You'Re My Mine, Andrea

You'Re My Mine, Andrea
Part 10



Andrea yang akhirnya hanya bisa pasrah karena liburannya harus berakhir. Yang sebenarnya bukan liburan sih, tapi honeymoon untuk dia dan Bagas. Kini mereka berdua sudah berada di Bandara Yogyakarta untuk kembali ke Jakarta.


Sambil menunggu waktu keberangkatan, Bagas dan Andrea mampir di cafe bandara. Dari tadi, Andrea terlihat duduk gelisah di depan Bagas. Bagas yang merasa Andrea sedang gelisah kemudian bertanya.


"Lo kenapa sih, dari tadi gelisah mulu. Risih gue liat lo."


"ish apaan sih Gas, gue biasa aja kali," elak Andrea dengan memalingkan muka segala arah.


"Ga sadar apa?dari tadi lo udah ga tenang banget, malu di liatin orang."


"Ck.. gue cuman grogi mau balik Jakarta"


"Emang grogi kenapa?"


"Gue takut kalau pas di jakarta, ketemu temen atau cowok gue gimana?"


"Ya udah lah, kalau ketemu ya tinggal sapa aja, gitu aja grogi segala sih"


"Lo nih ga peka banget, kan ga ada yang tau kita udah nikah!terus kalau mereka liat gue jalan sama cowok lain, terus laporin ke Exel."


"Lebay banget sih, Jakarta itu luas. Lagian dari bandara juga kita langsung pulang, bukannya yang mampir-mampir kemana-mana." Jawab Bagas sambil berlalu pergi dari cafe karena panggilan pesawat mereka sudah terdengar.


Andrea yang di tinggal langsung menyusul berjalan di belakang Bagas dengan masih mengerutu.


****


Jakarta.


Sesampainya di Jakarta, Bagas dan Andrea langsung di jemput oleh sopir keluarga Andrea. Mobil melaju di padatnya jalanan kota Jakarta.


Tak sampai 30 menit, mereka sampai di rumah keluarga Andrea. Mereka di sambut antusias oleh kedua orang tua masing-masing dan tak ketinggalan adik tersayang Andrea, Tia.


"Selamat datang pengantin baru..hihihi," goda Tia pada sang kakak yang langsung dibalas pelototan tajam dari Andrea.


"Sudah sudah Tia, jangan goda kakaknya kyk gitu. Gimana tadi penerbangannya sayang?" lerai Bunda Andrea.


"Alhamdullilah lancar bun, capek banget."


"Ya udah, ayo masuk dulu, terus bersih-bersih. habis itu kita makan siang sama-sama." Sambung Mama dari Bagas.


Tak perlu waktu lama, Andrea dan Bagas segera bergegas masuk menuju kamar dan diikuti oleh keluarga mereka yang juga melanjutkan obrolan santai mereka tadi sebelum pengantin baru datang.


Saat sampai di depan kamar, Andrea yang merasa diikuti oleh Bagas pun menengok ke belakangnya.


"Lo ngapain ikut gue ke kamar, ini kamar gue ya."


"Ya terus kenapa?Gue juga mau bebersih diri, emang lo aja yang butuh mandi bebersih diri."


"Ya lo kan bisa ke kamar lain, ga perlu ke kamar gue juga."


"Lo lupa sekarang kita suami istri?yang artinya kamar lo berarti kamar gue juga"


"Ck gue ga suka ada orang lain tidur dikamar gue!"


"Bodo, gue capek. Males debat sama lo. Kalau mau protes, bilang aja sama ayah bunda buat nyediain kamar buat gue."


Tanpa menghiraukan sang pemilik rumah, Bagas langsung masuk ke dalam kamar. Dan merebahkan diri di atas kasur. Dia benar-benar lelah. Andrea hanya melihat malas pada Bagas yang sekarang telentang di atas kasur dengan tangan yang menutupi matanya. Segera Andrea mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri, Andrea keluar kamar mandi dan mendapatkan Bagas masih dengan posisi yang sama, sepertinya dia benar-benar lelah. Tak ingin mengganggu Bagas, Andrea bergegas ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Dilihatnya dari cermin meja rias, Bagas mengeliat bangun dan duduk di atas kasur untuk mengumpulkan nyawanya kembali setelah tidur singkatnya. Kemudian dia berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar mandi.


Drtt..drrt..drtt..


bunyi telepon berdering.


"Kamu udah balik dari Jogja sayang?"


"hemm, udah barusan nyampek rumah"


"Aku kangen kamu, pengen ketemu sayang."


"Sorry ga bisa yang, aku masih capek terus juga masih ada keluargaku yang dari Jogja kesini. Lagian kurang 2 hari lagi kita kan ketemu di sekolah. Sabar ya Exel sayang." ucap Andrea menenangkan pacarnya.


"Iya deh, aku pasrah. Ya udah, kamu istirahat dulu ya. Love you sayang."


"Love you too sayang."


Bersamaan dengan berakhirnya telepon Andrea, pintu kamar mandi terbuka. Bagas keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk dililit di pinggangnya. Andrea yang terkejut langsung melototkan matanya,


"Lo gila ya!! Kebiasaan deh habis mandi cuman pake handuk doang," hardik Andrea sambil memalingkan wajahnya untuk menghindari menatap Bagas.


"Gue lupa bawa baju ganti, ini juga mau ambil baju."


"Ck buruan ambil bajunya, ganti baju di kamar mandi sana."


Segera Bagas mengambil bajunya yang masih ada di koper dan berganti baju di kamar mandi.


Ketika Bagas dan Andrea turun, sudah berkumpul kedua keluarga di meja makan untuk menyantap makan siang mereka. Tidak ada pembicaraan selama makan siang, hanya suara denting sendok dan garpu yang mereka gunakan.


Selesai makan siang, seluruh keluarga berkumpul kembali di ruang keluarga. Papa Bagas memulai pembicaraan serius mereka.


"Gas, besok Papa kembali ke New York untuk urus-urus kepindahan kita kembali ke Indonesia. Kamu sudah kami belikan apartemen yang dekat dengan sekolah kalian."


"Tapi untuk sementara kalian tinggal dulu disini, karena apartemen yang baru di beli masih di renovasi, kemungkinan 1 atau 2 minggu sudah selesai," sambung Mama Bagas.


"Iya Ma, Pa Bagas mengerti. Lalu untuk sekolah Bagas gimana?Semua berkas-berkas kepindahan sekolah Bagas gimana?"


"Kamu tenang aja Gas, semuanya sudah Ayah urus. Senin ini kamu bisa langsung masuk sekolah di sekolah yang sama dengan Andrea." Kini yang menjawab ayah Andrea karena memang beliau yang mengurus semuanya.


"Loh kok satu sekolah sama Andrea sih Yah?Andrea ga mau, nanti teman-teman Andrea tau kalau Andrea udah nikah." Protes Andrea pada ayahnya tidak terima karena dia harus satu sekolah dengan suaminya.


Ayah menatapnya tajam mendengar protes dari Andrea. "Kamu tenang saja tidak ada yang tau status kalian, hanya kepala sekolah yang tau. Dan juga adekmu Tia juga akan sekolah disana."


"Ish kenapa ditambah Tia juga sih sekolah disana."


"Kamu maunya adek kamu sekolah dimana?Ayah punya yayasan sekolah sendiri, ngapain nyekolahin anaknya ke sekolah lain," akhirnya bunda menyela protes Andrea.


"Dan selain itu, kamu Ayah ijinkan untuk mengendarai mobil sendiri tanpa sopir, tapi...kamu harus berangkat dan pulang dengan adekmu Tia"


"Yesss akhirnya bisa bawa mobil sendiri, ga apa-apa deh bareng Tia yang penting bisa bawa mobil sendiri."


Andrea begitu bahagia akhirnya dia di perbolehkan membawa mobil sendiri, karena selama ini dia kemana-mana selalu diantar oleh sopirnya. Bukan tanpa alasan Andrea selama ini memakai sopir, Ayah dan Bunda sengaja memakai sopir karena mereka tahu Andrea suatu saat akan memiliki kekasih, meskipun sudah di larang.


"Oh iya Bagas.."


Bagas pun mengalihkan perhatian pada Papanya.


"Untuk sementara kamu bantu handle perusahaan Papa yang ada disini, nanti kamu bisa datang ke kantor setelah kamu pulang sekolah atau di akhir pekan selain itu kamu juga akan di bantu Ayah dan Om Alex karena perusahaan yang disini merupakan perusahaan Papa dan Ayah. Dari perusahaan ini kamu juga akan dapat gaji untuk menghidupi rumah tangga kamu, jadi mulai bulan depan Papa sudah tidak akan memberi kamu uang saku lagi."


"Iya Gas, kamu bisa tanya-tanya Ayah masalah perusahaan, pasti akan Ayah bantu."


"Iya Pah, Yah..Bagas mengerti dengan tanggung jawab Bagas sekarang."


Begitulah percakapan antar 2 keluarga tersebut berlangsung sampai makan malam tiba.