
Dalam balutan gaun malam yang entah punya siapa. Namun, bagi So Hyun gaun ini terlalu seksi, lihat saja bagaimana gaun itu terbelah hingga ke batas paha dan juga bagian atas yang sedikit melar. Memperlihatkan belahan dada sintalnya, berkali-kali So Hyun memaki dalam hati karena tak ada pakaian lain selain gaun sebatas dengkul dan panjang hingga menyapu lantai. So Hyun juga telah menggeledah isi lemari. Namun, ia tak dapat menemukan celana jin atau pun treaning. Rasanya ia hampir gila setelah mengetahui walk in closet yang berada dalam kamar ini hanya dipenuhi gaun dan pakaian dalam tentunya.
Jika dihitung hari ini merupakan hari ketiga So Hyun menempati bangunan berlantai tiga itu. Bersama dengan para penjaga yang berdiri di depan pintu utama, dia benar-benar merasa tengah berada dalam penjara tanpa aktivitas yang menarik. Sesekali Seolhee akan mengunjunginya, menceritakan tempat pernikahannya dan Jungkook sudah selesai dipersiapkan. Seolhee juga mengatakan pada So Hyun bahwa mereka akan pergi ke luar kota untuk melaksanakan pernikahan di sebuah tempat, sebenarnya So Hyun masa bodoh. Yang jadi masalah di sini adalah peraturan, So Hyun dilarang memegang ponsel, dia juga dilarang keluar, tempatnya hanya sebatas lantai dua. Dimana terdapat banyak rak buku, atau sebut saja perpustakaan. Karena di sana ada banyak sekali buku-buku yang bisa ia baca ketika merasa bosan.
Baru tiga hari tapi rasanya sudah sekian tahun. So Hyun bahkan tidak tahu bagaimana nasib Kai sesaat setelah kepergiannya tanpa pamit. Pernah sekali Jungkook menemuinya di pagi hari, saat So Hyun tengah membaca sebuah novel. Dia bilang kalau Kai baik-baik saja, anak itu bahkan dirawat oleh beberapa pelayan dan juga Jungkook membeli sebuah apertemen khusus untuk Kai selama So Hyun menjadi istri mudanya. Tentu saja mendengar hal itu So Hyun bahagia. Namun, rasa bahagianya tak bertahan lama ketika barang-barang pribadi miliknya disita oleh sang tuan.
Malam ini akan sama seperti malam-malam sebelumnya, duduk di sofa sambil menonton drama atau sekedar merasakan terpaan angin malam dari balkon kamar. So Hyun akui semua fasilitas di dalam kamar yang bisa disebut sebagai ruang tamu ini memang lengkap. Bagaimana Jungkook dan Seolhee menyiapkan semua dengan sangat baik, di dalam ruangan cukup besar itu terdapat sebuah ruangan tersendiri yang hanya dibatasi sebuah dinding dengan pintu kayu.
Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja kaca bundar dengan dua buah kursi saling berhadapan. Tersedia juga konter dapur, tapi tidak ada peralatan masak atau kompor karena menurut Seolhee itu akan sangat berbahaya. Jadi mereka hanya menyediakan dua buah kulkas, juga kabin yang di dalamnya berisi sereal, dan daun teh beraroma buah dan jangan lupakan mesin penyaji minuman.
Cukup lama So Hyun berdiri di depan pintu ruangan itu, ia menilik satu per satu benda-benda yang berada di dalam sana secara bergantian. Tak ada niat sama sekali untuk menyentuh kulkas berisi buah atau minuman, sungguh So Hyun malas berada di sini.
Ketukan dari arah pintu kamar membuat So Hyun melonjak kaget, tak lama disusul bunyi derit pintu. Kemudian menampilkan sosok Seolhee dengan gaun malam persis seperti yang ia kenakan. Well, sekarang So Hyun tahu siapa pelakunya. Pastilah gaun di dalam lemari merupakan pilihan Seolhee, andai saja So Hyun bisa melayangkan protes. Namun, dia tak punya keberanian. Apalagi wajah berseri Seolhee membuatnya akan sangat merasa bersalah jika mengomentari pakaian pemberian wanita Kang itu.
Beranjak meninggalkan tempatnya berpijak, So Hyun berjalan menghampiri Seolhee. Tak lupa ia torehkan senyum semanis mungkin pada wanita berkulit pucat yang kini tengah menatapnya dengan perasaan kagum.
"Kau cantik, sangat." Pujian itu membuat pipi So Hyun bersemu, wanita muda itu menggaruk tengkuknya canggung.
"Ini sudah pukul sepuluh, mengapa Nyonya belum tidur?" tanya So Hyun sembari melangkahkan kakinya menuju sofa.
"Aku tidak bisa tidur."
"Memikirkan acara pernikahan besok?"
Seolhee mengangguk setuju, padahal bukan dirinya yang menikah. Tapi rasanya dia akan mengenang kembali momen indahnya saat pernikahan mereka dulu, dia dan Jungkook. Mereka terlihat bahagia walaupun keluarga Jungkook tampak tak suka menerima Seolhee, bagi mereka Seolhee hanyalah wanita penyakitan yang mungkin akan menyusahkan putra mereka. Pun semua terbukti saat Seolhee tak kunjung hamil, malah tubuhnya semakin hari semakin kurus dengan wajah pucat pasih.
Jika mengingat perlakuan keluarga Jungkook terhadap dirinya, Seolhee merasa sakit hati. Begitu sakit hingga ia tak dapat mendefinisikan lewat kata-kata, dan berakhir dengan buliran air mata yang membuat So Hyun dengan sigap menangkup wajah sang nyonya.
"Nyonya apa yang terjadi, mengapa menangis?" tanya So Hyun. Wajahnya terlihat panik, entah kenapa So Hyun merasa dia baru saja menemukan sisi lemah dari seorang Kang Seolhee.
Seolhee tak dapat menahan bendungan di pelupuk matanya lagi, wanita Kang itu melepaskan semua rasa sakitnya dalam dekapan So Hyun, menceritakan bagaimana ia tersiksa mendengar setiap hinaan yang keluar dari mulut tajam sang mertua. Sejenak membuat So Hyun tersadar dan berpendapat bahwa keluarga besar Jungkook sangat kejam, berbagai pertanyaan berkelebat di kepala So Hyun membuat wanita muda itu menerka-nerka jika selama ini Jungkook tak mengetahui keadaan sang istri secara batin.
"Nyonya, Anda pasti sangat menderita bukan?" tanya So Hyun sembari mengusap surai sebahu Seolhee, persis seperti yang Seolhee lakukan padanya tempo hari. "Tenanglah, aku akan memberikan keturunan untuk keluarga ini," lanjutnya dalam hati.
Setelah merasa puas, Seolhee bergegas menarik dirinya. Dia hampir lupa kalau dia sudah berada di dalam sini selama setengah jam, pasti Jungkook mencarinya. Pun wanita itu segera beranjak, tak lupa mengecup pipi So Hyun. Layaknya seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya.
"Maaf sudah membuatmu khawatir, tolong persiapkan dirimu untuk pernikahan besok. Aku dan Jungkook akan datang ke sinu pagi-pagi sekali, ah dan jangan lupa habiskan makan malammu."
Ah makan malam, So Hyun hampir lupa jika di meja kaca persegi depan sofa tersedia beberapa makanan yang dibawakan seorang pelayan. Entah namanya siapa, yang jelas So Hyun tak ingin menyentuh makanan itu. Dia sudah cukup kenyang setelah menjejalkan beberapa cupcakes ke mulutnya.
So Hyun beranjak, mengantarkan Seolhee ke depan pintu kamar. "Selamat malam Nyonya, semoga tidur Anda nyenyak."
Seolhee tersenyum dengan sedikit anggukan kecil. "Terima kasih."
....
Puncaknya adalah sekarang, dimana kedua pasangan berbeda jenis itu dipersatukan melalui ikatan janji suci. Di depan ada satu wanita cantik dalam balutan gaun mera yakni Kang Seolhee, bersama dengan seorang lelaki baya yang membantu jalannya acara pernikahan tertutup ini, tangis Seolhee pecah seketika melihat suaminya menyematkan cincin pada jari manis So Hyun. Begitu pula sebaliknya, Seolhee dapat menangkap keraguan dari diri So Hyun saat hendak menyematkan cincin pada jari manis Jungkook. Namun, pada akhirnya semua berjalan lancar.
Jungkook menatap penuh keraguan ke arah Seolhee ketika lelaki baya itu memberi instruksi agar Jungkook segera mencium So Hyun sebagai tanda resminya hubungan mereka. Tentu Seolhee hanya memberikan persetujuan dengan sebuah anggukan, lalu detik berikutnya Jungkook mengecup sekilas bibir So Hyun. Rasanya masih sama, seperti malam itu. Malam yang membuat Jungkook merasa sangat bersalah pada Seolhee karena mencium wanita lain.
Tak ada penyesalan atau pun sakit hati, Seolhee justru merasa sangat bahagia. Suasana mengharu biru saat Seolhee memilih untuk membelakangi So Hyun dan juga Jungkook yang masing-masing dari mereka mengenakan pakaian pernikahan. Sekilas mereka terlihat sangat serasih, Seolhee memang sempat iri. Namun, keinginannya lebih kuat dari apa pun. Yah Seolhee benar-benar sudah memantapkan hatinya.
Masih menangkup wajah So Hyun, Jungkook menatap dalam-dalam manik indah wanita muda yang kini telah resmi menjadi istrinya. Manik teduh So Hyun memancarkan banyak keraguan, Jungkook sadar itu. Dia sendiri merasa kalau So Hyun belum siap untuk berhubungan dengannya.
"Aku takkan memaksa," ujarnya. Membuat wanita muda itu segera menyelami hazel Jungkook.
Kemudian atensi So Hyun berpindah pada Seolhee yang masih membelakangi mereka dengan bahu bergetar. So Hyun tahu betapa keinginan Seolhee sangatlah besar, bahkan So Hyun bisa berada di altar pernikahan berkat wanita Kang itu. Wanita yang dia khianati sebelum hubungannya dan Jungkoom diresmikan dengan ikatan yang begitu erat.
"Aku melakukan ini semata-mata untuk Nyonya, harga dirinya jauh lebih berharga dari apa pun."
So Hyun menepis pelan kedua tangan Jungkook, perkataan So Hyun barusan seperti duri yang menusuk hati Junkook. Bisa jadi itu merupakan sindiran halus untuknya, Jungkook sendiri tak dapat melakukan apa-apa. Tugasnya sekarang adalah membahagiakan kedua istrinya, mencari cara tersendiri agar kewajiban sebagai seorang suami bisa membahagiakan Seolhee maupun So Hyun.
Seolhee tersentak ketika sentuhan lembut di pundaknya, membuat ia tersadar dan segera berbalik. Sambutan hangat So Hyun membuat tangis Seolhee tak dapat ddihentikan, wanita Kang itu memeluk So Hyun dengan begitu erat. Tatapannya tertuju pada Jungkook yang masih berdiri di aktar penirkahan sambil memandangi kedua wanita itu.
"Terima kasih, terima kasih banyak So Hyunie." Seolhee masih memandang lekat-lekat suaminya, bibir pucat wanita Kang itu gemetar. Sulit sekali menjelaskan bagaimana perasaannya bercampur menjadi satu, antara bahagia dan sedih karena hanya dalam hitungan jam. Suaminya, laki-laki yang begitu dia cintai akan berbagi kehangatan dengan wanita lain yang kini berstatus sebagai istri muda sekaligus simpanan seorang Jeon Jungkook.
Mengusap punggung ringkih Seolhee tak pelak So Hyun rapalkan kalimat-kalimat sayang, berusaha menenangkan serta meyakinkan Seolhee bahwa ini tak lebih dari sebuah tugas.
"Tetaplah seperti ini, Nyonya harus tetap bahagia. Apa pun yang terjadi tetaplah untuk tersenyum," ucap So Hyun yang kini ikut larut dalam suasana bahagia bercampur sedih. "Setelah hari itu datang, Nyonya takkan lagi mendengar hinaan merema. Percayalah, karena aku yang akan merubah takdir Nyonya. Membungkam mulut busuk orang-orang sombong itu!"
Entah dari mana So Hyun mendapatkan pemikiran seperti itu, dia sendiri benci ketika ada wanita yang direndahkan oleh wanita lain. Sungguh So Hyun tidak suka, rasanya ia ingin sekali menghancurkan mulut mereka. Memang benar So Hyun tidak mengenal siapa keluarga Jungkook, tapi setelah mendengar cerita Seolhee. So Hyun terus mengumpulkan kesabaran agar emosinya tak meluap bagai kepulan uap.
Tak ada yang sempurna di dunia ini, perbedaan kastalah yang membuat pandangan masing-masing orang berbeda. Itulah mengapa So Hyun memberi lingkaran merah bagi orang-orang sombong yang hidup di muka bumi. Sikap bar-bar yang dimiliki wanita muda itu menjadi ciri khas tersendiri, terlebih air wajah yang selalu dingin seakan menjadi pendukung untuk seseorang yang memainkan peran antagonis. Namun, siapa sangka dibalik paras dinginnya. So Hyun memiliki banyak sekali daya tarik dalam yang tidak diketahui banyak orang. Bahkan Taehyung sekalipun.
....
Di depan pintu kamar Jungkook tampak menahan napasnya sejenak, melihat bagaimana tubuh putih itu menembus dari balik gaun. Dengan bias cahaya lampu yang temaram, Jungkook berusaha menahan diri untuk tidak lepas kendali. Sebab dia belum siap melakukannya, melakukan malam pertama mereka.
So Hyun dengan sengaja membiarkan rambut tergerai di depan, menutupi dada sintal yang nyaris terlihat hampir keseluruhan. Ia malu, sungguh. Ini pertama kalinya So Hyun tampil di depan laki-laki dengan gaun yang membuatnya merasa seperti telanjang. Bahkan pinggulnya terekspos, So Hyun janji. Setelah malam ini dia akan membakar gaunnya, tak peduli seberapa banyak uang yang Seolhee keluarkan untuk membelu gaun ini. Yang jelas So Hyun tidak suka dengan style Seolhee, sempat terpikirkan oleh So Hyun bagaimana Jungkook melihat Seolhee mengenakan gaun malam. Pasti sangat menggemaskan.
Menggelengkan kepalanya sejenak, So Hyun segera berbalik hendak menyapa Jungkook. Tapi tidak tahu-tahunya lelaki Jeon itu sudah berdiri dengan jarak satu langkah di depan So Hyun.
"Maaf aku tidak bisa melakukannya sekarang," ucap Jungkook. Seketika membuat So Hyun bersorak dalam hati, memang kalimat ini yang So Hyun nantikan.
Berdehem pelan, hampir saja So Hyun menampilkan senyumnya. "Aku tahu Tuan pasti akan mengatakan ini, baiklah tidak masalah. Kita lakukan lain kali saja."
"Tolong jangan beritahu Seolhee," ujarnya dengan suara serak, jujur saja. Jungkook sebenarnya sudah tidak tahan setelah melihat So Hyun berbalik, dan tanpa sengaja rambut wanita muda itu tergerai ke belakang. Membuat dadanya terlihat dengan sangat jelas, walaupun cahaya di kamar ini tidak terlalu terang.
So Hyun mengangguk pelan, lalu sedetik kemudian pipinya memanas. Setelah menyadari tatapan Jungkook tertuju pada dadanya.
"T-tuan, Anda bisa keluar sekarang," ujar So Hyun sembari menyilangkan tangan di depan dada.
Jungkook terpekur, lelaki itu memejam sejenak dengan kepala yang menggeleng. Kemudian tanpa menunggu lama Jungkook segera berbalik, lantas berjalan menuju pintu.
Sementara itu So Hyun tampak mengembuskan napas legah, merasa bersyukur karena Jungkook benar-benar tidak jadi melakukannya malam ini. Namun, siapa sangka. Jungkook malah mengunci pintu kamar, dia sendiri tidak tahu mengapa sikapnya berubah seratus persen dari biasanya.
Jungkook sadar, dia membutuhkan sesuatu yang lebih. Dia ingin kepuasan, selama ini Jungkook selalu menahan hasratnya untuk tidak menjalin hubungan secara diam-diam karena kesetiaannya pada Seolhee. Namun, untuk kali ini saj Jungkook ingin bersikap egois.
Alis So Hyun saling bertaut ketika mendapati Jungkook berjalan kembali ke arahnya, kini langkah lelaki itu semakin cepat dan tanpa menunggu lama Jungkook segera menyambar bibir So Hyun.
"Aku tidak ingin mengecewakan Seolhee, kita lakukan malam ini juga."
Jungkook kembali memagut bibir So Hyun, membuat wanita itu mengerang saat tangan Jungkook dengan lihai memberikan belaian lembut di tubuhnya. Dengan bibir yang masih saling bertaut, Jungkook mengangka tubuh So Hyun. Membawanya menuju ranjang, kemudian kembali melanjutkan ciuman panas mereka.
Merasa cukup mengulum bibir So Hyun, kini bibir lelaki itu berpindah pada dagu. Kemudian turun secara perlahan di ceruk leher sang istri muda, mendengus di sana. Terpaan napas hangatnya membuat So Hyun lupa diri dan tanpa sadar mendesah. Membuat Jungkook semakin kehilangan akal sehatnya.
"Aah."
So Hyun kembali mendesah ketika tangan Jungkook menyelinap masuk ke dalam daerah kewanitaannya. Mengusap berulang kali dengan lidah yang bergerak liar di sekitar belahan So Hyun.
Jungkook benar-benar tidak sadar dengan apa yang sedang dia lakukan sekarang, melepaskan gaun So Hyun serta celana dalam wanita muda itu. Hingga So Hyun benar-benar telanjang di bawah kungkungannya.
Bunyi decapan yang bercampur dengan desahan kenikmatan yang keluar dari bibir So Hyun bagaikan candu, Jungkook suka mendengarnya. Begitu merdu, atau memang karena dirinya yang susah lama tidak melakukan hubungan sex sehingga dirinya tak merasa bosan sama sekali ketika menjamah tubuh So Hyun.
Setelah puas mengulum ****** merah muda itu, Jungkook menurunkan wajahnya. Mengecup perut So Hyun, lalu turun lagi pada kewanitaan sang istri muda.
"Shit!"
Jungkook mengumpat, lelaki Jeon itu kembali menegakkan punggungnya. Melepas kaos putih serta celana kain yang ia kenakan, menunjukkan bukti kejantanannya di hadapan So Hyun yang langsung memejam.
"Apa ini pertama kalinya kau melihat lelaki telanjang?" tanya Jungkook frontal.
"Y-ya."
So Hyun menjawab seadanya, dia gugup. Ah mungkin lebih dari itu.
Jungkook tak menunjukkan ekspresi apa-apa, dia hanya kembali menunduk. Mengulum kembali bibir So Hyun.
"Sakit tidak?"
So Hyun menggeleng, masih dengan mata terpejam. Sementara Jungkook hanya menatap wajah yang dipenuhi peluh itu, sambil berusaha memasukkan kejantanannya ke dalam milik So Hyun.
Satu sentakan keras membuat So Hyun menggigit bawah bibirnya, merasa sakit yang luar biasa melanda.
"Sakit?"
Kali ini So Hyun mengangguk, Jungkook kembali meraup bibir ranum So Hyun yang gemetar. Bahkan Jungkook bisa melihat bulir kristal mengalir membasahi pelipis So Hyun.
Dengan gerakan pelan, Jungkook mulai menggerakkan pinggulnya. Maju dan mundur, dia tidak ingin bermain kasar karena ini merupakan pertama kalinya bagi So Hyun.
Jarum jam terus berputar, menunjukkan pukul sebelas malam. Suara desahan dan umpatan keluar dari bibir pria bersurai hitam legam itu, tubuhnya dibasahi peluh. Tampak mengkilap, belum lagi kuku-kuku So Hyun yang mencakar punggungnya membuat sedikit goresan.
Permainan mereka terus berlanjut hingga keduanya berakhir terkulai lemas. Malam ini menjadi malam panjang kedua sepasang pengantin baru itu, sementara di tempat lain yang terpisah dari bangunan tempat So Hyun tinggal. Seolhee tersenyum sembari menghangat diri dengan segelas coklat panas, sesekali bayangannya tertuju pada sosok malaikat kecil yang mungkin tak lama lagi akan menawarnai kehidupannya.
[]