YOUNG WIFE

YOUNG WIFE
Bab 4. Wedding invitation



Mengambil sebuah keputusan tanpa memikirkan terlebih dahulu ternyata dapat berpengaruh pada diri sendiri, setelah pertemuannya dan Jungkook kemarin. So Hyun jadi merasa tidak tenang, apalagi ketika laki-laki itu mengatakan akan ada aturan yang tak boleh So Hyun langgar setelah mereka menikah nanti. Hari ini merupakan hari Minggu, dan di hari liburnya So Hyun tidak menggunakan waktu libur itu dengan baik. Pikirkan saja bagaimana peningnya kepala So Hyun setelah menghabiskan waktunya semalaman hanya untuk membayangkan kehidupannya setelah menikah dengan Jungkook nanti.


Ah ya, So Hyun mengetahui nama itu setelah mencari nama Jungkook di mesin pencarian google. Tak bisa So Hyun pungkiri, Jungkook benar-benar orang yang sangat berpengaruh di negara mereka ini. Bagaimana cara lelaki itu menaikkan omset dari negaranya dalam waktu yang singkat, sebut saja Jungkook itu sangat superior. Dia ahli dalam segala hal, mulai dari bela diri, bernyanyi, dan caranya menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Mungkin masih banyak lagi yang tidak So Hyun ketahui, pun dia tak ingin mencari tahu tentang seluk-beluk lelaki Jeon itu. Sudah cukup waktunya tersita selama berjam-jam hanya karena memikirkan Jungkook dan juga Kang Seolhee.


"Noona, berhenti melamun." Kai menggoyang lengan So Hyun, membuat wanita muda itu hampir saja mengeluarkan umpatan.


"Kai, bisa tidak. Sehari saja kau tidak mengganggu Noona?"


Remaja itu menggaruk tengkuk sambil menyengir tidak jelas, lalu sedetik kemudian So Hyun menutup matanya menggunakan kedua telapak tangan.


"Hyuka sialan! Kenapa hanya memakai kolor sih," tegurnya masih menutup mata.


Hyuka merupakan panggilan untuk Kai ketika So Hyun sedang kesal, seperti saat ini bisa-bisanya Kai keluar dari kamar hanya dengan menggunakan kolor. Padahal jika dilihat-lihat dia bukan anak kecil lagi, ya meskipun kolor yang digunakan Kai sejenis celana pendek. Namun, tetap saja itu menodai mata So Hyun. Terlebih ketik manik So Hyun tak sengaja menangkap sesuatu yang berdiri tegak dari balik celana kolor yang  Kai gunakan.


"Dasar mesum sialan!" So Hyun bangun dari kursi, kini wanita muda itu tidak menutup matanya lagi. Sekarang yang harus dia lakukan adalah menghukum Kai. "Katakan, sudah berapa banyak kau mengisi otakmu dengan komik porno itu, hah?!"


Kai berlari mengitari meja pantri saat So Hyun mengejarnya dengan piring porselen yang siap melayang di kepala Kai. Walaupun So Hyun tidak sungguh-sungguh melempar sang adik dengan benda itu.


"Noona aku kan sudah dewasa, wajar jika aku membaca komik seperti itu."


"Dewasa pantatmu, kau baru berusia enam belas tahun Heuning Kai!"


Sejenak suara tawa serta pekikan amarah menggema di dalam ruangan sederhana itu, Kai memang selalu seperti ini. Tak pernah sedikit pun membiarkan So Hyun hidup tenang, selalu ada saja lelucon yang berujung pada amarah So Hyun yang naik hingga ke ubun-ubun. Bahkan pagi ini tak beda jauh dengan pagi-pagi sebelumnya, bagi para tetangga sudah merupakan hal biasa yang akan menyapa rungu mereka. Sempat berniat untuk menegur dua orang itu, tapi mereka kembali mengurungkan niat karena menganggap bahwa kedua orang itu merupakan sumber kebahagiaan. Toh mereka sangat menikmati setiap pekikan dan tawa Kai yang dianggap menular, lucu memang.


Merasa lelah berkeliling ruangan. So Hyun dan Kai akhirnya memutuskan untuk beristirahat, sebelum menghampiri So Hyun yang duduk di ruang tengah. Kai menyempatkan diri untuk mengambil dua kotak banana milk dari dalam kulkas, satu untuk So Hyun dan satunya lagi untuknya.


"Noona, minum ini."


Wanita muda itu menyingkirkan lengannya yang sempat menempel pada dahi, melihat sekotak banana milk tersuguhkan di hadapannya. Pun tanpa menunggu lama So Hyun segerah meraih susu pisang tersebut, lantas menyedotnya hingga tandas.


"Haus sekali ya?"


"Eum, sangat." So Hyun menoleh, menatap Kai yang mengambil tempat di sisi kirinya. Kedua orang itu mendudukkan diri mereka di atas karpet merah dengan posisi berselonjor. "Hari ini ada les menyanyi tidak?"


Kai menepuk dahinya, dia benar-benar lupa. Untung saja So Hyun mengingatkan dirinya, jika tidak sudah pasti dia akan melewati jadwal lesnya seperti minggu kemarin. Jika hari ini Kai tidak masuk, maka kemungkinan besar dia akan dikeluarkan dari kelas. Sungguh Kai tidak ingin biaya yang So Hyun keluarkan menjadi sia-sia, pun remaja itu segera bangun dari duduknya.


"Noona, aku bersiap-siap dulu. Untung saja Noona mengingatkanku," ujar Kai. Remaja itu sedikit menunduk, memungut sampah yang berserakan di atas karpet. Kemudian berlalu meninggalkan So Hyun.


So Hyun tersenyum tipis sambil menatap punggung putih Kai, tak disangka-sangka Kai tumbuh dengan sangat cepat. So Hyun ingat waktu pertama dia pindah ke sini, Kai masih SMP kelas satu. Awalnya anak itu terlihat sangat manis, So Hyun bahkan menghabiskan waktu luangnya hanya untuk bermain dengan Kai. Merawat remaja itu layaknya anak sendiri, itulah mengapa So Hyun begitu menyayangi Kai. Ya meskipun terkadang Kai sempat membuatnya kesal, tapi entah kenapa So Hyun tidak ingin membenci remaja tampan itu.


Wanita muda itu menatap layar ponselnya yang menyala, So Hyun sedikit menggeser tubuhnya. Meraih benda pipih yang berada di atas meja kaca itu, lantas segera membuka aplikasi line. Tertera nama pengirim, sejenak So Hyun kembali mengingat kenangan di masa lalu yang sialnya begitu sukar ia lupakan.


Setelah membuka isi pesan, So Hyun cukup terkejut. Bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak, lidahnya keluh hanya sekedar menjawab teriakan Kai dari dalam kamar mandi. Pasti anak itu meminta dibawakan handuk. Namun, pikiran So Hyun tak tertuju pada Kai. Dia lebih memfokuskan atensinya pada layar ponsel, dimana terdapat foto undangan pernikahan dengan namanya yang tertulis di sana.


So Hyun mengembuskan napasnya sejenak, berusaha mengais oksigen sebanyak-banyaknya agar sesak di dada sedikit berkurang, tapi nyatanya rasa sesak itu semakin bertambah ketika melihat isi pesan berikutnya.


[Lee Nami: Itu undangan pernikahanku dan Taehyung, maaf aku tidak bisa memberikan undangannya secara langsung, aku harap kau bisa hadir di pernikahan kami nanti.]


....


"Sayang!" Seolhee berlari kecil menghampiri Jungkook yang sedang memberi makan ikan peliharaannya di sisi rumah sebelah kiri, wanita Kang itu berlari tergesa-gesa hingga membuat pelayan pribadinya ikut berlari sembari berteriak agar sang Nyonya lebih berhati-berhati.


Jungkook cukup terkejut ketika Seolhee memeluk dirinya dengan begitu erat, bahkan wanita itu mengabaikan tatapan beberapa pelayan yang memang tengah berada di sana. Menemani sang Tuan, dan dirinya.


Lelaki Jeon itu tersenyum sembari membalas pelukan sang istri, menghirup aroma rosemary dari surai sebahu Seolhee. Cukup menenangkan, dan Jungkook menyukainya. Menyukai semua yang ada pada diri Seolhee.


Setelah merasa cukup membagikan rasa harunya, Seolhee segera melepaskan dekapannya. Menatap sang suami dengan manik mengembun, siap meloloskan air mata kebahagiaan.


"Sayang, s-sebentar lagi ...." Seolhee menahan diri, maniknya awas menatap para pelayan.


Jungkook yang mengerti maksud dari tatapan Seolhee, segera memerintahkan para pelayan untuk meninggalkan mereka berdua. Usai kepergian mereka, Seolhee kembali menatap iris Jungkook. Di saat itu pula tangisnya pecah, membuat alis Jungkook saling bertaut.


"Sayang, kenapa menangis?" tanya Jungkook sembari menangkup wajah Seolhee, menatap dalam-dalam manik kelam sang istri.


Seolhee menggenggam kedua pergelangan Jungkook, bukannya menjawab pertanyaan sang suami. Seolhee justru  semakin menghujani pipinya dengan air mata, satu hal yang membuat Jungkook hampir kehilangan tempat untuk berpijak. Sebab untuk pertama kalinya Jungkook melihat Seolhee menangis, padahal selama mereka menjalin kasih dan memutuskan untuk menikah pun Jungkook tak pernah melihat Seolhee seperti ini. Jangankan itu, bahkan kedua orang tuanya meninggal sekali pun Seolhee tak menitihkan air matanya.


"S-sebentar lagi kita akan memiliki keturunan. Sayang, So Hyun setuju untuk menikah." Seolhee menarik dirinya, wanita Kang itu menatap wajah Jungkook yang terlihat begitu tenang. "Kau senang kan?"


Tidak Sayang, aku tidak senang. Pada akhirnya Jungkook ikut tersenyum sambil mengangguk, kemudian mengecup kening Seolhee cukup lama.


"Jika kau senang, aku juga senang. Sebentar lagi impianmu akan terwujud," ujar Jungkook dengan suara terdengar sedikit parau.


Jungkook tidak pernah tahu bahwa Seolhee akan menangisi hal semacam ini. Entah terbuat dari apa hati Seolhee hingga mengambil keputusan yang jelas-jelas akan berkahir menyakiti satu sama lain, Jungkook tidak tahu persis apa yang ada dalam pikiran Seolhee. Namun, keinginan untuk memiliki keturunan sangatlah kuat. Sehingga Seolhee rela menepikan perasaannya, meminta sang suami untuk menikah lagi. Padahal mereka bisa melakukan bayi tabung, atau mengadopsi, akan tetapi keputusan Seolhee untuk menjadikan So Hyun sebagai ibu pengganti sudah bulat.


Wanita itu sudah memutuskan untuk berbagi suami dengan wanita lain, dia juga tidak mempersalahkan hubungan So Hyun dan suaminya nanti. Tidak masalah jika So Hyun atau Jungkook saling mencintai, yang jelas Seolhee akan menerima So Hyun dan juga hubungan baru mereka.


Seolhee melangkah mundur, memberi sedikit jarak untuknya dan Jungkook. Tepat saat Jungkook hendak melangkah, Seolhee mengudarakan telapak tangannya. Memberi isyarat pada Jungkook untuk tetap di tempat.


"Pergilah, jemput calon istrimu."


Jantung Jungkook berdentum keras, rasa sakit tiba-tiba menjalar. Bahkan setelah Seolhee membalikkan badan, kemudian dengan langkah-langkah kecilnya Seolhee bergegas meninggalkan Jungkook dengan segala pikiran yang bercokol di kepala lelaki Jeon itu.


Hampir sepuluh menit Jungkook masih bergeming, dadanya terasa sakit. Sangat sakit ketika mengingat ucapan Seolhee, mengapa wanita itu mudah sekali mengucapkan beberapa kalimat yang berhasil memporak-porandakan hatinya?


Jungkook kalah, dia kalah oleh kelemahannya. Bagi Jungkook Seolhee adalah hidup dan matinya, jadi apa pun akan Jungkook lakukan agar istrinya tetap tersenyum. Walaupun ia sendiri tak yakin akan bahagia setelah pernikahan keduanya nanti, sungguh rasanya Jungkook ingin mengasingkan dirinya di pulau terpencil agar pernikahan ini tidak terjadi. Namun, ketika mengingat wajah bahagia dan keinginan Seolhee yang begitu kuat. Jungkook segera membuang jauh-jauh pikiran buruknya.


Lelaki Jeon itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, itu berarti dia harus segera ke rumah So Hyun untuk menjemput wanita muda Kim itu.


Melipat lengan kaosnya hingga ke batas siku, Jungkook buru-buru mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku celana kain yang ia kenakan. Kemudian segera bergegas meninggalkan kolam ikan.


....


Terhitung hampir lima belas kali ponselnya berdering, tapi So Hyun tetap mengabaikan. Wanita muda itu terlihat sibuk menenggak soju langsung dari botolnya, bukan hanya satu botol saja. Sebelum pergi ke pantai So Hyun sudah menenggak dua botol terlebih dahulu, tak lupa dia juga membawa empat botol dan sekarang hanya tersisa satu botol lagi.


Duduk seorang diri di atas pasir putih sembari mendengar suara ombak, serta merasakan angin sepoi-sepoi berembus secara perlahan. Membiarkan luka di sudut bibirnya kembali perih, tadi sebelum Kai berangkat ke tempat les dia sempat menanyakan perihal luka di sudut bibir So Hyun yang disadarinya. Lalu yang remaja itu dapatkan hanyalah cengiran, kemudian dengan polosnya So Hyun menjawab bahwa itu hanya kecelakaan kecil karena dirinya tidak hati-hati.


Lupakan soal luka fisik, ternyata adalah yang lebih sakit dari itu. Apalagi kalau bukan luka batin, seandainya ada pil yang dapat menyembuhkan luka di hatinya. Maka So Hyun takkan ragu mengeluarkan banyak uang untuk membeli obat itu. Sayangnya itu cuman angan-angan saja, bagaimana bisa seseorang membuatkan obat khusus untuk menyembuhkan luka tak kasat mata. Namun, perihnya begitu terasa.


"Kim Taehyung brengsek!" Hampir saja So Hyun memukul botol soju ke kepalanya, jika saja tidak ada seseorang yang mencekal.


Wanita muda itu mendongak, irisnya secara langsung bertemu dengan iris sang lelaki yang kini menatapnya penuh amarah.


"Kau bodoh atau bagaimana?"


Lelaki itu menarik botol pada genggaman So Hyun, lantas membuangnya sejauh mungkin. Begitu juga dengan botol-botol lainnya, mata indah itu terlihat sembab. Seluruh permukaan wajah So Hyun pun terlihat memerah bagaikan kepiting rebus.


"Ungh, Tuan tolong jangan mengganggu. Biarkan wanita muda ini menikmati kesialan yang terjadi dalam hidupnya," ujar So Hyun. Sesekali bibirnya mengerucut lucu, tangannya dengan lihai bergerak seolah ia tengah berpresentasi di depan layar.


"Ini aku Jeon Jungkook, apa kau lupa?"


So Hyun membulatkan matanya, menatap Jungkook yang kini sudah menekuk lutut tepat di depannya. Jarak mereka pun tidak begitu jauh, So Hyun bahkan dapat menghirup feromon lelaki Jeon itu yang menyatu dengan aroma alkohol dari mulutnya.


"Ah, Jeon Jungkook ya?" So Hyun manggut-manggut sambil tersenyum, manis sekali. "Aku tahu, dia itu calon suamiku. Ya, itu benar."


Perlahan jari lentik So Hyun bergerak menyusuri rahang tegas Jungkook, menciptakan gelenyar aneh pada diri lelaki Jeon itu.


"Tuan, Anda sangat tampan." Tak puas hanya menyusuri rahang Jungkook, kini jari telunjuknya bergeser pada bibir tipis Jungkook. Menekannya beberapa kali sebelum kedua telapak tangannya merangkum wajah tampan itu. "Cium boleh?"


Jungkook meneguk salivanya susah ketika bibir mereka saling bertemu, So Hyun tidak main-main dengan ucapannya barusan. Wanita itu memejam sembari merasakan betapa lembutnya bibir Jungkook. So Hyun benar-benar lupa diri, tanpa sadar wanita muda itu menyesap, *******, dan menggigit bibir Jungkook secara perlahan. Merasa tak mendapat balasan, So Hyun pun menarik dirinya. Membuat benang saliva mereka terputus.


"Maafkan—eumph."


So Hyun mendelik ketika Jungkook menarik tengkuknya, mempersatukan kembali bibir mereka. Lelaki Jeon itu melakukannya dengan napas yang memburu, Jungkook pikir dia sudah gila benar-benar gila hingga tak menyadari perbuatannya saat ini.


Cahaya rembulan menerangi kedua insan yang masih memagut satu sama lain, saling memberikan kenyamanan. Semesta pun seakan tersenyum melihat penyatuan mereka, ombak pecah di antara bebatuan. Angin berembus secara perlahan, begitu juga dengan bintang-bintang yang berkelap-kelip di atas sana. Malam ini untuk sesaat So Hyun melupakan rasa sakitnya, begitu pula dengan Jeon Jungkook yang lepas kendali. Melupakan sang istri yang menunggu di rumah dengan perasaan gusar, kedua insan itu benar-benar hanyut dalam gairah yang mampu membakar jiwa.


Tanpa keduanya sadari, ciuman itu merupakan awal dari segalanya.


[]