
"Yak! Heuning Kai. Apa yang kau pikirkan, hah?!" Seorang wanita muda yang usianya kira-kira dua puluh dua tahun melipat lengan di depan dada sembari meniup poninya kasar, pasalnya ini bukan pertama kali dia dipanggil oleh pihak kepolisian. Semua penyebabnya ada pada anak tetangga yang dititipkan padanya.
"Noona, jangan marah lagi."
Mengabaikan wajah memelas sang anak tetangga, So Hyun melangkah dengan wajah kesal. Sangat kesal, jika saja remaja enam belas tahun itu sangat imut seperti anjing kekasihnya Kim Taehyung. Maka sudah dipastikan So Hyun akan sangat menyayangi Kai, tapi bedanya anak itu begitu nakal. Sangat nakal hingga polisi pun bosan menulis kasus remaja yang baru masuk sekolah menengah atas itu.
So Hyun berjalan menuju ke tempat duduk yang berhadapan langsung dengan inspektur, di sampingnya terlihat seorang wanita cantik bersurai sebahu. Wanita itu begitu cantik, dengan bulu mata lentik dan hidungnya yang runcing. Astaga bisa-bisanya So Hyun merasa iri.
Menggeleng sejenak, So Hyun kembali memasang wajah memelas pada Jung Hoseok. Inspektur yang lagi-lagi ia temui, yah semuanya berkat Heuning Kai.
"Pak, tolong keluarkan adik saya."
Pria tiga puluh sembilan tahun itu mengangkat sebelah alisnya, ia sendiri bingung dengan wanita cantik di hadapannya ini. Selalu saja memohon agar adiknya dikeluarkan, padahal akan lebih baik lagi jika Kai tetap berada di balik jeruji besi. Namun, So Hyun tidak sejahat itu, bagaimana pun juga Kai sudah seperti adik kandungnya.
"Minta maaflah pada Nyonya Kang, adiknya yang menjadi korban dari perkelahian tadi."
Hoseok mengangkat dagu, menunjuk pada istri seorang pengusaha terkenal dari Jeon Company. Perusahaan ternama dan satu-satunya yang sukses dalam segala bidang, awalnya Hoseok terkejut melihat kedatangan wanita yang sangat dihormati itu. Namun, setelah bertanya-tanya ternyata adiknya yang bernama Kang Daniel-sekarang dirawat. Merupakan salah satu korban perkelahian antar sekolah.
Wanita bernama Kang Seolhee itu menoleh dan tersenyum manis pada So Hyun, sejenak membuat So Hyun termangu. Tadinya dia pikir wanita itu akan marah-marah atau menjambak rambutnya. Namun, ruapanya dugaan wanita muda itu salah besar.
"Nyonya—"
"Adikmu aku maafkan, tapi aku tidak menjamin dia bisa keluar dari jeruji besi jika masih berani memukul adikku lagi."
So Hyun menggigit bibir bawahnya, wanita muda itu mendunduk. Meminta terima kasih atas kebaikan hati wanita itu, sungguh So Hyun tak habis pikir.
"Sayang!"
Semuanya sama-sama menoleh dan mendapati seorang pria tampak tergesa-gesa menghampiri wanita bergaun merah yang masih setia menempelkan bokongnya pada kursi. Beberapa orang segera membungkuk hormat, ini merupakan satu keajaiban. Dimana mereka kedatangan tamu terhormat, Jeon Jungkook.
Pengusaha sukses yang nama dan wajahnya sering muncul di media, televisi, maupun koran atau majalah. Jika semua mengenal lelaki itu, maka berbeda pula dengan So Hyun yang masih dalam mode bingung.
Lelaki itu berjongkok di depan sang istri sembari menggenggam tangan lembut itu dengan erat, berulang kali So Hyun berucap dalam hatinya. Memohon ampunan karena mengumpat lelaki itu, bisa-bisanya dia melakukan adegan romantis tepat di hadapan So Hyun.
Manik So Hyun membulat, hampir meloncat ketika melihat perlakuan manis si lelaki yang mengecup punggung tangan istrinya.
Astaga aku mau muntah. Hoseok tak dapat menyembunyikan senyumnya, melihat wajah kesal So Hyun ternyata membuatnya terhibur.
"Penjarakan remaja yang berani memukul adik iparku," ujarnya tegas. Sontak langsung membuat So Hyun beranjak sembari berkacak pinggang.
"Hei Tuan. Apa kau gila?!" Semua orang tampak terkejut, termasuk sang istri yang diam-diam mengamati So Hyun. "Adikku masih di bawah umur, lagi pula bukan hanya dia saja yang memukul adik iparmu. Salahkan polisi yang tidak menangkap teman-temannya yang lain, huh menyebalkan."
Seolhee ikut bangun ketika melihat suaminya—Jeon Jungkook sudah dalam posisi berdiri, rahang lelaki itu mengeras seiring dengan tatapannya yang tajam.
"Jaga bicaramu, Nona. Apa kau tahu dengan siapa kau bicara sekarang?" Seorang polisi wanita berujar dengan raut kesal.
Alih-alih ketakutan, So Hyun justru melipat lengan di depan dada. Kemudian menyunggingkan senyum, kesannya seperti tengah meremehkan ucapan si polisi wanita tadi.
"Memangnya apa peduliku? Bukankah kita sama-sama manusia?"
Polisi wanita itu ternganga, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka mulai berbisik-bisik, sedangkan Seolhee malah memecahkan tawanya. Sukses membuat semua perhatian tertuju pada wanita yang menyandang status sebagai istri dari Jeon Jungkook itu.
Menambah langkahnya, lantas mencubit pipi chubby So Hyun. "Kau sangat manis."
Jungkook mengerutkan dahinya, bingung akan ucapan sang istri. Harusnya Seolhee membela dirinya dan bukan wanita lancang itu—iya lancang, menurut Jungkook.
"Sayang lupakan saja masalah ini, Toh aku sudah memberikan ijin untuk membebaskan adiknya."
Jungkook mendelik. "Sayang apa yang—"
"Keputusanku sudah bulat."
....
Seolhee tak henti-hentinya tersenyum, setelah kejadian siang tadi dia bahkan tak bisa tidur dengan baik. Wajah So Hyun selalu memenuhi isi kepalanya, berputar-putar bagaikan roda kehidupan. Seolhee masih ingat bagaimana wanita muda bersurai sepunggung itu membentak suaminya. Saat itu Seolhee tak dapat menahan tawanya lagi, wajah So Hyun terlalu lucu.
Usai menyelesaikan ritual mandinya Jungkook segera beranjak keluar dengan handuk besar yang melingkar di pinggul. Sedang handuk kecil menggantung di leher, sesekali ia menggosok rambutnya yang basah.
Mendapati istrinya yang tersenyum, Jungkook segera berderap mendekat. Membiarkan aroma mint dan citrus menguar dari tubuhnya, aroma kesukaan Seolhee selama lima tahun terakhir ini. Ya sudah lima tahun pasangan itu menikah, tapi selama lima tahun pula mereka hidup dalam kehampaan. Pasalnya wanita tiga puluh empat tahun itu belum juga memberikan keturunan untuk keluarga Jeon.
Sejak awal sebelum menikah, Seolhee sempat menolak. Ia berdalih takkan bisa memberikan keturunan untuk Jungkook, terlebih dia sakit-sakitan. Namun, Jungkook selalu mengatakan tidak apa-apa. Bahkan Jungkook tak pernah sekalipun menunut pada Seolhee untuk memberikan keturunan untuknya, kehadiran Seolhee sudah cukup.
Tersadar dari lamunannya saat tangan kekar Jungkook mengusap puncak kepala wanita itu. Seolhee memeluk pinggul Jungkook sembari menghirup aroma dari tubuh suaminya itu, terhitung sudah hampir tiga tahun lebih mereka tak lagi berhubungan. Bukan tanpa alasan, Seolhee hanya mengatakan dia tidak sanggup melakukan itu. Sebab dia akan lelah dan berakhir di ranjang selama berminggu-minggu, Jungkook pun memahami hal itu.
"Dari tadi senyum-senyum sendiri, ada apa?"
"Aku tengah memikirkan seseorang."
Secepat itu pula Jungkook mendudukkan dirinya ke bibir ranjang, tepat di samping Seolhee.
"Memikirkan siapa? Laki-laki atau perempuan, apa dia begitu penting sehingga kau terus memikirkan dirinya?"
Bergelayut manja pada lengan Jungkook sembari menggeleng kecil. "Tidak Sayang, aku hanya memikirkan wanita muda tadi."
"Memangnya ada apa?"
"Tidakkah kau pikir dia cocok untukmu—maksudku cocok untuk menjadi ibu pengganti?"
Jungkook tersekat, lelaki Jeon itu menoleh sejenak. Agar tatapannya tidak bertemu secara langsung dengan sang istri, sebelumnya mereka sering membahas ibu pengganti. Namun, Jungkook selalu menghindar kadangkala ia akan berteriak. Kemudian berakhir dengan meminta maaf.
Jungkook melepaskan dekapan Seolhee, lantas segera beranjak. Hendak melangkah masuk ke dalam walk in closet, dimana seluruh pakaiannya dan pakaian Seolhee tersimpan di sana. Belum lama Jungkook melangkah Seolhee kembali berujar, sukses menyita atensi sang suami.
"Kalau begitu ceraikan aku, percuma kita menikah tanpa kehadiran seorang anak."
"Sayang."
"Pagi tadi ibumu datang menemuiku, dan pertanyaan yang sama terus beliau lontarkan. Sekali ini saja Jungkook, tolong dengarkan aku."
Mengembuskan napas berat. Jungkook benci saat ada orang luar yang ikut campur dalam kehidupan rumah tangganya, walaupun keluarganya sendiri.
"Akan aku pikirkan."
Putusan akhir sebelum menuju bilik dalam kamar mereka, Seolhee menarik sudut bibirnya. Kemudian segera mengirimkan sebuah pesan pada supir pribadinya.
[Nyonya Jeon: Cari tahu alamat wanita itu, kirimkan padaku secepatnya.]
....
"Noona, masih mara ya?" tanya Kai setelah berhasil memasuki kamar So Hyun.
Jelas sekali wajah So Hyun yang datar, Kai tahu So Hyun masih marah, tapi dia tak bisa hanya tinggal diam sembari menunggu So Hyun bicara dengannya. Sumpah Kai akan gila jika So Hyun terus mengabaikan dirinya.
"Noona yakin tidak mau bicara dengan Kai lagi?"
Pemuda itu mendudukkan dirinya ke atas ranjang So Hyun, sedangkan wanita muda itu tampak sibuk memberi tanda pada koran yang berisi lowongan pekerjaan. Mengabaikan keberadaan Kai.
"Noona."
"Apa lagi Heuning Kai?!"
So Hyun terhenyak setelah mendapati sudut bibir Kai mengeluarkan darah, pipi pemuda itu pun memerah. So Hyun dapat menebak jika ini ulah kedua orang tua anak itu, tadinya So Hyun masih ingin mendiami Kai, tapi setelah melihat luka itu So Hyun segera mengurungkan niatnya.
Wanita muda itu berjalan menghampiri Kai, mendudukkan dirinya tepat di samping anak tampan itu.
"Buka bajumu." Perintahnya masih menatap lekat sudut bibir Kai.
"Aku baik-baik saja Noona, ini sudah biasa."
"Noona bilang buka, apanya yang baik-baik saja?" Manik madu So Hyun mengembun, siap meneteskan air mata jika benar tubuh Kai dipenuhi bekas cambukan lagi. "Sudah kuduga, kenapa mereka selalu saja menyakitimu?"
Meletakkan kaos hitamnya di samping kiri, Kai sebenarnya tidak ingin memperlihatkan tubuh penuh lukanya pada So Hyun. Namun, wanita itu memaksa. Hingga akhirnya dia pun mengalah dan menujukkan pada So Hyun. Lalu sedetik kemudian Kai melihat So Hyun menitihkan air mata, sama seperti hari-hari sebelumnya.
"Aku bisa mengurusmu jika ... mereka tidak mampu," ujar So Hyun sambil terisak.
Kai mendekat, lantas mendekap tubuh So Hyun. Bagi Kai ini merupakan hal biasa, terlebih saat ayahnya memilih menikahi seorang wanita yang usianya sama seperti So Hyun. Seringkali ia dipukul hanya karena masalah kecil, contohnya seperti tak sengaja memecahkan piring. Atau tidak membereskan rumah, semua itu Kai lakukan seorang diri mengingat dia anak tunggal. Ah sekarang tidak lagi, sebab Kai sudah mempunyai dua adik kembar. Kehadiran kedua bayi mungil itu seakan menambah beban kehidupannya.
Alasan kedua orang tua Kai menitipkan dirinya pada So Hyun karena mereka sering ke Busan, wilayah kerja ayah Kai. Hari ini lelaki empat puluan itu kembali hanya karena mendapat telepon dari pihak kepolisian. Pun bekas cambukan itu merupakan hukuman sebelum lelaki baya itu kembali ke Busan dan mungkin akan kembali ke Seoul dalam beberapa bulan lagi.
Mengolesi satu per satu luka yang berada si punggung Kai, sejak lima belas menit yang lalu So Hyun tak dapat menghentikan tangisnya. Melihat Kai seperti ini dia jadi mengingat mendiang adiknya Kim Beomgyu, dan juga kedua orang tuanya yang habis dilahap si jago merah bersama rumah lama mereka. Jika saja So Hyun tidak mengikuti ujian akhir sekolah, maka sudah dipastikan ia akan tewas bersama dengan keluarganya. Namun, rupanya Tuhan masih berbaik hati dengan membiarkan dirinya tetap bertahan hidup di dunia yang fana ini.
"Noona, kalau suatu saat aku pergi. Apa Noona akan sedih?"
Tanpa sadar So Hyun memukul punggung Kai, membuat remaja itu meringis.
"Aku tidak akan sedih jika kau membawaku bersamamu."
Kai menorehkan senyum dengan ekor mata yang melirik So Hyun. "Bagaimana dengan Tae hyeong? Pasti dia sedih saat tahu Noona pergi bersama denganku."
"Kau percaya dia kembali?" Kai mengangguk yakin. "Tidakkah kau berpikir dia sudah berumah tangga?"
Buru-buru Kai memutar tubuhnya, menghadap So Hyun yang terlihat murung. Seperti baisa, So Hyun pasti sedih ketika mengungkit nama lelaki itu lagi. Laki-laki yang pergi meninggalkan dirinya selama enam tahun lebih, tanpa kabar dan berita. Well bagaimana So Hyun bisa berharap di saat tak sedikit pun kabar dari lelaki yang semarga dengannya itu.
"Noona jangan sedih lagi, aku berjanji akan menikahi Noona jika Kim Taehyung tidak kembali."
"Bodoh! Kau itu adikku, mana mungkin kita menikah."
"Tapi aku ini hanya adik angkat, jadi kita bisa menikah. Jika Noona mau," ujar Kai lagi. Langsung mendapat pukulan pelan tepat di kepalanya.
"Adik ya adik, kau ini. Bagaimana sih!"
So Hyun menyengir sembari membersihkan kotak berisi obat yang tadi ia pakai untuk mengobati luka Kai.
"Tunggu di sini sebentar, Noona mau menyiapkan sesuatu."
"Makanan?"
Wanita muda itu mengangguk. "Yah, kau pasti lapar 'kan?
"Em, ingin makan makanan buatan Noona."
"Kalau begitu biarkan salepnya mengering, Noona akan memanggilmu saat makanan sudah masak."
So Hyun pun berlalu pergi. Meninggalkan Kai yang terdiam menatap rembulan malam, rasanya dia begitu betah berada di rumah So Hyun yang sederhana ini.
"Terima kasih noona, aku janji tidak akan menyusahkan noona lagi." Kai meraih bingkai foto So Hyun, kemudian segera membaringkan dirinya sambil memeluk binkai foto itu. "Sayang Noona."
Kata sayang yang dimaksud Kai adalah sayang seorang adik kepada kakaknya, perihal ucapan Kai tentang pernikahan tadi. Itu hanyalah bualan saja, Kai tidak sungguh-sungguh ingin menikahi So Hyun. Dia masih cukup waras untuk menikahi kakak perempuannya. Terlebih So Hyun sudah banyak berkorban, jadi sampai kapan pun Kai akan melindungi So Hyun. Dia akan menjadi laki-laki pertama yang ada untuk So Hyun dikala wanita itu bersedih.