
Hari demi hari, minggu demi minggu pun berlalu. Tanpa terasa sudah hampir 4 minggu alias 1 bulan usia pernikahan Andrea dan Bagas, sampai saat ini mereka masih ikut di rumah orang tua Andrea. Untuk apartemennya, masih belum selesai renovasi karena banyaknya permintaan Andrea untuk kenyamanan apartemennya. Yang di awal target mereka menempati kurang dari sebulan, akhirnya molor dari jadwal.
Mengenai kehidupan rumah tangga Andrea dan Bagas, semua berjalan dengan lancar, mereka mencoba menerima satu sama lain meskipun belum ada cinta diantara mereka. Bagas masih bersikap dingin dan cuek meskipun adakalanya dia juga bersifat sedikit peduli dengan Andrea.
Sedangkan Andrea sampai saat ini masih berhubungan dengan Exel. Namun Andrea merasa akhir-akhir ini hubungannya menjadi hambar. Entahlah, dia merasa biasa saja saat bersama Exel, padahal sikap Exel tidak ada yang berubah. Bagas sendiri merasa masa bodoh dengan hubungan Andrea dan Exel, dia hanya memperingatkan Andrea untuk tidak melewati batas dalam berpacaran dan jangan sampai Ayah tau tentang hubungan Andrea dan Exel.
Namun tidak dapat dipungkiri, Andrea juga merasa bersalah dengan Bagas, dia istrinya namun masih saja berhubungan dengan pacarnya. Andrea bingung harus bagaimana, dia masih sayang dengan hubungannya dan Exel, mereka sudah bersama hampir setahun.
"Kenapa lo ngelamun mulu, ntar kesambet baru tahu rasa."
Aku hanya berdecak sebal saat Bagas masuk ke dalam kamar.
"Gangguin orang ngelamun aja sih."
"Kagak baik malem-malem ngelamun lo. Daripada ngelamun, kerjain noh tugas matematika, besok kan harus di kumpul."
Aku menepuk keningku, bisa-bisanya lupa dengan tugas matematika, malah keasyikan ngelamun. Langsung saja aku mengambil buku tugas matematika di lemari meja belajar. Sedangkan Bagas sudah duduk bersandar di headboard ranjang sambil bermain ponsel.
"Lo udah selesai?kok lo bisa santai banget." tanyaku tanpa menoleh padanya.
"Udah dong, tadi pas sebelum latihan basket."
Lagi hanya bisa berdecak sebal.
Suasana kamar menjadi hening, aku yang sedang fokus mengerjakan tugas, dan Bagas yang sibuk dengan ponselnya. Tiba-tiba ponselku berbunyi, id caller Exel muncul disana.
"Ya halo?"
"Ngerjain tugas Matematika buat besok. Kamu udah sampai rumah?" tanyaku, karena tadi Exel pamit untuk bermain futsal.
"Udah ini lagi di rumah, langsung nelepon kamu. Sayang, aku kangen. Kapan kita bisa jalan-jalan bareng lagi."
Aku menghentikan tanganku yang sedang menulis, "Gak tahu Xel, bokap makin ketat gak bolehin aku keluar." dustaku.
"Aku bakalan sabar nungguin kamu sayang."
Aku hanya tersenyum masam mendengar jawaban Exel. Tiba-tiba ada suara batuk yang berasal dari Bagas, membuatku terkejut.
"Suara siapa itu sayang?kayak suara cowok."
"ehmm itu suara bokap, iya suara bokap aku Xel. Udah dulu ya. Bye!" aku langsung menutup teleponnya tanpa menunggu balasan dari Exel.
Dan kini aku menatap sebal pada Bagas, yang memasang muka tidak bersalahnya.
"Rese' banget sih lo. Tadi lo sengaja kan?"
"Sengaja apaan sih Drea, gue emang batuk. Emang gak boleh gue batuk gitu."
"Tapi ya jangan keras-keras lah, sampek Exel tadi kedengeran." omelku yang hanya dijawab Bagas dengan mengedikkan bahu acuh. Aku mendengus melihat sikap tak acuhnya, lalu melanjutkan mengerjakan tugas lagi.
Tok tok..suara pintu di ketuk dari luar. Aku berbalik badan, memandang pada Bagas bermaksud menyuruhnya membuka pintu.