You'Re My Mine, Andrea

You'Re My Mine, Andrea
Part 6



Dan Andrea pun mengangkat kepalanya, melihat calon suaminya. Andrea berpikir seperti pernah melihat calon suaminya dimana ya?seperti tidak asing. Lamunan Andrea pun buyar saat mendengar suara Neneknya mulai berbicara.


Andrea ini Om Hendra, tante Ratna dan disebelahnya ini calon suami kamu, Bagas. ujar nenek memperkenalkan keluarga om Hendra. Andrea hanya mengangguk sambil tersenyum ramah kepada mereka.


Bagas yang berada di depannya hanya menatap Andrea dengan wajah datar dan dingin. Andrea yang juga tengah menatap Bagas sampai berpikir, apa ada yang salah dengan Andrea, kenapa Bagas melihatnya datar seperti itu. Andrea pun akhirnyamemutus kontak mata mereka dan kembali menunduk seperti semula.


Acara lamaran resmi sudah berakhir, saat ini acara selanjutnya adalah makan malam bersama. Tadi acara lamaran berjalan dengan lancar dan diputuskan acara pernikahan akan di langsungkan hari sabtu ini yang berarti itu kurang dari 3 hari lagi. Andrea sempat akan protes, tapi setelah melihat tatapan tajam dari Ayahnya, dia mengurungkan niat protesnya, mau tak mau Andrea harus menerima nasibnya.


Saat makan malam, Bagas menghampiri Andrea dan mengajaknya keluar ke halaman belakang untuk bicara berdua. Keluarga yang lain yang melihat, tersenyum penuh arti, mengira bahwa calon pengantin sedang melakukan pendekatan.


Setelah sampai di halaman belakang, Bagas langsung menghadap Andrea dan langsung bertanya to the point.


"Kenapa lu mau nerima pernikahan ini?"


"Karena gue ga punya pilihan lain, dan karena wasiat kakek gue. Kalau lu kenapa?" Andrea balik bertanya ke Bagas.


"Sama gue juga ga punya pilihan dan bokap ngancem gue."


Andrea hanya mengernyit tak mengerti, Maksud lu?


"Bokap ngancem ga ngasih gue uang jajan dan nyabut semua fasilitas gue."


Andrea hanya mengangguk-angguk mengerti. Dasar orang kaya ga bisa hidup tanpa fasilitas orang tua, batin Andrea. Suasana kembali hening, keduanya masih tenggelam dengan pikiran masing-masing.


"Ekhem..gue tau kita nikah karena terpaksa dan tanpa adanya cinta satu sama lain," Andrea berkata untuk memecah keheningan, membuat Bagas menatap Andrea datar.


Kemudian Andrea melanjutkan perkataannya dengan gugup, "gue mau setelah kita nikah, ga ada yang berubah. Gue mau tetep bisa bergaul dengan temen-temen gue, dan gue mau pernikahan kita tidak ada yang tau, baik temen gue atau temen lu. Dan asal lu tau saat ini gue udah punya cowok."


"Oke gue setuju, lu jangan pernah ikut campur untuk urusan gue dan gue ga akan ikut campur urusan pribadi termasuk tentang cowok lu, i don't care."


Setelah mengatakan itu, Bagas meninggalkan Andrea sendiri di halaman belakang dan kembali ke dalam rumah utama.


Semua tamu dalam acara lamaran sudah meninggalkan rumah nenek, sekarang di ruang tamu hanya tersisa keluarga nenek saja. Dan Andrea pun ikut berkumpul bersama keluarga, Andrea terlihat pendiam hari ini, tidak seperti biasanya, dia masih terlihat murung dan kecewa dengan semua keluarganya. Andrea ikut di ruang tamu juga karena menghormati neneknya yang meminta semua anggota keluarga berkumpul.


"Andrea nanti setelah menikah, Bagas akan pindah sekolah di sekolah kamu. Jadi kalian akan satu sekolah."


"Tapi yah, kenapa harus sekolah yang sama dengan aku?"


"loh emang kenapa Andrea?kan bagus kalo kalian satu sekolah, lagian Bagas juga baru pindah dari LA dan dia sedang nyari sekolah di jakarta, jadi om Hendra masukin dia di sekolah kamu."


Sial, kenapa harus satu sekolah juga sih. gimana sama Exel, batin Andrea. Ayahnya yang melihat anaknya diam saja, melanjutkan pembicaraannya.


"Kenapa kamu keberatan dia satu sekolah sama kamu?atau kamu takut dia ketemu sama pacar kamu?


"Ck, ayah egois," setelah mengatakan itu, Andrea berlari menuju ke kamarnya, dia sudah tidak tahan berlama-lama di ruang tamu.


"Sudahlah yah, biar Andrea sendiri dulu. Dia masih syok dengan berita pernikahannya. Ayah jangan terlalu menekan Andrea." Bunda berusaha menenangkan Ayah yang terlihat akan emosi.


"Iya Raharja, biarkan Andrea sendiri dulu, dia butuh waktu. kamu jangan terlalu keras sama dia, ini juga salah ibu yang terlalu terburu-buru meminta pernikahan ini dilaksanakan." Nenek mencoba ikut menenangkan Raharja.


Didalam kamar, Andrea kembali menangis. Dia meratapi nasibnya yang harus menikah muda. 3 hari lagi pernikahannya akan dilaksanakan, dia masih tak percaya akan menikah secepat ini. Kemudian Andrea menelepon Exel, mencoba mencari ketenangan dengan menelepon.


"Halo Exel, kamu udah tidur?"


"Belum sayang, ada apa?kenapa suaramu serak, apa kamu sakit?"


"hmm, ga sayang, aku ga apa-apa kok. Kamu lagi apa?aku ganggu kamu tidur ya?"


"ga kok Dre, aku masih bangun, ini Iko sama Farhan nginep di rumah, dari tadi belum pulang, terus akhirnya nginep sini."


"Maaf ya dari tadi aku sibuk, ga sempet vidcall sama kamu."


ceklek..mendengar pintu dibuka, Andrea segera mengakhiri teleponnya.


"Aku tidur dulu ya, kamu jangan begadang sama anak-anak, miss you Exel."


"Miss you, Andrea. bye"


Andrea membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Ternyata Tia yang masuk ke kamar, Andrea pun kembali ke posisi tengkurap di kasurnya.


"Kak, sorry gue ga bisa bantuin apa-apa. Gue sayang sama lu, gue ga tau harus gimana. Gue juga sedih lu nikah secepat ini." Tia mencoba menghibur kakaknya, dia memeluk Andrea dengan sayang.


"Iya Ti, ga apa-apa. Gue juga sayang sama lu. Semua udah di rencanakan, gue mau ga mau harus nurut sama ayah." Andrea semakin mempererat pelukannya ke Tia. Meskipun mereka sering ribut, tapi Andrea dan Tia saling sayang.


3 Hari kemudian, acara pernikahan pun didatang.


Pagi ini rumah nenek sudah penuh dengan tamu undangan, di belakang rumah juga ramai oleh para tetangga yang ikut membantu acara. Di desa nenek memang tetangga-tetangga masih banyak yang ikut membantu, meskipun sudah ada makanan dan staff dari catering tapi tetangga tetap saling membantu.


Di ruang utama keluarga Om Hendra sudah datang, nampak Bagas yang mengenakan setelan baju pengantin berwarna putih sudah berada di depan penghulu dan Ayah Rahaja, bersiap untuk melaksanakan akad nikah. Sedangkan Andrea sendiri masih berada di dalam kamar, dia sudah selesai di make up dan memakai kebaya putih terlihat cantik dan dewasa. Dia akan turun ke bawah setelah Bagas selesai mengucapkan ijab kabul.


Sambil menunggu, Andrea terlihat gelisah dan gugup, masih tidak percaya dia akan menikah saat ini. Dari tadi dia mengabaikan chat dari Exel, saking gugupnya dan merasa bersalah dengan Exel.


"Saya terima nikah dan kawinnya Andrea Putri Raharja dengan mas kawin tersebut tunai..." Bagas melafalkan ijab kabul dengan lantang dan lancar.


Sah..sah...sah, begitu para saksi mengatakan sah, kini Bagas dan Andrea telah sah menjadi sepasang suami istri.