
Keesokan harinya Bagas dan Andrea mengantarkan Mama dan Papa ke Bandara untuk kembali ke LA
Selama perjalanan tidak ada yang berbicara, Bagas yang fokus menyetir sedangkan Andrea ada di sebelahnya sibuk menatap jalanan. Papa dan Mama ada di kursi belakang penumpang. Keluarga Andrea tidak ada yang ikut mengantarkan, mereka berpamitan saat di rumah saja.
Sesampainya di Bandara, pesawat yang akan di naiki oleh orang tua Bagas sudah siap boarding.
"Gas, kamu baik-baik ya disini. Papa percaya kamu bisa jadi kepala keluarga yang baik, jaga istri kamu."
"Iya Pa, Bagas mengerti. Papa Mama jaga kesehatan ya, cepet balik ke Indonesia. Bagas butuh Papa juga buat jalanin perusahaan yang disini."
Sedangkan para wanita tampak berpelukan, dan terlihat Mama Bagas menitikan air mata saat berpisah dengan anak dan menantunya. Andrea yang masih canggung dengan Mama mertuanya hanya bisa membalas pelukannya.
"Mama titip Bagas ya Drea, kalau dia telat makan omelin aja. Bagas punya maag jadi dia ga bisa kalau telat makan. Mama janji cepet balik ke Indonesia."
"Iya Ma, Andrea janji jaga Bagas. Mama sama Papa jaga kesehatan juga ya. Andrea tunggu kedatangan Mama sama Papa. balas Andrea sambil mengurai pelukannya."
Panggilan boarding pun terdengar, Orang tua Bagas pamit masuk ke dalam. Setelah mereka masuk ke dalam boarding gate, Andrea dan Bagas keluar dari Bandara.
Hening kembali saat di mobil, tidak ada yang memulai pembicaraan. Andrea yang mulai bosan bermain handphone pun mulai mengajak Bagas berbicara.
"Gas, gue pengen ice cream. Mampir ke kedai Ice cream yang di ruko sebelum rumah ya. ucapku untuk memecah kehenungan di dalam mobil."
"Hmm lo tunjukin aja jalan menuju ke tempatnya." balas bagas masih dengan masih tetap fokus menyetir.
Berselang 15 menit akhirnya mereka sampai di kedai ice cream. Memasuki kedai, mata Andrea langsung tertuju pada meja kosong di dekat jendela yang memiliki pemandangan taman. Bergegas Andrea menuju kesana, di ikuti oleh Bagas di belakangnya. Sesampainya mereka di meja, pelayan menghampiri mereka dan menyerahkan buku menunya.
"Pesan ice cream coklat dan strawberry pake topping oreo ya mbk, sama french fried 1. Lo pesen apa Gas?"
"Banana split 1 aja mbk." ucap Bagas menyebutkan pesanannya pada pelayan.
"Baik sudah cukup pesanannya?mohon di tunggu," jawab pelayan dengan sopan.
"Iya itu aja, makasih ya mbk." jawab Andrea yang di angguki oleh pelayan.
Sambil menunggu pesanan mereka berdua sibuk dengan ponsel masing-masing. Andrea tersenyum senang saat melihat ada chat dari Exel. Aahhh..rasanya Andrea rindu sekali dengan kekasihnya itu, gak sabar nunggu waktu sekolah lagi.
Setelah selesai berbalas pesan dengan dengan Exel, Andrea meletakkan ponselnya, mengamati keadaan kedai ice cream. Kedai ice cream ini memiliki suasana yang homey banget, dengan mengusung tema semi outdoor, membuat pengunjung betah berada disini. Meskipun kedai ini baru buka, tapi terlihat ramai oleh pengunjung. Tak lama kemudian, pesanan mereka datang, Bagas meletakkan ponselnya dan mulai menyantap ice creamnya.
"Hmm...Bagas apartemen kita nanti ada di daerah mana ya?" tanya Andrea mencoba membuka topik pembicaraan.
Merasa dirinya di ajak bicara, Bagas mendongakkan kepala dan menatap Andrea. "Ga tau gue, Papa belum ngasih alamatnya. Besok coba gue tanya ke Papa. Kenapa emangnya?"
"Ga apa-apa, pengen tau aja. Soalnya nanti kalau jauh dari rumah gue atau sekolah, gimana gue antar jemputnya Tia coba."
"Gampang itu nanti, ga mungkin Papa nyariin tempat yang jauh. Lagian kalau kita udah pindah apartemen, mungkin Ayah juga ga bakalan nyuruh lo lagi antar jemput Tia."
Selesai menyantap ice creamnya, Bagas dan Andrea bersiap untuk kembali ke pulang ke rumah. Tapi sebelum pulang, Andrea pamit ke toilet karena sudah tidak tahan pipis.
"Ck..ribet amat, kenapa ga di rumah aja sih, kesal Bagas pada Andrea"
"Kelamaan Gas, gue udah kebelet banget. Lo bayar dulu aja, ntar gue langsung nyusul ke mobil. Oke!!" ucap Andrea tanpa menunggu jawaban dari Bagas langsung berlari ke arah Toilet.
Saat keluar dari toilet, Andrea tak sengaja menabrak seseorang karena sibuk membalas pesan Bagas yang nyuruhnya cepat ke mobil.
"Maaf maaf, saya ga lihat" ucap Andrea sambil membungkuk
"Loh Andrea, lo sama siapa disini?"
Seperti pernah denger suara ini, mampus gue ini suara Dira, ucap batin Andrea saat mengenali suara orang di depan. Dan tepat saat Andrea mendongakkan kepalanya, dia melihat Dira.
"Ehmmm..gue sendirian Dir, lo sama siapa?"
"Gue sama cowok gue. Lo kapan balik dari Jogja?kenapa ga kabar-kabar sih kalau udah balik."
"Hehehe sorry, gue baru kemarin datengnya. Btw gue duluan ya, udah di tunggu nyokap di rumah."
"Yahhh kok buru-buru banget sih, ikut gabung gue sama cowok gue dong." ajak Dira karena dia masih ingin ngobrol dengan Andrea.
"Duh gue ga bisa, ntar aja pas di sekolah, besok lusa kan kita ketemu lagi di sekolah. Gue balik dulu ya Dir, have fun yasama cowok baru lo."
Setelah pamit pada Dira, Andrea bergegas menuju mobil karena Bagas sudah meneleponnya dari tadi.
"Lama banget sih ke toiletnya, lo tidur apa kencing sih," omel Bagas. Baru juga duduk di mobil, udah kena semprot aja nih.
"Sorry tadi gue ketemu temen habis keluar dari toilet, terus diajak ngobrol bentar. Untung lo udah di mobil, jangan ga ketahuan temen gue."
"Ngomong apa lo tadi?"
"Ga ngomong apa-apa."
*******
2 hari kemudian.
Tahun ajaran baru SMA Bakti Luhur dimulai hari ini. Semua siswa siswi Bakti Luhur mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi tahun ajaran baru ini. Begitu juga dengan Andrea, Bagas dan Tia. Tia yang hari ini akan mengikuti MOS untuk siswa baru, sudah sibuk bersiap-siap dari tadi subuh karena banyaknya tugas yang di berikan oleh OSIS.
Sedangkan 2 orang lainnya, Andrea dan Bagas masih asyik tidur di kasur mereka. Saat alarm berbunyi, Andrea meraba nakas untuk mematikan alarmnya. Di lihatnya sekilas disampingnya, Bagas masih belum bangun juga. Sambil merentangkan tangannya, Andrea bangun dari kasurnya dan beranjak ke kamar mandi. Lebih baik dia mandi dulu, baru setelah itu membangunkan Bagas.
"Bagas, bangun Gas. Udah pagi, ini hari pertama kita masuk sekolah. Buruan bangun."
"Hmmm..lo mandi aja dulu, habis itu gue, jawab Bagas masih dengan mata masih tertutup."
"Gue udah selesai mandi, makanya matanya dibuka biar tau. Buruan iih" ucap Andrea sambil menarik kaki Bagas.
"Iya iya, bawel banget sih."
Akhirnya Bagas bangun dan menuju ke kamar mandi. Sedangkan Andrea, membuka lemari dan menyiapkan baju seragam Bagas. Andrea kemudian melanjutkan merias diri, tak banyak make up yang pakai, hanya sedikit bedak dan liptint.
Melihat pintu kamar mandi di buka, Andrea hanya menatap sekilas Bagas dari cermin.
"Tuh baju seragam lo, pake aja dikamar man--"
Belum selesai bicara, sudah di potong suara ketukan di pintu, dan suara Tia.
"Kak, buruan turun!!gue ga mau telat ya," ucap Tia dengan suara kencang.
"Iya iya..ini gue juga mau keluar," sahut Andrea dengan suara tak kalah kencangnya.
"Lo ganti baju dulu aja, gue turun duluan nyiapin sarapan dulu."
Kemudian Andrea turun ke bawah, di meja makan sudah ada Ayah, Bunda dan juga Tia. Mereka sudah bersiap untuk menyantap sarapan.
"Bagas mana?kok belum turun?"tanya Bunda karena hanya anak gadisnya yang turun, sedangkan suaminya belum terlihat.
"Masih ganti baju Bun, habis ini juga turun." jawab Andrea sambil mengambil nasi untuk dirinya dan juga Bagas.
"Tuh anaknya udah turun," jawab Andrea ketika melihat Bagas turun tangga.
"Pagi Yah, Bun, Tia." sapa Bagas pada semua orang yang ada di meja makan
"Pagi juga Bang,"
"Pagi juga Gas," jawab Ayah dan bunda berbarengan.
"Ayo kak, buruan sarapannya. Udah siang nih, nanti aku telat di hukum sama OSIS."
"Ck..sabar napa, baru juga makan nih. Lagian ini juga masih jam 06.15. Santai aja ga bakalan ada yang berani hukum lo, selama ada kakak."
"Sudah sudah buruan kamu sarapannya Andrea. Keburu macet juga." Lerai ayahnya.
"Bagas nanti berangkatnya bareng sama Andrea aja, belum tau kan dimana sekolahnya."
"Iya yah," jawab Bagas.
"Ga bisa dong Yah, nanti kalau ada yang lihat gimana kalau aku 1 mobil sama Bagas?"
"yang bilang 1 mobil itu siapa sih Dre, kan Bagas juga udah punya mobil sendiri," gemas ayahnya menjawab Andrea.
"Ya terus, ngapain barengan juga?"
"kan barengan ga harus 1 mobil sayang, kan kalian bisa iring-iringan berangkat pakai mobil sendiri-sendiri. Masak kayak gitu aja aja harus di jelasin."
"Tau nih kakak, pagi-pagi udah lemot aja. Gue aja paham maksudnya Ayah," ledek Tia pada Andrea.
"Diem lo, ga gue anterin sekolah baru tau rasa lo."
"Ga masalah, gue bisa bareng sama bang Bagas. Biar semua orang tau kalo bang Bagas Abang ipar Tia," jawab Tia sambil menjulurkan lidahnya meledek kakaknya lagi.
Bagas hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan kakak adik ini.