
"Selamat pagi, perkenalkan nama saya Bagas Putra Ramadhan."
Ya hanya seperti itu saja perkenalan yang dilakukan oleh Bagas,singkat padat dan jelas. Tidak ada keinginan darinya untuk berlama-lama di depan kelas. Dia merasa jengah menjadi pusat perhatian seisi kelas. Dilihatnya Andrea di bangku-nya hanya menatapnya tak acuh.
"Baik Bagas, silahkan kamu duduk di sebelah Andrea, kebetulan bangkunya kosong", ucap wali kelasnya mempersilahkan Bagas duduk.
"Duh, enak banget Andrea duduk cogan."
"Ya ampun cakepnya kalau dilihat dari dekat."
"Tipe gue banget nih, cowok cool."
Begitulah terdengar kasak kusuk sepanjang perjalanan Bagas menuju bangkunya, tidak jarang ada siswi yang secara terang-terangan melihatnya sampai dia duduk di bangkunya.
"Oke anak-anak, hari ini saya hanya akan perkenalan saja, minggu depan baru saya akan mulai pelajarannya. Sekarang silahkan diskusi untuk struktur organisasi kelas ini. Sementara itu, saya tinggal dulu ke ruang guru, jangan ada yang keluar kelas." Ucap Bu Tini kemudian keluar dari kelas.
Sepeninggal Bu Tini, Rara dan Dira langsung memutar tubuhnya ke belakang, lebih tepatnya ke arah meja Andrea. Dengan semangat mereka mengulurkan tangan memperkenalkan diri pada Bagas.
"Hai, kenalin gue Rara."
"Kenalin gue Dira. Lo beneran pindahan dari LA?" tanya Dira setelah dia memperkenalkan dirinya.
"Gue Bagas, iya bener gue dari LA." Bagas menjawab singkat dan dengan wajah yang dingin menunjukkan kalau dia enggan diajak bicara lebih lanjut.
Andrea yang berada di sampingnya hanya bisa diam mengamati saja, wajah yang ditunjukkan Bagas sama seperti saat pertama kali mereka bertemu di Jogja, benar-benar dingin dan tajam.
Seketika itu juga, teman Andrea langsung kembali menghadap ke depan. Serem juga ngeliat muka dinginnya Bagas.
Akhirnya diskusi penentuan struktur organisasi kelas selesai, bel istirahat pun sudah berbunyi.
"Minggir, gue mau lewat." ucap Andrea pada Bagas karena posisi duduk Andrea yang disebelah tembok, harus lewat Bagas dulu kalau dia akan pergi keluar.
Tanpa banyak kata, Bagas berdiri memberikan akses jalan. Andrea masih berdiri di tempatnya, Bagas yang penasaran hanya menatapnya dengan pandangan 'kenapa?'
"Ck..lo lupa belum ngasih gue uang jajan?ayah tadi pagi ga ngasih uang." Bisik Andrea pelan agar tidak di denger temannya yang masih tersisa di kelas.
"Bagas segera mengambil uang 50.000 di dalam dompetnya. Nih sorry gue baru ada 50.000 doang, kemarin belum sempet ambil duit, cukup kan?"
"Hmm cukup kok, makasih ya." jawab Andrea dan bergegas keluar kelas menyusul Rara dan Dira yang sudah ke kantin terlebih dahulu.
Sedangkan Bagas, masih berada di kelas. Dia masih malas ke kantin, karena jengah menjadi pusat perhatian. Bukannya kegeeran, tapi terbukti tadi pagi saat di parkiran banyak pasang mata yang terus memperhatikannya.
Namun rencana Bagas untuk tetap saja di kelas harus pupus, Coki teman barunya di kelas mengajaknya ke kantin. Bagas tidak enak untuk menolak ajakannya, hitung-hitung Bagas bisa sekalian tau tempat kantinnya.
Sepanjang perjalanan ke kantin, Coki dan Bagas terus saja bercerita, lebih banyak Coki sih yang bercerita, Bagas hanya mendengarkan dan menanggapi sekilas. Dan benar dugaan Bagas, sepanjang koridor menuju kantin, semua siswa siswi menatapnya, begitupun saat memasuki kantin.
Setelah menemukan meja yang kosong, Bagas dan Coki duduk disana. Coki menawarkan diri untuk memesankan makanan untuk Bagas. Mie ayam dan es jeruk menjadi pilihan Bagas.
Sambil menunggu Coki datang dengan pesanannya, Bagas mengedarkan pandangannya pada sekeliling kantin. Kantin sekolah di Indonesia beda dengan saat dia berada di LA. Disana semua makanan dimasak oleh koki yang di sewa oleh sekolah, dan makanan disana juga gratis karena sudah masuk dalam biaya semester sekolah. Sedangkan disini semua makanan harus beli sendiri, dan kantinnya terdiri dari beberapa stand dengan penjual dan menu yang berbeda-beda.
Tanpa sengaja matanya menangkap sosok Andrea di ujung meja dekat pintu masuk kantin sedang bersama dengan teman-teman dan kekasihnya. Disaat bersamaan Andrea juga tengah menatapnya, kemudian langsung memutus kontak matanya karena sedang di ajak bicara oleh temannya. Sedangkan Bagas juga mengalihkan pandangannya saat Coki datang dengan pesanannya.
Bel masuk pun berbunyi, Bagas sudah kembali terlebih dahulu ke kelas setelah menyelesaikan makannya tadi dan tentu saja di ikuti oleh Coki. Tak berapa lama, Andrea datang bersama dengan Dira dan Rara, terlihat juga kekasihnya mengantarkannya ke kelas.
"Awas minggir, gue mau duduk," ucap Andrea yang sedang berdiri di samping Bagas. Tanpa banyak kata, Bagas berdiri dan mempersilahkan Andrea duduk di kursinya.
"Dih jutek banget sih Dre lo sama cogan ini," sindir Dira pada Andrea.
Andrea hanya memutar bola matanya malas menatap Dira yang selalu membela cogan-cogan.
"By the way, nanti pulang sekolah kita jalan yuk, dah lama kita ga hang out bareng nih. Gimana Dre, Ra?"
"Ehm, gue sih oke oke aja, lo gimana Dre?"
"Mmmm..gue---"
"Selamat siang anak-anak. Sapa guru Bahasa Indonesia begitu memasuki kelas."
Belum sempat Andrea melanjutkan ucapannya, guru sudah masuk kelas. Dira dan Rara segera bergerak kembali menghadap depan, begitu pun dengan Bagas yang segera memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Andrea kemudian menuliskan sesuatu di kertasnya yang dia berikan kepada bagas.
Gue boleh ga hang out sama temen-temen gue. Begitu tulisan Andrea pada Bagas.
Ga boleh, lo harus langsung pulang.
Why??
Gue belum terbiasa di rumah lo sendirian, lagian lo juga pulang sama Tia.
Setelah membaca pesan dari Bagas, Andrea hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Sebal sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, Andrea gak mau dianggap istri durhaka.
Bel pulang pun berbunyi, para siswa siswi berhamburan keluar kelas. Karena ini masih hari pertama sekolah dan belum ada pelajaran, jam pulang pun lebih cepat. Dan lagian untuk siswa baru juga hanya pengenalan lingkungan sekolah.
"Gimana Dre?langsung kuy?"tanya Rara pada Andrea
"Sorry gue ga bisa," ucap Andrea dengan wajah bersalah.
"Kenapa Dre?jangan bilang lo mau kencan sama Exel ya makanya ga mau hang out sama kita?" tuduh Dira.
"Ck..bukan, bukan mau langsung pulang. Lo lupa gue sekarang jadi sopirnya adek gue."
"Ya udah adek lo ajak juga sekalian."
"Ga bisa, bisa di omelin bunda gue. Ini baru hari pertama loh gue di izinin bawa mobil, jangan sampek mobil gue di tarik lagi." Andrea mencoba memberi alasan pada kedua sahabatnya.
Diliriknya Bagas yang akan beranjak dari bangkunya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Bagas segera berlalu dari kelas. Didepan kelas sudah terlihat Exel yang menunggu Andrea.
"Yahhh ya udah deh, lain kali aja kita jalan-jalan. Tuh lo udah di tungguin sama si Exel."
"Okee gue duluan ya, sekali lagi sorry banget."
Andrea pun bergegas menuju keluar kelas. Sepanjang perjalanan ke parkiran, Exel mengenggam tangan Andrea, dan mereka larut dalam obrolan. Begitu sampai di parkiran, Tia sudah menunggu Andrea di depan mobil mereka.
"Ck..lama banget sih kak, buruan buka pintunya, gue udah kepanasan nunggu lo." Sempot Tia begitu kakaknya mendekat kearahnya.
"Iya iya bawel banget lo."
"Kamu mau langsung pulang Dre?ga pengen kangen-kangenan dulu gitu?"
"Sorry, aku harus langsung pulang, bawa si Tia tuh. Kalau bawa Tia harus langsung pulang."
"Yah..padahal aku masih kangen sama kamu sayang."
"Besok kan kita masih bisa ketemu. Udah ya aku pulang dulu, tuh mukanya Tia udah bete, bentar lagi pasti ngamuk tuh."
"Hmm..kamu hati-hati ya nyetirnya, kabari kalau udah sampai rumah."
"Iya kamu juga, jangan kebut-kebutan naik motornya."
Andrea pun masuk menuju mobilnya dan mulai mengendarai keluar sekolah. Sementara itu ada seorang gadis yang berjalan menuju Exel, dan langsung memeluk mesra lengannya.
Yuk pulang beb panas nih!!ajak gadis itu.