You'Re My Mine, Andrea

You'Re My Mine, Andrea
Part 12



Sesuai dengan pembicaraan saat sarapan tadi, Andrea berangkat dengan Tia dengan menggunakan mobil barunya, sedangkan Bagas akan mengikuti mereka di belakang karena memang dia belum tau lokasi sekolahnya.


"Lo pake motornya siapa itu Gas?ga pernah liat gue ada motor itu di garasi," tanya Andrea saat melihat Bagas bukannya menaiki mobilnya, malah naik motor.


"Motor gue lah," jawab tak acuh Bagas.


"Sejak kapan lo beli motor itu, perasaan kemarin ga ada deh tu motor di garasi."


"Cerewet amat deh, motor-motor gue kenapa lo yang ribet sih."


"Duh kak, buruan napa?kepo-nya nanti aja lah, udah mepet nih," keluh Tia yang sudah di dalam mobil dari tadi.


"Iya ya, lo buru-buru banget."


Akhirnya Andrea melajukan mobilnya menuju ke sekolah. Meskipun selama ini Andrea kemana-kemana di antar sopir, tapi Andrea sudah lancar mengendarai mobil, karena tak jarang dirinya menjadi sopir Bunda nya saat mengantar beliau berbelanja atau datang ke arisan saat tidak ada sopir di rumah.


15 menit perjalanan menuju sekolah, saat ini mereka sudah memasuki halaman parkir sekolah. Terlihat di parkiran motor, Bagas baru aja turun dari motornya dan membuka helm fullface-nya dan menyugar rambut hitamnya, dia tampak mengotak atik ponselnya.


"Cih baru masuk sekolah udah tebar pesona aja," gumam Andrea yang melihat Bagas dari tempat mobilnya.


"Kenapa kak?kakak cemburu liat bang Bagas banyak yang perhatiin..hihihi"


"Enak aja cemburu, ngapain gue cemburu. Bodo amat gue mah."


"Kalo cemburu juga gak apa-apa kali kak sama suami sendiri juga," Tia terus saja menggoda kakaknya.


Saat akan membantah Andrea kembali, ponselnya berdenting tanda ada pesan masuk. Dilihatnya pesan dari Bagas.


Bagas :


Ruang kepala sekolah dimana?


Dilihatnya lagi Bagas yang masih di atas motor, dan di kelilingi siswi-siswi yang penasaran dengannya


Andrea :


Lo lurus aja di koridor, ntar ada pertigaan belok kanan, itu ruang kepala sekolahnya.


Inget di sekolah kita ga saling kenal.


Bagas :


Hmm


"Kebiasaan cuman jawab singkat gitu doang," dumel Andrea yang ternyata di dengar juga oleh adeknya.


"Siapa kak?kenapa ngomel sendiri?" penasaran Tia mengintip layar ponsel kakaknya.


"Ngapain lo masih disini, kepo aja. Sana buruan turun."


"Bentar masih nunggu temen gue, lha sendiri kakak ngapain masih disini?"


"Terserah gue dong, mobil-mobil gue."


"Cih sombong banget, mentang-mentang udah punya mobil sendiri," cibir Tia.


"Udah cepetan keluar, gue juga mau keluar. Tuh cowok gue udah dateng." usir Andrea begitu dia melihat kekasihnya sudah datang.


Tia hanya menurut keluar dari mobil, sambil menunggu temannya datang, dia berdiri bersandar pada kap mobil kakaknya. Meskipun sekolah ini memang milik keluarganya dan kakaknya yang merupakan salah satu most wanted sekolah ini, tapi Tia masih merasa minder.


"Hai sayang, udah lama datangnya?" sapa Exel begitu dia sampai di depan Andrea.


"Hmm..lumayan baru 5 menit yang lalu," sahut Andrea.


Exel memperhatikan gadis yang ada di samping Andrea, dia merasa asing dengan gadis itu, sepertinya siswi baru di sini.


"Kenapa liat-liat?"tanya Tia yang risih di lihat oleh Exel.


"Lo apaan sih dek, biasa ajalah. Ini calon kakak ipar lo ya. Kenalin Xel, ini adek aku, Tia namanya."


"Eh sorry, gue tadi bingung aja ada anak baru disini.


Hai nama gue Exel, senang kenal sama kamu." Exel mengulurkan tangannya pada Tia.


Tia yang sudah malas, hanya membalas uluran tangan Exel sekilas. Cih, masih cakepan Bang Bagas kemana-mana lah, untung aja Bang Bagas yang jadi kakak ipar gue, batin Tia.


Begitu melihat temannya datang, Tia langsung pamit pada kakaknya. Entah kenapa dia merasa tak nyaman dengan kekasih kakaknya itu.


Setelah kepergian Tia, Andrea dan Exel pun melangkahkan kakinya menuju papan pengumuman untuk melihat pembagian kelas baru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap tahun kelasnya akan di acak. Tradisi di SMA Bakti Luhur agar tiap angkatan bisa saling mengenal.


Sementara itu, Bagas yang dari tadi berada di atas motornya menatap jengah pada siswa siswi yang terus saja melihatnya, baik yang melihatnya secara terang-terangan atau secara diam-diam. Saat tadi di parkiran, Bagas sempat melihat Andrea yang berjalan di depannya dengan kekasihnya. Mereka hanya saling melirik sekilas, berpura-pura tidak saling mengenal.


Akhirnya kurang 15 menit waktu bel masuk, Bagas melangkah menuju ke ruang kepala sekolah. Tak sulit menuju ruang kepala sekolah, arahan dari andrea tadi cukup jelas. Sesampainya di depan pintu ruang kepala sekolah, Bagas mengetuk pintunya. Sesaat kemudian terdengar sautan suara yang mempersilahkan dia untuk masuk ke dalam.


"Permisi Pak, perkenalan saya Bagas Putra Ramadhan," sapa Bagas pada Kepala Sekolah begitu dia masuk ke ruangan kepala sekolah.


"Oh ini ya yang namanya Bagas, menantunya Pak Raharja?"


Bagas sempat terkejut saat Pak Agus, kepala sekolahnya itu mengetahui tentang statusnya. Namun dia teringat kalau Ayah mertuanya sudah bercerita kalau kepala sekolah sudah mengetahuinya.


Pak Agus yang mengetahui raut terkejut Bagas, terkekeh pelan dan melanjutkan kata-katanya. "Kamu tenang saja, yang tahu hanya saya aja. Tentang pernikahan kalian akan di rahasiakan sampai kalian lulus."


"Untuk pembagian kelasnya, nanti kamu akan di antar sama Bu Tini. Kamu tunggu aja dulu disini, nanti setelah upacara Bu Tini kesini," jelas Pak Agus.


"Baik Pak. Oh iya, saya apa tidak perlu ikut upacara dulu Pak?"


"Tidak perlu, minggu depan saja kamu ikut upacara. Kalau begitu sekarang saya keluar dulu, mau mimpin upacara dulu." Pamit Pak Agus pada Bagas.


Selang 30 menit kemudian, upacara hari senin sekaligus upacara penyambutan siswa baru selesai. Semua siswa kembali ke kelas baru masing-masing. Tahun ini kembali Andrea dan sahabat-sahabatnya berada di kelas yang sama. Seperti biasa Rara dan Dira duduk 1 bangku, sedangkan Andrea akan duduk di belakangnya dengan siswa atau siswi yang lain. Namun karena tahun ini kelas mereka jumlahnya ganjil, akhirnya Andrea duduk seorang diri.


"Eh Eh guys gue punya gosip baru nih..hihihi." Dira merupakan salah satu biang gosip di kelasnya, jadi Rara maupun Andrea tidak heran pagi-pagi akan mendapatkan asupan gosip dari Rara.


"Gosip apaan?tentang siswa baru ya?gue tadi liat dia di parkiran," heboh Rara menanggapi.


"Lo tau ga, ternyata dia murid pindahan dari luar negeri, tepatnya dari LA. Duh mana ganteng lagi orangnya."


"Iya bener, ganteng banget. Sampek gue tadi salfok pas jalan di parkiran, untung aja ga nabrak tembok..hahahah."


"hahahah..parah lo Ra, untung tu tembok kagak lo tabrak. Semoga aja dia di tempatin di kelas kita, kan lumayan nambah stok cogan di kelas kita."


"Semoga aja beneran deh, kan kelas kita jumlahnya ganjil. Btw lo kok diem aja Dre, lagi sakit gigi lo."


Andrea yang merasa temannya memanggil, mendongakkan kepalanya, dia dari tadi hanya bermain ponsel karena malas mendengar gosip mereka. Yang tentu saja Andrea tau siapa yang teman-temannya bicarakan.


Andrea hanya menatap kedua temannya dengan malas, "Enak aja gigi gue sehat. Males aja bahas murid baru, paling masih cakepan cowok gue."


"Dih mata lo rabun atau terlalu bucin lo, gantengan murid baru itu lah," cibir Dira.


Baru akan membalas cibiran Dira, sudah harus terpotong karena Wali kelas baru mereka datang. Andrea langsung membelalakan mata begitu melihat orang yang berada di belakang wali kelasnya, siapa lagi kalau bukan murid baru yaitu Bagas.


Tanpa sengaja, Bagas dan Andrea saling bertatap selama beberapa menit, buru-buru Andrea memalingkan wajahnya. Terlihat juga Bagas yang terkejut melihat Andrea disana.


ck..ini pasti kerjaan Ayah deh nempatin aku kelas sama Bagas, batin Andrea.


"Selamat pagi anak-anak, saya yang akan menjadi wali kelas kalian untuk 12 IPA 2. Hari ini, kita juga kedatangan teman baru. Silahkan perkenalan namanya." Kata bu Tini pada Bagas.


"Selamat pagi, perkenalkan nama saya Bagas Ramadhan Putra."