanpa menunggu lama, Jimin beserta anak buahnya segera melesat masuk ke dalam mobil. Kemudian berlalu pergi, meninggalkan So Hyun yang masih tak berkutik, serta Jungkook yang tenggelam dalam manik madu So Hyun.


....


"Sshh!" So Hyun mendesis saat Jungkook mengusap darah di sudut bibirnya menggunakan sebuah kapas yang telah diberi sedikit alkohol.


Keduanya kini berada di rumah So Hyun, wanita muda itu yang meminta agar ia dipulangkan ke rumah saja. Tadi So Hyun pikir Jungkook akan segera pulang. Namun, justru lelaki Jeon itu masih tetap di sini. Di ruang tamu, pun mereka duduk saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.


Sesekali manik mereka saling bertemu, menciptakan gelenyar aneh pada diri masing-masing. Bahkan Jungkook masih sempat-sempatnya menyelami manik indah So Hyun, manik madu itu memang mempunyai daya tarik tersendiri. Hal itu pula yang membuat So Hyun tak ingin menatap lawan jenisnya begitu lama, sebab pada akhirnya tatapan itulah yang akan menghipnotis sebagian orang untuk tertarik padanya.


Ini bukan berbicara mengenai hal yang berbau supranatural, melainkan sebuah fakta yang tak dapat dihindari. Dulu, dulu sekali. Saat mendiang ibu So Hyun masih muda, beliau sering mendapat pujian karena memiliki mata yang indah. Bahkan sesaat setelah wanita itu menikah dan mempunyai dua orang anak pun, dirinya masih menjadi primadona. Lamaran masih tetap berdatangan. Namun, ditolak secara halus karena wanita itu begitu mencintai ayah So Hyun. Kisah cinta mereka memang klasik, bertemu di dalam bus kemudian berinisiatif untuk saling mengenal. Hingga mereka akhirnya memutuskan untuk menjalin kasih selama beberapa bulan, lalu meresmikan hubungan mereka melalui janji suci. Pun pada akhirnya mereka kembali dipisahkan hanya untuk beberapa menit sebelum keduanya kembali disatukan di depan Yang Maha Kuasa.


Bila mengingat kisah yang diceritakan sang ibu, hati So Hyun menjadi girang. Wanita muda itu akan tersenyum jika mengingat-ingat curhatan sang ibu, lucu memang. Namun, sangat indah untuk selalu dikenang.


"Kau tersenyum, apa ada hal yang menarik?"


So Hyun memejamkan matanya sejenak, sembari menggeleng. Guna mengembalikan pikirannya yang sempat berkelana jauh, wanita muda itu tak sadar jika Jungkook sudah menyelesaikan tugasnya.


"Tidak, terima kasih, Tuan." Tak ada jawaban, Jungkook hanya beranjak sambil memendarkan atensinya pada rumah So Hyun. Terlihat sederhana, tapi begitu indah dan nyaman tentunya. "Anu, T-tuan. Berapa uang yang harus kuganti?"


Jungkook menghentikan atensinya pada sebuah pigura yang menempel pada dinding, di sana terlihat foto keluarga. Dua orang dewasa tampak duduk di sebuah sofa, sedangkan dua anak menggemaskan lainnya duduk di pangkuan dua orang dewasa tersebut. Yang Jungkook yakini adalah So Hyun dan keluarganya.


Ah, So Hyun. Jungkook tahu nama itu dari sang istri, wanita Kang itu terus mendambakan So Hyun setiap kali mereka bersama. Sejenak membuat Jungkook penasaran tentang wanita muda itu, tapi bergegas ia enyahkan. Sebab sampai kapan pun Jungkook takkan membagikan hatinya.


"Tuan—"


"Aku mentransfer satu miliar pada rekening Jimin, kurasa itu cukup untuk membeli dua mobil sekaligus."


Wanita muda itu melongo, satu miliar sama dengan seribu juta. Well, sekarang So Hyun tahu sekaya apa lelaki di depan ini. Namun, bukan itu yang So Hyun pikirkan. Melainkan biaya gantinya, baru saja bebannya menghilang. Kini ditambah yang lebih berat lagi, pada akhirnya wanita muda itu hanya mengusak surainya frustrasi.


"Tuan, bagaimana bisa."


"Aku bisa memberikan apa pun untukmu, asal kau mau menyetujui permintaan istriku."


So Hyun menggeleng, itu sangat tidak mungkin. "Maaf, tapi aku tidak bisa."


"Kau bisa melakukannya, Nona." Jungkook menghela napasnya berat. "Istriku sakit, dan dia tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Jeon—keluargaku, Jeon Company membutuhkan seorang penerus. Aku tidak tahu mengapa istriku menginginkan dirimu, jadi bisakah sekali saja kau membantu istriku?"


Tiba-tiba saja kepala So Hyun berdentum keras, rasa pening pun melanda. So Hyun tidak tahu harus melakukan apa, tapi jika mengingat perbuatan Jungkook dua jam yang lalu. Membuatnya merasa bersalah sekaligus tak berdaya.


"Baiklah kalau begitu, aku siap menikah dengan Tuan."


Dengan kedua tangan tersemat dalam saku celana jin, Jungkook menoleh menatap So Hyun dengan tatapan tak terbaca.


"Kau yakin dengan keputusanmu?"


[]